Archive for the 'mizan' Category

26
Jun
13

STORM: Pertentangan para pengendali kekuatan alam

Beberapa minggu hidup Becca kacau balau. Dimulai dengan sebuah kejadian memalukan di pesta, diikuti dengan bisik–bisik, hinaan, dan perlakuan kejam anak–anak lain di sekolah. Becca pikir, jika ia diam saja maka semua akan berlalu. Tetapi ternyata tidak segampang itu, hingga ia memutuskan untuk ikut kelas bela diri.

Usai kelas yang agak terasa tidak berguna itu, Becca menyelamatkan seorang cowok dari keroyokan dua cowok lain. Dia kira keributan hanya akan selesai sampai di situ, tetapi ternyata itu menjadi awal rentetan kejadian menyeramkan yang melibatkan semua gejala alam mulai dari angin ribut, hujan badai, gempa bumi, bahkan banjir dan kebakaran.

Kejadian–kejadian itu membuat Becca mempertanyakan kejujuran masing2 pihak yang terlibat. Apakah Chris si cowok yang dia selamatkan itu memang setidak bersalah yang ia tampakkan? Apakah kakak–kakak kembar cowok itu, dua cowok yang juga superganteng itu juga semenyenangkan yang mereka tampakkan? Apakah kakak tertua mereka yang menyebalkan itu memang membunuhi orang sebanyak itu? Bagaimana dengan kata–kata dua cowok yang mengeroyok Chris? Mereka tidak mungkin berbohong semeyakinkan itu, kan? bagaimana dengan orang–orang lain? Kenapa kota kecil mereka jadi tampak menyeramkan padahal warganya masih yang itu–itu juga?

Belum lagi dengan si Pemandu? Siapa lagi orang ini? Dan yang penting, yang manakah dia di antara orang–orang yang muncul di tengah kekacauan peristiwa alam di kota mereka?

Hah, setelah beli tanggal 30 Mei 2013, akhirnya aku berhasil ngrampungin novel ini. Bukan karena jelek ceritanya lho, tapi akhir–akhir ini aku nemu asiknya baca secara paralel antara beberapa hard copies, ebook, dan Wattpad. Jadinya banyak yang terbengkalai :DDD

Awal nemu info tentang novel ini, aku ragu …. Saat ini kan tren novel sudah mulai bergeser ke arah dystopian. Mulai dari zombi–zombian yang sampai sekarang belum aku temukan sisi menariknya (muka pucat jalan gak lurus, di mana menariknya? Apocalyptical world, hadeeeh … I’m a self–proclaimed happy–ending lover. Dan kesukaan zombi–zombi ngemil otak manusia? Eeeew), sampai ke situasi–situasi di mana aturan baru yang penuh represi diterapkan, atau remaja–remaja hasil eksperimen berkeliaran mencari jati diri, aku belum nemu rasa ‘klik’.

Jadi, buatku YA romance–high school adalah pelampiasan yang segar. Karena terus terang saja, untuk beralih ke New Adult aku belum siap. Apalagi sampai ke eroro. *malu2 nutupin muka.

Ternyata STORM lumayan mengasyikkan. Dari sisi alur, ketegangan terasa di setiap halaman. Mulai dari ketegangan hubungan dengan orang tua, dengan peer group, dengan sahabat, sampai ketegangan karena inti permasalahan.

STORM juga menyuguhkan kelincahan dan kelucuan dialog, sayang, typo macam kelebihan huruf atau salah ketik huruf atau penempatan tanda baca cukup banyak bertebaran. Nih, contohnya di halaman 20 alinea pertama baris kedua:

>>Menyebut celana jin–nya rombeng ….<<

Untuk penulisan kata asing yang telah diindonesiakan macam jenis celana ‘jin’ atau ‘jins’ yang merupakan adaptasi dari ‘jeans’, bukankah tanda hubung (–) sudah tidak dibutuhkan? Ketidaknyamanan macam ini bisa ditemukan di beberapa halaman lainnya.

Belum lagi beberapa terjemahan terbaca janggal seakan sebenarnya belum selesai proses edit. Misalnya halaman 532 alinea 11:

>>”Becca.” Suara ayahnya memotong suara Becca dan ayahnya melangkah maju ke arahnya.<<

naskah aslinya:

>>”Becca.” Her father’s voice sliced right through her, and he stepped toward her.<<

Oke, memang bener sih, terjemahan kata per katanya. Tetapi gak nyaman juga kan, dalam satu kalimat kita musti baca kaya ‘–nya’ sampai tiga kali gitu? Mungkin akan lebih pas jika kita baca dengan cara:

>>”Becca.” Sang ayah menyela ucapan gadis itu, dan melangkah ke arahnya.

Jadi gitu deh …

STORM sebagai buku pertama dari serial ELEMENTAL, menjanjikan ketegangan dari awal sampai akhir lembar kertasnya. Aku ‘beruntung’ saja saat ini sudah ngadepin SPARK (second instalment) dalam bentuk ebook, jadi mungkin aku gak akan sepenasaran itu dengan salah satu tokoh sentral yang dibahas berkali–kali tapi justru pas di belakang raibnya terasa antiklimaks (eh, bukan spoiler kan? :P)

Akhir kata, kalo aku bilang sih Brigid Kemmerer mampu menyuguhkan keseimbangan di serial ELEMENTAL pertamanya ini. Sisi misteri, action, dan romance muncul tanpa saling mengalahkan, membuatku menunggu–nunggu buku selanjutnya. FYI buat yang belum tau, ada novella yang bisa didapat dalam bentuk ebook untuk peristiwa yang terjadi 5 tahun sebelum STORM berlangsung (ELEMENTAL) . dan di antara STORM serta SPARK juga satu novella (FEARLESS). Tidak akan ngaruh banyak kalo kamu gak baca juga, tapi jelas akan membantu pemahamanmu tentang kejadian2 di antara masing2 novel.

Judul: STORM

Pengarang: Brigid Kemmerer

Penerjemah: Tria Barmawi

Editor: Putra Nugroho

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-727-1

Cetakan: 1, Mei 2013

Jumlah hal: 552

Image

Advertisements
18
Nov
12

The Son of Neptune: Sekali lagi disuguhi serunya petualangan demigod amnesia

Kehilangan ingatan, dikejar-kejar dua gorgon yang menyamar jadi sales promotion girl nawarin sample sosis, harus berkali-kali membunuh kedua gorgon tersebut (dengan menjatuhi mereka peti berisi bola boling, menggilas pake mobil polisi, memenggal kepala, dll) tapi mereka segera muncul lagi, berkali-kali digigit gorgon-gorgon itu juga tapi kok ya tetep gak mati, adalah nasib yang musti dihadapi Percy Jackson selama beberapa minggu terakhir. Kesialan tersebut belum ngitung bahwa karena dikejar-kejar gorgon itu, dia jadi gak sempat mandi boro-boro beli makan. Makanya musti pasrah badan bau, kelaparan hingga mengais-kais tempat sampah nyari makanan sisa.

Pokoknya dia disuruh Lupa si serigala untuk pergi ke arah Barat.

Sampai di seberang tempat tujuan, Percy masih diminta nyeberangin seorang nenek-nenek hippie dekil yang agak-agak sinting. Yah hero kita satu ini kan memang baek, jadinya dia mau dong. Dan jadilah dia nggendong si nenek yang menurut deskripsi, napasnya bau kecut (hueeek, bangun tidur gak langsung gosok gigi, pasti!).

Akhirnya, setelah kehebohan di terowongan, Percy nyampe di Kamp Jupiter, tempat penampungan demigod, sama dengan Perkemahan Blasteran di New York sono. Tapi yang ini untuk demigod-demigod keturunan dewa-dewi Romawi.

Oke, abaikan semua keributan yang mengiringi kedatangan Percy (dikejar-kejar dua gorgon, jadi anak Neptunus-dewa yang kurang disambut baik di Kamp Jupiter, dua dewa-dewi yang muncul karena kedatangannya, dan kemenangan Kohort V, serta teknik bertempurnya yang agak-agak aneh menurut para demigod Romawi), ia harus mengikut sebuah misi bareng dengan dua anak Kamp Jupiter, Hazel Levasque dan Frank Zhang untuk membebaskan Thanatos si Dewa Kematian, serta mencari Panji-panji Elang milik Kamp Jupiter yang telah lama hilang ke Alaska. Padahal kalo Thanatos benar-benar bisa dibebaskan, nasib dua teman Percy ada di ujung tanduk.

Hanya naik perahu, mereka bertiga mengarungi lautan ke Seattle. Di jalan bertemu dengan gerombolan raksasa dan bala bantuannya yang berniat menaklukkan Kamp Jupiter, ngakalin blasteran-tua-tukang-bully-harpie, ribut-ribut dengan segerombolan cewek feminis-Amazon, sampai ke nyaris diduduki pantat raksasa Alaska yang berbulu.

Jadi gitu deh, Percy harus menaklukkan amnesianya, sekaligus musti menuntaskan misi yang tampak gak mungkin. Seru gak? Mmm … masih perlu tanya ya? Hehehe.

Setelah The Lost Hero, The Son of Neptune adalah buku-2 dari serial The Heroes of Olympus karya Rick Riordan. Sekali lagi, installments ini mengisahkan para demigods (blasteran dewa), dewa-dewi Yunani/Romawi, monster-monster dan raksasa, serta keributan di antara mereka. Semua masih dengan setting masa kini ber-genre young-adult fantasy. Novel ini nantinya akan diikuti oleh The Mark of Athena (novelnya sudah di tangan, tunggu aku gak males ngeripiu ya … :P) lalu The House of Hades (yang ini gak tau deh kapan bakal rilisnya).

Dibanding serial Percy Jackson and the Olympians, novel-novel The Heroes of Olympus jauh lebih tebal. Sudut pandang penceritanya juga berubah-ubah, meskipun sama-sama dari sisi orang ke-3. Di The Heroes of Olympus Mr. Riordan berusaha lebih objektif dengan menaruh beberapa angle saat ia bertutur. Kadang dari si A, lalu si B, lalu si C, dst, dipisahkan berdasarkan bab.

Meskipun tetap lucu, novel ini tampak lebih menokohkan Percy dengan sisi yang lebih manusiawi. Rasa takut, khawatir, sedih, dimunculkan. Bukan hanya kekonyolan seorang remaja pemberani. Mungkin karena memang perasaan tokoh kita satu ini teraduk-aduk parah, ya. Soalnya kan selain kehilangan memori, dia sudah dibikin tidur seorang dewi selama berbulan-bulan (berarti pasti gak naik kelas dong ya … secara dia ngilang gitu selama masa sekolah), dan kemudian dicemplungkan ke sebuah mission impossible. Kalo dia Ethan Hunt sih oke saja. Tapi dia kan cuma seorang demigod remaja 😛

Aku suka semua tokoh yang muncul di sini. Cuma para karpoi saja yang terasa kurang sreg. Terlalu konyol dan gak penting. Aku juga penasaran dengan si Nico. Sebenarnya apa sih agenda tersembunyi dia, kenapa dia pake acara gak mau terus-terang kalo kenal Percy sejak lama? Oke deh, gak terus terang dengan para demigod Romawi sih masuk akal. Tapi sama Percy? Dan sampai di akhir novel, motifnya tetep saja masih blur. Mungkin aku harus sabar nunggu penjelasannya di TMoA.

Typo gak banyak. Hanya kurang enak saja di beberapa kali penulisan, saat tanda petik penutup kalimat ketemu dengan kata ‘tanya’ di belakangnya. Karena huruf T-nya selalu jadi huruf besar. Halo ‘Penyelaras Aksara’???

Keanehan di kontinuitas isi cerita sih ada. Si Hazel – yang diceritakan sebenarnya lahir tahun 1930-an, sudah mati, tapi kembali dari Asphodel karena pintu kematian yang terbuka saat Thanatos ditawan raksasa – kan remaja produk jadul. Dia diceritakan banyak bingung liat televisi, komputer, iPod, internet …. Gestur yang dilakukan Hazel pun gestur-gestur jaman dulu seperti mengipas-kipaskan telapak tangan saat ketemu situasi yang bikin ia jengah. Tapi kenapa ya saat bab penceritaan ada di sisi dia (V-HAZEL), Mr. Riordan lupa dan bikin line:

‘HAZEL MERASA SEPERTI BARU MEMPERKENALKAN dua bom nuklir.” –hal. 63

Mmmm … sebagai anak yang lahir tahun 1930-an dan mati sebelum Perang Dunia II berakhir, rasanya istilah bom atom belum dikenal ya, karena bom itu muncul di akhir PD II. Nah, boro-boro bom nuklir, kan? :-/

Tapi beneran, gak banyak yang bisa aku ulas selain acungan jempol saja. Rugi buat yang sampai sekarang belum baca. Dibanding The Lost Hero, kekonyolan khas serial Percy Jackson lebih banyak muncul di sini. DI TLH biasanya aura konyol muncul saat cerita ada di sisi Leo Valdez. Nah, di SoN ini, selain Percy, Frank Zhang juga konyol secara menggemaskan. Coba saja ini:

“Untung bagi Hazel, Frank angkat bicara: “ Kuharap aku menderita GPPH atau disleksia saja. Aku malah tidak bisa mencerna laktosa.””-hal. 101

Hehehe, bayangkan keinginan Frank yang mundane banget buat para demigod. Dia pengen jadi demigod normal dengan GPPH dan disleksia-nya. Soalnya kelainan dan ciri-ciri fisik dia selalu saja bikin dia tampak aneh.

Yah, jadi gitu deh, the second installment seemed slightly better to me compared to the first one. Bukannya aku bilang TLH gak bagus lho ya …. Hanya saja, kangen Percy-ku terobati di sini :O)

Gak sabar buka segel The Mark of Athena :DDDD

Judul: THE SON OF NEPTUNE

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Rina Wulandari

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-676-2

Cetakan: 1, Juni 2012

Jumlah hal: 547

29
Jun
12

Blog Galau: Tidak Semurah yang Tampak Pada Cover-nya

ImageBrooklyn Pierce biasa jadi IT girl di sekolah (IT girl nomor dua deh, setelah sobatnya, Shayne). Tapi sejak insiden tidak sengaja membakar rumah contoh, kastanya di sekolah turun drastis, Shayne berlagak gak kenal, Brooklyn dihukum seumur hidup (atau sampai ortunya jadi pikun dan lupa kesalahannya, mana yang lebih dulu terjadi) gak boleh gaul ke luar rumah, gak boleh pegang ponsel, gak boleh internetan, dan semua yang serba gak boleh lainnya. Ia juga harus kerja pelayanan di rumah jompo (keputusan pengadilan) serta ‘nyambi’ jadi pekerja bangunan (keputusan ibunya) untuk membantu membangun kembali rumah contoh yang telah habis terbakar. Itu semua diperburuk dengan citra kakaknya sebagai cewek sempurna yang bikin kesalahan-kesalahan Brooklyn jadi semakin tampak buruk di mata ortu dan guru-gurunya.

Karena merasa semua keputusan yang ia bikin gak pernah membuahkan efek positif, Brooklyn memutuskan, sudah saatnya ia menyerahkan semua keputusan dalam hidup kepada orang-orang lain. Ia hanya tinggal menjalankan saja.

Nah, gimana dong, cara Brooklyn minta saran dari orang-orang? Masa mau curhat ke semua orang yang ia temui? Tentu tidak. Ia bikin blog yang berisi curhatannya, dan meminta orang-orang yang baca untuk mengisi polling bagi setiap tindakan yang musti ia ambil. Blog itu ia bikin dengan cukup anonim, tentu saja. Soalnya sejak bayi Brooklyn kan lumayan tenar.

Dan begitulah, mulai dari pilihan buku harus dibaca, kegiatan ekskul yang musti diikuti, pilihan tempat makan siang, hingga pergi ke pembukaan kelab malam, semua diserahkan pada pembaca blog. Serunya, ternyata blog Brooklyn jadi terkenal banget. Dari awalnya hanya sekitar 11 orang akhirnya sampai mencapai ratusan ribu pengunjung dalam satu malam.

Hidup Brooklyn yang tadinya berantakan, berangsur menemukan pola meskipun bukan ke arah yang awalnya ia inginkan. Bahkan ia malah nemu ada dua cowok ganteng yang kayaknya tertarik padanya.

My Life Undecided adalah judul aslinya. Awalnya, novel ini tidak berhasil membuatku nengok sampai boro-boro tertarik. Judulnya agak-agak alay sih. Hihihi. Mana cover-nya super pink gitu. Tapi begitu aku coba intip (biasa deh, nyobel plastik bungkus diam-diam) kayaknya lucu. Jadi aku putuskan beli lah.

Jessica Brody mampu melukiskan hidup Brooklyn yang jungkir balik dalam semalam. Akhirnya kegalauan perasaannya bikin judul versi Indonesia jadi masuk akal.

Jika kalian mengharapkan romance, kebaikan berhasil mengalahkan kejahatan, penemuan jati diri, dll dll, lengkap deh, di novel ini semua ada. Renyah, ringan, tapi bermuatan positif. Aku bakal merekomendasikan novel ini untuk anakku begitu ia menginjak remaja. Supaya gak gampang-gampang galau 😀

Btw, kok di gambar cover yang ada di blog Noura Books pattern bunga-bunga nya keliatan jelas, ya. Di Novel yang aku beli gak terlalu tampak lho. Malah, aku baru nyadar kalo ada bunga-bunga itu setelah donlot untuk gambar di review ini XD

Judul: MY LIFE UNDECIDED/BLOG GALAU

Pengarang: Jessica Brody

Penerjemah: HP. Melati

Editor: Rina Wulandari

ISBN: 978-602-9225-25-9

Penerbit: Qanita/Noura Books

Tebal: 335 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 49.000,-

01
Jun
12

The Lost Hero: Niatnya Jadi Obat Kangen si Percy yang Justru Bikin Tambah Kangen :(

“Tujuh blasteran akan menjawab panggilan.

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal.

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan,

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal.”

Ramalan di atas muncul di menjelang akhir novel ke-5 pentalogi Percy Jackson: The Last Olympian. Rangkaian kata-kata membingungkan tersebut juga yang ternyata menjadi materi petualangan baru para demigod di The Heroes of Olympus.

Kisah kali ini dibuka dengan Jason yang mendapati dirinya ada di atas sebuah bus Sekolah Alam Liar. Seakan-akan belum cukup bingung, ia yang ngerasa gak kenal satu pun remaja yang ada di atas bus, tiba-tiba ternyata berstatus pacar cewek cakep bernama Piper, dan tiba-tiba juga bersahabat dengan cowok bernama Leo. Jason tidak paham siapa dirinya, hanya tau namanya saja. Seakan-akan ia pasien amnesia yang dijatuhkan ke tengah rombongan karyawisata SMA.

Kunjungan ke Museum di tengah Grand Canyon itu jadi penuh kepanikan saat rombongan yang sedang meniti jembatan tiba-tiba kena serangan badai. Hampir semua murid bisa menyelamatkan diri masuk kembali ke museum. Tinggal Jason, Piper, Leo, Dylan, dan Pak Hedge pendamping karya wisata.

Ternyata Dylan adalah monster yang menyamar. Pak Hedge pun menyimpan rahasia yang terpaksa ia kuak di tengah kekacauan tersebut. Jason dengan refleks mengeluarkan uang koin yang ada di sakunya, dan ia ubah menjadi pedang emas bermata dua yang tajam. Saat bertarung di tengah badai, datang bala bantuan berupa kereta perang yang ditarik pegasus. Kereta itu dikendarai seorang cewek, Annabeth beserta temannya, dan mereka mengajak Jason, Piper, serta Leo ke tempat bernama Perkemahan Blasteran.

Singkat kata, Perkemahan Blasteran ternyata tempat yang cukup menyenangkan, karena Jason, Piper, dan Leo berkumpul dengan teman-teman seusia mereka yang sama-sama bermasalah, menderita disleksia, dan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder/Kelainan Hiperaktivitas dan Kurang Perhatian). Mereka semuanya adalah anak-anak dewa-dewi Olympus dengan salah satu orang tua manusia fana. Mereka mengalami masalah dikejar-kejar monster, sehingga Perkemahan Blasteran adalah tempat yang relatif aman bagi mereka, karena sudah dilindungi.

Kenyamanan Jason, Piper, dan Leo tidak bertahan lama. Mereka ternyata dikumpulkan untuk memenuhi ramalan mengenai tujuh demigod yang disebut di awal tulisan ini tadi. Siapa empat demigod yang lain? Belum ada yang tahu. Tapi sebelumnya, mereka harus menyelesaikan tugas penting dan berbahaya, menyelamatkan Hera, ratu para dewa Olympus yang ditahan di satu tempat yang mereka bahkan belum tau lokasinya. Mereka hanya punya waktu seminggu sebelum hal buruk lainnnya muncul, dan Hera binasa.

Berangkatlah tiga remaja tersebut mengarungi udara mengendarai robot naga bernama Festus. Petualangan yang menegangkan yang mempertemukan mereka dengan kakak Jason yang tidak disadarinya kalo pernah ada, tokoh-tokoh cerita Yunani kuno yang seharusnya sudah mati ribuan tahun yang lalu, monster-monster seram, dan akhirnya, kebangkitan calon penghancur dewa-dewa. Belum lagi kenyataan bahwa Piper, Jason, dan Leo sama-sama menyimpan rahasia mengenai keberadaan masa lalu dan mimpi-mimpi mereka.

Petualangan para demigod kali ini membutuhkan nyaris dua kali lipat halaman serial yang sebelumnya telah mendahului. 585 halaman penuh ketegangan, bikin aku yang mau menceritakan ulang jadi gagap sendiri. Semua adegan lucu, penting, dan ngaruh ke jalan cerita.

Untuk jalan cerita, plot, gak ada komplen deh. Masih super keren.

Novel ini juga membantu aku lebih memahami jalan pikiran para makhluk superior yang berebut dunia (titan, emak-bapak titan, dewa, raksasa, dll). Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kalo para bad guys itu berniat menguasai dunia dengan cara meremukkannya, lha berarti para manusia pengisi dunia kan bakal pada mati tuh. Trus nanti yang mereka kuasai itu apaan yak? buat apa jadi penguasa kalo gak ada anak buah dan kacung buat disuruh-suruh? Dasar makhluk superior aneh!

Nah, sekarang jalan pikiran para dewa-dewi. Mereka pada jatuh cinta pada manusia, sehingga menghasilkan ras demigod. Para demigod dicuekin pas lahir. Lalu begitu gede diklaim, hanya biar bisa ngebantu kerjaan remeh-temeh mereka di dunia. Nah, giliran para demigod mau bantu, masih juga diribetkan dengan ramalan-ramalan gak jelas, dihambat dewa-dewi lainnya, padahal tujuan bantuan itu kan juga untuk menyelamatkan para dewa. *Garukgarukpala

Dilihat secara kepribadian para tokoh, The Lost Hero terbaca (agak) lebih ‘dewasa’ dibanding serial Percy Jackson and the Olympians. Dewasa di sini bukan berati PG rated lho ya. Tapi si Jason yang tokoh utama dan kayanya lebih muda dikit dari Percy, joke-jokenya gak setolol Percy dan mulutnya gak selancang Percy. Bikin aku jadi makin kangen sama anak Poseidon satu itu. Porsi Grover yang hilang agak tergantikan oleh salah satu satir yang muncul. Leo juga lumayan konyol.

Sekarang typo yuuuk. Gak banyak jejak typo di sini. Tapi coba cek halaman 351 alinea tiga deh. Di baris ke 4-6, “…Lalu Kronos, pimpinan Titan—yah, kau barangkali sudah dengar bagaimana kisahnya, Zeus mencincang ayahnya, Ouranos, …”

Halo, kok tiba-tiba bisa muncul Zeus di situ, yak? Yang mencincang ayahnya adalah si Kronos kali? Soalnya kan yang dicincang si Ouranos. Sedang untuk urusan cincang-mencincang, jatah Zeus masih jauh setelah era itu. Zeus kan memang mencincang ayahnya. Tapi ayah si Zeus yang dipotong kecil-kecil itu Kronos, bukan? (Setelah ngecek versi English-nya, ternyata memang yang tertulis adalah “…Then Kronos, the head Titan—well, you’ve probably heard how he chopped up his father Ouranos …”. Berarti bener-bener typo. Case closed :D)

Ada satu lagi (yang justru aku suka). Lihat halaman 536 alinea 2 deh. Begini kalimatnya, “Seperti Enceladus, sang raja raksasa bertubuh manusia dari pinggang ke atas, mengenakan baju zirah perunggu, sedangkan dari pinggang ke bawah dia memiliki kaki naga bersisik; namun kulitnya sewarna petai ….”

Aku heran, kok ada petai bisa masuk ke buku terjemahan, yak? Ternyata aslinya adalah “Like Enceladus, the giant king was humanoid from the waist up, clad in bronze armor, and from the waist down he had scaly dragon’s legs; but his skin was the color of lima beans.”

Hehehe, entah sengaja atau bukan, perubahan dari ‘lima beans’ ke ‘petai’ terasa sebagai penerjemahan yang mempertimbangkan local wisdom. Lima beans, kalo diindonesiakan bakal jadi ‘kacang polong’. Tingkat kelucuannya tidak akan sama dengan jika kita menggunakan ‘petai’ yang memang sudah sangat dikenal orang kita, serta sering jadi sayur yang bernasib sebagai bahan olok-olokan.

Jadi gitu ya, novel ini sangat layak baca. Tapi saranku sih, sebelum baca serial The Heroes of Olympus ini, yang kayaknya bakal ngabisin 3 novel (sejauh ini sudah keluar dua novel di pasaran Amrik: The Lost Heroes dan The Son of Neptune. Musim gugur ntar The Mark of Athena bakal nyusul), sebaiknya sih kalian kelarin Percy Jackson & The Olympians biar tau seberapa heroiknya si demigod yang ngilang dari Camp Half-Blood itu.

Judul: THE LOST HERO

Penulis Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-653-3

Halaman: 586 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 79.000,-

15
Apr
12

Prom and Prejudice: Membawa aroma Jane Austen ke abad 21

Image

sampul terbitan amrik

Image

Sampul terbitan Indonesia 🙂

Sebagai siswi beasiswa di Akademi Longbourn, hidup Elizabeth Bennet sungguh tidak nyaman. Ia harus tinggal di asrama yang penuh remaja cewek dengan background keluarga kaya raya. Soal kayanya sih gak masalah, tapi bullying dari mereka itu lho.

Bayangkan saja, disiram pake minuman milk shake segelas gede? Pernah. Dilemparin kertas langsung di muka? Jelas pernah. Dikasih kupon makan? Hampir tiap hari. Buat anak-anak kaya itu, kehidupan dari luar lingkungan mereka dianggap tidak masuk hitungan. Orang dari luar yang ‘berusaha’ masuk ke lingkungan mereka? Musti dibikin sengsara.

Ini adalah semester kedua bagi Lizzie. Kalo gak mikirin beasiswa musik yang ia idamkan, cewek ini sudah pengen nyerah, balik ke sekolah tempat teman-teman lamanya menuntut ilmu di New Jersey sana. Karena sudah kenyang dengan hinaan terang-terangan teman sekolahnya.

Sebuah pesta sekolah, mempertemukan siswi-siswi Akademi Longbourn dengan cowok-cowok Akademi Pemberley (ini Longbourn-nya para cowok, lengkap dengan harga mahal, gerombolan cowok kaya, dan tentu saja status elit-nya). Jane, sahabat Lizzie sedang pedekate dengan Charles Bingley, anak Pemberley. Ini membuat Lizzie musti membetahkan diri gaul juga dengan Charles dan teman-temannya, termasuk Will Darcy yang angkuhnya amit-amit. Charles-nya sih baik dan ramah. Keinginan membalas kebaikhatian Jane membuat Lizzie musti terlibat dengan hampir semua kegiatan Jane-Charles yang melibatkan Will serta saudari kembar Charles yang sombong plus jutek, Caroline.

Lizzie sebal banget tau Will yang memandang rendah anak beasiswa. Will tidak terima saat tau Lizzy membenci anak-anak kaya. Mereka terlibat pertengkaran saat berlibur di Vermont. Will berusaha membayari buku yang dibeli Lizzie, dan ditolak-mentah-mentah oleh Lizzie.

“Yah, setidaknya aku tak perlu bersembunyi di balik uangku. Semua yang kumiliki buah dari kerja keras.”

“Kau tidak mengenalku.”

Kucoba merendahkan suara. “Dan, pikirmu kau mengenalku? Ayolah Will, kapan kau pernah bekerja? Atau, kapan kau pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumahmu –oh sori maksudku, mansion?”

Will menunduk memandang lantai.

“Kurasa enggak pernah. …..

…..

Rahang Darcy mengertak. “kau benar-benar kritikus tajam, Pernah coba mengenal kami dulu sebelum menghakimi?”

“Kapan?” tiba-tiba suaraku serak. “Saat kupon makan dijejalkan dalam kotak suratku? Saat aku harus menggosok kuat-kuat tulisan ‘Anak Hobo pulang saja, deh!’ di pintuku? Saat orang melempar mukaku pada minggu pertama? Ayo bilang, pernah enggak mukamu dilempar milk shake?”

 

Sejak saat itu, hubungan di antara mereka menjadi semakin ruwet, melibatkan George Wickham. Lydia adik jane yang menyebalkan, dan Caudia Reynolds, pianis terkenal idola Lizzie.

Jadi, bagaimanakah kisah ruwet ini akhirnya mampu menyatukan Lizzie-Will? Kayaknya kalian musti baca sendiri.

Oke, kenapa aku beri spoiler soal ending hubungan Lizzie dan Will? Soalnya buat kalian penyuka karya klasik yang sudah baca Pride and Prejudice-nya Jane Austen, pasti bakal tau kalo Lizzie-Will akhirnya bakal jadian. Jadi sudah bukan rahasia lagi lah.

Novel ini adalah adaptasi bebas dari karya Ms. Austen yang jadi favoritku. Di antara Prom and Prejudice dengan Prada and Prejudice karya Mandy Hubbard yang juga adaptasian karya Jane Austen, aku pilih novel Elizabeth Eulberg ini. Ceritanya lebih kaya, problemnya lebih dalam, improvisasinya lebih menyatu dengan kehidupan remaja jaman sekarang. Novel ini juga menawarkan jalan cerita dengan muatan self-empowerment.

Merujuk pada novel karya Jane Austen, tingkah laku saudari-saudari Lizzie yang norak dan ibunya yang lebih norak lagi itu menjadi bumbu yang menyengat di hampir setiap bab. Sayang, Euelberg kurang bisa menampilkannya di novel ini. Mungkin karena pilihan kehidupan asrama sekolah yang kurang bisa melibatkan ortu ya? Tapi setidaknya ada Lydia sebagai wakil kenorakan itu. Meskipun rasa malu yang dihadapi Lizzie abad 21 jadi jauh berkurang dibanding yang dirasakan Lizzie abaad 18, karena di Prom and Prejudice Lydia adalah adik Jane, sahabat Lizzie, bukan adik Lizzie sendiri.

Sampulnya? Pre-teen banget. Cocok buat imprint yang nerbitin,karena namanya saja Bentang Belia. Walau kalo boleh pilih aku lebih suka cover edisi asli, yang lebih teen dan cukup mampu memotret ambiance cerita. Sayang sinopsis belakangnya salah nulis nama Elisabeth Bennet menjadi Elizabeth Bannet. Sebuah kesalahan minor, seminor penerjemah yang beberapa kalo nulis kata “jomlo” instead of “jomblo” yang lebih familier.

Judul: PROM AND PREJUDICE

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerbit: Penerbit Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-01-7

Soft cover

Halaman: 211 halaman

Terbit: Januari 2012 (cetakan I)

29
Nov
11

THE FALLEN: Sebuah kisah tentang makhluk penyelamat para yang terbuang

Aaron Corbet, cowok pendiam penyendiri siswa kelas senior Kenneth Curtis High School. Ia tidak pernah tahu identitas orangtua kandungnya. Sejak kecil cowok satu ini mengembara dari satu orangtua angkat ke orangtua angkat lain, membuatnya jadi pribadi yang sulit memercayai orang lain dan cenderung memberontak. Keluarga Stanley yang menjadi orangtua terakhirnya mampu memberinya kasih sayang tulus, sehingga Aaron betah tinggal di rumah mereka sampai bertahun-tahun.

Ulang tahun ke-18 menjadi titik perubahan dalam kehidupan Aaron. Tiba-tiba ia bisa mengetahui pembicaraan yang dilakukan orang lain dalam bahasa asing, memahami pikiran dan gonggongan anjingnya, Hingga ia bahkan bisa memahami topik cekikikan cewek-cewek Brasil di sekolahnya setiap kali ia ada di dekat mereka. Ternyata mereka mengagumi tampang ganteng si Aaron lho!

Itu baru yang enteng. Karena kemampuan memahami-bahasa-asing-dan-mengucapkannya-dengan-fasih-seakan-akan-bahasa-itu-adalah-bahasa-sehari-hari Aaron baru merupakan sebuah awalan. Setelah itu ia justru dibuat bingung dengan tudingan sebagai nephilim dari seorang tua gembel yang ia temui di pinggir lapangan.

Istilah nephilim itu juga yang akhirnya membawanya pada rentetan peristiwa menegangkan, menakjubkan, sekaligus mengerikan yang ia alami. Membuatnya harus memilih untuk menentukan masa depannya saat itu juga sebelum pihak-pihak lain berusaha merenggut masa depan tersebut.

Semua terkait dengan sebuah ramalan kuno yang berhubungan dengan peristiwa Perang Besar di Surga di mana Bintang Fajar memimpin sebuah pemberontakan melawan Yang Maha Kuasa. Setelah pasukannya kalah, pengikut sang Bintang Fajar (Lucifer) harus menyingkir dari surga dan dibuang ke bumi, bergabung dengan para manusia.

Malaikat-malaikat terbuang tersebut banyak yang jatuh cinta pada perempuan bumi dan memiliki anak. Anak-anak tersebut lah yang dikenal dengan sebutan nephilim. Nah, salah satu dari mereka akan menjadi seorang penyelamat. Menjadi pihak yang bisa menjembatani hubungan buruk antara Tuhan dengan para malaikat terbuang.

Ada kelompok malaikat, Paduan Suara Surgawi yang biasa menyebut diri mereka dengan sebutan Kekuatan di bawah pimpinan Verchiel, yang tidak menghendaki ramalan tersebut terjadi. Maka mereka membuat misi sendiri untuk membasmi seluruh nephilim sehingga tidak ada kesempatan satu pun nephilim menjadi Yang Terpilih.

Hidup Aaron yang biasa-biasa saja  berubah drastis. Ia jadi buruan Kekuatan. Ia harus berusaha menyelamatkan diri, keluarga, dan teman-teman barunya sekaligus mendapat titipan misi dari para malaikat terbuang untuk menyelamatkan diri. Siapa tahu ia adalah Yang Terpilih.

Oke, mau ngomongin yang mana dulu nih? Nephilim dan malaikat terbuang? Feminisme, tata bahasa? Hehehe ….

Baik, nephilim dan malaikat terbuang dulu deh. Sudah berapa novel yang aku baca yang ngebahas soal nephilim/makhluk setengah malaikat setengah manusia serta malaikat terbuang? Buanyak banget. Bisa dibilang persentase novel fantasy fiction yang mengulas tentang makhluk satu ini berbanding imbang dengan fantasy fiction yang membahas tentang vampir dan werewolf. Sebut saja di antaranya (yang topiknya nephilim atau malaikat terbuang saja ya):

  1. The Mortal Instruments
  2. The Infernal Devices
  3. Hush, Hush Series
  4. Awakened Series
  5. Fallen
  6. Aggelos Series
  7. Dan pasti masih banyak lagi lainnya ^_^

Kenapa aku mengategorikan nephilim dengan malaikat terbuang di ruang yang sama? Karena untuk memudahkan pengidentifikasian subjek-subjek cerita macam ini, dibandingkan dengan subjek-subjek cerita fantasy fiction lain macam vampir atau werewolf.

Nah, kisah tentang para nephilim/malaikat terbuang ada yang mencengangkan, mendebarkan, membuat jidat berkerut, bahkan sampai ke membuat bibir mencibir. Kebayang kan, topik yang sudah tuntas dibahas banyak penulis, bakal sedikit menyisakan celah buat kita bereksperimen mengeksplorasinya. Ada yang jatuhnya jadi gak masuk akal dan bertele-tele. Ada juga yang seru, seksi, sekaligus pintar. Ada yang serba tanggung dan membuat kita berpikir, “Ini cerita tentang fallen angels atau tentang aliens sih?”

Nah bagaimana dengan The Fallen bikinan Thomas E Sniegoski ini?

Sebagai sebuah kisah tentang nephilim yang entah ke berapa di antara kisah-kisah nephilim lain, The Fallen mampu muncul lengkap dan tidak membingungkan. Thomas E. Sniegoski menghadirkan para keturunan malaikat terbuang lengkap dengan identitas dan cara pemunculan mereka. Tidak tampak mengada-ada seperti kemunculan nephilim gaya cawan petri kelas kimia yang dimunculkan Jonathan Shadowhunter (tapi di luar itu, ceritanya seru banget kok). Tidak tanggung dan bikin males seperti di Aggelos. Tidak juga menjadi membingungkan dan terbaca seperti makhluk luar angkasa seperti di Awakened Series. Meskipun kenapa ada nephilim hybrid yang bisa menjadi superhero belum terjelaskan di The Fallen ini.

Nah, bagaimana aku bisa menjanjikan ocehan tentang feminisme di sini?

Itu lho, tentang keberadaan para nephilim yang (aku kutip):

… yang mengisahkan tentang sekawanan malaikat yang meninggalkan Surga untuk berpasangan dengan wanita, dan mengajarkan keterampilan yang mengerikan kepada manusia …. (hal. 69)

Halooo, memangnya malaikat itu punya jenis kelamin ya? Memangnya kalaupun punya jenis kelaminnya cuma laki-laki ya? Ini mungkin berhubungan langsung dengan penulis novel ini yang laki-laki. Jadi ia berpikiran bahwa. “Kayaknya bakal keren tuh kalo cuma cowok yang bisa jadi malaikat. Cewek? Hmm … biar gender rendahan itu jadi penerima sperma malaikat saja deh. Nanti dibikin mati saja kalo melahirkan. Yang penting habis itu kaum nephilim bisa muncul.”

Coba bandingkan dengan deskripsi para malaikat atau malaikat terbuang atau nephilim di novel lain yang bikinan pengarang cewek. Nih aku beri contoh Hush, Hush-nya Becca Fitzpatrick ya. Di sono ada tuh malaikat cewek.

Mungkin aku terlalu nyinyir (yang ini mah bukan mungkin lagi, kaleee). Tapi aku lebih suka cerita yang berimbang. Jadi masalah ini jadi ganjelan buatku meskipun gak membuatku menolak membaca lanjutan kisahnya 🙂

Nah, tata bahasa deh sekarang.

Ceritanya enak, lancar, runut, lincah. Penerjemahannya juga keren. Aku membayangkan betapa gampangnya novel ini diterjemahkan menjadi film Hollywood jika kita menilik joke-joke yang kadang dimunculkan saat si Aaron sedang mikir-mikir (meski di saat ia seharusnya gak sempat mikirin joke).

Tapi ada cara penulisan yang aneh di hal. 113:

Tidak mungkin. Akan lebih baik kalau tumor otaklah yang membuat dirinya memahami semua bahasa ini-membuatku mengira bahwa anjingku bicara kepadaku. Ini akan lebih mudah, pikirnya beralasan. Jadi dia bisa menganggap pria tua itu sinting.

Lalu di mana keanehannya? Atau cacatnya? Atau topik nyinyiranku?

Itu lho, kenapa dalam pikiran satu orang (Aaron) ia bisa ngomong mengalamatkan dirinya sebagai “…ku”, tapi kadang “…nya”?

Oke, mungkin kita dianggap harus memisahkan antara “nya” dengan “ku” dari simbol “-“ yang ada di tengah kalimat. Tapi dari pengalamanku baca novel ini seluruh kalimat yang di-italic-kan diposisikan sebagai pikiran seseorang atau dialog dalam hati seseorang. Jadi harusnya kalimat italic di atas hanya diucapkan Aaron di dalam pikirannya. Yang membuat itu tampak aneh saat ia mengalamatkan dirinya dengan sebutan “nya”.

Yah, cukup sudah. Aku sudah membuktikan kenyinyiranku di review ini. Akhir kata, novel ini asik. Menarik, bagus. Mana Aaron bisa dibayangkan sebagai cowok ganteng, lagi. Sayang cover-nya kurang “mengundang”. Jauh lebih menarik edisi aslinya di Amrik sono. Buat yang berpendapat untuk tidak akan menghakimi bacaan dari sampulnya, aku sarankan lalap habis saja novel ini 🙂

Judul: THE FALLEN

Pengarang: Thomas E. Sniegoski

Penerjemah: Marcalais Francisca

Penyunting: Dhewiberta

Penerbit: Mizan fantasi/Pt. Mizan Pustaka

ISBN: 978-979-433-635-9

Soft cover

Halaman: 309 halaman

Terbit: Agustus 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 49.000,-

16
Aug
11

Rembulan Ungu-Halus meramu sejarah, kisah cinta, dan insight politik kekinian

Panjalu mendapat tugas rahasia dari Pangeran Pekik untuk pergi ke Banyuwangi dan menyerahkan surat yang tak kalah rahasia kepada Mangunjaya, Demang Banyuwangi. Di tengah hutan Mantingan, ia dicegat segerombolan orang bertopeng. Mereka menginginkan surat yang ia bawa. Meskipun luka parah, Panjalu berhasil lolos dan selamat sampai ke Banyuwangi atas bantuan Sekar Pandan dan kakeknya, Reksawana.

Ternyata surat yang dibawa Panjalu berisi permintaan Pangeran Pekik kepada Mangunjaya untuk merelakan putri remajanya yang cantik, Oyi, agar boleh diboyong ke Mataram. Pangeran Pekik menginginkan Oyi untuk dijadikan selir Amangkurat, penguasa Mataram. Selir kesayangan Amangkurat baru saja tewas, diduga karena diracun. Panjalu terlanjur jatuh cinta kepada Oyi. Begitu pula sebaliknya. Tetapi komitmen tingginya selaku prajurit Mataram membuatnya surut melanjutkan kisah cinta mereka.

Sementara itu, Amangkurat, sultan Mataram pengganti Sultan Agung Hanyakrakusuma, diceritakan sebagai penguasa yang lupa akan tugas utamanya sebagai pemimpin sekaligus pengayom warganya. Segala tindakannya berdasar kepentingan pribadi. Semua penilaiannya subjektif, tergantung kedekatan dengan pembawa pesan. Ia juga egois dan pemarah, sehingga tak ada yang berani mengkritik kebijakannya meskipun hal tersebut sering menyengsarakan rakyatnya. Istana baru di Plered serta pembuatan Segara Anakan yang dibangun menggunakan tenaga rakyat mengharuskan mereka meninggalkan kegiatan utamanya, bertani. Hal tersebut membuat rakyat menjadi kelaparan.

Ketidakbecusan Amangkurat mengurus kerajaan membuat beberapa pihak berkumpul dan mengatur taktik suksesi. Diwarnai dengan intrik-intrik di dalam keraton, adu domba, penjilat-penjilat bertebaran. Para abdi dalem kebingungan menentukan poros kesetiaan. Korban berjatuhan. Para pangeran saling bertentangan menunggu lengsernya sang penguasa.Tetapi ternyata para tetua memiliki plot makro yang rapi.

 

Tidak bisa bernapas. Ketegangan sepanjang 511 halaman yang terpaksa aku selesaikan dalam waktu cukup lama, satu minggu. Kisah yang dituturkan dan direka ulang dari Babad Tanah Jawi ini benar-benar fiksi yang menguras konsentrasi. Alurnya cepat, berputar, maju-mundur, dengan setting yang berpindah-pindah dan melibatkan banyak sekali tokoh dan nama. Hampir semua tokoh memiliki hidden agenda, sehingga sulit untuk menentukan siapakah yang menjadi protagonis murni di sini.

Cara bertuturnya mirip sekali dengan ketoprak. Setiap bab dibuat pendek, dengan judul khusus. Maka jangan heran jika pas membuka daftar isi kita melihat ada 98 bab di sana 🙂 Aku suka dengan pemasukan istilah-istilah lokal untuk hal-hal yang memang umum sebutannya saat itu. Karena kesan fiksi sejarahnya jadi berasa banget. Jika perlu, penjelasannya langsung ditulis di samping istilah tersebut. Contoh: “Jika Ratu Malang nanti diangkat menjadi garwa prameswari atau istri utama, …” di hal. 156.

Tetapi trik tersebut terasa menjadi ganjelan saat tetap digunakan di dalam dialog, karena jadi terasa mengganggu kelancaran pembicaraan. Contoh: “… dijauhkan dari kekuasaan adigang-adigung-adiguna atau kejam, sombong, dan seraka yang telah membuat hidup rakyat sengsara….” hal. 34. Bukankah istilah berbahasa Jawa tidak perlu diterjemahkan saat yang melakukan percakapan adalah sesama orang Jawa? Soalnya kesannya si tokoh yang sedang berdialog jadi sotoy banget, merasa orang yang diajak ngomong perlu terjemahan. Mungkin akan lebih enak dibaca jika pas ada istilah lokal di dalam dialog, penerjemahan cukup di catatan kaki atau di glosarium ^_^

Untuk alur cerita, runut banget, lengkap banget. Meskipun loncat-loncat adegannya membuat ngos-ngosan yang baca. Apalagi dengan banyaknya tokoh yang muncul. Mulai dari tokoh asli Mataram, tokoh Banyuwangi, Madura, sampai ke Makassar. Bahkan nyaris terbaca kebanyakan tokoh. Membaca novel ini mengingatkanku berkali-kali dengan pengalaman jaman kecil dulu suka nonton ketoprak di TVRI Yogyakarta. Bayangkan saja, adegan abdi dalem pacaran pun ada :O)

Plot utamanya tidak bisa ditebak (kecuali kalau kamu memangs udah tahu jalannya Babad Tanah Jawi yang menjadi latar cerita). Bondan Nusantara bikin kita jadi bertanya-tanya motif di belakang tindakan setiap tokoh. Pemahaman politik penulis tajam banget. Ia bisa menyuguhkan kekacauan pengurusan kerajaan jaman dahulu dengan sentilan-sentilan yang (seharusnya) bisa bikin panas kuping penguasa jaman sekarang.

Nah, sayangnya di antara semua yang lengkap-lengkap tadi, aku nangkep ada beberapa hal penting yang tak terselesaikan di kisah ini:

1. Siapakah sebenarnya pembunuh Ratu Malang?

2. Siapakah Raja Mataram kemudian?

3. Peran Ki Ageng Jati Asih juga tidak mendapat highlight. Padahal ada bab yang mengambil lokasi di padepokannya, Tugu Pitu. Jadinya kerasa nanggung saja.

Sedang beberapa hal lain:

1. Begitu gampang kah orang jatuh cinta?

2. Begitu tak berharga kah nyawa orang?

3. Apakah memang sebegitu banyak jumlah tentara yang bisa dimiliki sebuah kerajaan di Jawa Tengah di abad 17, mengingat populasi penduduk baru meningkat tajam setelah abad 20?

 

Overall, very recommended untuk penyuka fiksi sejarah. Apalagi buatku yang punya kedekatan lokasi dengan beberapa setting: Kajoran, Makam Sunan Tembayat, Padepokan Tugu Pitu …). Bikin pengen napak tilas mencoba cari di mana Panjalu, Sekar Pandan, dkk pernah berdiri waktu itu ^_^

Buat kalian pencari ending … hmm, novel ini ambigu banget, tapi secara makro, happy ending. Jangan tanyakan ending untuk love stories-nya ya :O) (memang love stories, plural, karena yang cinta-cintaan di sini banyak banget).

 

Judul: REMBULAN UNGU

Pengarang: Bondan Nusantara

Editor: Faiz Ahsoul & Esti Budihabsari

Penerbit: Qanita-PT. Mizan Pustaka

ISBN: 978-602-8579-69-8

Soft cover

Halaman: 511 halaman

Terbit: Mei 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 65.000,-




%d bloggers like this: