Archive Page 2

26
Sep
12

Take a Bow: Harusnya bisa jauh lebih bagus, titik!

Sophie, Emme, Carter, Ethan. Mereka adalah empat siswa senior CPA (Creative and Performing Arts) dengan background kemampuan seni yang berbeda-beda. Sophie adalah penyanyi, sebelum masuk ke CPA ia sudah menikmati spotlight sebagai bintang kecil-kecilan di area Brooklyn.

Emme, sahabat Sophie sejak umur 8 tahun. Bukan jenis cewek yang pede meski kemampuannya mencipta dan memainkan musik di atas rata-rata. Ada simbiosis mutualisme antara Sophie dengan Emme. Sophie membutuhkan lagu-lagu indah dengan karakter yang kuat. Ia selalu bisa mengandalkan Emme untuk itu. Emme, yang kurang suka tampil di atas panggung, merasa hanya Sophie lah yang mampu membuat lagu-lagu ciptaannya jadi terdengar indah. Bagi Sophie, CPA adalah batu loncatan ke arah panggung yang lebih besar. Sedang Emme masuk CPA karena bujukan Sophie.

Carter sudah jadi bintang film terkenal sejak kecil. Justru setelah menginjak masa remaja, popularitasnya kian surut digantikan bibit-bibit imut setelahnya. Apa ia kecewa? Ternyata tidak, karena sebenarnya Carter Harrison tidak menikmati ketenaran. Ia memang menyukai bidang seni, tapi bukan bidang yang selama ini diatur-atur dan disodorkan ibunya maca film serta opera sabun (setelah popularitasnya memudar). Carter suka melukis. CPA ia jadikan sebagai alat untuk mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan.

Ethan sangat berbakat di bidang musik. Suaranya juga bagus. Hanya satu kekurangannya (menurutnya sih): Ia tidak pernah bisa bikin lagu dengan lirik yang sebagus komposisi musiknya. Lirik bikinannya selalu dangkal (masih menurut Ethan). Dan ia menganggap, kehidupannya yang mulus-mulus saja lah penyebabnya.

“Aku anak tiga belas tahun yang tingal di sebuah rumah besar di Connecticut dengan ayah bankir investasi dan ibu seorang ibu rumah tangga. Apa yang mesti kutulis? Aku tak tahu apa-apa tentang penderitaan atau rasa sakit. Atau cinta.” Hal. 11

Bersama Jack dan Ben, Emme dan Ethan mulai menikmati band mereka.

Keempat siswa CPA tersebut menghadapi tahun terakhir dengan penuh antisipasi. Sophie, karena karirnya yang bisa dibilang mandek justru di tempat yang ia rasa seharusnya bisa menjadi batu loncatan. Emme, karena tidak yakin dengan kualitas musikalnya, Sophie yang sering mengabaikannya, serta aktivitas band yang menyita waktu. Carter yang pacaran dengan Sophie, merasa sikap-sikap Sophie semakin tidak ia sukai, sementara ia sendiri juga menghadapi dilema untuk segera memberi tahu ibunya akan pilihan jenis seni yang ia inginkan. Ethan? Selain menjadi lead singer sebuah band remaja yang mulai banyak penggemar, cowok ini juga mulai sadar bahwa ia naksir seorang teman (yang kayaknya justru sebal padanya). Jadi bagaimana kelanjutan ruwetnya pertemanan dan pikiran siswa-siswa CPA ini?

Karya Elizabeth Eulberg yang pertama aku baca adalah Prom and Prejudice, disambung dengan The Lonely Hearts Club. Take a Bow ini aku tunggu-tunggu sudah agak lama, nguber ebook gratisannya juga hampir tiap minggu. Tanpa hasil. Ternyata Bentang Belia sudah nerbitin dalam jangka waktu gak sampai setahun dari terbitan Point-Scholastic.

Sayangnya, setelah nunggu cukup lama, aku malah  kecewa. Kalo diperingkat, ternyata tingkat bagusnya novel-novel Eulberg sesuai dengan urutan yang aku tulis di review ini 😦

Jadi, benernya apa sih yang aku pikir tentang novel satu ini?

  1. Mulai dari cover ya … edisi Indonesia cover-nya (menurutku) kurang fun, gak kayak terbitan Bentang Belia yang lainnya. Dengan versi aslinya pun bagus versi asli 😦
  2. Meskipun angle penceritaan novel ini pindah-pindah Sophie-Emme-Carter-Ethan, tapi kerasa banget kalo pengarang lebih berpihak pada Emme. Kalo aku sih lebih suka dengan karakter Ethan.
  3. Bahasanya kurang enak dibaca. Aku gak bisa nuduh kalo problem di terjemahan, karena aku sendiri belum baca edisi aslinya. Cuma kebacanya tanggung banget. Novel remaja, tapi gak ada lincah-lincahnya. Seringkali penuturannya berbelit-belit yang bikin aku jadi cuma paham inti cerita, tapi untuk nyambungin kata-per katanya butuh perjuangan ekstra. Coba saja cek hal. 100 yang terpaksa gak aku kutip di sini karena panjangnya bagian yang aku maksud. Tapi intinya, itu adalah adegan di mana Ethan ‘disidang’ teman-teman band-nya. Adegannya tanggung. Emme diminta Jack untuk bantu ngasih pengertian ke Ethan. Nah, masalahnya, pengertian yang diberikan si Emme kok rasanya gak nyambung dengan topik yang jadi bahan penyidangan ya? *garuk2 pala
  4. Meskipun novel ini ditulis dari empat angle yang semuanya pake kata ganti orang pertama, jika dicermati, kita masih mudah-mudah saja kok ngenalin porsi penceritaan masing-masing orang. Bagian Carter ditulis dengan tanpa tanda kutip seperti dialog-dialog di novel pada umumnya, tapi kebanyakan pake gaya script (nama, tanda baca titik dua, dialog). Bagian Sophie terbaca pede abis dan agak-agak nyebelin, sedang Emme bisa dikenali dengan gayanya yang kurang nyaman. Ethan muncul sebagai pencerita yang penuh curiga dan penggerutu.
  5. Alurnya loncat-loncat, bikin bingung (sekali lagi menurutku), karena loncatnya gak pake pamit-pamit. Setidaknya harusnya pembaca dibantu dengan huruf italic kek, jika sedang flash back atau gimana gitu, jadi gak bloon di tengah bacaan @_@
  6. Satu yang aku lihat dari tiga karya Elizabeth Eulberg, benang merah tiap-tiap novelnya: penulis ini secara kental membawa pesan tentang pentingnya persahabatan .

Yah, jadi gitu deh, sebagai bacaan YA/teen/belia, novel ini buatku kurang mewakili kesegaran dan keriangan age bracket ini. Meski kalo dilihat sisi baiknya, benernya isinya dalem dengan bahasan tentang pasang surut persahabatan dan perjuangan menuju jenjang di atas SMA, bukan melulu kisah cinta dan pengutipan lagu-lagu lama yang agak mbosenin kayak di Lonely Hearts Club. Coba saja penuturannya lebih lincah ….

Gak rugi baca, tapi kalo ada yang lain mending habisin bacaan lain dulu deh. Itu sih ending note dariku 😉

Judul: TAKE A BOW

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerjemah: Mery Riansyah

Editor: Dila Maretihaq Sari

Penerbit: Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-42-0

Cetakan: 1-2012

Jumlah hal: 319

Advertisements
22
Sep
12

So Much Closer/Mengejar Mimpi: Menyebalkan di awal, mencerahkan di belakang ;)

Pernah nonton Felicity (film seri bergenre coming of age/young adult awal tahun 2000-an) gak? Waktu itu kayaknya yang muter Indosiar gitu deh, dengan jam tayang sekitar jam 22.30? Hehehe, referensinya jadul abis yak.

Oke, balik ke film satu itu, Felicity adalah seorang cewek lulusan SMA dari daerah sekitar midwestern Amrik (aku lupa kotanya tepatnya apa), yang pergi kuliah ke New York. Soal kuliah sih gak masalah benernya mau ke mana saja. Tapi ternyata si Felicity ini ninggalin tawaran kuliah kedokteran yang sudah ia kantongin, bikin kecewa ortunya, untuk pergi ke kampus yang (menurut ortunya) kurang penting, dengan alasan yang gak jelas.

Tentu saja Felicity gak mungkin cerita, kalo ia nekat pergi ke New York karena Ben, cowok incerannya ternyata kuliah di sono. Felicity ngerasa, bahwa benernya Ben adalah jodohnya yang belum nyadar saja akan keberadaan cewek itu. Jadi wajar-wajar saja kalo sudah saatnya bagi Felicity untuk ngejar mimpinya jadian dengan Ben (sudah ia simpen bertahun-tahun selama SMA), meski yang gak wajar adalah, fakta bahwa selama bertahun-tahun SMA itu si ben sama sekali gak kenal bahkan gak tau kalo Felicity mengamati boro-boro sampai naksir.

Nah, pembukaan novel satu ini miriiiip banget dengan kisah Felicity. Di awal tahun terakhir SMA-nya, Brooke baru tau kalo Scott Abrams, cowok yang ia taksir diam-diam (dan bahkan sama sekali gak nyadar akan keberadaan Brooke) bakal pindah ke New York. Felicity eh Brooke panik. Selama ini, Scott adalah satu-satunya alasan dia berangkat sekolah, karena baginya aktivitas sekolah itu gak banget. Bikin bosen.

Jadi gitu deh, Brooke mutusin kalo ia juga bakal pindah ke New York. Untung ayahnya yang telah cerai dengan ibunya tinggal di kota itu. Cona berbekal satu nama kota tujuan, Brooke nekat pindah.

Bayangin, New York kan nggak segede pasar inpres. Di pasar saja belum tentu kita bisa ketemu dengan orang yang kita cari, nah, ini di kota besar yang bisa dibilang belantara, tanpa alamat yang jelas yang bisa diandalkan jadi semacam kompas. Memangnya bisa?

Beruntung banget, Scott tinggal di daerah dengan area sekolah yang sama dengan Brooke, jadi akhirnya mereka nyangkut di sekolah yang sama pulak. Maka mulailah Brooke nyari cara untuk mewujudkan impiannya untuk kenal, makin dekat, dan akhirnya jadian dengan Scott Abrams.

Sekolah yang baru ternyata memberi pencerahan buat persepsi negatif Brooke tentang dunia sekolah. Di sana IQ jenius dia ditantang dengan kurikulum yang agak lebih maju dari sekolah sebelumnya, tugas-tugas yang tidak membosankan, serta aktivitas sebagai peer tutor yang mengantarnya bersahabat dengan Sadie dan John Dalton.

Bersama Sadie, Brooke diajari untuk lebih peduli pada sesama, aktif membantu sekeliling. John membuka pikiran Brooke untuk memandang segalanya dengan mata yang lebih terbuka, mensyukuri kehidupan, serta mencintai kota dengan cara yang konstruktif.

Tentunya persahabatan dengan Sadie dan John tetap tidak menyurutkan obsesi Brooke akan Scott.

Well, ada banyak catatan yang bisa aku bikin tentang novel satu ini:

  1. Kok ya ada, gitu cewek kayak Brooke (dan Felicity) yang ngejar-ngejar cowok yang bisa dibilang asing, sampai ke ujung dunia gitu. Mereka ‘membuang’ kehidupan lama mereka untuk cowok yang nggak begitu mereka kenal, lho. Meskipun aku mendukung segala macam tetek bengek tentang emansipasi atau women’s lib atau feminisme, tapi soal cewek ngejar cowok sampai ke kota lain ini so not my description about such thing. rasanya cemen abis, meski ending-nya Brooke mendapatkan pencerahan dan nilai lebih dari petualangan impulsifnya itu.
  2. Kecerdasan intelektual yang super teryata tidak menjamin kita untuk bisa selalu membuat keputusan-keputusan cerdas.
  3.  Aku suka petualangan yang dilakukan Brooke dalam usaha mengenali tempat tinggalnya yang baru. Tiap hari ia berjalan menyusuri rute yang berbeda-beda dari rumah ke sekolah (atau sebaliknya), mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Aku jadi ngebayangin, apa lingkungan tempat tinggal dia semenarik itu? *jadi pengen tinggal di sono
  4. So Much Closer awalnya cuma menawarkan obsesi nggak sehat seorang cewek tentang cowok yang ia taksir, tapi akhirnya obsesi itu mengarahkannya ke jalur yang lebih positif. Susane Colasanti selalu mampu menyisipkan pesan moral yang cukup dalem di dalam tulisan-tulisan dia.
  5. Aku suka dengan jalan cerita di mana Ms. Colasanti gak maksain semua masalah terselesaikan saat buku sampai ke halaman terakhir. Liat saja, ada beberapa problem Brooke yang dibiarkan masih terbuka (persahabatan dengan teman-teman dari kota asal, love life, dll) tapi masih nyisain harapan untuk happy ending.
  6. Sampulnya beda dari edisi Amrik, tapi dengan taste yang mirip: angle dari belakang, cowok dan cewek berdiri sebelahan. Kalo memang mau dibikin mirip, kenapa gak pake cover asli sekalian, yak? *Bingung Soalnya secara pilihan warna dan jenis pakaian yang dipakai si cewek, aku pilih cover asli banget-banget. Lebih terasa remaja. Mana cover yang versi Indonesia juga nggak memunculkan chemistry antara si cewek dan si cowok (kayaknya sih Brooke dengan John).
  7. Jilidannya agak-agak cemen, lembaran kertas mudah lepas dari lem 😦
  8. Jadi skor akhir: 80 untuk ide dan jalan cerita, 65 untuk cover, 70 untuk terjemahan. Kesimpulan, layak dikoleksi karena banyak muatan positif (asal sabar bacanya).

Judul: SO MUCH CLOSER/MENGEJAR MIMPI

Pengarang: Susane Colasanti

Penerjemah: Olivia Bernadette

Editor: Desy Natalia

ISBN: 978-602-00-1275-9

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Cetakan: 1-2011

Jumlah hal: 326

ImageCover versi Asli

ImageCover edisi Indonesia

05
Aug
12

THE RECKONING: Perhitungan-Akhirnya mereka nemu solusi juga, meski bukan solusi permanen ;)

Berkaca pada serial The Darkest Powers ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang tua sangat bisa jadi pihak yang mengecewakan anak-anak. Mulai dari setuju dan mengambil bagian dalam menjadikan anak sebagai subjek penelitian genetis, marah dan menghukum anak-anak tersebut saat hasil penelitian tersebut berbalik arah membuat anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang dianggap membahayakan, menjejali mereka dengan obat-obatan untuk menekan kemungkinan munculnya kekuatan mutan, membohongi, sampai kemudian mengejar-ngejar anak-anak tersebut saat mereka tak kuat menjadi kelinci percobaan. Ngejarnya pun gak tanggung-tanggung. Dari awalnya hanya menggunakan peluru pembius, sampai akhirnya menggunakan peluru beneran. Kebayang kan, bagaimana paniknya anak-anak 15-17 tahun tersebut?

Chloe (necromancer), Tori Enright (penyihir), Derek Souza (werewolf), dan Simon Bae (penyihir) berhasil melarikan diri dari Buffalo sampai ke Albany dan bertemu dengan Andrew, teman ayah Derek dan Simon yang memang sejak awal dipilih Kim Bae untuk menjadi pelindung mereka jika ada situasi genting dan mereka tidak bisa menghubungi sang ayah. Ternyata ‘lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya’ berlaku buat mereka, sehingga sekali lagi, keempat remaja tersebut musti melarikan diri.

Novel ini juga semakin menyuguhkan ketegangan saat ada dua werewolf yang mengejar-ngejar Chloe dan Derek, padahal mereka berdua sedang menjalani proses Berubah Derek yang pertama kali (menyakitkan serta menguras tenaga). Mereka juga musti menghadapi hantu cowok yang tukang bully. Untung ada bantuan dari Liz deh.

Hubungan antar para pelaku juga semakin menarik saja di sini. Tentunya kalian gak mau melewatkan ketegangan antara Derek-Chloe-Simon. Makin serunya lagi, bagaimana Chloe secara gak sengaja nemu hubungan antara Simon dan Tori. Sayang, sampai novel ini berakhir Simon dan Tori malah belum ngeh dengan ‘penemuan’ Chloe.

 

 

Puas. Campuran suspense, romance, serta dialog lucu masih mewarnai 3rd installment ini. Dan bagusnya, Kelley Armstrong mampu mengolah persentase masing-masing unsur secara tepat sehingga tak ada yang terbaca dominan, tak ada juga salah satu yang terbengkalai.

Terjemahan novel ini enak, dan cover-nya juga konsisten, mampu bercerita tentang si tokoh utama serta background-nya hanya dengan satu gambar. Lebih memuaskannya lagi, ada tampangku di dalamnya. Huehehehehe.

Hanya satu ketidakpuasanku terhadap serial ini: kalo begini terus, kapan mereka bisa menjalani kehidupan yang normal seperti pergi ke sekolah, atau bahkan mandi serta ganti baju secara teratur? *sigh (curhatan emak-emak)

Note:

Buat kalian yang gak ngikutin dari awal, fyi, novel ini adalah buku ke-3 (kayaknya yang terakhir) dari serial The Darkest Powers. ini link review buku 1.

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/03/25/the-summoning-pemanggilan-ketegangan-dan-pengadeganannya-serasa-sedang-%E2%80%9Cmembaca%E2%80%9D-film/

dan buku 2:

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/12/25/the-awakening-penyadaran-tiba-tiba-menggelandang-di-jalanan-plus-masih-juga-dikejar-kejar-komplotan/

*Jadi jangan nekat baca yang ini kalo belum nyentuh dua novel yang lebih duluan muncul, tentunya;)*

 

Judul: THE RECKONING (The Darkest Powers Book 3)

Pengarang: Kelley Armstrong

Penerjemah: Melody Violine

Editor: Uly Amalia

ISBN: 978-602-18349-0-9

Tebal: 449 hal (soft cover)

Terbit: Juni 2012 (Cetakan 1)

Penerbit: Ufuk Publishing House

09
Jul
12

CLOCKWORK PRINCE: The Magister is still going strong

Setelah berhasil menggerebek The Pandemonium, kelab dunia bawah yang digerakkan oleh Mortmain dan tidak berhasil menangkap si Mortmain, Charlotte Branwell selaku pimpinan Institut London dihadapkan pada tugas yang cukup mustahil. Ia harus bisa menemukan Mortmain dalam waktu dua minggu. Jika tidak, institut bakal diambil alih oleh Benedict Lightwood yang antagonis banget.

Jadilah seisi institut kalang-kabut melacak semua jejak yang mengarah pada Mortmain atau Nate Gray, antek kepercayaan Mortmain yang notabene adalah kakak Tessa, si Pengubah Bentuk. Mulai dari riset perpustakaan, melacak ke Institut York, konsultasi ke Kota Hening, mengendap-endap masuk ke pesta ilegal Benedict Lightwood, sampai membuat jebakan untuk Nate Gray, tak ada hasilnya. Mortmain benar-benar licin di persembunyian.

Mortmain bahkan masih bisa mengirim automaton untuk mengirim ancaman pada Tessa, Will, dan Jem yang berhasil sampai ke reruntuhan rumah Mortmain di York. Sayang, di reruntuhan itu malah ada kejutan kurang menyenangkan yang disiapkan Mortmain, yang membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Jadi, sebenarnya kenapa sih Mortmain segitu ngototnya pengen mengobrak-abrik Pemburu Bayangan? Kalo semua rencana yang disusun penghuni Institut London bisa diketahui Mortmain sehingga ia selalu berhasil menyiapkan tindakan penangkal, kira-kira apa ada pengkhianat? Dan bagaimana hubungan Will-Tessa-Jem? Adakah happy ending (sementara lah) di antara mereka? Baca saja sendiri ya … ditanggung senyum, tegang, nangis, marah, deh.

Whew, tidak banyak yang bisa aku bahas di Clockwork Prince ini, kecuali bahwa dongengnya masih menarik, meski permasalahan belum tuntas juga, bahkan makin pelik (biar ada napas buat sekuel ke 3 kaleee). Penasaranku dengan kalung Tessa di buku pertama saja tetep belum kejawab. Entah nanti bakal dijawab apa kagak deh sama si Cassandra Clare 😦

Desain sampul installment ini mirip dengan cara The Mortal Instrument disusun. Lay out mirip dengan sekuel sebelumnya, hanya tokoh-tokohnya saja yang dibikin ganti-ganti. Kalo di Clockwork Angel kayaknya Will Herondale yang dapat kehormatan Mejeng di sampul, kali ini James Carstairs yang tampang dan gaya rambutnya agak-agak bergaya boiben Korea yang muncul di sini.

Nah, sekarang tentang para tokoh ya. Kenapa ya, aku kok kurang ngerasa sreg dengan Tessa. Agak-agak ababil gitu, selalu perlu perlindungan. Mungkin karena memang si Tessa hidup di abad 19 kali ya, jadi aku kurang bisa berempati dengan dia. Tapi lihat deh si Charlotte, Jessamine, atau bahkan Cecily yang belakangan muncul, atau si Sophie yang cuma pelayan di institut. Mereka lebih mampu menemukan posisi dan menentukan sikap. Atau, mungkin karena Tessa sendiri masih bingung, sebenarnya dia apaan? Yah, entah deh. Yang jelas di novel ini aku terbelah dua, antara mau naksir James, atau Will. Tapi kayaknya Will saja deh, soalnya dia bad boy banget. Enak buat diikuti sepak terjangnya. Tapi Magnus Bane asik juga buat dipertimbangkan lho. Di balik sikap cueknya yang kadang nyebelin, kita bisa nemu sincerity, kebaikan hati, dan ketegasan :O)

Oke, yang terakhir nih, di antara semua kekacauan yang memesona di dalam dongeng ini, ada satu kejanggalan yang aku temukan:

Kenapa hampir semua nama keluarga yang muncul di Institut New York dan Idris abad 21 (Lightwood, Herondale, Fairchild, Starkweather, Wayland, dll) bisa kompak berada di London/York? Oke deh, memang klan Pemburu Bayangan mungkin memang terbatas jumlahnya. Tapi ada banyak banget institut yang sejauh ini aku catat: London, New York, Madrid, Paris, Los Angeles, Shanghai, York, dan mungkin masih banyak lainnya, mengapa hanya nama-nama itu yang beredar di London dan New York? Memangnya Institut London abad 19 ‘bedol desa’ ke New York semua? Semoga di Clockwork Princess atau buku setelahnya, nanti ada penjelasan yang masuk akal.

Overall, novel yang asik banget. Jangan coba-coba baca kalo gak ada waktu yang cukup untuk menuntaskan keseluruhan 675 halaman. Bakalan gak rela naruh 😉

Btw, novel ini aku beli baru bulan kemarin (Juni 2012). Tapi ternyata sudah terbit sejak Mei 2011. Duh, ketinggalan banget yak, aku? Tapi kok kemarin-kemarin di toko buku sama sekali gak ada yak? Kayaknya (nuduh nih), penerbitnya salah nulis tanggal terbit deh, soalnya copyright-nya saja taun 2011 juga, dan book-1 juga terbitnya Maret 2011 😛

Judul: CLOCKWORK PRINCE (The Infernal Device Book 2)

Pengarang: Cassandra Clare

Penerjemah: Melody Violine

Editor: Widyawati Oktavia

ISBN: 978-602-9346-78-7

Tebal: 675 hal

Terbit: Mei 2011 (Cetakan 1)

Penerbit: Ufuk Publishing House

29
Jun
12

Blog Galau: Tidak Semurah yang Tampak Pada Cover-nya

ImageBrooklyn Pierce biasa jadi IT girl di sekolah (IT girl nomor dua deh, setelah sobatnya, Shayne). Tapi sejak insiden tidak sengaja membakar rumah contoh, kastanya di sekolah turun drastis, Shayne berlagak gak kenal, Brooklyn dihukum seumur hidup (atau sampai ortunya jadi pikun dan lupa kesalahannya, mana yang lebih dulu terjadi) gak boleh gaul ke luar rumah, gak boleh pegang ponsel, gak boleh internetan, dan semua yang serba gak boleh lainnya. Ia juga harus kerja pelayanan di rumah jompo (keputusan pengadilan) serta ‘nyambi’ jadi pekerja bangunan (keputusan ibunya) untuk membantu membangun kembali rumah contoh yang telah habis terbakar. Itu semua diperburuk dengan citra kakaknya sebagai cewek sempurna yang bikin kesalahan-kesalahan Brooklyn jadi semakin tampak buruk di mata ortu dan guru-gurunya.

Karena merasa semua keputusan yang ia bikin gak pernah membuahkan efek positif, Brooklyn memutuskan, sudah saatnya ia menyerahkan semua keputusan dalam hidup kepada orang-orang lain. Ia hanya tinggal menjalankan saja.

Nah, gimana dong, cara Brooklyn minta saran dari orang-orang? Masa mau curhat ke semua orang yang ia temui? Tentu tidak. Ia bikin blog yang berisi curhatannya, dan meminta orang-orang yang baca untuk mengisi polling bagi setiap tindakan yang musti ia ambil. Blog itu ia bikin dengan cukup anonim, tentu saja. Soalnya sejak bayi Brooklyn kan lumayan tenar.

Dan begitulah, mulai dari pilihan buku harus dibaca, kegiatan ekskul yang musti diikuti, pilihan tempat makan siang, hingga pergi ke pembukaan kelab malam, semua diserahkan pada pembaca blog. Serunya, ternyata blog Brooklyn jadi terkenal banget. Dari awalnya hanya sekitar 11 orang akhirnya sampai mencapai ratusan ribu pengunjung dalam satu malam.

Hidup Brooklyn yang tadinya berantakan, berangsur menemukan pola meskipun bukan ke arah yang awalnya ia inginkan. Bahkan ia malah nemu ada dua cowok ganteng yang kayaknya tertarik padanya.

My Life Undecided adalah judul aslinya. Awalnya, novel ini tidak berhasil membuatku nengok sampai boro-boro tertarik. Judulnya agak-agak alay sih. Hihihi. Mana cover-nya super pink gitu. Tapi begitu aku coba intip (biasa deh, nyobel plastik bungkus diam-diam) kayaknya lucu. Jadi aku putuskan beli lah.

Jessica Brody mampu melukiskan hidup Brooklyn yang jungkir balik dalam semalam. Akhirnya kegalauan perasaannya bikin judul versi Indonesia jadi masuk akal.

Jika kalian mengharapkan romance, kebaikan berhasil mengalahkan kejahatan, penemuan jati diri, dll dll, lengkap deh, di novel ini semua ada. Renyah, ringan, tapi bermuatan positif. Aku bakal merekomendasikan novel ini untuk anakku begitu ia menginjak remaja. Supaya gak gampang-gampang galau 😀

Btw, kok di gambar cover yang ada di blog Noura Books pattern bunga-bunga nya keliatan jelas, ya. Di Novel yang aku beli gak terlalu tampak lho. Malah, aku baru nyadar kalo ada bunga-bunga itu setelah donlot untuk gambar di review ini XD

Judul: MY LIFE UNDECIDED/BLOG GALAU

Pengarang: Jessica Brody

Penerjemah: HP. Melati

Editor: Rina Wulandari

ISBN: 978-602-9225-25-9

Penerbit: Qanita/Noura Books

Tebal: 335 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 49.000,-

01
Jun
12

The Lost Hero: Niatnya Jadi Obat Kangen si Percy yang Justru Bikin Tambah Kangen :(

“Tujuh blasteran akan menjawab panggilan.

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal.

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan,

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal.”

Ramalan di atas muncul di menjelang akhir novel ke-5 pentalogi Percy Jackson: The Last Olympian. Rangkaian kata-kata membingungkan tersebut juga yang ternyata menjadi materi petualangan baru para demigod di The Heroes of Olympus.

Kisah kali ini dibuka dengan Jason yang mendapati dirinya ada di atas sebuah bus Sekolah Alam Liar. Seakan-akan belum cukup bingung, ia yang ngerasa gak kenal satu pun remaja yang ada di atas bus, tiba-tiba ternyata berstatus pacar cewek cakep bernama Piper, dan tiba-tiba juga bersahabat dengan cowok bernama Leo. Jason tidak paham siapa dirinya, hanya tau namanya saja. Seakan-akan ia pasien amnesia yang dijatuhkan ke tengah rombongan karyawisata SMA.

Kunjungan ke Museum di tengah Grand Canyon itu jadi penuh kepanikan saat rombongan yang sedang meniti jembatan tiba-tiba kena serangan badai. Hampir semua murid bisa menyelamatkan diri masuk kembali ke museum. Tinggal Jason, Piper, Leo, Dylan, dan Pak Hedge pendamping karya wisata.

Ternyata Dylan adalah monster yang menyamar. Pak Hedge pun menyimpan rahasia yang terpaksa ia kuak di tengah kekacauan tersebut. Jason dengan refleks mengeluarkan uang koin yang ada di sakunya, dan ia ubah menjadi pedang emas bermata dua yang tajam. Saat bertarung di tengah badai, datang bala bantuan berupa kereta perang yang ditarik pegasus. Kereta itu dikendarai seorang cewek, Annabeth beserta temannya, dan mereka mengajak Jason, Piper, serta Leo ke tempat bernama Perkemahan Blasteran.

Singkat kata, Perkemahan Blasteran ternyata tempat yang cukup menyenangkan, karena Jason, Piper, dan Leo berkumpul dengan teman-teman seusia mereka yang sama-sama bermasalah, menderita disleksia, dan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder/Kelainan Hiperaktivitas dan Kurang Perhatian). Mereka semuanya adalah anak-anak dewa-dewi Olympus dengan salah satu orang tua manusia fana. Mereka mengalami masalah dikejar-kejar monster, sehingga Perkemahan Blasteran adalah tempat yang relatif aman bagi mereka, karena sudah dilindungi.

Kenyamanan Jason, Piper, dan Leo tidak bertahan lama. Mereka ternyata dikumpulkan untuk memenuhi ramalan mengenai tujuh demigod yang disebut di awal tulisan ini tadi. Siapa empat demigod yang lain? Belum ada yang tahu. Tapi sebelumnya, mereka harus menyelesaikan tugas penting dan berbahaya, menyelamatkan Hera, ratu para dewa Olympus yang ditahan di satu tempat yang mereka bahkan belum tau lokasinya. Mereka hanya punya waktu seminggu sebelum hal buruk lainnnya muncul, dan Hera binasa.

Berangkatlah tiga remaja tersebut mengarungi udara mengendarai robot naga bernama Festus. Petualangan yang menegangkan yang mempertemukan mereka dengan kakak Jason yang tidak disadarinya kalo pernah ada, tokoh-tokoh cerita Yunani kuno yang seharusnya sudah mati ribuan tahun yang lalu, monster-monster seram, dan akhirnya, kebangkitan calon penghancur dewa-dewa. Belum lagi kenyataan bahwa Piper, Jason, dan Leo sama-sama menyimpan rahasia mengenai keberadaan masa lalu dan mimpi-mimpi mereka.

Petualangan para demigod kali ini membutuhkan nyaris dua kali lipat halaman serial yang sebelumnya telah mendahului. 585 halaman penuh ketegangan, bikin aku yang mau menceritakan ulang jadi gagap sendiri. Semua adegan lucu, penting, dan ngaruh ke jalan cerita.

Untuk jalan cerita, plot, gak ada komplen deh. Masih super keren.

Novel ini juga membantu aku lebih memahami jalan pikiran para makhluk superior yang berebut dunia (titan, emak-bapak titan, dewa, raksasa, dll). Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kalo para bad guys itu berniat menguasai dunia dengan cara meremukkannya, lha berarti para manusia pengisi dunia kan bakal pada mati tuh. Trus nanti yang mereka kuasai itu apaan yak? buat apa jadi penguasa kalo gak ada anak buah dan kacung buat disuruh-suruh? Dasar makhluk superior aneh!

Nah, sekarang jalan pikiran para dewa-dewi. Mereka pada jatuh cinta pada manusia, sehingga menghasilkan ras demigod. Para demigod dicuekin pas lahir. Lalu begitu gede diklaim, hanya biar bisa ngebantu kerjaan remeh-temeh mereka di dunia. Nah, giliran para demigod mau bantu, masih juga diribetkan dengan ramalan-ramalan gak jelas, dihambat dewa-dewi lainnya, padahal tujuan bantuan itu kan juga untuk menyelamatkan para dewa. *Garukgarukpala

Dilihat secara kepribadian para tokoh, The Lost Hero terbaca (agak) lebih ‘dewasa’ dibanding serial Percy Jackson and the Olympians. Dewasa di sini bukan berati PG rated lho ya. Tapi si Jason yang tokoh utama dan kayanya lebih muda dikit dari Percy, joke-jokenya gak setolol Percy dan mulutnya gak selancang Percy. Bikin aku jadi makin kangen sama anak Poseidon satu itu. Porsi Grover yang hilang agak tergantikan oleh salah satu satir yang muncul. Leo juga lumayan konyol.

Sekarang typo yuuuk. Gak banyak jejak typo di sini. Tapi coba cek halaman 351 alinea tiga deh. Di baris ke 4-6, “…Lalu Kronos, pimpinan Titan—yah, kau barangkali sudah dengar bagaimana kisahnya, Zeus mencincang ayahnya, Ouranos, …”

Halo, kok tiba-tiba bisa muncul Zeus di situ, yak? Yang mencincang ayahnya adalah si Kronos kali? Soalnya kan yang dicincang si Ouranos. Sedang untuk urusan cincang-mencincang, jatah Zeus masih jauh setelah era itu. Zeus kan memang mencincang ayahnya. Tapi ayah si Zeus yang dipotong kecil-kecil itu Kronos, bukan? (Setelah ngecek versi English-nya, ternyata memang yang tertulis adalah “…Then Kronos, the head Titan—well, you’ve probably heard how he chopped up his father Ouranos …”. Berarti bener-bener typo. Case closed :D)

Ada satu lagi (yang justru aku suka). Lihat halaman 536 alinea 2 deh. Begini kalimatnya, “Seperti Enceladus, sang raja raksasa bertubuh manusia dari pinggang ke atas, mengenakan baju zirah perunggu, sedangkan dari pinggang ke bawah dia memiliki kaki naga bersisik; namun kulitnya sewarna petai ….”

Aku heran, kok ada petai bisa masuk ke buku terjemahan, yak? Ternyata aslinya adalah “Like Enceladus, the giant king was humanoid from the waist up, clad in bronze armor, and from the waist down he had scaly dragon’s legs; but his skin was the color of lima beans.”

Hehehe, entah sengaja atau bukan, perubahan dari ‘lima beans’ ke ‘petai’ terasa sebagai penerjemahan yang mempertimbangkan local wisdom. Lima beans, kalo diindonesiakan bakal jadi ‘kacang polong’. Tingkat kelucuannya tidak akan sama dengan jika kita menggunakan ‘petai’ yang memang sudah sangat dikenal orang kita, serta sering jadi sayur yang bernasib sebagai bahan olok-olokan.

Jadi gitu ya, novel ini sangat layak baca. Tapi saranku sih, sebelum baca serial The Heroes of Olympus ini, yang kayaknya bakal ngabisin 3 novel (sejauh ini sudah keluar dua novel di pasaran Amrik: The Lost Heroes dan The Son of Neptune. Musim gugur ntar The Mark of Athena bakal nyusul), sebaiknya sih kalian kelarin Percy Jackson & The Olympians biar tau seberapa heroiknya si demigod yang ngilang dari Camp Half-Blood itu.

Judul: THE LOST HERO

Penulis Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-653-3

Halaman: 586 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 79.000,-

11
May
12

SILENCE: Jika pilihannya adalah yang dihadapi Nora, aku sih mending tetap amnesia saja :(

Eh, ternyata di antara saat terakhir kali kita nutup CRESCENDO dan buka sampul depan SILENCE, si Nora diculik lho. Gak tanggung-tanggung durasi nyuliknya, tiga bulanan. Ngapain saja ya dia selama itu? Ada di mana? Siapa yang nyulik? Apa sempat ganti baju? (huek huek huek! kalo gak sempat).

Sayangnya, saat ia dilempar dan dilepasin ke tengah kuburan, Nora mengalami amnesia (duh, di sini kok jadi inget sinetron-sinetron) sehingga gak bisa ingat apa yang terjadi selama lima bulan terakhir dari hidupnya. Nora menjalani kembali hidupnya, meskipun sifat ngeyelannya membuatnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa berang saat ia tahu, sepanjang kepergiannya, ibunya malah pacaran dengan Hank Millar, bokap musuh bebuyutannya, Marcie. Nora juga heran melihat Vee Sky, sobatnya yang biasa jelalatan kalo ngeliat cowok cakep, bisa memproklamirkan diri sedang menjalani detoks cowok. Ia juga ngerasa aneh saat tahu Marcie yang agak-agak ramah padanya. Tapi yang paling membingungkan dan membuatnya penasaran adalah sosok Jev. Cowok satu ini menyebalkan dan jelas bad influence kalo ngeliat teman-teman gaulnya. Tapi kenapa Nora justru ngerasa Jev adalah bagian penting hidupnya yang ikut hilang dalam amnesianya?

Seiring isi novel setebal 585 halaman ini, satu persatu misteri terkuak. Akhirnya Nora bisa menyatukan potongan-potongan puzzle-nya, dan menghadapi manipulasi-manipulasi fakta yang selama ini dilakukan secara penuh perhitungan, cold blooded, dan kejam oleh ayah kandungnya. Rasa ingin tahu Nora ternyata kembali menyeretnya ke dalam kesulitan. Kali ini selain harus memikirkan banyak nyawa untuk diselamatkan, ia juga (terpaksa) harus memimpin satu perang di antara dua ras makhluk supranatural.

Seperti yang pernah aku akuin di wall facebook-ku beberapa hari yang lalu, keringat dingin benar-benar membasahi telapak tanganku saat membuka setiap halaman novel satu ini. Bahkan sampai lembar terakhir. Meskipun ada beberapa hal yang sudah bisa aku tebak, tapi tetap saja, seram dan tegang. Becca Fitzpatrick sangat mampu menghadirkan suspense dari awal sampai akhir cerita. Dari sisi cerita, ganjalanku cuma satu: si bad guy terlalu gampang mati. Aku jadi setengah berharap dia bakal muncul lagi entah dengan cara gimana di buku berikutnya.

Nah, saking hebohnya ini cerita, jelas dong kita sebagai pembaca jadi ikut larut dan kebawa naik-turunnya emosi. Ada satu hal yang pasti karena hal ini, aku jadi sebal sama Nora. Mau tauuuuu aja. Selalu nyari masalah. Tapi giliran kena masalah, selaluuu saja cuma bisa lolos karena diselamatkan Patch, atau Jev, atau Scott. Kalo memang mau coba-coba nyelidik, sikap impulsifnya dikurangin dikit, napa?

Tapi baca novel ini enak karena ceritanya memang asik. Penerjemahannya juga enak, gak nemu satu typo-pun. Ada ding satu, di halaman 369. Cek baris ke-9. Bukankah harusnya ‘Rasanya itu tidak bisa kita mungkiri’ instead of ‘pungkiri’? Tapi itu saja kok yang aku temukan 😀

Oke, sekarang sampai ke cover. Hadoooh, di antara HUSH, HUSH, CRESCENDO, dan SILENCE ini, menurutku cover SILENCE yang paling enggak banget. Pose Drew Doyon yang sedang nggendong cewek entah siapa itu (kenapa bukan aku sih???) gak enak diliat. Tampak nanggung 😦 Pilihan kertas paperback-nya aku juga kurang suka. Memang, ketebalannya adalah perbaikan dari CRESCENDO yang tipis banget. Tapi kenapa glossy dan kemerah-merahan sih? Kesan misterius yang aku tangkap di cover dua serial awal jadi gak muncul di sini. Tapi aku salut dengan penempatan bulu warna merah di sono. Dramatis.

Oke, overall, novel ini masih sangat enak dibaca. Sekuel berikutnya, yang kabarnya berjudul FINALE jelas layak ditunggu.

Judul: SILENCE

Penulis Becca Fitzpatrick

Penerjemah: Leinofar Bahfein

Penerbit: Ufuk Publishing House

ISBN: 978-602-9346-63-3

Ukuran: 14 x 20.5 cm

Halaman: 585 halaman

Terbit: Maret 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 74.500,-




%d bloggers like this: