Archive for the 'fantasy-gothic' Category

26
Jun
13

STORM: Pertentangan para pengendali kekuatan alam

Beberapa minggu hidup Becca kacau balau. Dimulai dengan sebuah kejadian memalukan di pesta, diikuti dengan bisik–bisik, hinaan, dan perlakuan kejam anak–anak lain di sekolah. Becca pikir, jika ia diam saja maka semua akan berlalu. Tetapi ternyata tidak segampang itu, hingga ia memutuskan untuk ikut kelas bela diri.

Usai kelas yang agak terasa tidak berguna itu, Becca menyelamatkan seorang cowok dari keroyokan dua cowok lain. Dia kira keributan hanya akan selesai sampai di situ, tetapi ternyata itu menjadi awal rentetan kejadian menyeramkan yang melibatkan semua gejala alam mulai dari angin ribut, hujan badai, gempa bumi, bahkan banjir dan kebakaran.

Kejadian–kejadian itu membuat Becca mempertanyakan kejujuran masing2 pihak yang terlibat. Apakah Chris si cowok yang dia selamatkan itu memang setidak bersalah yang ia tampakkan? Apakah kakak–kakak kembar cowok itu, dua cowok yang juga superganteng itu juga semenyenangkan yang mereka tampakkan? Apakah kakak tertua mereka yang menyebalkan itu memang membunuhi orang sebanyak itu? Bagaimana dengan kata–kata dua cowok yang mengeroyok Chris? Mereka tidak mungkin berbohong semeyakinkan itu, kan? bagaimana dengan orang–orang lain? Kenapa kota kecil mereka jadi tampak menyeramkan padahal warganya masih yang itu–itu juga?

Belum lagi dengan si Pemandu? Siapa lagi orang ini? Dan yang penting, yang manakah dia di antara orang–orang yang muncul di tengah kekacauan peristiwa alam di kota mereka?

Hah, setelah beli tanggal 30 Mei 2013, akhirnya aku berhasil ngrampungin novel ini. Bukan karena jelek ceritanya lho, tapi akhir–akhir ini aku nemu asiknya baca secara paralel antara beberapa hard copies, ebook, dan Wattpad. Jadinya banyak yang terbengkalai :DDD

Awal nemu info tentang novel ini, aku ragu …. Saat ini kan tren novel sudah mulai bergeser ke arah dystopian. Mulai dari zombi–zombian yang sampai sekarang belum aku temukan sisi menariknya (muka pucat jalan gak lurus, di mana menariknya? Apocalyptical world, hadeeeh … I’m a self–proclaimed happy–ending lover. Dan kesukaan zombi–zombi ngemil otak manusia? Eeeew), sampai ke situasi–situasi di mana aturan baru yang penuh represi diterapkan, atau remaja–remaja hasil eksperimen berkeliaran mencari jati diri, aku belum nemu rasa ‘klik’.

Jadi, buatku YA romance–high school adalah pelampiasan yang segar. Karena terus terang saja, untuk beralih ke New Adult aku belum siap. Apalagi sampai ke eroro. *malu2 nutupin muka.

Ternyata STORM lumayan mengasyikkan. Dari sisi alur, ketegangan terasa di setiap halaman. Mulai dari ketegangan hubungan dengan orang tua, dengan peer group, dengan sahabat, sampai ketegangan karena inti permasalahan.

STORM juga menyuguhkan kelincahan dan kelucuan dialog, sayang, typo macam kelebihan huruf atau salah ketik huruf atau penempatan tanda baca cukup banyak bertebaran. Nih, contohnya di halaman 20 alinea pertama baris kedua:

>>Menyebut celana jin–nya rombeng ….<<

Untuk penulisan kata asing yang telah diindonesiakan macam jenis celana ‘jin’ atau ‘jins’ yang merupakan adaptasi dari ‘jeans’, bukankah tanda hubung (–) sudah tidak dibutuhkan? Ketidaknyamanan macam ini bisa ditemukan di beberapa halaman lainnya.

Belum lagi beberapa terjemahan terbaca janggal seakan sebenarnya belum selesai proses edit. Misalnya halaman 532 alinea 11:

>>”Becca.” Suara ayahnya memotong suara Becca dan ayahnya melangkah maju ke arahnya.<<

naskah aslinya:

>>”Becca.” Her father’s voice sliced right through her, and he stepped toward her.<<

Oke, memang bener sih, terjemahan kata per katanya. Tetapi gak nyaman juga kan, dalam satu kalimat kita musti baca kaya ‘–nya’ sampai tiga kali gitu? Mungkin akan lebih pas jika kita baca dengan cara:

>>”Becca.” Sang ayah menyela ucapan gadis itu, dan melangkah ke arahnya.

Jadi gitu deh …

STORM sebagai buku pertama dari serial ELEMENTAL, menjanjikan ketegangan dari awal sampai akhir lembar kertasnya. Aku ‘beruntung’ saja saat ini sudah ngadepin SPARK (second instalment) dalam bentuk ebook, jadi mungkin aku gak akan sepenasaran itu dengan salah satu tokoh sentral yang dibahas berkali–kali tapi justru pas di belakang raibnya terasa antiklimaks (eh, bukan spoiler kan? :P)

Akhir kata, kalo aku bilang sih Brigid Kemmerer mampu menyuguhkan keseimbangan di serial ELEMENTAL pertamanya ini. Sisi misteri, action, dan romance muncul tanpa saling mengalahkan, membuatku menunggu–nunggu buku selanjutnya. FYI buat yang belum tau, ada novella yang bisa didapat dalam bentuk ebook untuk peristiwa yang terjadi 5 tahun sebelum STORM berlangsung (ELEMENTAL) . dan di antara STORM serta SPARK juga satu novella (FEARLESS). Tidak akan ngaruh banyak kalo kamu gak baca juga, tapi jelas akan membantu pemahamanmu tentang kejadian2 di antara masing2 novel.

Judul: STORM

Pengarang: Brigid Kemmerer

Penerjemah: Tria Barmawi

Editor: Putra Nugroho

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-727-1

Cetakan: 1, Mei 2013

Jumlah hal: 552

Image

05
Aug
12

THE RECKONING: Perhitungan-Akhirnya mereka nemu solusi juga, meski bukan solusi permanen ;)

Berkaca pada serial The Darkest Powers ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang tua sangat bisa jadi pihak yang mengecewakan anak-anak. Mulai dari setuju dan mengambil bagian dalam menjadikan anak sebagai subjek penelitian genetis, marah dan menghukum anak-anak tersebut saat hasil penelitian tersebut berbalik arah membuat anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang dianggap membahayakan, menjejali mereka dengan obat-obatan untuk menekan kemungkinan munculnya kekuatan mutan, membohongi, sampai kemudian mengejar-ngejar anak-anak tersebut saat mereka tak kuat menjadi kelinci percobaan. Ngejarnya pun gak tanggung-tanggung. Dari awalnya hanya menggunakan peluru pembius, sampai akhirnya menggunakan peluru beneran. Kebayang kan, bagaimana paniknya anak-anak 15-17 tahun tersebut?

Chloe (necromancer), Tori Enright (penyihir), Derek Souza (werewolf), dan Simon Bae (penyihir) berhasil melarikan diri dari Buffalo sampai ke Albany dan bertemu dengan Andrew, teman ayah Derek dan Simon yang memang sejak awal dipilih Kim Bae untuk menjadi pelindung mereka jika ada situasi genting dan mereka tidak bisa menghubungi sang ayah. Ternyata ‘lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya’ berlaku buat mereka, sehingga sekali lagi, keempat remaja tersebut musti melarikan diri.

Novel ini juga semakin menyuguhkan ketegangan saat ada dua werewolf yang mengejar-ngejar Chloe dan Derek, padahal mereka berdua sedang menjalani proses Berubah Derek yang pertama kali (menyakitkan serta menguras tenaga). Mereka juga musti menghadapi hantu cowok yang tukang bully. Untung ada bantuan dari Liz deh.

Hubungan antar para pelaku juga semakin menarik saja di sini. Tentunya kalian gak mau melewatkan ketegangan antara Derek-Chloe-Simon. Makin serunya lagi, bagaimana Chloe secara gak sengaja nemu hubungan antara Simon dan Tori. Sayang, sampai novel ini berakhir Simon dan Tori malah belum ngeh dengan ‘penemuan’ Chloe.

 

 

Puas. Campuran suspense, romance, serta dialog lucu masih mewarnai 3rd installment ini. Dan bagusnya, Kelley Armstrong mampu mengolah persentase masing-masing unsur secara tepat sehingga tak ada yang terbaca dominan, tak ada juga salah satu yang terbengkalai.

Terjemahan novel ini enak, dan cover-nya juga konsisten, mampu bercerita tentang si tokoh utama serta background-nya hanya dengan satu gambar. Lebih memuaskannya lagi, ada tampangku di dalamnya. Huehehehehe.

Hanya satu ketidakpuasanku terhadap serial ini: kalo begini terus, kapan mereka bisa menjalani kehidupan yang normal seperti pergi ke sekolah, atau bahkan mandi serta ganti baju secara teratur? *sigh (curhatan emak-emak)

Note:

Buat kalian yang gak ngikutin dari awal, fyi, novel ini adalah buku ke-3 (kayaknya yang terakhir) dari serial The Darkest Powers. ini link review buku 1.

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/03/25/the-summoning-pemanggilan-ketegangan-dan-pengadeganannya-serasa-sedang-%E2%80%9Cmembaca%E2%80%9D-film/

dan buku 2:

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/12/25/the-awakening-penyadaran-tiba-tiba-menggelandang-di-jalanan-plus-masih-juga-dikejar-kejar-komplotan/

*Jadi jangan nekat baca yang ini kalo belum nyentuh dua novel yang lebih duluan muncul, tentunya;)*

 

Judul: THE RECKONING (The Darkest Powers Book 3)

Pengarang: Kelley Armstrong

Penerjemah: Melody Violine

Editor: Uly Amalia

ISBN: 978-602-18349-0-9

Tebal: 449 hal (soft cover)

Terbit: Juni 2012 (Cetakan 1)

Penerbit: Ufuk Publishing House

09
Jul
12

CLOCKWORK PRINCE: The Magister is still going strong

Setelah berhasil menggerebek The Pandemonium, kelab dunia bawah yang digerakkan oleh Mortmain dan tidak berhasil menangkap si Mortmain, Charlotte Branwell selaku pimpinan Institut London dihadapkan pada tugas yang cukup mustahil. Ia harus bisa menemukan Mortmain dalam waktu dua minggu. Jika tidak, institut bakal diambil alih oleh Benedict Lightwood yang antagonis banget.

Jadilah seisi institut kalang-kabut melacak semua jejak yang mengarah pada Mortmain atau Nate Gray, antek kepercayaan Mortmain yang notabene adalah kakak Tessa, si Pengubah Bentuk. Mulai dari riset perpustakaan, melacak ke Institut York, konsultasi ke Kota Hening, mengendap-endap masuk ke pesta ilegal Benedict Lightwood, sampai membuat jebakan untuk Nate Gray, tak ada hasilnya. Mortmain benar-benar licin di persembunyian.

Mortmain bahkan masih bisa mengirim automaton untuk mengirim ancaman pada Tessa, Will, dan Jem yang berhasil sampai ke reruntuhan rumah Mortmain di York. Sayang, di reruntuhan itu malah ada kejutan kurang menyenangkan yang disiapkan Mortmain, yang membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Jadi, sebenarnya kenapa sih Mortmain segitu ngototnya pengen mengobrak-abrik Pemburu Bayangan? Kalo semua rencana yang disusun penghuni Institut London bisa diketahui Mortmain sehingga ia selalu berhasil menyiapkan tindakan penangkal, kira-kira apa ada pengkhianat? Dan bagaimana hubungan Will-Tessa-Jem? Adakah happy ending (sementara lah) di antara mereka? Baca saja sendiri ya … ditanggung senyum, tegang, nangis, marah, deh.

Whew, tidak banyak yang bisa aku bahas di Clockwork Prince ini, kecuali bahwa dongengnya masih menarik, meski permasalahan belum tuntas juga, bahkan makin pelik (biar ada napas buat sekuel ke 3 kaleee). Penasaranku dengan kalung Tessa di buku pertama saja tetep belum kejawab. Entah nanti bakal dijawab apa kagak deh sama si Cassandra Clare 😦

Desain sampul installment ini mirip dengan cara The Mortal Instrument disusun. Lay out mirip dengan sekuel sebelumnya, hanya tokoh-tokohnya saja yang dibikin ganti-ganti. Kalo di Clockwork Angel kayaknya Will Herondale yang dapat kehormatan Mejeng di sampul, kali ini James Carstairs yang tampang dan gaya rambutnya agak-agak bergaya boiben Korea yang muncul di sini.

Nah, sekarang tentang para tokoh ya. Kenapa ya, aku kok kurang ngerasa sreg dengan Tessa. Agak-agak ababil gitu, selalu perlu perlindungan. Mungkin karena memang si Tessa hidup di abad 19 kali ya, jadi aku kurang bisa berempati dengan dia. Tapi lihat deh si Charlotte, Jessamine, atau bahkan Cecily yang belakangan muncul, atau si Sophie yang cuma pelayan di institut. Mereka lebih mampu menemukan posisi dan menentukan sikap. Atau, mungkin karena Tessa sendiri masih bingung, sebenarnya dia apaan? Yah, entah deh. Yang jelas di novel ini aku terbelah dua, antara mau naksir James, atau Will. Tapi kayaknya Will saja deh, soalnya dia bad boy banget. Enak buat diikuti sepak terjangnya. Tapi Magnus Bane asik juga buat dipertimbangkan lho. Di balik sikap cueknya yang kadang nyebelin, kita bisa nemu sincerity, kebaikan hati, dan ketegasan :O)

Oke, yang terakhir nih, di antara semua kekacauan yang memesona di dalam dongeng ini, ada satu kejanggalan yang aku temukan:

Kenapa hampir semua nama keluarga yang muncul di Institut New York dan Idris abad 21 (Lightwood, Herondale, Fairchild, Starkweather, Wayland, dll) bisa kompak berada di London/York? Oke deh, memang klan Pemburu Bayangan mungkin memang terbatas jumlahnya. Tapi ada banyak banget institut yang sejauh ini aku catat: London, New York, Madrid, Paris, Los Angeles, Shanghai, York, dan mungkin masih banyak lainnya, mengapa hanya nama-nama itu yang beredar di London dan New York? Memangnya Institut London abad 19 ‘bedol desa’ ke New York semua? Semoga di Clockwork Princess atau buku setelahnya, nanti ada penjelasan yang masuk akal.

Overall, novel yang asik banget. Jangan coba-coba baca kalo gak ada waktu yang cukup untuk menuntaskan keseluruhan 675 halaman. Bakalan gak rela naruh 😉

Btw, novel ini aku beli baru bulan kemarin (Juni 2012). Tapi ternyata sudah terbit sejak Mei 2011. Duh, ketinggalan banget yak, aku? Tapi kok kemarin-kemarin di toko buku sama sekali gak ada yak? Kayaknya (nuduh nih), penerbitnya salah nulis tanggal terbit deh, soalnya copyright-nya saja taun 2011 juga, dan book-1 juga terbitnya Maret 2011 😛

Judul: CLOCKWORK PRINCE (The Infernal Device Book 2)

Pengarang: Cassandra Clare

Penerjemah: Melody Violine

Editor: Widyawati Oktavia

ISBN: 978-602-9346-78-7

Tebal: 675 hal

Terbit: Mei 2011 (Cetakan 1)

Penerbit: Ufuk Publishing House

01
Jun
12

The Lost Hero: Niatnya Jadi Obat Kangen si Percy yang Justru Bikin Tambah Kangen :(

“Tujuh blasteran akan menjawab panggilan.

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal.

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan,

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal.”

Ramalan di atas muncul di menjelang akhir novel ke-5 pentalogi Percy Jackson: The Last Olympian. Rangkaian kata-kata membingungkan tersebut juga yang ternyata menjadi materi petualangan baru para demigod di The Heroes of Olympus.

Kisah kali ini dibuka dengan Jason yang mendapati dirinya ada di atas sebuah bus Sekolah Alam Liar. Seakan-akan belum cukup bingung, ia yang ngerasa gak kenal satu pun remaja yang ada di atas bus, tiba-tiba ternyata berstatus pacar cewek cakep bernama Piper, dan tiba-tiba juga bersahabat dengan cowok bernama Leo. Jason tidak paham siapa dirinya, hanya tau namanya saja. Seakan-akan ia pasien amnesia yang dijatuhkan ke tengah rombongan karyawisata SMA.

Kunjungan ke Museum di tengah Grand Canyon itu jadi penuh kepanikan saat rombongan yang sedang meniti jembatan tiba-tiba kena serangan badai. Hampir semua murid bisa menyelamatkan diri masuk kembali ke museum. Tinggal Jason, Piper, Leo, Dylan, dan Pak Hedge pendamping karya wisata.

Ternyata Dylan adalah monster yang menyamar. Pak Hedge pun menyimpan rahasia yang terpaksa ia kuak di tengah kekacauan tersebut. Jason dengan refleks mengeluarkan uang koin yang ada di sakunya, dan ia ubah menjadi pedang emas bermata dua yang tajam. Saat bertarung di tengah badai, datang bala bantuan berupa kereta perang yang ditarik pegasus. Kereta itu dikendarai seorang cewek, Annabeth beserta temannya, dan mereka mengajak Jason, Piper, serta Leo ke tempat bernama Perkemahan Blasteran.

Singkat kata, Perkemahan Blasteran ternyata tempat yang cukup menyenangkan, karena Jason, Piper, dan Leo berkumpul dengan teman-teman seusia mereka yang sama-sama bermasalah, menderita disleksia, dan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder/Kelainan Hiperaktivitas dan Kurang Perhatian). Mereka semuanya adalah anak-anak dewa-dewi Olympus dengan salah satu orang tua manusia fana. Mereka mengalami masalah dikejar-kejar monster, sehingga Perkemahan Blasteran adalah tempat yang relatif aman bagi mereka, karena sudah dilindungi.

Kenyamanan Jason, Piper, dan Leo tidak bertahan lama. Mereka ternyata dikumpulkan untuk memenuhi ramalan mengenai tujuh demigod yang disebut di awal tulisan ini tadi. Siapa empat demigod yang lain? Belum ada yang tahu. Tapi sebelumnya, mereka harus menyelesaikan tugas penting dan berbahaya, menyelamatkan Hera, ratu para dewa Olympus yang ditahan di satu tempat yang mereka bahkan belum tau lokasinya. Mereka hanya punya waktu seminggu sebelum hal buruk lainnnya muncul, dan Hera binasa.

Berangkatlah tiga remaja tersebut mengarungi udara mengendarai robot naga bernama Festus. Petualangan yang menegangkan yang mempertemukan mereka dengan kakak Jason yang tidak disadarinya kalo pernah ada, tokoh-tokoh cerita Yunani kuno yang seharusnya sudah mati ribuan tahun yang lalu, monster-monster seram, dan akhirnya, kebangkitan calon penghancur dewa-dewa. Belum lagi kenyataan bahwa Piper, Jason, dan Leo sama-sama menyimpan rahasia mengenai keberadaan masa lalu dan mimpi-mimpi mereka.

Petualangan para demigod kali ini membutuhkan nyaris dua kali lipat halaman serial yang sebelumnya telah mendahului. 585 halaman penuh ketegangan, bikin aku yang mau menceritakan ulang jadi gagap sendiri. Semua adegan lucu, penting, dan ngaruh ke jalan cerita.

Untuk jalan cerita, plot, gak ada komplen deh. Masih super keren.

Novel ini juga membantu aku lebih memahami jalan pikiran para makhluk superior yang berebut dunia (titan, emak-bapak titan, dewa, raksasa, dll). Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kalo para bad guys itu berniat menguasai dunia dengan cara meremukkannya, lha berarti para manusia pengisi dunia kan bakal pada mati tuh. Trus nanti yang mereka kuasai itu apaan yak? buat apa jadi penguasa kalo gak ada anak buah dan kacung buat disuruh-suruh? Dasar makhluk superior aneh!

Nah, sekarang jalan pikiran para dewa-dewi. Mereka pada jatuh cinta pada manusia, sehingga menghasilkan ras demigod. Para demigod dicuekin pas lahir. Lalu begitu gede diklaim, hanya biar bisa ngebantu kerjaan remeh-temeh mereka di dunia. Nah, giliran para demigod mau bantu, masih juga diribetkan dengan ramalan-ramalan gak jelas, dihambat dewa-dewi lainnya, padahal tujuan bantuan itu kan juga untuk menyelamatkan para dewa. *Garukgarukpala

Dilihat secara kepribadian para tokoh, The Lost Hero terbaca (agak) lebih ‘dewasa’ dibanding serial Percy Jackson and the Olympians. Dewasa di sini bukan berati PG rated lho ya. Tapi si Jason yang tokoh utama dan kayanya lebih muda dikit dari Percy, joke-jokenya gak setolol Percy dan mulutnya gak selancang Percy. Bikin aku jadi makin kangen sama anak Poseidon satu itu. Porsi Grover yang hilang agak tergantikan oleh salah satu satir yang muncul. Leo juga lumayan konyol.

Sekarang typo yuuuk. Gak banyak jejak typo di sini. Tapi coba cek halaman 351 alinea tiga deh. Di baris ke 4-6, “…Lalu Kronos, pimpinan Titan—yah, kau barangkali sudah dengar bagaimana kisahnya, Zeus mencincang ayahnya, Ouranos, …”

Halo, kok tiba-tiba bisa muncul Zeus di situ, yak? Yang mencincang ayahnya adalah si Kronos kali? Soalnya kan yang dicincang si Ouranos. Sedang untuk urusan cincang-mencincang, jatah Zeus masih jauh setelah era itu. Zeus kan memang mencincang ayahnya. Tapi ayah si Zeus yang dipotong kecil-kecil itu Kronos, bukan? (Setelah ngecek versi English-nya, ternyata memang yang tertulis adalah “…Then Kronos, the head Titan—well, you’ve probably heard how he chopped up his father Ouranos …”. Berarti bener-bener typo. Case closed :D)

Ada satu lagi (yang justru aku suka). Lihat halaman 536 alinea 2 deh. Begini kalimatnya, “Seperti Enceladus, sang raja raksasa bertubuh manusia dari pinggang ke atas, mengenakan baju zirah perunggu, sedangkan dari pinggang ke bawah dia memiliki kaki naga bersisik; namun kulitnya sewarna petai ….”

Aku heran, kok ada petai bisa masuk ke buku terjemahan, yak? Ternyata aslinya adalah “Like Enceladus, the giant king was humanoid from the waist up, clad in bronze armor, and from the waist down he had scaly dragon’s legs; but his skin was the color of lima beans.”

Hehehe, entah sengaja atau bukan, perubahan dari ‘lima beans’ ke ‘petai’ terasa sebagai penerjemahan yang mempertimbangkan local wisdom. Lima beans, kalo diindonesiakan bakal jadi ‘kacang polong’. Tingkat kelucuannya tidak akan sama dengan jika kita menggunakan ‘petai’ yang memang sudah sangat dikenal orang kita, serta sering jadi sayur yang bernasib sebagai bahan olok-olokan.

Jadi gitu ya, novel ini sangat layak baca. Tapi saranku sih, sebelum baca serial The Heroes of Olympus ini, yang kayaknya bakal ngabisin 3 novel (sejauh ini sudah keluar dua novel di pasaran Amrik: The Lost Heroes dan The Son of Neptune. Musim gugur ntar The Mark of Athena bakal nyusul), sebaiknya sih kalian kelarin Percy Jackson & The Olympians biar tau seberapa heroiknya si demigod yang ngilang dari Camp Half-Blood itu.

Judul: THE LOST HERO

Penulis Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-653-3

Halaman: 586 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 79.000,-

11
May
12

SILENCE: Jika pilihannya adalah yang dihadapi Nora, aku sih mending tetap amnesia saja :(

Eh, ternyata di antara saat terakhir kali kita nutup CRESCENDO dan buka sampul depan SILENCE, si Nora diculik lho. Gak tanggung-tanggung durasi nyuliknya, tiga bulanan. Ngapain saja ya dia selama itu? Ada di mana? Siapa yang nyulik? Apa sempat ganti baju? (huek huek huek! kalo gak sempat).

Sayangnya, saat ia dilempar dan dilepasin ke tengah kuburan, Nora mengalami amnesia (duh, di sini kok jadi inget sinetron-sinetron) sehingga gak bisa ingat apa yang terjadi selama lima bulan terakhir dari hidupnya. Nora menjalani kembali hidupnya, meskipun sifat ngeyelannya membuatnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa berang saat ia tahu, sepanjang kepergiannya, ibunya malah pacaran dengan Hank Millar, bokap musuh bebuyutannya, Marcie. Nora juga heran melihat Vee Sky, sobatnya yang biasa jelalatan kalo ngeliat cowok cakep, bisa memproklamirkan diri sedang menjalani detoks cowok. Ia juga ngerasa aneh saat tahu Marcie yang agak-agak ramah padanya. Tapi yang paling membingungkan dan membuatnya penasaran adalah sosok Jev. Cowok satu ini menyebalkan dan jelas bad influence kalo ngeliat teman-teman gaulnya. Tapi kenapa Nora justru ngerasa Jev adalah bagian penting hidupnya yang ikut hilang dalam amnesianya?

Seiring isi novel setebal 585 halaman ini, satu persatu misteri terkuak. Akhirnya Nora bisa menyatukan potongan-potongan puzzle-nya, dan menghadapi manipulasi-manipulasi fakta yang selama ini dilakukan secara penuh perhitungan, cold blooded, dan kejam oleh ayah kandungnya. Rasa ingin tahu Nora ternyata kembali menyeretnya ke dalam kesulitan. Kali ini selain harus memikirkan banyak nyawa untuk diselamatkan, ia juga (terpaksa) harus memimpin satu perang di antara dua ras makhluk supranatural.

Seperti yang pernah aku akuin di wall facebook-ku beberapa hari yang lalu, keringat dingin benar-benar membasahi telapak tanganku saat membuka setiap halaman novel satu ini. Bahkan sampai lembar terakhir. Meskipun ada beberapa hal yang sudah bisa aku tebak, tapi tetap saja, seram dan tegang. Becca Fitzpatrick sangat mampu menghadirkan suspense dari awal sampai akhir cerita. Dari sisi cerita, ganjalanku cuma satu: si bad guy terlalu gampang mati. Aku jadi setengah berharap dia bakal muncul lagi entah dengan cara gimana di buku berikutnya.

Nah, saking hebohnya ini cerita, jelas dong kita sebagai pembaca jadi ikut larut dan kebawa naik-turunnya emosi. Ada satu hal yang pasti karena hal ini, aku jadi sebal sama Nora. Mau tauuuuu aja. Selalu nyari masalah. Tapi giliran kena masalah, selaluuu saja cuma bisa lolos karena diselamatkan Patch, atau Jev, atau Scott. Kalo memang mau coba-coba nyelidik, sikap impulsifnya dikurangin dikit, napa?

Tapi baca novel ini enak karena ceritanya memang asik. Penerjemahannya juga enak, gak nemu satu typo-pun. Ada ding satu, di halaman 369. Cek baris ke-9. Bukankah harusnya ‘Rasanya itu tidak bisa kita mungkiri’ instead of ‘pungkiri’? Tapi itu saja kok yang aku temukan 😀

Oke, sekarang sampai ke cover. Hadoooh, di antara HUSH, HUSH, CRESCENDO, dan SILENCE ini, menurutku cover SILENCE yang paling enggak banget. Pose Drew Doyon yang sedang nggendong cewek entah siapa itu (kenapa bukan aku sih???) gak enak diliat. Tampak nanggung 😦 Pilihan kertas paperback-nya aku juga kurang suka. Memang, ketebalannya adalah perbaikan dari CRESCENDO yang tipis banget. Tapi kenapa glossy dan kemerah-merahan sih? Kesan misterius yang aku tangkap di cover dua serial awal jadi gak muncul di sini. Tapi aku salut dengan penempatan bulu warna merah di sono. Dramatis.

Oke, overall, novel ini masih sangat enak dibaca. Sekuel berikutnya, yang kabarnya berjudul FINALE jelas layak ditunggu.

Judul: SILENCE

Penulis Becca Fitzpatrick

Penerjemah: Leinofar Bahfein

Penerbit: Ufuk Publishing House

ISBN: 978-602-9346-63-3

Ukuran: 14 x 20.5 cm

Halaman: 585 halaman

Terbit: Maret 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 74.500,-

25
Dec
11

The Awakening-Penyadaran: Tiba-tiba menggelandang di jalanan plus masih juga dikejar-kejar komplotan

Chloe (necromancer) dan Rae (separo iblis) tertangkap Grup Edison (kelompok ilmuwan yang melakukan rekayasa genetis terhadap para subjek yang memiliki gen kemampuan supranatural) dan dimasukkan ke dalam program rehabilitasi mereka. Chloe berhasil mengetahui bahwa sejauh ini sudah ada tiga subjek yang dinyatakan gagal menjalani proses rehabilitasi (dan harus dihabisi): Amber, Brody, dan- teman sekamarnya di Rumah Lyle-Liz. Chloe memberitahukan fakta tersebut kepada Rae, dan temannya tersebut marah karena menganggap Chloe mengada-ada.

Akhirnya nasib malah membuat Chloe melarikan diri dari lab markas Grup Edison tersebut bersama musuh bebuyutannya, Tori (penyihir) setelah mengecoh pengawal-pengawal mereka yang menginginkan Chloe menunjukkan tempat pertemuannya dengan Derek (remaja manusia serigala) dan Simon (penyihir, saudara asuh Derek).

Dua gadis tersebut berhasil lolos dari pengejar-pengejar mereka dan bertemu dengan Derek serta Simon. Setelah kekecewaan dan kejutan yang mereka peroleh dari ayah Tori juga ayah Chloe (secara terpisah), mereka memutuskan untuk mencari Andrew Carson, teman dari ayah Derek dan Simon, kontak mereka terjadi situasi emergency.

Maka mulai lah petualangan mereka yang berlangsung selama beberapa hari menuju pinggiran New York. Di jalan mereka sempat terpisah karena Derek harus kembali menjalani proses Berubah yang menyakitkan. Sebelumnya, Tori berhasil menemukan kekuatan supernya, Chloe kembali (tak sengaja) membangkitkan mayat, dan Derek nyaris sekali lagi membanting musuhnya dengan tenaga super yang ia miliki. Petualangan mereka tambah seru karena Derek dan Chloe harus bertemu dengan musuh tambahan, dua orang werewolf yang sedang dalam perjalanan ke Albany.

Sesampai di rumah Andrew, keinginan untuk mendapat perlindungan terpaksa tertunda saat mereka menyadari Andrew tidak ada di rumah. Setelah itu keempat remaja tersebut malah harus kembali dikejar-kejar orang-orang Grup Edison.

Nah, bagaimana kelanjutan petualangan seru yang memadukan fantasy fiction, horor, misteri, dan sci-fi ini? Berhasilkan Grup Edison menangkap mereka? Siapa sajakah orang yang sebenarnya paling berbahaya dan paling jahat? Siapakah pengkhianat di antara remaja-remaja tersebut? Penasaran kan? Sebelum aku dapet lemparan sandal jepit karena bikin spoiler di sini, kayaknya mending sinopsis-nya cukup sekian saja deh 😛

Well, masih sama menegangkannya dengan The Summoning. Adegan Chloe ketemuan dengan mayat-mayatnya tetep horor banget. Hehehe.

Meski begitu, efek terkaget-kaget waktu baca novel ini sudah gak separah pada saat aku baca The Summoning. Ceritanya lebih terfokus ke adegan kejar-mengejar. Kemampuan supranatural mereka yang tumbuh tidak banyak tereksploitasi di sini. (Mungkin) akan lebih memuaskan di The Reckoning.

Bisa dibilang, sebenarnya petualangan mereka kurang mendapat langkah maju sepanjang novel yang tebalnya 417 halaman ini. Apa yang menjadi pertanyaan mereka, siapa saja sebenarnya musuh mereka, masih belum banyak terjawab. Tapi mungkin itu memang cara Kelley Armstrong untuk menyimpan big bang di buku ke-3.

Di antara kejar-kejaran antara para remaja dengan Grup Edison, di antara ketegangan hubungan Derek-Chloe, Derek-Tori, Tori-Chloe, Tori-Simon, aku mulai nangkap sinyal-sinyal romance nih. Asiiiik. Kelley Armstrong munculinnya luwes banget, gak maksa “buruan jadian”. Jadi gak sabar pengen lihat kelanjutannya di The Reckoning. Walau kalo mau jujur, benernya aku sudah tau kelanjutan romance-nya. Hehehe :O) Tapi baca di edisi Indonesia-nya kan tetep nambah asik.

Nah, ngomong-ngomong soal edisi Indonesia, berarti bahasan musti nyampe ke terjemahan ya? Dibanding The Summoning, terjemahan The Awakening ini jauh lebih lancar, lebih pas, gak banyak kalimat aneh, gak banyak typo. Yang agak aneh cuma kalimat:

“Lebih baik daripada bajumu. Ingin punya kain baru, Rachelle? Kau kan cuma punya dua.”-hal. 73

Mungkin akan lebih nyaman terbaca kalo “kain” itu diganti saja dengan “pakaian” jika ingin menggunakan istilah yang beda dari kata “baju” di kalimat sebelumnya.

Kalimat aslinya (sebelum diterjemahkan) sih begini:

“Which is more than we can say for your wardrobe. Like another wrap, Rachelle? You’ve only had two so far.”

Lalu, bagaimana rasanya membaca novel ini? Duh, ngebayangin remaja-remaja berumur pertengahan belasan tahun yang musti keluar dari kenyamanan rumah yang biasa menaungi mereka, hidup menggelandang di jalanan dan dikhianati orang-orangtua yang seharusnya menjadi tumpuan kepercayaan mereka, sungguh bikin trenyuh. Apalagi kesulitan yang mereka hadapi itu akibat eksperimen nekat ilmuwan yang kebanyakan masih berhubungan darah dengan mereka. Boro-boro mikirin sekolah yang terbengkalai, nyelametin nyawa saja terbaca tertatih-tatih :”(

Singkat kata, dari sisi ketegangan, kehebohan, pembangkit dan penerus rasa penasaran, novel ini aku beri jempol tiga. Tidak seheboh novel pertama (kecuali bagian zombie-zombie-annya) tapi justru makin bikin jengkel karena musti nunggu sekuel berikutnya Khusus terjemahannya ada empat jempol untuk skala lima.

Nah, begitu deh laporan pandangan mata dari TKP. Semoga memuaskan rasa ingin tahu kalian-kalian yang butuh pendorong untuk beli. Semoga terbitnya The Reckoning gak selama penantianku nunggu The Awakening ini.

Judul: THE AWAKENING/PENYADARAN

Pengarang: Kelley Armstrong

Penerjemah: Melody Violine

Penyunting: Siti Aenah

Penerbit: Ufuk Publishing House

ISBN: 978-602-9159-86-8

Soft cover

Halaman: 417 halaman

Terbit: Oktober 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 59.900,-

29
Nov
11

THE FALLEN: Sebuah kisah tentang makhluk penyelamat para yang terbuang

Aaron Corbet, cowok pendiam penyendiri siswa kelas senior Kenneth Curtis High School. Ia tidak pernah tahu identitas orangtua kandungnya. Sejak kecil cowok satu ini mengembara dari satu orangtua angkat ke orangtua angkat lain, membuatnya jadi pribadi yang sulit memercayai orang lain dan cenderung memberontak. Keluarga Stanley yang menjadi orangtua terakhirnya mampu memberinya kasih sayang tulus, sehingga Aaron betah tinggal di rumah mereka sampai bertahun-tahun.

Ulang tahun ke-18 menjadi titik perubahan dalam kehidupan Aaron. Tiba-tiba ia bisa mengetahui pembicaraan yang dilakukan orang lain dalam bahasa asing, memahami pikiran dan gonggongan anjingnya, Hingga ia bahkan bisa memahami topik cekikikan cewek-cewek Brasil di sekolahnya setiap kali ia ada di dekat mereka. Ternyata mereka mengagumi tampang ganteng si Aaron lho!

Itu baru yang enteng. Karena kemampuan memahami-bahasa-asing-dan-mengucapkannya-dengan-fasih-seakan-akan-bahasa-itu-adalah-bahasa-sehari-hari Aaron baru merupakan sebuah awalan. Setelah itu ia justru dibuat bingung dengan tudingan sebagai nephilim dari seorang tua gembel yang ia temui di pinggir lapangan.

Istilah nephilim itu juga yang akhirnya membawanya pada rentetan peristiwa menegangkan, menakjubkan, sekaligus mengerikan yang ia alami. Membuatnya harus memilih untuk menentukan masa depannya saat itu juga sebelum pihak-pihak lain berusaha merenggut masa depan tersebut.

Semua terkait dengan sebuah ramalan kuno yang berhubungan dengan peristiwa Perang Besar di Surga di mana Bintang Fajar memimpin sebuah pemberontakan melawan Yang Maha Kuasa. Setelah pasukannya kalah, pengikut sang Bintang Fajar (Lucifer) harus menyingkir dari surga dan dibuang ke bumi, bergabung dengan para manusia.

Malaikat-malaikat terbuang tersebut banyak yang jatuh cinta pada perempuan bumi dan memiliki anak. Anak-anak tersebut lah yang dikenal dengan sebutan nephilim. Nah, salah satu dari mereka akan menjadi seorang penyelamat. Menjadi pihak yang bisa menjembatani hubungan buruk antara Tuhan dengan para malaikat terbuang.

Ada kelompok malaikat, Paduan Suara Surgawi yang biasa menyebut diri mereka dengan sebutan Kekuatan di bawah pimpinan Verchiel, yang tidak menghendaki ramalan tersebut terjadi. Maka mereka membuat misi sendiri untuk membasmi seluruh nephilim sehingga tidak ada kesempatan satu pun nephilim menjadi Yang Terpilih.

Hidup Aaron yang biasa-biasa saja  berubah drastis. Ia jadi buruan Kekuatan. Ia harus berusaha menyelamatkan diri, keluarga, dan teman-teman barunya sekaligus mendapat titipan misi dari para malaikat terbuang untuk menyelamatkan diri. Siapa tahu ia adalah Yang Terpilih.

Oke, mau ngomongin yang mana dulu nih? Nephilim dan malaikat terbuang? Feminisme, tata bahasa? Hehehe ….

Baik, nephilim dan malaikat terbuang dulu deh. Sudah berapa novel yang aku baca yang ngebahas soal nephilim/makhluk setengah malaikat setengah manusia serta malaikat terbuang? Buanyak banget. Bisa dibilang persentase novel fantasy fiction yang mengulas tentang makhluk satu ini berbanding imbang dengan fantasy fiction yang membahas tentang vampir dan werewolf. Sebut saja di antaranya (yang topiknya nephilim atau malaikat terbuang saja ya):

  1. The Mortal Instruments
  2. The Infernal Devices
  3. Hush, Hush Series
  4. Awakened Series
  5. Fallen
  6. Aggelos Series
  7. Dan pasti masih banyak lagi lainnya ^_^

Kenapa aku mengategorikan nephilim dengan malaikat terbuang di ruang yang sama? Karena untuk memudahkan pengidentifikasian subjek-subjek cerita macam ini, dibandingkan dengan subjek-subjek cerita fantasy fiction lain macam vampir atau werewolf.

Nah, kisah tentang para nephilim/malaikat terbuang ada yang mencengangkan, mendebarkan, membuat jidat berkerut, bahkan sampai ke membuat bibir mencibir. Kebayang kan, topik yang sudah tuntas dibahas banyak penulis, bakal sedikit menyisakan celah buat kita bereksperimen mengeksplorasinya. Ada yang jatuhnya jadi gak masuk akal dan bertele-tele. Ada juga yang seru, seksi, sekaligus pintar. Ada yang serba tanggung dan membuat kita berpikir, “Ini cerita tentang fallen angels atau tentang aliens sih?”

Nah bagaimana dengan The Fallen bikinan Thomas E Sniegoski ini?

Sebagai sebuah kisah tentang nephilim yang entah ke berapa di antara kisah-kisah nephilim lain, The Fallen mampu muncul lengkap dan tidak membingungkan. Thomas E. Sniegoski menghadirkan para keturunan malaikat terbuang lengkap dengan identitas dan cara pemunculan mereka. Tidak tampak mengada-ada seperti kemunculan nephilim gaya cawan petri kelas kimia yang dimunculkan Jonathan Shadowhunter (tapi di luar itu, ceritanya seru banget kok). Tidak tanggung dan bikin males seperti di Aggelos. Tidak juga menjadi membingungkan dan terbaca seperti makhluk luar angkasa seperti di Awakened Series. Meskipun kenapa ada nephilim hybrid yang bisa menjadi superhero belum terjelaskan di The Fallen ini.

Nah, bagaimana aku bisa menjanjikan ocehan tentang feminisme di sini?

Itu lho, tentang keberadaan para nephilim yang (aku kutip):

… yang mengisahkan tentang sekawanan malaikat yang meninggalkan Surga untuk berpasangan dengan wanita, dan mengajarkan keterampilan yang mengerikan kepada manusia …. (hal. 69)

Halooo, memangnya malaikat itu punya jenis kelamin ya? Memangnya kalaupun punya jenis kelaminnya cuma laki-laki ya? Ini mungkin berhubungan langsung dengan penulis novel ini yang laki-laki. Jadi ia berpikiran bahwa. “Kayaknya bakal keren tuh kalo cuma cowok yang bisa jadi malaikat. Cewek? Hmm … biar gender rendahan itu jadi penerima sperma malaikat saja deh. Nanti dibikin mati saja kalo melahirkan. Yang penting habis itu kaum nephilim bisa muncul.”

Coba bandingkan dengan deskripsi para malaikat atau malaikat terbuang atau nephilim di novel lain yang bikinan pengarang cewek. Nih aku beri contoh Hush, Hush-nya Becca Fitzpatrick ya. Di sono ada tuh malaikat cewek.

Mungkin aku terlalu nyinyir (yang ini mah bukan mungkin lagi, kaleee). Tapi aku lebih suka cerita yang berimbang. Jadi masalah ini jadi ganjelan buatku meskipun gak membuatku menolak membaca lanjutan kisahnya 🙂

Nah, tata bahasa deh sekarang.

Ceritanya enak, lancar, runut, lincah. Penerjemahannya juga keren. Aku membayangkan betapa gampangnya novel ini diterjemahkan menjadi film Hollywood jika kita menilik joke-joke yang kadang dimunculkan saat si Aaron sedang mikir-mikir (meski di saat ia seharusnya gak sempat mikirin joke).

Tapi ada cara penulisan yang aneh di hal. 113:

Tidak mungkin. Akan lebih baik kalau tumor otaklah yang membuat dirinya memahami semua bahasa ini-membuatku mengira bahwa anjingku bicara kepadaku. Ini akan lebih mudah, pikirnya beralasan. Jadi dia bisa menganggap pria tua itu sinting.

Lalu di mana keanehannya? Atau cacatnya? Atau topik nyinyiranku?

Itu lho, kenapa dalam pikiran satu orang (Aaron) ia bisa ngomong mengalamatkan dirinya sebagai “…ku”, tapi kadang “…nya”?

Oke, mungkin kita dianggap harus memisahkan antara “nya” dengan “ku” dari simbol “-“ yang ada di tengah kalimat. Tapi dari pengalamanku baca novel ini seluruh kalimat yang di-italic-kan diposisikan sebagai pikiran seseorang atau dialog dalam hati seseorang. Jadi harusnya kalimat italic di atas hanya diucapkan Aaron di dalam pikirannya. Yang membuat itu tampak aneh saat ia mengalamatkan dirinya dengan sebutan “nya”.

Yah, cukup sudah. Aku sudah membuktikan kenyinyiranku di review ini. Akhir kata, novel ini asik. Menarik, bagus. Mana Aaron bisa dibayangkan sebagai cowok ganteng, lagi. Sayang cover-nya kurang “mengundang”. Jauh lebih menarik edisi aslinya di Amrik sono. Buat yang berpendapat untuk tidak akan menghakimi bacaan dari sampulnya, aku sarankan lalap habis saja novel ini 🙂

Judul: THE FALLEN

Pengarang: Thomas E. Sniegoski

Penerjemah: Marcalais Francisca

Penyunting: Dhewiberta

Penerbit: Mizan fantasi/Pt. Mizan Pustaka

ISBN: 978-979-433-635-9

Soft cover

Halaman: 309 halaman

Terbit: Agustus 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 49.000,-




%d bloggers like this: