Archive for the 'gramedia' Category

06
Jan
14

My 2014’s Reading Challenge List

Hohohoho, sudah ganti taun, dan tumpukan buku menjulang dalam posisi mengkhawatirkan. Biar lebih aman slash ngurangin rasa bersalah karena nimbun stok slash biar ada tempat buat buku2 baru, musti bikin reading challenge nih buat 2014 (semoga kesampaian, amin amin amin …).

Kali ini, aku bakal bikin challenge untuk kategori fiction dan non fiction.

Untuk fiction, aku bagi jadi tiga sub kategori: hard copies, emak, dan watty. Niatnya sih pengen nyikat 150 judul di taun ini. Ambisius banget, yak? biarin … doain saja bisa terlaksana.

oke, ini daftar Reading Challenge~ku sejauh ini. Belum genap 150 judul sih … daftar berikut bakal nyusul kalo sudah ada judul yang aku inginkan, dan atau aku berhasil baca buku yang justru belum kepikiran masuk ke daftar ini.

FICTION

HARD COPY NOVELS

  1. Beyonders ~ Brandon Mulls
  2. Middle School the Worst Years of My Life ~ James Patterson
  3. Tiger (The Five Ancestors 1) ~ Jeff Stone
  4. Monkey (The Five Ancestors 2) ~ Jeff Stone
  5. Snake (The Five Ancestors 3) ~ Jeff Stone
  6. The Demigods Diaries ~ Rick Riordan
  7. The Red Pyramid (Kane Chronicle 1) ~ Rick Riordan
  8. The Throne of Fire (Kane Chronicle 2) ~ Rick Riordan
  9. The Serpent’s Shadow (Kane Chronicle 3) ~ Rick Riordan
  10. Runaway Run ~ Mia Arsjad
  11. A Wish for Love ~ Mariskova
  12. Jinx ~ Meg Cabot
  13. The Hobbit ~ JRR. Tolkien
  14. The Fellowship of the Ring (TLOTR 1) ~ JRR. Tolkien (reread)
  15. The Two Tower (TLOTR 2) ~ JRR. Tolkien
  16. The Return of the King (TLOTR 3) ~ JRR. Tolkien
  17. Revenge of the Girl with the Great Personality ~ Elizabeth Eulberg
  18. The House of Hades ~ Rick Riordan (reread)

WATTY

  1. Skittles & Science ~ EternalZephyr
  2. Being the Player’s Neighbor
  3. The Normals ~ EstrangeloEdessa
  4. Just Kidding but Seriously ~ Melissassilem
  5. The Quirky Tale of April Hale ~ demonicblackcat
  6. Project Popularity ~ MelTheBookAddict
  7. Coming Together ~ Knightsrachel
  8. Drama Queen ~ Sian7Fenwick7 (the file no longer available. huh?)
  9. Good Enough to Eat ~ CrayonChomper
  10. Up in the Air ~ CrayonChomper
  11. The Cell Phone Swap ~ DoNotMicrowave
  12. I am Talon ~ DoNotMicrowave
  13. Boy Blunders ~ ElzLOL
  14. Bra Boy ~
  15. Pairing Up the Bad Boy
  16. Leap of faith
  17. I’m the Geek Who Slapped the Football Player
  18. Don’t Fall in Love in a Witness Program
  19. I Ship Us
  20. You’ve Fallen for Me ~ roastedpiglet

EBOOK COLLECTION

  1. Educating Caroline ~ Patricia Cabot
  2. Ransom My Heart ~ Mia Thermopolis
  3. The Almost Truth ~ Eileen Cook
  4. His Kiss ~ Melanie Marks (reread)
  5. Just Listen ~ Sarah Dessen (reread)
  6. The Truth about Forever ~ Sarah Dessen (reread)
  7. Angel Beach ~ Tess Oliver
  8. Harmonic Feedback
  9. Moonglass  ~ Jessi Kirby
  10. Playing Hurt
  11. Geek Girl ~ Holly Smale
  12. A Match Made in High School ~ Kristin Walker
  13. My Wish for You
  14. Spark (Elemental 2) ~ Brigid Kemmerer
  15. Spirit (elemental 3) ~ Brigid Kemmerer
  16. Karma Club ~ Jessica Brody
  17. The Girl in the Park ~ Mariah Frederick
  18. Shadowhunter’s Codex ~ Cassandra Clare

NON FICTION

1. Brand Gardener ~ Handoko Hendroyono (finishing)

2. Political Branding & Public Relations ~ Silih Agung Wasesa

3. The Brand Mindset ~ Duane E. Knapp (reread)

4. Membunuh Indonesia ~ Abhisam DM, dkk

5. The Media Handbook ~ Helen Katz

Notes:

1. Italic letters: in reading progress

2. Striked through: already read

 

1558374_10202947865163775_321195645_nSebagian buku yang musti ‘ditelan’ dan masih banyak lagiiiii … 😀

22
Sep
12

So Much Closer/Mengejar Mimpi: Menyebalkan di awal, mencerahkan di belakang ;)

Pernah nonton Felicity (film seri bergenre coming of age/young adult awal tahun 2000-an) gak? Waktu itu kayaknya yang muter Indosiar gitu deh, dengan jam tayang sekitar jam 22.30? Hehehe, referensinya jadul abis yak.

Oke, balik ke film satu itu, Felicity adalah seorang cewek lulusan SMA dari daerah sekitar midwestern Amrik (aku lupa kotanya tepatnya apa), yang pergi kuliah ke New York. Soal kuliah sih gak masalah benernya mau ke mana saja. Tapi ternyata si Felicity ini ninggalin tawaran kuliah kedokteran yang sudah ia kantongin, bikin kecewa ortunya, untuk pergi ke kampus yang (menurut ortunya) kurang penting, dengan alasan yang gak jelas.

Tentu saja Felicity gak mungkin cerita, kalo ia nekat pergi ke New York karena Ben, cowok incerannya ternyata kuliah di sono. Felicity ngerasa, bahwa benernya Ben adalah jodohnya yang belum nyadar saja akan keberadaan cewek itu. Jadi wajar-wajar saja kalo sudah saatnya bagi Felicity untuk ngejar mimpinya jadian dengan Ben (sudah ia simpen bertahun-tahun selama SMA), meski yang gak wajar adalah, fakta bahwa selama bertahun-tahun SMA itu si ben sama sekali gak kenal bahkan gak tau kalo Felicity mengamati boro-boro sampai naksir.

Nah, pembukaan novel satu ini miriiiip banget dengan kisah Felicity. Di awal tahun terakhir SMA-nya, Brooke baru tau kalo Scott Abrams, cowok yang ia taksir diam-diam (dan bahkan sama sekali gak nyadar akan keberadaan Brooke) bakal pindah ke New York. Felicity eh Brooke panik. Selama ini, Scott adalah satu-satunya alasan dia berangkat sekolah, karena baginya aktivitas sekolah itu gak banget. Bikin bosen.

Jadi gitu deh, Brooke mutusin kalo ia juga bakal pindah ke New York. Untung ayahnya yang telah cerai dengan ibunya tinggal di kota itu. Cona berbekal satu nama kota tujuan, Brooke nekat pindah.

Bayangin, New York kan nggak segede pasar inpres. Di pasar saja belum tentu kita bisa ketemu dengan orang yang kita cari, nah, ini di kota besar yang bisa dibilang belantara, tanpa alamat yang jelas yang bisa diandalkan jadi semacam kompas. Memangnya bisa?

Beruntung banget, Scott tinggal di daerah dengan area sekolah yang sama dengan Brooke, jadi akhirnya mereka nyangkut di sekolah yang sama pulak. Maka mulailah Brooke nyari cara untuk mewujudkan impiannya untuk kenal, makin dekat, dan akhirnya jadian dengan Scott Abrams.

Sekolah yang baru ternyata memberi pencerahan buat persepsi negatif Brooke tentang dunia sekolah. Di sana IQ jenius dia ditantang dengan kurikulum yang agak lebih maju dari sekolah sebelumnya, tugas-tugas yang tidak membosankan, serta aktivitas sebagai peer tutor yang mengantarnya bersahabat dengan Sadie dan John Dalton.

Bersama Sadie, Brooke diajari untuk lebih peduli pada sesama, aktif membantu sekeliling. John membuka pikiran Brooke untuk memandang segalanya dengan mata yang lebih terbuka, mensyukuri kehidupan, serta mencintai kota dengan cara yang konstruktif.

Tentunya persahabatan dengan Sadie dan John tetap tidak menyurutkan obsesi Brooke akan Scott.

Well, ada banyak catatan yang bisa aku bikin tentang novel satu ini:

  1. Kok ya ada, gitu cewek kayak Brooke (dan Felicity) yang ngejar-ngejar cowok yang bisa dibilang asing, sampai ke ujung dunia gitu. Mereka ‘membuang’ kehidupan lama mereka untuk cowok yang nggak begitu mereka kenal, lho. Meskipun aku mendukung segala macam tetek bengek tentang emansipasi atau women’s lib atau feminisme, tapi soal cewek ngejar cowok sampai ke kota lain ini so not my description about such thing. rasanya cemen abis, meski ending-nya Brooke mendapatkan pencerahan dan nilai lebih dari petualangan impulsifnya itu.
  2. Kecerdasan intelektual yang super teryata tidak menjamin kita untuk bisa selalu membuat keputusan-keputusan cerdas.
  3.  Aku suka petualangan yang dilakukan Brooke dalam usaha mengenali tempat tinggalnya yang baru. Tiap hari ia berjalan menyusuri rute yang berbeda-beda dari rumah ke sekolah (atau sebaliknya), mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Aku jadi ngebayangin, apa lingkungan tempat tinggal dia semenarik itu? *jadi pengen tinggal di sono
  4. So Much Closer awalnya cuma menawarkan obsesi nggak sehat seorang cewek tentang cowok yang ia taksir, tapi akhirnya obsesi itu mengarahkannya ke jalur yang lebih positif. Susane Colasanti selalu mampu menyisipkan pesan moral yang cukup dalem di dalam tulisan-tulisan dia.
  5. Aku suka dengan jalan cerita di mana Ms. Colasanti gak maksain semua masalah terselesaikan saat buku sampai ke halaman terakhir. Liat saja, ada beberapa problem Brooke yang dibiarkan masih terbuka (persahabatan dengan teman-teman dari kota asal, love life, dll) tapi masih nyisain harapan untuk happy ending.
  6. Sampulnya beda dari edisi Amrik, tapi dengan taste yang mirip: angle dari belakang, cowok dan cewek berdiri sebelahan. Kalo memang mau dibikin mirip, kenapa gak pake cover asli sekalian, yak? *Bingung Soalnya secara pilihan warna dan jenis pakaian yang dipakai si cewek, aku pilih cover asli banget-banget. Lebih terasa remaja. Mana cover yang versi Indonesia juga nggak memunculkan chemistry antara si cewek dan si cowok (kayaknya sih Brooke dengan John).
  7. Jilidannya agak-agak cemen, lembaran kertas mudah lepas dari lem 😦
  8. Jadi skor akhir: 80 untuk ide dan jalan cerita, 65 untuk cover, 70 untuk terjemahan. Kesimpulan, layak dikoleksi karena banyak muatan positif (asal sabar bacanya).

Judul: SO MUCH CLOSER/MENGEJAR MIMPI

Pengarang: Susane Colasanti

Penerjemah: Olivia Bernadette

Editor: Desy Natalia

ISBN: 978-602-00-1275-9

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Cetakan: 1-2011

Jumlah hal: 326

ImageCover versi Asli

ImageCover edisi Indonesia

13
Mar
12

My Partner-Secangkir Teh Panas dengan Gula Dua Sendok Teh

Situasi: menjadi anggota sebuah keluarga bahagia sejahtera beranak dua (Tita anak pertama dari dua bersaudara), dalam waktu setahun semua kata sifat itu lenyap tak berbekas. Keluarganya tercerai-berai. Papa harus masuk penjara karena kasus korupsi di BUMN tempatnya bekerja, Mama menjadi penghuni rumah perawatan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, adiknya pilih mengungsi ke rumah nenek di Cirebon karena malu. Tita sendiri masih bertahan di rumah keluarga yang sebentar lagi harus ikut disita kejaksaan berikut mobil, tabungan, dan harta keluarga lain yang berupa tanah, rumah, serta perhiasan.

Bahagia? Rasanya Tita sudah lupa dengan rasanya. Hari-harinya penuh kekhawatiran, malu, resah, marah. Situasi bertambah runyam karena Tita harus pergi dari rumah saat ia masih luntang-lantung tanpa kerjaan setelah lulus kuliah. Untung (kalo bisa dibilang untung) ada tawaran kerjaan dari Jodik, cowok yang mengerjakan renovasi kamar mandi dan pengerjaan taman rumahnya.

Kerja pada Jodik bikin Tita jadi makin bangkrut. Provokasi cowok itu mengusik ego Tita, hingga terpaksa merogoh tabungannya yang sudah semakin menipis jumlahnya untuk mencicil hutang renovasi rumah yang dilakukan papanya dulu itu. Sebelum sempat gajian, Tita malah cabut dari kantor Jodik karena ngerasa kemampuan dan pengetahuannya tidak berguna. Ia tidak mau kalo Jodik mempekerjakannya karena kasihan.

Tita akhirnya menerima tawaran Dido, anak mantan bos papanya yang punya kantor developer mentereng. Uang gaji dari kantor Dido jelas mampu membayar biaya obat Mama, biaya kebutuhan penjara Papa, dan biaya hidupnya sendiri.

Bagaimanakah Retni SB membawa kisah perjuangan Tita? Mampukah Tita mengentaskan dirinya dari jurang kebangkrutan? Seberapa heroiknya gadis itu dalam menghadapi kemalangan yang bertubi-tubi? Adalah kebahagiaan bakal menanti?

Retni SB menyodorkan kisah ini tanpa janji-janji surga. Aku melihat realitas di sini, meski kisahnya jelas-jelas fiksi belaka. Bagaimana Tita menyikapi belitan problemnya, bagaimana ia bersikap menghadapi cowok-cowok menyebalkan, bagaimana hatinya melambung saat para cowok itu memberikan perhatian, dengan mudah bisa aku relasikan pada diriku meski tentu saja, kisah Tita tidak sama dengan kisah manapun yang pernah terjadi padaku dulu.

Memang sih, karena realitas itu juga akhirnya aku agak kecewa, soalnya bad guys di novel ini tidak mendapat ‘pelajaran setimpal sesuai perbuatan-perbuatan mereka’. Jadi gemes-gemes sendiri pengen merencanakan aksi balas dendam dengan judul, “Andai aku jadi Retni SB, aku bakal menghukum si anu begini, si ane begitu, dll dll.” Tapi kalo itu bener-bener dijalankan, hasilnya kayaknya malah jadi kisah superhero kali ya.

Sekali lagi, kembalikan pada realitas, bahwa tidak selamanya kita bisa membalas orang-orang yang menyakiti kita dengan cara yang kita inginkan. Seringkali kita harus merelakan saja kejadian-kejadian tersebut dan berjalan maju. Biarkan waktu, karma, dan tentunya Tuhan yang menjalankan porsi pembalasan. Novel ini tidak menjanjikan pembalasan dendam, tidak menceritakan kesuksesan besar setelah terlunta-lunta. Jalan ceritanya bertutur tentang pentingnya kita tahu sampai di mana duka cita boleh dipelihara, dan perlunya mengambil sikap untuk meneruskan hidup meski di depan mata lubang masih menganga siap menangkap kaki yang terjerumus karena langkah yang tidak tepat.

My Partner formulanya Metropoooooop banget. Chickliiiiiit banget. Ringan, tapi belum sampai pada tahap murahan. Manis. Setelah Dimi is Married yang kurang begitu aku sukai jalan ceritanya, tadinya aku agak meragukan My Partner. Soalnya jarak terbitnya dengan si Dimi agak-agak terlalu dekat. Apa iya, bakal bisa lebih bagus dari Dimi yang kurang menggigit (buatku)?

Untungnya aku keliru. My Partner enak dibaca. Formatnya yang agak-agak klise tidak mengurangi kemanisan isi ceritanya. Kisahnya yang agak lebih pedas dibanding problem-problem yang dihadapi tokoh di novel-novel Retni sebelum ini, diperlunak oleh kalimat-kalimat lucu menyebalkan yang sering dilontarkan Jodik.

Satu ciri Retni SB yang terjaga dari novel pertama yang aku baca sampai yang terakhir ini adalah kesantaian gaya tuturnya, dipadu dengan lincahnya alur cerita, dan santunnya manner tokoh-tokohnya. Aku selalu terhibur dengan novel yang tidak menampilkan sex scenes secara eksplisit. Novel yang cukup menghentikan adegan pacaran sampai ke pegangan tangan atau apes-apesnya ciuman bibir deh (hahaha, SMA banget ya?). Dan Retni SB selalu muncul dengan gaya semacam ini, yang sekali lagi, menambah manis ceritanya.

Membaca novel ini seperti menikmati secangkir teh panas dengan gula dua sendok teh. Awalnya menghajar mulut karena temperaturnya, tapi begitu kita sudah meniup-niup sebentar, di lidah akan terasa pas, dengan efek menenteramkan.

Judul: My Partner

Pengarang: Retni SB

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-8017-3

Soft cover

Halaman: 281 halaman

Terbit: Februari 2012 (cetakan I)

Harga: Rp 43.000,-Image

01
Feb
12

THE HEIST SOCIETY/Pencuri Kelas Atas: Hati-hati, novel ini bisa bikin “pencuri” sebagai profesi yang diminati!

 

Serahkan pada Kat Bishop untuk bikin kerjaan sebagai pencuri sebagai kerjaan yang tampak glamor, cerdas, penuh tantangan, dan menjanjikan gelimangan harta. Not to mention, deretan cowok cakep :O)

Memasuki umur 15 tahun, Kat memutuskan untuk menjalani kehidupan normal: meninggalkan “bisnis’ keluarga dan sekolah di Colgan School-sebuah sekolah berasrama bergengsi. Sayang kehidupan normalnya cuma bisa berlangsung sekitar tiga bulan. Kat dikeluarkan secara tidak hormat karena “terbukti” sebagai pelaku pencurian mobil kepala sekolah-menaruh mobil itu di air mancur sekolah-memereteli dan menyimpan plat nomornya. Semua dengan bukti rekaman CCTV serta rekaman penggunaan kartu identitasnya untuk membuka pintu asrama.

Ternyata seperti dugaan kalian, Kat memang dijebak. Hale (WW. Hale kelima sih lengkapnya. Tapi sampai detik ini Kat tetap tidak pernah tau apa kepanjangan dari dua huruf W itu. Padahal mereka sudah gaul bareng cukup lama).

Hale melakukan itu semua (dibantu Gabrielle-sepupu Kat) bukannya tanpa alasan. Ayah Kat terjerat masalah. Arturo Taccone, seorang penjahat besar, kecurian koleksi lukisan. Payahnya, gaya mencurian dan postur si pencuri yang terekam kamera pengawas menyerupai Bobby Bishop. Padahal di saat yang bersamaan Bobby Bishop sedang melakukan pencurian di sebuah galeri yang jauh dari lokasi kastil Taccone. Alibi yang kuat kan? Tapi jelas gak mungkin banget alibi itu diutarakan, karena Bobby Bishop sedang diawasi secara ketat oleh Interpol.

Berbekal ancaman Arturo Taccone, Kat mengumpulkan bala bantuan yang bisa ia dapatkan, dan merencanakan strategi untuk menyelamatkan ayahnya (dan sahabat-sahabatnya). Kisah seru dan menegangkan yang dijalani dalam dua minggu perjalanan bolak-balik Amerika-Eropa.

Seru, lucu, cerdas, detail, dan bikin deg-degan.

Kalian pernah baca karya Sidney Sheldon? Novel ini sangat mengingatkan aku pada jalan cerita, tokoh utama (Kat Bishop-WW. Hale kelima vs. Tracy Whitney-Jeff Stevens), serta trik-trik yang digunakan di novel If Tomorrow Comes.

Yang memesona dari cerita ini adalah, bagaimana sebuah bisnis keluarga (pencuri bisa dianggap sebagai bisnis keluarga ya?) yang diwariskan secara turun temurun akhirnya menghasilkan generasi remaja kreatif dengan pikiran jeli dalam menyiasati hambatan-hambatan keamanan yang menghadang. Yang ini bikin aku jadi ingat tentang serial Gallagher Girls karya Ally Carter lainnya.

Tapi di satu sisi, kalau Gallagher Girls dengan mudah bisa masuk ke logikaku-kisah tentang sekolah agen rahasia berkedok sekolah swasta mahal yang merekrut remaja-remaja cewek jenius untuk dididik menjadi agen rahasia andal. Sekolah ini memiliki kurikulum yang lumayan ajaib. Hal ini yang bikin remaja-remaja yang bersekolah di dalamnya bisa mengatasi semua ujian berat serta menghadapi musuh sungguhan.

Nah, kemasukakalan ini yang belum aku temukan di dalam background yang melingkupi remaja-remaja pencuri ini. Mereka bahkan tidak bersekolah. Mereka mendapatkan mendidikan dari keluarga, mempelajari trik-trik dari yang paling sederhana, hingga yang sekelas mengatasi alarm serta sensor laser. Mereka mampu menyamar serta bepergian keliling Eropa tanpa dampingan orang dewasa. Agak terasa terlalu dipaksakan untuk masuk ke karakter dan kepribadian anak-anak usia 15-17 tahun, kan?

Oke, untuk bisa menikmati kisah ini sih aku sarankan, buang semua logika masalah umur tadi. Karena di luar poin tersebut, novel ini enak buat dinikmati. Alurnya cepat dibumbui dialog-dialog segar. Banyak lelucon yang menyisip di antara percakapan polos. Khas novel-novel remaja bikinan Ally Carter yang pernah aku baca sebelumnya.

Kalo ditilik dari pesan moral yang ada di dalamnya, jelas novel ini perlu panduan ketat dari ortu. Bayangin saja:

  1. Remaja memutuskan sendiri pilihan sekolahnya, sekaligus memanipulasi data biar bisa diterima? Nay!
  2. Profesi pencuri, dilakukan berjamaah, oleh segerombolan remaja? Triple nay!
  3. Ngelaporin ayah sendiri ke polisi (Interpol)? *geleng2 pala*
  4. Kelayapan keliling Eropa tanpa pengawalan anggota keluarga? Astaga!

Tapi di luar itu, kamu masih bisa dapat pesan positif yang disampaikan Ally Carter:

  1. Umur bukan pengghalang untuk melakukan tindakan-tindakan besar.
  2. Persahabatan bisa dilakukan antara cowok dan cewek.
  3. Jangan mudah percaya sama tampang ganteng dan sikap manis.
  4. Kemandirian dan kepercayadirian.

Bagaimana dengan cover-nya? Ummm, aku suka tuh. Kostum yang dikenakan si cewek di sono (jelas dia Kat Bishop kan?) pas banget untuk mem-visual-kan profesi pencurinya. Masih ditambah dengan pose pede dan kaki yang melangkah keluar dari bingkai keemasan.

Heist Society dirancang sebagai novel sekuelan. Buku kedua sudah beredar di pasaran Amrik dengan judul Uncommon Criminals. A must-read material buat kalian-kalian pengemar YA literatures.

Judul: HEIST SOCIETY/Pencuri Kelas Atas

Pengarang: Ally carter

Penerjemah: Alexandra Karina

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-78.0-6

Soft cover

Halaman: 326 halaman

Terbit: Desember 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 45.000,-

03
Oct
11

Antologi Rasa: Menyegarkan tapi melelahkan, satu lagi novel dengan protagonis yang sulit disukai

 

Cinta Denise pada suaminya yang tak berbalas. Cinta Ruly pada Denise yang tak berbalas. Cinta Keara pada Ruly yang tak berbalas. Cinta Harris pada Keara yang tak berbalas. Kalo mau ditambahkan, masih ada cinta Panji pada Keara yang juga tak berbalas. Ika Natassa merangkum semua rasa yang ada pada hati dan pikiran masing-masing tokoh dalam jalinan rumit di tengah keseharian, menghubungkan peristiwa demi peristiwa selama kurun waktu sekitar empat tahun. Lokasinya pun berpindah-pindah. Jakarta, somewhere in Sumatera, Singapura, Philipina, Bali ….

Seperti biasa, novel yang bernaung di bawah genre ciptaan Gramedia: Metropop ini mengemas kisah cinta perempuan urban. Ika Natassa memang termasuk yang ahli menuturkannya. Kerumitan perasaan yang dihadapi masing-masing tokoh bisa tersampaikan secara ringan karena gaya bahasa yang gaul banget.

Dari awal kita diajak terombang-ambing dari sudut Keara, pindah ke Harris, lalu Keara lagi, Harris lagi, dan seterusnya. Di tengah-tengah novel, pikiran dan point of view Ruly mulai masuk, kadang ditingkahi Panji di antaranya. Terus-terang, sebagai bacaan ringan novel ini cukup memusingkanku karena mengharuskanku memahami masing-masing tokoh secara empatif. Tapi sisi baiknya, bisa dibilang ini adalah sebuah kemajuan yang dibuat Ika Natassa. Pengarang ini mampu menunjukkan bahwa ia bukan hanya sekedar bankir yang cerdas, dengan bahasa Inggris yang licin dan pengetahuan bahasa Latin yang jempol banget. Tapi ia juga memahami psikologi dan mampu mengolah perasaan tokoh-tokohnya dalam alur cerita yang rumit tapi runut. Jalan ceritanya seolah-olah mudah diduga. Tapi yakin deh, kamu pasti gak bakal mengira bagaimana cara Ika mengakhirinya. Aku suka, karena jadi terasa realistis meski agak2 nggantung.

Sebagai tokoh utama dan protagonis di novel ini, Keara diceritakan sebagai cewek yang cantik, cerdas, easy going-agak2 sembarangan, Dengan kehidupan seks yang aktif dan penuh petualangan, aku agak heran saja ngeliat Keara bisa menerapkan standar ganda pada Harris sahabatnya. Membuatku sulit menjatuhkan simpati pada cewek satu ini.

Satu kekurangan yang aku rasakan selama baca novel ini (dan setelah baca novel-novel Ika Natassa lainnya: A Very Yuppy Wedding dan Divortiare) adalah, bahwa ia belum mau keluar dari zona nyamannya. Tiga novel yang ia garap semuanya berlatar dunia perbankan yang kental. Bukannya buruk, karena ia mampu menghadirkan tempat kerjanya sebagai setting yang hidup, tapi memangnya gak pengen ganti setting? Aku sih mengharapkannya di nvel keempat si Ika Natassa nanti ^_^

Overall, Antologi Rasa adalah bacaan yang lumayan asik. Tapi dibanding novel-novel Ika yang lain, aku menempatkan Antologi Rasa di peringkat ke tiga.

 

Judul: ANTOLOGI RASA

Pengarang: Ika Natassa

Editor: Rosi L. Simamora

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-7439-4

Soft cover

Halaman: 339 halaman

Terbit: Agustus 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 48.000,-

07
Aug
11

Fallen-Terkutuk: Satu lagi gothic romance mewarnai genre young adult

 

Dari awalnya bersekolah di sebuah SMA swasta top di kotanya, kehidupan Luce berubah drastis saat ia harus dikirim ke Sekolah Anak Nakal Berpengawasan Khusus Sword & Cross. Kejadian ini bermula dari sebuah kecelakaan aneh yang diragukan keinosenannya oleh semua pihak termasuk teman-teman sekolahnya, hakim, bahkan orangtuanya. Sebuah kebakaran pondok yang menyebabkan kematian Trevor, atlet sekolah yang juga merupakan pacar Luce.

Sword & Cross memang bukan tempat yang nyaman mengingat fungsinya adalah semacam sekolah rehabilitasi remaja bermasalah. Maka nggak heran kalo tempat itu dilengkapi dengan berbagai jenis tingkatan hukuman, kamera pengawas, serta teralis besi dan kawat duri untuk menjaga penghuninya dari kenyamanan layaknya dunia luar.

Setelah merasa terbuang dari dunia nyamannya, Luce ternyata juga tidak merasakan penerimaan di lingkungan baru. Semua temannya berdandan dan bertingkah seperti preman. Ada Molly yang mengguyurnya dengan daging giling di tengah kafetaria, ada Daniel yang mengacungkan jari tengah dari kejauhan di awal pertemuan, ada Cam yang terang-terangan merayunya, ada Gabbe yang berpenampilan seperti layaknya cheerleader si sekolah umum biasa, ada pula Arriane yang tampak agak sinting sejak pertemuan pertama.

Hal tersebut belum seberapa. Karena ternyata Luce juga masih dikuntit bayangan-bayangan hitam yang melata di udara atau di tanah. Hal menyeramkan yang sudah ia alami sebagai menu harian selama bertahun-tahun. Bayangan-bayangan ini juga muncul menjelang kematian Trevor, dan semakin membuat Luce khawatir dengan kehadirannya yang bertambah mengganggu.

Sejak mendapat acungan jari tengah dari Daniel, Luce malah jadi penasaran pada cowok tampan pendiam itu. Sikap-sikap Daniel Grigori sering bertolak belakang dari waktu ke waktu. Biasanya ia jahat dan jutek, tapi kadang-kadang ia memberi sedikit perhatian yang membuat Luce semakin penasaran dengan perasaan deja vu yang ia rasakan terhadap Daniel.

Sementara Daniel sering bersikap menyebalkan, Cam, cowok ganteng lain di sekolah, malah menampakkan sikap sebaliknya. Ia memberi perhatian dan hadiah kepada Luce, membuat gadis itu terombang-ambing dengan rasa simpati dan hangat yang ditawarkan Cam.

Tetapi ada banyak keanehan yang melingkupi Sword & Cross yang akhirnya membuat Luce merasa bahwa bahaya masih membayanginya. Bisakah ia lolos dari kematian kali ini? Siapakah sebenarnya Daniel? Apakah cowok itu berteman atau malah bermusuhan dengan Cam? Mengapa teman-teman sekolahnya menampakkan gejala dan sikap ganjil? Bagaimana dengan Miss Sophia guru agama di sana, mengapa ia tampak tahu banyak hal tentang Daniel?

Melihat gambar sampulnya dan membaca judulnya, langsung mengingatkanku kepada band beraliran Gothic Metal terkenal yang berasal dari Arkansas Amerika, Evanescence. Kalian pasti ingat lagu mereka yang sempat jadi super hit dan diaransemen ulang oleh musisi-musisi lain ke berbagai jenis aliran musik, Fallen. Merembet dari judul yang sama, aura gelap yang melingkupi video clip Evanescence mirip dengan kegelapan yang melatarbelakangi setting novel ini. Belum lagi kostum yang dikenakan Amy Lee si vokalis. Sealiran banget dengan pakaian yang dikenakan cewek di cover novel Fallen ini.

Gambar sampulnya super keren. Persis sih dengan cover versi Amerikanya. Ekspresi si cewek sangat persis dalam melukiskan apa yang dirasakan Luce di sepanjang cerita. Didominasi warna gelap, cewek berbaju hitam ini berdiri di tengah hutan dengan selubung kabut dan burung kondor di latar belakangnya. Spooky.

Terjemahan novel ini enak dibaca dan dicerna. Tanpa typo yang terdeteksi, membuat pembacaan jadi lancar sampai ke akhir halaman.

Saat bertutur, Lauren Kate juga berhasil menjaga kemuraman sampai ke akhir cerita. Semua deskripsi di novel mengenai situasi dan lokasi menambah keseraman yang dialami Luce. Tapi sayang aku kurang mendapat kepribadian yang menarik dari si tokoh utama.

Luce Price sebagai protagonis cerita hanya tergambar sebagai cewek cengeng yang selalu perlu ditolong orang lain di semua situasi. Ia cuma korban tanpa bisa menunjukkan sikap mandiri dan kemauan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Luce juga terlalu lama digambarkan sebagai cewek yang perhatiannya cuma ke sikap misterius Daniel. Bikin gemes pengen nampar deh. Di mana gengsi dan jual mahalmu, Sista? 😦

Penggambaran Daniel Grigori dan Cameron Briel juga agak-agak terlalu klise. Memang sih, kita bakal mengharap cowok cakep memperebutkan si cewek tokoh sentral. Tapi sepak terjang Cam dan cara Luce bersikap terhadap Daniel rasanya bisa kita temui dengan gampang di novel-novel lain sebelumnya. Jadi dari sisi chemistry antara masing-masing tokoh, aku tidak menemukan hal baru.

Inti ceritanya juga bukan hal baru. Tentang fallen angels dan perang antara kebaikan versus keburukan. Bukan tema yang tidak menarik, karena sampai sekarang para penggemar fallen angels masih bertebaran di toko-toko buku (termasuk aku). Sayangnya kok aku nggak menangkap inti yang dipertentangkan di sini ya? Memang sih ada indikasi kalo di sekuel bakal ada penjelasan lebih lanjut. Tapi mbok ya setidaknya ada sedikit penjelasan tentang sedikit hal. Jangan taruh penasaran di semua sudut. Karena jadinya aku ngerasa tidak membaca satu pun pencerahan dari permasalahan di awal cerita. Hal clear yang aku tangkap cuma akhirnya Luce bisa jadian dengan salah satu tokoh. Tapi mengapa Luce bisa menjadi tokoh sentral cerita, mengapa bayangan-bayangan selalu mengikutinya dan semakin menggila menjelang kejadian menyeramkan terjadi, mengapa Luce harus mati di usia 17, mengapa ada kelompok-kelompok fallen angels, sebenarnya mengapa mereka bertentangan di bumi, dll dll tidak ada penjelasannya.

Yah, untuk penggemar setia fantasy fiction, sekuel novel ini masih pantas ditunggu. Setidaknya meski ada beberapa kekecewaan, aku masih punya harapan ceritanya bakal berkembang menjadi lebih seru di buku berikutnya. Dengan catatan si pengarang nanti nggak terlalu sibuk menggambarkan sesi pacaran Luce dan pacar barunya lho ya. Sayang banget keseraman yang berhasil dijaga dari awal hingga akhir cerita kalo harus melempem ke sekedar dongeng cinta berbalut adegan tawuran antar malaikat buangan.

Judul: FALLEN/TERKUTUK

Pengarang: Lauren Kate

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-7253-6

Soft cover

Halaman: 440 halaman

Terbit: Juli 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 60.000,-

19
Jul
11

Oh.My-Gods: paduan Percy Jackson dan Kisah Klise Remaja dan Menghasilkan Novel yang Cute-Easy-Reading

Pheobe Castro (perhatikan cara nulisnya yang agak2 bikin keseleo deh. Nama seperti ini kan biasanya ditulis PHOEBE bukan PHEOBE) sudah merencanakan jalur kuliahnya sejak duduk di bangku SMP. Bersama dengan dua sahabatnya, Cesca dan Nola, mereka ingin kuliah di USC (University of South Carolina). Pheobe sangat terobsesi pada olahraga lari lintas alam dan ia mengharapkan beasiswa penuh dari universitas tersebut.

Rencananya berubah mengarah ke berantakan saat menjelang tahun terakhirnya di SMA. Ibunya yang pergi ke Yunani untuk reuni keluarga tiba-tiba pulang membawa kabar bahwa ia memutuskan untuk  menikah lagi. Bukan tahun depan, atau 3 bulan lagi, tetapi minggu depan, dengan pria yang ia kenal selama kunjungan ke Yunani. Belum cukup gila? Kabar itu masih ditambahi dengan keputusan ibunya untuk pindah ke Yunani mengikuti suami barunya. Pheobe harus ikut.

Masih ngambek dengan keputusan ibunya, Pheobe semakin marah saat tahu lokasi tempat tinggal baru mereka yang di pulau kecil di perairan Yunani. Plus tambahan Stella-si-saudari-tiri-jahat yang tidak diinformasikan sebelumnya oleh ibunya maupun Damian-si-suami-baru.

Kejutan belum selesai sampai di situ. Pheobe bahkan diberi informasi tambahan tentang sekolah yang ia tuju (tempat Damian menjabat kepala sekolah). Ternyata sekolah itu adalah semacam sekolah khusus bagi para keturunan dewa-dewi Olimpus. Dan tentu saja itu berarti Damian si kepala sekolah dan Stella-anaknya-yang-jahat adalah salah satu dari mereka.

Pheobe jelas ngamuk berat. Sudah ngerasa dicabut dari akarnya, masih dijerumuskan di tempat di mana ia bakal jadi makhluk inferior. Mana ia dilarang curhat soal itu kepada teman-teman Los Angeles-nya lagi.

Hari-hari di sekolah sesuai dengan perkiraan Pheobe. Ia jadi sasaran ejekan dan cemooh baik dari belakang maupun terang-terangan. Yang lebih buruk lagi adalah bahwa si kakak-tiri-yang-jahat masuk di kategori geng populer. Dan cowok yang ditaksir Pheobe ada di geng itu, plus dia ternyata jahat juga.

Pheobe harus menyeimbangkan kehidupannya di sekolah baru, keluarga baru, posisi di tim lari sekolah baru yang agak-agak gak aman, serta hubungannya dengan teman-teman lamanya. Belum lagi keinginannya untuk tetap mengejar si cowok ganteng yang jahat meski ia mendapatkan perhatian dari cowok baik hati yang gak kalah ganteng juga.

Bagaimana akhir kisah Pheobe Castro? Kayaknya aku cuma bisa menjanjikan happy ending lah.

 

Novel ini adalah karya Tera Lynn Childs yang petama kali publish di Amerika. Sampai saat ini ia sudah membuat beberapa novel sekuel young urban fantasy termasuk the mermaid tales (satu novel sudah aku kantongin untuk dibaca setelah ini: Forgive My Fins) dan serial tentang keturunan Medusa. Ia juga membuat beberapa novel chicklits.

Oh.My.Gods adalah novel yang ringan. Ceritanya sebenarnya lebih mengarah ke young adult saja. Tapi memang berbumbu fantasi. Tapi kefantasiannya kurang tajam tergali. Jangan bandingkan dengan serial Percy Jackson-yang sama-sama ngebahas tentang mitologi Yunani. Percy menceritakan tokoh-tokoh mitologi dan keturunannya dengan gamblang dan dalam. Trik-trik, kelebihan, dan kekejaman masing-masing tokoh di Percy Jackson menyatu erat dengan deskripsi yang dimunculkan tentang tokoh mitos yang dimaksud.

Dari hasil bacaku tentang Oh.My.Gods, para keturunan dewa-dewi Olimpus di novel ini hanya tampil seperti para ilusionis atau tukang sulap. Sifat-sifat bawaan khusus tidak dimunculkan secara spesifik. Semua orang bisa menjentikkan jari lalu cahaya berpendar dan tada! Suatu situasi berubah. Entah itu mereka keturunan Hercules/Heracles, Ares, Hera, Zeus, atau entah siapa. Untuk masalah ketelitian dalam menggarap tokoh mitologi, poin Tera Lynn Childs kurang jauh dibandingkan dengan Rick Riordan.

Nah, sekarang jika disorot dari sisi young adult, Tera Lynn Childs terasa kuat. Ia mampu menghadirkan drama khas kisah anak-anak SMA (geng, strata sosial di sekolah, intrik, dialog lucu dan cute) dengan lancar. Aku hampir saja dibikin lupa akan kelemahan di sisi fantasy saat aku sedang menikmati bagaimana interaksi Pheobe dengan Stella dan kroni-kroninya, serta percakapan Pheobe dengan sahabat-sahabatnya, serta hubungan Pheobe dengan cowok yang ditaksirnya.

Sayang Tera Lynn Childs di area young adult-nya kurang sabar dan berhati-hati. Hampir di semua konflik yang dimunculkan dengan mulus, ia mengakhirinya dengan terlalu tergesa-gesa. Segala macam permusuhan dan pertengkaran, tanpa dialog panjang untuk membahas permasalahan, sudah langsung ada adegan peluk dan saling pengertian. Jadinya agak sulit mengaitkannya dengan realitas emosi yang kita miliki.

Tapi aku cukup puas kok baca novel ini. Kelincahan bertutur dan plot yang kuat cukup menutupi kekurangan di sisi detail fantasy. Sebuah novel yang pantas dikoleksi bagi penggemar cerita happy ending dan teens. Meski buat penggemar fantasy –sekali lagi-agak kurang memuaskan. Buatku skornya tiga setengah bintang dari lima bintang yang tersedia. Belum cukup bikin aku kapok baca novel-novel karya pengarang ini selanjutnya.

 

Judul: Oh.My.Gods

Pengarang: Tera Lynn Childs

Penerbit: Elex Media Komputindo-Kompas Gramedia

ISBN: 978-602-00-0451-8

Soft cover

Halaman: 281 halaman

Terbit: Juli 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 44.800,-

 




%d bloggers like this: