Archive for the 'Teens' Category

17
Apr
14

Along for the Ride: andai lebih sabar nggarapnya ….

 

It’ been loooong time, guys, since I the last time I wrote here. Such a crappy blogger, I know. Hey, I wrote a lot, you know, in my other blog. But now, I have this beautiful novel I want to share. So, here it is ….

 

Tanpa banyak teralihkan, tanpa banyak protes, tanpa banyak pilihan lain, bikin Auden menjalani 18 tahun hidupnya dengan selalu fokus: menjadi murid terpandai, selalu sukses di bidang akademik, mengiyakan semua pandangan feminis ibunya, dan menganggap  semua hal di luar itu adalah pengganggu konsentrasi. Ia bahkan bisa menerima dengan santai saat seorang cowok yang agak dia incar, akhirnya mencampakkannya dari kencan prom, karena alasan cowok itu yang akademis banget.

Sampai suatu ketika saat ia memutuskan menghabiskan musim panasnya di kota kecil pinggir pantai memenuhi undangan ibu tirinya yang habis melahirkan adiknya. Di Colby ini, Auden belajar menerima kenyataan bahwa ia yang selama ini menganggap dirinya serba pintar serba bisa, ternyata ketinggalan banyak hal~hal kecil yang bagi orang lain adalah keharusan dalam menapaki hari menuju kedewasaan. Sebut saja: pesta, kencan, bersahabat sesama cewek dan menggerombol ngobrolin hal remeh temeh, main boling, bahkan naik sepeda. Bersama Eli, cowok pemuram pengelola toko sepeda, ia menjalani petualangan di malam hari untuk menutup ketertinggalannya itu.

Colby, adalah kota kecil yang tidak menyisakan hiburan berlebih. Tetapi Colby mampu membalikkan dunia Auden, membuatnya memandang hidup dari sisi remaja yang beranjak dewasa.

 

Berapa kali aku musti bilang, kalo aku sukaaaa banget Sarah Dessen? Along for the Ride ini termasuk salah satu karya dia yang paling aku suka. Pengarang satu ini menarik banget.

  1. Ia (hampir) selalu bisa menemukan hal sepele untuk menjadi titik balik pemikiran tokohnya. Seperti ‘belajar naik sepeda’ di novel ini, atau ‘CD kosong’ di Just Listen.
  2. Ia tidak pernah mengumbar ‘I love you’, tapi mengajak kita memaknainya dari tingkah, gerakan, dan dialog yang muncul.
  3. Cover2 bukunya selalu cantik dan manis.
  4. Sarah Dessen berhasil menciptakan kota2 fiktif sebagai lokasi, dan ia menempatkan tokoh2 di buku2nya saling terkait. Seperti si Jason di buku ini yang adalah mantannya tokoh utama di The Truth about Forever (semoga gak nyepoil nih di sini. Ehehe), dan Remy yang muncul bentar di Just Listen, adalah tokoh utama di This Lullaby, and so on.

 

Oke, balik ke buku ini, pas ngeliat cover~nya, duh, seneng banget. Meskipun beda dari versi asli, tapi warna Sarah Dessen~nya kerasa banget. Aku suka. Sayang begitu aku buka segel dan baca, pusing mulai melanda ….

Bayangkan saja, font~nya seukuran font koran. Kesannya Elex Media maksa banget madat2in halaman biar irit. Soalnya biar sudah dilayout pake font mikroskopis gini, tetep saja 339 halaman.

Trus, yang bikin puyeng yang kedua adalah terjemahannya. Aduuuuh, berasa baca text book jaman kuliah. Rumit, jauh lebih rumit dari bahasa aslinya. Berasa gak baca buku remaja. Belum lagi pemahaman penerjemah tentang istilah2 yang ada di sono. Misal: pas membandingkan celana tipe boyshort dengan bikini (halaman berapa yak?). Ya sudah, boyshort ya boyshort saja kaliiii, gak usah diterjemahkan jadi celana cowok. Karena boyshort itu kan tipe panties yang bukaan kakinya gak terlalu menukik ke atas, bukan berarti celana pendek milik cowok.

Andai lebih sabar di proses terjemah dan editingnya, buku ini bakal lebih membahagiakan utk dibaca :=/

Cover: skor **** untuk ***** yang tersedia

Layout: skor * untuk ***** yang tersedia

Terjemahan: skor *** untuk ***** yang tersedia

 

Judul: ALONG FOR THE RIDE

Pengarang: Sarah Dessen

Penerbit: Elex Media Komputindo

Penerjemah: Mery Riansyah

ISBN: 978 602 02 3452 6

Cetakan I~2014

Jumlah Halaman: 339

 

 

06
Jan
14

My 2014’s Reading Challenge List

Hohohoho, sudah ganti taun, dan tumpukan buku menjulang dalam posisi mengkhawatirkan. Biar lebih aman slash ngurangin rasa bersalah karena nimbun stok slash biar ada tempat buat buku2 baru, musti bikin reading challenge nih buat 2014 (semoga kesampaian, amin amin amin …).

Kali ini, aku bakal bikin challenge untuk kategori fiction dan non fiction.

Untuk fiction, aku bagi jadi tiga sub kategori: hard copies, emak, dan watty. Niatnya sih pengen nyikat 150 judul di taun ini. Ambisius banget, yak? biarin … doain saja bisa terlaksana.

oke, ini daftar Reading Challenge~ku sejauh ini. Belum genap 150 judul sih … daftar berikut bakal nyusul kalo sudah ada judul yang aku inginkan, dan atau aku berhasil baca buku yang justru belum kepikiran masuk ke daftar ini.

FICTION

HARD COPY NOVELS

  1. Beyonders ~ Brandon Mulls
  2. Middle School the Worst Years of My Life ~ James Patterson
  3. Tiger (The Five Ancestors 1) ~ Jeff Stone
  4. Monkey (The Five Ancestors 2) ~ Jeff Stone
  5. Snake (The Five Ancestors 3) ~ Jeff Stone
  6. The Demigods Diaries ~ Rick Riordan
  7. The Red Pyramid (Kane Chronicle 1) ~ Rick Riordan
  8. The Throne of Fire (Kane Chronicle 2) ~ Rick Riordan
  9. The Serpent’s Shadow (Kane Chronicle 3) ~ Rick Riordan
  10. Runaway Run ~ Mia Arsjad
  11. A Wish for Love ~ Mariskova
  12. Jinx ~ Meg Cabot
  13. The Hobbit ~ JRR. Tolkien
  14. The Fellowship of the Ring (TLOTR 1) ~ JRR. Tolkien (reread)
  15. The Two Tower (TLOTR 2) ~ JRR. Tolkien
  16. The Return of the King (TLOTR 3) ~ JRR. Tolkien
  17. Revenge of the Girl with the Great Personality ~ Elizabeth Eulberg
  18. The House of Hades ~ Rick Riordan (reread)

WATTY

  1. Skittles & Science ~ EternalZephyr
  2. Being the Player’s Neighbor
  3. The Normals ~ EstrangeloEdessa
  4. Just Kidding but Seriously ~ Melissassilem
  5. The Quirky Tale of April Hale ~ demonicblackcat
  6. Project Popularity ~ MelTheBookAddict
  7. Coming Together ~ Knightsrachel
  8. Drama Queen ~ Sian7Fenwick7 (the file no longer available. huh?)
  9. Good Enough to Eat ~ CrayonChomper
  10. Up in the Air ~ CrayonChomper
  11. The Cell Phone Swap ~ DoNotMicrowave
  12. I am Talon ~ DoNotMicrowave
  13. Boy Blunders ~ ElzLOL
  14. Bra Boy ~
  15. Pairing Up the Bad Boy
  16. Leap of faith
  17. I’m the Geek Who Slapped the Football Player
  18. Don’t Fall in Love in a Witness Program
  19. I Ship Us
  20. You’ve Fallen for Me ~ roastedpiglet

EBOOK COLLECTION

  1. Educating Caroline ~ Patricia Cabot
  2. Ransom My Heart ~ Mia Thermopolis
  3. The Almost Truth ~ Eileen Cook
  4. His Kiss ~ Melanie Marks (reread)
  5. Just Listen ~ Sarah Dessen (reread)
  6. The Truth about Forever ~ Sarah Dessen (reread)
  7. Angel Beach ~ Tess Oliver
  8. Harmonic Feedback
  9. Moonglass  ~ Jessi Kirby
  10. Playing Hurt
  11. Geek Girl ~ Holly Smale
  12. A Match Made in High School ~ Kristin Walker
  13. My Wish for You
  14. Spark (Elemental 2) ~ Brigid Kemmerer
  15. Spirit (elemental 3) ~ Brigid Kemmerer
  16. Karma Club ~ Jessica Brody
  17. The Girl in the Park ~ Mariah Frederick
  18. Shadowhunter’s Codex ~ Cassandra Clare

NON FICTION

1. Brand Gardener ~ Handoko Hendroyono (finishing)

2. Political Branding & Public Relations ~ Silih Agung Wasesa

3. The Brand Mindset ~ Duane E. Knapp (reread)

4. Membunuh Indonesia ~ Abhisam DM, dkk

5. The Media Handbook ~ Helen Katz

Notes:

1. Italic letters: in reading progress

2. Striked through: already read

 

1558374_10202947865163775_321195645_nSebagian buku yang musti ‘ditelan’ dan masih banyak lagiiiii … 😀

26
Jun
13

STORM: Pertentangan para pengendali kekuatan alam

Beberapa minggu hidup Becca kacau balau. Dimulai dengan sebuah kejadian memalukan di pesta, diikuti dengan bisik–bisik, hinaan, dan perlakuan kejam anak–anak lain di sekolah. Becca pikir, jika ia diam saja maka semua akan berlalu. Tetapi ternyata tidak segampang itu, hingga ia memutuskan untuk ikut kelas bela diri.

Usai kelas yang agak terasa tidak berguna itu, Becca menyelamatkan seorang cowok dari keroyokan dua cowok lain. Dia kira keributan hanya akan selesai sampai di situ, tetapi ternyata itu menjadi awal rentetan kejadian menyeramkan yang melibatkan semua gejala alam mulai dari angin ribut, hujan badai, gempa bumi, bahkan banjir dan kebakaran.

Kejadian–kejadian itu membuat Becca mempertanyakan kejujuran masing2 pihak yang terlibat. Apakah Chris si cowok yang dia selamatkan itu memang setidak bersalah yang ia tampakkan? Apakah kakak–kakak kembar cowok itu, dua cowok yang juga superganteng itu juga semenyenangkan yang mereka tampakkan? Apakah kakak tertua mereka yang menyebalkan itu memang membunuhi orang sebanyak itu? Bagaimana dengan kata–kata dua cowok yang mengeroyok Chris? Mereka tidak mungkin berbohong semeyakinkan itu, kan? bagaimana dengan orang–orang lain? Kenapa kota kecil mereka jadi tampak menyeramkan padahal warganya masih yang itu–itu juga?

Belum lagi dengan si Pemandu? Siapa lagi orang ini? Dan yang penting, yang manakah dia di antara orang–orang yang muncul di tengah kekacauan peristiwa alam di kota mereka?

Hah, setelah beli tanggal 30 Mei 2013, akhirnya aku berhasil ngrampungin novel ini. Bukan karena jelek ceritanya lho, tapi akhir–akhir ini aku nemu asiknya baca secara paralel antara beberapa hard copies, ebook, dan Wattpad. Jadinya banyak yang terbengkalai :DDD

Awal nemu info tentang novel ini, aku ragu …. Saat ini kan tren novel sudah mulai bergeser ke arah dystopian. Mulai dari zombi–zombian yang sampai sekarang belum aku temukan sisi menariknya (muka pucat jalan gak lurus, di mana menariknya? Apocalyptical world, hadeeeh … I’m a self–proclaimed happy–ending lover. Dan kesukaan zombi–zombi ngemil otak manusia? Eeeew), sampai ke situasi–situasi di mana aturan baru yang penuh represi diterapkan, atau remaja–remaja hasil eksperimen berkeliaran mencari jati diri, aku belum nemu rasa ‘klik’.

Jadi, buatku YA romance–high school adalah pelampiasan yang segar. Karena terus terang saja, untuk beralih ke New Adult aku belum siap. Apalagi sampai ke eroro. *malu2 nutupin muka.

Ternyata STORM lumayan mengasyikkan. Dari sisi alur, ketegangan terasa di setiap halaman. Mulai dari ketegangan hubungan dengan orang tua, dengan peer group, dengan sahabat, sampai ketegangan karena inti permasalahan.

STORM juga menyuguhkan kelincahan dan kelucuan dialog, sayang, typo macam kelebihan huruf atau salah ketik huruf atau penempatan tanda baca cukup banyak bertebaran. Nih, contohnya di halaman 20 alinea pertama baris kedua:

>>Menyebut celana jin–nya rombeng ….<<

Untuk penulisan kata asing yang telah diindonesiakan macam jenis celana ‘jin’ atau ‘jins’ yang merupakan adaptasi dari ‘jeans’, bukankah tanda hubung (–) sudah tidak dibutuhkan? Ketidaknyamanan macam ini bisa ditemukan di beberapa halaman lainnya.

Belum lagi beberapa terjemahan terbaca janggal seakan sebenarnya belum selesai proses edit. Misalnya halaman 532 alinea 11:

>>”Becca.” Suara ayahnya memotong suara Becca dan ayahnya melangkah maju ke arahnya.<<

naskah aslinya:

>>”Becca.” Her father’s voice sliced right through her, and he stepped toward her.<<

Oke, memang bener sih, terjemahan kata per katanya. Tetapi gak nyaman juga kan, dalam satu kalimat kita musti baca kaya ‘–nya’ sampai tiga kali gitu? Mungkin akan lebih pas jika kita baca dengan cara:

>>”Becca.” Sang ayah menyela ucapan gadis itu, dan melangkah ke arahnya.

Jadi gitu deh …

STORM sebagai buku pertama dari serial ELEMENTAL, menjanjikan ketegangan dari awal sampai akhir lembar kertasnya. Aku ‘beruntung’ saja saat ini sudah ngadepin SPARK (second instalment) dalam bentuk ebook, jadi mungkin aku gak akan sepenasaran itu dengan salah satu tokoh sentral yang dibahas berkali–kali tapi justru pas di belakang raibnya terasa antiklimaks (eh, bukan spoiler kan? :P)

Akhir kata, kalo aku bilang sih Brigid Kemmerer mampu menyuguhkan keseimbangan di serial ELEMENTAL pertamanya ini. Sisi misteri, action, dan romance muncul tanpa saling mengalahkan, membuatku menunggu–nunggu buku selanjutnya. FYI buat yang belum tau, ada novella yang bisa didapat dalam bentuk ebook untuk peristiwa yang terjadi 5 tahun sebelum STORM berlangsung (ELEMENTAL) . dan di antara STORM serta SPARK juga satu novella (FEARLESS). Tidak akan ngaruh banyak kalo kamu gak baca juga, tapi jelas akan membantu pemahamanmu tentang kejadian2 di antara masing2 novel.

Judul: STORM

Pengarang: Brigid Kemmerer

Penerjemah: Tria Barmawi

Editor: Putra Nugroho

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-727-1

Cetakan: 1, Mei 2013

Jumlah hal: 552

Image

18
Nov
12

The Son of Neptune: Sekali lagi disuguhi serunya petualangan demigod amnesia

Kehilangan ingatan, dikejar-kejar dua gorgon yang menyamar jadi sales promotion girl nawarin sample sosis, harus berkali-kali membunuh kedua gorgon tersebut (dengan menjatuhi mereka peti berisi bola boling, menggilas pake mobil polisi, memenggal kepala, dll) tapi mereka segera muncul lagi, berkali-kali digigit gorgon-gorgon itu juga tapi kok ya tetep gak mati, adalah nasib yang musti dihadapi Percy Jackson selama beberapa minggu terakhir. Kesialan tersebut belum ngitung bahwa karena dikejar-kejar gorgon itu, dia jadi gak sempat mandi boro-boro beli makan. Makanya musti pasrah badan bau, kelaparan hingga mengais-kais tempat sampah nyari makanan sisa.

Pokoknya dia disuruh Lupa si serigala untuk pergi ke arah Barat.

Sampai di seberang tempat tujuan, Percy masih diminta nyeberangin seorang nenek-nenek hippie dekil yang agak-agak sinting. Yah hero kita satu ini kan memang baek, jadinya dia mau dong. Dan jadilah dia nggendong si nenek yang menurut deskripsi, napasnya bau kecut (hueeek, bangun tidur gak langsung gosok gigi, pasti!).

Akhirnya, setelah kehebohan di terowongan, Percy nyampe di Kamp Jupiter, tempat penampungan demigod, sama dengan Perkemahan Blasteran di New York sono. Tapi yang ini untuk demigod-demigod keturunan dewa-dewi Romawi.

Oke, abaikan semua keributan yang mengiringi kedatangan Percy (dikejar-kejar dua gorgon, jadi anak Neptunus-dewa yang kurang disambut baik di Kamp Jupiter, dua dewa-dewi yang muncul karena kedatangannya, dan kemenangan Kohort V, serta teknik bertempurnya yang agak-agak aneh menurut para demigod Romawi), ia harus mengikut sebuah misi bareng dengan dua anak Kamp Jupiter, Hazel Levasque dan Frank Zhang untuk membebaskan Thanatos si Dewa Kematian, serta mencari Panji-panji Elang milik Kamp Jupiter yang telah lama hilang ke Alaska. Padahal kalo Thanatos benar-benar bisa dibebaskan, nasib dua teman Percy ada di ujung tanduk.

Hanya naik perahu, mereka bertiga mengarungi lautan ke Seattle. Di jalan bertemu dengan gerombolan raksasa dan bala bantuannya yang berniat menaklukkan Kamp Jupiter, ngakalin blasteran-tua-tukang-bully-harpie, ribut-ribut dengan segerombolan cewek feminis-Amazon, sampai ke nyaris diduduki pantat raksasa Alaska yang berbulu.

Jadi gitu deh, Percy harus menaklukkan amnesianya, sekaligus musti menuntaskan misi yang tampak gak mungkin. Seru gak? Mmm … masih perlu tanya ya? Hehehe.

Setelah The Lost Hero, The Son of Neptune adalah buku-2 dari serial The Heroes of Olympus karya Rick Riordan. Sekali lagi, installments ini mengisahkan para demigods (blasteran dewa), dewa-dewi Yunani/Romawi, monster-monster dan raksasa, serta keributan di antara mereka. Semua masih dengan setting masa kini ber-genre young-adult fantasy. Novel ini nantinya akan diikuti oleh The Mark of Athena (novelnya sudah di tangan, tunggu aku gak males ngeripiu ya … :P) lalu The House of Hades (yang ini gak tau deh kapan bakal rilisnya).

Dibanding serial Percy Jackson and the Olympians, novel-novel The Heroes of Olympus jauh lebih tebal. Sudut pandang penceritanya juga berubah-ubah, meskipun sama-sama dari sisi orang ke-3. Di The Heroes of Olympus Mr. Riordan berusaha lebih objektif dengan menaruh beberapa angle saat ia bertutur. Kadang dari si A, lalu si B, lalu si C, dst, dipisahkan berdasarkan bab.

Meskipun tetap lucu, novel ini tampak lebih menokohkan Percy dengan sisi yang lebih manusiawi. Rasa takut, khawatir, sedih, dimunculkan. Bukan hanya kekonyolan seorang remaja pemberani. Mungkin karena memang perasaan tokoh kita satu ini teraduk-aduk parah, ya. Soalnya kan selain kehilangan memori, dia sudah dibikin tidur seorang dewi selama berbulan-bulan (berarti pasti gak naik kelas dong ya … secara dia ngilang gitu selama masa sekolah), dan kemudian dicemplungkan ke sebuah mission impossible. Kalo dia Ethan Hunt sih oke saja. Tapi dia kan cuma seorang demigod remaja 😛

Aku suka semua tokoh yang muncul di sini. Cuma para karpoi saja yang terasa kurang sreg. Terlalu konyol dan gak penting. Aku juga penasaran dengan si Nico. Sebenarnya apa sih agenda tersembunyi dia, kenapa dia pake acara gak mau terus-terang kalo kenal Percy sejak lama? Oke deh, gak terus terang dengan para demigod Romawi sih masuk akal. Tapi sama Percy? Dan sampai di akhir novel, motifnya tetep saja masih blur. Mungkin aku harus sabar nunggu penjelasannya di TMoA.

Typo gak banyak. Hanya kurang enak saja di beberapa kali penulisan, saat tanda petik penutup kalimat ketemu dengan kata ‘tanya’ di belakangnya. Karena huruf T-nya selalu jadi huruf besar. Halo ‘Penyelaras Aksara’???

Keanehan di kontinuitas isi cerita sih ada. Si Hazel – yang diceritakan sebenarnya lahir tahun 1930-an, sudah mati, tapi kembali dari Asphodel karena pintu kematian yang terbuka saat Thanatos ditawan raksasa – kan remaja produk jadul. Dia diceritakan banyak bingung liat televisi, komputer, iPod, internet …. Gestur yang dilakukan Hazel pun gestur-gestur jaman dulu seperti mengipas-kipaskan telapak tangan saat ketemu situasi yang bikin ia jengah. Tapi kenapa ya saat bab penceritaan ada di sisi dia (V-HAZEL), Mr. Riordan lupa dan bikin line:

‘HAZEL MERASA SEPERTI BARU MEMPERKENALKAN dua bom nuklir.” –hal. 63

Mmmm … sebagai anak yang lahir tahun 1930-an dan mati sebelum Perang Dunia II berakhir, rasanya istilah bom atom belum dikenal ya, karena bom itu muncul di akhir PD II. Nah, boro-boro bom nuklir, kan? :-/

Tapi beneran, gak banyak yang bisa aku ulas selain acungan jempol saja. Rugi buat yang sampai sekarang belum baca. Dibanding The Lost Hero, kekonyolan khas serial Percy Jackson lebih banyak muncul di sini. DI TLH biasanya aura konyol muncul saat cerita ada di sisi Leo Valdez. Nah, di SoN ini, selain Percy, Frank Zhang juga konyol secara menggemaskan. Coba saja ini:

“Untung bagi Hazel, Frank angkat bicara: “ Kuharap aku menderita GPPH atau disleksia saja. Aku malah tidak bisa mencerna laktosa.””-hal. 101

Hehehe, bayangkan keinginan Frank yang mundane banget buat para demigod. Dia pengen jadi demigod normal dengan GPPH dan disleksia-nya. Soalnya kelainan dan ciri-ciri fisik dia selalu saja bikin dia tampak aneh.

Yah, jadi gitu deh, the second installment seemed slightly better to me compared to the first one. Bukannya aku bilang TLH gak bagus lho ya …. Hanya saja, kangen Percy-ku terobati di sini :O)

Gak sabar buka segel The Mark of Athena :DDDD

Judul: THE SON OF NEPTUNE

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Rina Wulandari

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-676-2

Cetakan: 1, Juni 2012

Jumlah hal: 547

26
Sep
12

Take a Bow: Harusnya bisa jauh lebih bagus, titik!

Sophie, Emme, Carter, Ethan. Mereka adalah empat siswa senior CPA (Creative and Performing Arts) dengan background kemampuan seni yang berbeda-beda. Sophie adalah penyanyi, sebelum masuk ke CPA ia sudah menikmati spotlight sebagai bintang kecil-kecilan di area Brooklyn.

Emme, sahabat Sophie sejak umur 8 tahun. Bukan jenis cewek yang pede meski kemampuannya mencipta dan memainkan musik di atas rata-rata. Ada simbiosis mutualisme antara Sophie dengan Emme. Sophie membutuhkan lagu-lagu indah dengan karakter yang kuat. Ia selalu bisa mengandalkan Emme untuk itu. Emme, yang kurang suka tampil di atas panggung, merasa hanya Sophie lah yang mampu membuat lagu-lagu ciptaannya jadi terdengar indah. Bagi Sophie, CPA adalah batu loncatan ke arah panggung yang lebih besar. Sedang Emme masuk CPA karena bujukan Sophie.

Carter sudah jadi bintang film terkenal sejak kecil. Justru setelah menginjak masa remaja, popularitasnya kian surut digantikan bibit-bibit imut setelahnya. Apa ia kecewa? Ternyata tidak, karena sebenarnya Carter Harrison tidak menikmati ketenaran. Ia memang menyukai bidang seni, tapi bukan bidang yang selama ini diatur-atur dan disodorkan ibunya maca film serta opera sabun (setelah popularitasnya memudar). Carter suka melukis. CPA ia jadikan sebagai alat untuk mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan.

Ethan sangat berbakat di bidang musik. Suaranya juga bagus. Hanya satu kekurangannya (menurutnya sih): Ia tidak pernah bisa bikin lagu dengan lirik yang sebagus komposisi musiknya. Lirik bikinannya selalu dangkal (masih menurut Ethan). Dan ia menganggap, kehidupannya yang mulus-mulus saja lah penyebabnya.

“Aku anak tiga belas tahun yang tingal di sebuah rumah besar di Connecticut dengan ayah bankir investasi dan ibu seorang ibu rumah tangga. Apa yang mesti kutulis? Aku tak tahu apa-apa tentang penderitaan atau rasa sakit. Atau cinta.” Hal. 11

Bersama Jack dan Ben, Emme dan Ethan mulai menikmati band mereka.

Keempat siswa CPA tersebut menghadapi tahun terakhir dengan penuh antisipasi. Sophie, karena karirnya yang bisa dibilang mandek justru di tempat yang ia rasa seharusnya bisa menjadi batu loncatan. Emme, karena tidak yakin dengan kualitas musikalnya, Sophie yang sering mengabaikannya, serta aktivitas band yang menyita waktu. Carter yang pacaran dengan Sophie, merasa sikap-sikap Sophie semakin tidak ia sukai, sementara ia sendiri juga menghadapi dilema untuk segera memberi tahu ibunya akan pilihan jenis seni yang ia inginkan. Ethan? Selain menjadi lead singer sebuah band remaja yang mulai banyak penggemar, cowok ini juga mulai sadar bahwa ia naksir seorang teman (yang kayaknya justru sebal padanya). Jadi bagaimana kelanjutan ruwetnya pertemanan dan pikiran siswa-siswa CPA ini?

Karya Elizabeth Eulberg yang pertama aku baca adalah Prom and Prejudice, disambung dengan The Lonely Hearts Club. Take a Bow ini aku tunggu-tunggu sudah agak lama, nguber ebook gratisannya juga hampir tiap minggu. Tanpa hasil. Ternyata Bentang Belia sudah nerbitin dalam jangka waktu gak sampai setahun dari terbitan Point-Scholastic.

Sayangnya, setelah nunggu cukup lama, aku malah  kecewa. Kalo diperingkat, ternyata tingkat bagusnya novel-novel Eulberg sesuai dengan urutan yang aku tulis di review ini 😦

Jadi, benernya apa sih yang aku pikir tentang novel satu ini?

  1. Mulai dari cover ya … edisi Indonesia cover-nya (menurutku) kurang fun, gak kayak terbitan Bentang Belia yang lainnya. Dengan versi aslinya pun bagus versi asli 😦
  2. Meskipun angle penceritaan novel ini pindah-pindah Sophie-Emme-Carter-Ethan, tapi kerasa banget kalo pengarang lebih berpihak pada Emme. Kalo aku sih lebih suka dengan karakter Ethan.
  3. Bahasanya kurang enak dibaca. Aku gak bisa nuduh kalo problem di terjemahan, karena aku sendiri belum baca edisi aslinya. Cuma kebacanya tanggung banget. Novel remaja, tapi gak ada lincah-lincahnya. Seringkali penuturannya berbelit-belit yang bikin aku jadi cuma paham inti cerita, tapi untuk nyambungin kata-per katanya butuh perjuangan ekstra. Coba saja cek hal. 100 yang terpaksa gak aku kutip di sini karena panjangnya bagian yang aku maksud. Tapi intinya, itu adalah adegan di mana Ethan ‘disidang’ teman-teman band-nya. Adegannya tanggung. Emme diminta Jack untuk bantu ngasih pengertian ke Ethan. Nah, masalahnya, pengertian yang diberikan si Emme kok rasanya gak nyambung dengan topik yang jadi bahan penyidangan ya? *garuk2 pala
  4. Meskipun novel ini ditulis dari empat angle yang semuanya pake kata ganti orang pertama, jika dicermati, kita masih mudah-mudah saja kok ngenalin porsi penceritaan masing-masing orang. Bagian Carter ditulis dengan tanpa tanda kutip seperti dialog-dialog di novel pada umumnya, tapi kebanyakan pake gaya script (nama, tanda baca titik dua, dialog). Bagian Sophie terbaca pede abis dan agak-agak nyebelin, sedang Emme bisa dikenali dengan gayanya yang kurang nyaman. Ethan muncul sebagai pencerita yang penuh curiga dan penggerutu.
  5. Alurnya loncat-loncat, bikin bingung (sekali lagi menurutku), karena loncatnya gak pake pamit-pamit. Setidaknya harusnya pembaca dibantu dengan huruf italic kek, jika sedang flash back atau gimana gitu, jadi gak bloon di tengah bacaan @_@
  6. Satu yang aku lihat dari tiga karya Elizabeth Eulberg, benang merah tiap-tiap novelnya: penulis ini secara kental membawa pesan tentang pentingnya persahabatan .

Yah, jadi gitu deh, sebagai bacaan YA/teen/belia, novel ini buatku kurang mewakili kesegaran dan keriangan age bracket ini. Meski kalo dilihat sisi baiknya, benernya isinya dalem dengan bahasan tentang pasang surut persahabatan dan perjuangan menuju jenjang di atas SMA, bukan melulu kisah cinta dan pengutipan lagu-lagu lama yang agak mbosenin kayak di Lonely Hearts Club. Coba saja penuturannya lebih lincah ….

Gak rugi baca, tapi kalo ada yang lain mending habisin bacaan lain dulu deh. Itu sih ending note dariku 😉

Judul: TAKE A BOW

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerjemah: Mery Riansyah

Editor: Dila Maretihaq Sari

Penerbit: Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-42-0

Cetakan: 1-2012

Jumlah hal: 319

22
Sep
12

So Much Closer/Mengejar Mimpi: Menyebalkan di awal, mencerahkan di belakang ;)

Pernah nonton Felicity (film seri bergenre coming of age/young adult awal tahun 2000-an) gak? Waktu itu kayaknya yang muter Indosiar gitu deh, dengan jam tayang sekitar jam 22.30? Hehehe, referensinya jadul abis yak.

Oke, balik ke film satu itu, Felicity adalah seorang cewek lulusan SMA dari daerah sekitar midwestern Amrik (aku lupa kotanya tepatnya apa), yang pergi kuliah ke New York. Soal kuliah sih gak masalah benernya mau ke mana saja. Tapi ternyata si Felicity ini ninggalin tawaran kuliah kedokteran yang sudah ia kantongin, bikin kecewa ortunya, untuk pergi ke kampus yang (menurut ortunya) kurang penting, dengan alasan yang gak jelas.

Tentu saja Felicity gak mungkin cerita, kalo ia nekat pergi ke New York karena Ben, cowok incerannya ternyata kuliah di sono. Felicity ngerasa, bahwa benernya Ben adalah jodohnya yang belum nyadar saja akan keberadaan cewek itu. Jadi wajar-wajar saja kalo sudah saatnya bagi Felicity untuk ngejar mimpinya jadian dengan Ben (sudah ia simpen bertahun-tahun selama SMA), meski yang gak wajar adalah, fakta bahwa selama bertahun-tahun SMA itu si ben sama sekali gak kenal bahkan gak tau kalo Felicity mengamati boro-boro sampai naksir.

Nah, pembukaan novel satu ini miriiiip banget dengan kisah Felicity. Di awal tahun terakhir SMA-nya, Brooke baru tau kalo Scott Abrams, cowok yang ia taksir diam-diam (dan bahkan sama sekali gak nyadar akan keberadaan Brooke) bakal pindah ke New York. Felicity eh Brooke panik. Selama ini, Scott adalah satu-satunya alasan dia berangkat sekolah, karena baginya aktivitas sekolah itu gak banget. Bikin bosen.

Jadi gitu deh, Brooke mutusin kalo ia juga bakal pindah ke New York. Untung ayahnya yang telah cerai dengan ibunya tinggal di kota itu. Cona berbekal satu nama kota tujuan, Brooke nekat pindah.

Bayangin, New York kan nggak segede pasar inpres. Di pasar saja belum tentu kita bisa ketemu dengan orang yang kita cari, nah, ini di kota besar yang bisa dibilang belantara, tanpa alamat yang jelas yang bisa diandalkan jadi semacam kompas. Memangnya bisa?

Beruntung banget, Scott tinggal di daerah dengan area sekolah yang sama dengan Brooke, jadi akhirnya mereka nyangkut di sekolah yang sama pulak. Maka mulailah Brooke nyari cara untuk mewujudkan impiannya untuk kenal, makin dekat, dan akhirnya jadian dengan Scott Abrams.

Sekolah yang baru ternyata memberi pencerahan buat persepsi negatif Brooke tentang dunia sekolah. Di sana IQ jenius dia ditantang dengan kurikulum yang agak lebih maju dari sekolah sebelumnya, tugas-tugas yang tidak membosankan, serta aktivitas sebagai peer tutor yang mengantarnya bersahabat dengan Sadie dan John Dalton.

Bersama Sadie, Brooke diajari untuk lebih peduli pada sesama, aktif membantu sekeliling. John membuka pikiran Brooke untuk memandang segalanya dengan mata yang lebih terbuka, mensyukuri kehidupan, serta mencintai kota dengan cara yang konstruktif.

Tentunya persahabatan dengan Sadie dan John tetap tidak menyurutkan obsesi Brooke akan Scott.

Well, ada banyak catatan yang bisa aku bikin tentang novel satu ini:

  1. Kok ya ada, gitu cewek kayak Brooke (dan Felicity) yang ngejar-ngejar cowok yang bisa dibilang asing, sampai ke ujung dunia gitu. Mereka ‘membuang’ kehidupan lama mereka untuk cowok yang nggak begitu mereka kenal, lho. Meskipun aku mendukung segala macam tetek bengek tentang emansipasi atau women’s lib atau feminisme, tapi soal cewek ngejar cowok sampai ke kota lain ini so not my description about such thing. rasanya cemen abis, meski ending-nya Brooke mendapatkan pencerahan dan nilai lebih dari petualangan impulsifnya itu.
  2. Kecerdasan intelektual yang super teryata tidak menjamin kita untuk bisa selalu membuat keputusan-keputusan cerdas.
  3.  Aku suka petualangan yang dilakukan Brooke dalam usaha mengenali tempat tinggalnya yang baru. Tiap hari ia berjalan menyusuri rute yang berbeda-beda dari rumah ke sekolah (atau sebaliknya), mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Aku jadi ngebayangin, apa lingkungan tempat tinggal dia semenarik itu? *jadi pengen tinggal di sono
  4. So Much Closer awalnya cuma menawarkan obsesi nggak sehat seorang cewek tentang cowok yang ia taksir, tapi akhirnya obsesi itu mengarahkannya ke jalur yang lebih positif. Susane Colasanti selalu mampu menyisipkan pesan moral yang cukup dalem di dalam tulisan-tulisan dia.
  5. Aku suka dengan jalan cerita di mana Ms. Colasanti gak maksain semua masalah terselesaikan saat buku sampai ke halaman terakhir. Liat saja, ada beberapa problem Brooke yang dibiarkan masih terbuka (persahabatan dengan teman-teman dari kota asal, love life, dll) tapi masih nyisain harapan untuk happy ending.
  6. Sampulnya beda dari edisi Amrik, tapi dengan taste yang mirip: angle dari belakang, cowok dan cewek berdiri sebelahan. Kalo memang mau dibikin mirip, kenapa gak pake cover asli sekalian, yak? *Bingung Soalnya secara pilihan warna dan jenis pakaian yang dipakai si cewek, aku pilih cover asli banget-banget. Lebih terasa remaja. Mana cover yang versi Indonesia juga nggak memunculkan chemistry antara si cewek dan si cowok (kayaknya sih Brooke dengan John).
  7. Jilidannya agak-agak cemen, lembaran kertas mudah lepas dari lem 😦
  8. Jadi skor akhir: 80 untuk ide dan jalan cerita, 65 untuk cover, 70 untuk terjemahan. Kesimpulan, layak dikoleksi karena banyak muatan positif (asal sabar bacanya).

Judul: SO MUCH CLOSER/MENGEJAR MIMPI

Pengarang: Susane Colasanti

Penerjemah: Olivia Bernadette

Editor: Desy Natalia

ISBN: 978-602-00-1275-9

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Cetakan: 1-2011

Jumlah hal: 326

ImageCover versi Asli

ImageCover edisi Indonesia

05
Aug
12

THE RECKONING: Perhitungan-Akhirnya mereka nemu solusi juga, meski bukan solusi permanen ;)

Berkaca pada serial The Darkest Powers ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang tua sangat bisa jadi pihak yang mengecewakan anak-anak. Mulai dari setuju dan mengambil bagian dalam menjadikan anak sebagai subjek penelitian genetis, marah dan menghukum anak-anak tersebut saat hasil penelitian tersebut berbalik arah membuat anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang dianggap membahayakan, menjejali mereka dengan obat-obatan untuk menekan kemungkinan munculnya kekuatan mutan, membohongi, sampai kemudian mengejar-ngejar anak-anak tersebut saat mereka tak kuat menjadi kelinci percobaan. Ngejarnya pun gak tanggung-tanggung. Dari awalnya hanya menggunakan peluru pembius, sampai akhirnya menggunakan peluru beneran. Kebayang kan, bagaimana paniknya anak-anak 15-17 tahun tersebut?

Chloe (necromancer), Tori Enright (penyihir), Derek Souza (werewolf), dan Simon Bae (penyihir) berhasil melarikan diri dari Buffalo sampai ke Albany dan bertemu dengan Andrew, teman ayah Derek dan Simon yang memang sejak awal dipilih Kim Bae untuk menjadi pelindung mereka jika ada situasi genting dan mereka tidak bisa menghubungi sang ayah. Ternyata ‘lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya’ berlaku buat mereka, sehingga sekali lagi, keempat remaja tersebut musti melarikan diri.

Novel ini juga semakin menyuguhkan ketegangan saat ada dua werewolf yang mengejar-ngejar Chloe dan Derek, padahal mereka berdua sedang menjalani proses Berubah Derek yang pertama kali (menyakitkan serta menguras tenaga). Mereka juga musti menghadapi hantu cowok yang tukang bully. Untung ada bantuan dari Liz deh.

Hubungan antar para pelaku juga semakin menarik saja di sini. Tentunya kalian gak mau melewatkan ketegangan antara Derek-Chloe-Simon. Makin serunya lagi, bagaimana Chloe secara gak sengaja nemu hubungan antara Simon dan Tori. Sayang, sampai novel ini berakhir Simon dan Tori malah belum ngeh dengan ‘penemuan’ Chloe.

 

 

Puas. Campuran suspense, romance, serta dialog lucu masih mewarnai 3rd installment ini. Dan bagusnya, Kelley Armstrong mampu mengolah persentase masing-masing unsur secara tepat sehingga tak ada yang terbaca dominan, tak ada juga salah satu yang terbengkalai.

Terjemahan novel ini enak, dan cover-nya juga konsisten, mampu bercerita tentang si tokoh utama serta background-nya hanya dengan satu gambar. Lebih memuaskannya lagi, ada tampangku di dalamnya. Huehehehehe.

Hanya satu ketidakpuasanku terhadap serial ini: kalo begini terus, kapan mereka bisa menjalani kehidupan yang normal seperti pergi ke sekolah, atau bahkan mandi serta ganti baju secara teratur? *sigh (curhatan emak-emak)

Note:

Buat kalian yang gak ngikutin dari awal, fyi, novel ini adalah buku ke-3 (kayaknya yang terakhir) dari serial The Darkest Powers. ini link review buku 1.

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/03/25/the-summoning-pemanggilan-ketegangan-dan-pengadeganannya-serasa-sedang-%E2%80%9Cmembaca%E2%80%9D-film/

dan buku 2:

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/12/25/the-awakening-penyadaran-tiba-tiba-menggelandang-di-jalanan-plus-masih-juga-dikejar-kejar-komplotan/

*Jadi jangan nekat baca yang ini kalo belum nyentuh dua novel yang lebih duluan muncul, tentunya;)*

 

Judul: THE RECKONING (The Darkest Powers Book 3)

Pengarang: Kelley Armstrong

Penerjemah: Melody Violine

Editor: Uly Amalia

ISBN: 978-602-18349-0-9

Tebal: 449 hal (soft cover)

Terbit: Juni 2012 (Cetakan 1)

Penerbit: Ufuk Publishing House




%d bloggers like this: