Archive for the 'bentang belia' Category

06
Jan
14

My 2014’s Reading Challenge List

Hohohoho, sudah ganti taun, dan tumpukan buku menjulang dalam posisi mengkhawatirkan. Biar lebih aman slash ngurangin rasa bersalah karena nimbun stok slash biar ada tempat buat buku2 baru, musti bikin reading challenge nih buat 2014 (semoga kesampaian, amin amin amin …).

Kali ini, aku bakal bikin challenge untuk kategori fiction dan non fiction.

Untuk fiction, aku bagi jadi tiga sub kategori: hard copies, emak, dan watty. Niatnya sih pengen nyikat 150 judul di taun ini. Ambisius banget, yak? biarin … doain saja bisa terlaksana.

oke, ini daftar Reading Challenge~ku sejauh ini. Belum genap 150 judul sih … daftar berikut bakal nyusul kalo sudah ada judul yang aku inginkan, dan atau aku berhasil baca buku yang justru belum kepikiran masuk ke daftar ini.

FICTION

HARD COPY NOVELS

  1. Beyonders ~ Brandon Mulls
  2. Middle School the Worst Years of My Life ~ James Patterson
  3. Tiger (The Five Ancestors 1) ~ Jeff Stone
  4. Monkey (The Five Ancestors 2) ~ Jeff Stone
  5. Snake (The Five Ancestors 3) ~ Jeff Stone
  6. The Demigods Diaries ~ Rick Riordan
  7. The Red Pyramid (Kane Chronicle 1) ~ Rick Riordan
  8. The Throne of Fire (Kane Chronicle 2) ~ Rick Riordan
  9. The Serpent’s Shadow (Kane Chronicle 3) ~ Rick Riordan
  10. Runaway Run ~ Mia Arsjad
  11. A Wish for Love ~ Mariskova
  12. Jinx ~ Meg Cabot
  13. The Hobbit ~ JRR. Tolkien
  14. The Fellowship of the Ring (TLOTR 1) ~ JRR. Tolkien (reread)
  15. The Two Tower (TLOTR 2) ~ JRR. Tolkien
  16. The Return of the King (TLOTR 3) ~ JRR. Tolkien
  17. Revenge of the Girl with the Great Personality ~ Elizabeth Eulberg
  18. The House of Hades ~ Rick Riordan (reread)

WATTY

  1. Skittles & Science ~ EternalZephyr
  2. Being the Player’s Neighbor
  3. The Normals ~ EstrangeloEdessa
  4. Just Kidding but Seriously ~ Melissassilem
  5. The Quirky Tale of April Hale ~ demonicblackcat
  6. Project Popularity ~ MelTheBookAddict
  7. Coming Together ~ Knightsrachel
  8. Drama Queen ~ Sian7Fenwick7 (the file no longer available. huh?)
  9. Good Enough to Eat ~ CrayonChomper
  10. Up in the Air ~ CrayonChomper
  11. The Cell Phone Swap ~ DoNotMicrowave
  12. I am Talon ~ DoNotMicrowave
  13. Boy Blunders ~ ElzLOL
  14. Bra Boy ~
  15. Pairing Up the Bad Boy
  16. Leap of faith
  17. I’m the Geek Who Slapped the Football Player
  18. Don’t Fall in Love in a Witness Program
  19. I Ship Us
  20. You’ve Fallen for Me ~ roastedpiglet

EBOOK COLLECTION

  1. Educating Caroline ~ Patricia Cabot
  2. Ransom My Heart ~ Mia Thermopolis
  3. The Almost Truth ~ Eileen Cook
  4. His Kiss ~ Melanie Marks (reread)
  5. Just Listen ~ Sarah Dessen (reread)
  6. The Truth about Forever ~ Sarah Dessen (reread)
  7. Angel Beach ~ Tess Oliver
  8. Harmonic Feedback
  9. Moonglass  ~ Jessi Kirby
  10. Playing Hurt
  11. Geek Girl ~ Holly Smale
  12. A Match Made in High School ~ Kristin Walker
  13. My Wish for You
  14. Spark (Elemental 2) ~ Brigid Kemmerer
  15. Spirit (elemental 3) ~ Brigid Kemmerer
  16. Karma Club ~ Jessica Brody
  17. The Girl in the Park ~ Mariah Frederick
  18. Shadowhunter’s Codex ~ Cassandra Clare

NON FICTION

1. Brand Gardener ~ Handoko Hendroyono (finishing)

2. Political Branding & Public Relations ~ Silih Agung Wasesa

3. The Brand Mindset ~ Duane E. Knapp (reread)

4. Membunuh Indonesia ~ Abhisam DM, dkk

5. The Media Handbook ~ Helen Katz

Notes:

1. Italic letters: in reading progress

2. Striked through: already read

 

1558374_10202947865163775_321195645_nSebagian buku yang musti ‘ditelan’ dan masih banyak lagiiiii … 😀

Advertisements
26
Sep
12

Take a Bow: Harusnya bisa jauh lebih bagus, titik!

Sophie, Emme, Carter, Ethan. Mereka adalah empat siswa senior CPA (Creative and Performing Arts) dengan background kemampuan seni yang berbeda-beda. Sophie adalah penyanyi, sebelum masuk ke CPA ia sudah menikmati spotlight sebagai bintang kecil-kecilan di area Brooklyn.

Emme, sahabat Sophie sejak umur 8 tahun. Bukan jenis cewek yang pede meski kemampuannya mencipta dan memainkan musik di atas rata-rata. Ada simbiosis mutualisme antara Sophie dengan Emme. Sophie membutuhkan lagu-lagu indah dengan karakter yang kuat. Ia selalu bisa mengandalkan Emme untuk itu. Emme, yang kurang suka tampil di atas panggung, merasa hanya Sophie lah yang mampu membuat lagu-lagu ciptaannya jadi terdengar indah. Bagi Sophie, CPA adalah batu loncatan ke arah panggung yang lebih besar. Sedang Emme masuk CPA karena bujukan Sophie.

Carter sudah jadi bintang film terkenal sejak kecil. Justru setelah menginjak masa remaja, popularitasnya kian surut digantikan bibit-bibit imut setelahnya. Apa ia kecewa? Ternyata tidak, karena sebenarnya Carter Harrison tidak menikmati ketenaran. Ia memang menyukai bidang seni, tapi bukan bidang yang selama ini diatur-atur dan disodorkan ibunya maca film serta opera sabun (setelah popularitasnya memudar). Carter suka melukis. CPA ia jadikan sebagai alat untuk mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan.

Ethan sangat berbakat di bidang musik. Suaranya juga bagus. Hanya satu kekurangannya (menurutnya sih): Ia tidak pernah bisa bikin lagu dengan lirik yang sebagus komposisi musiknya. Lirik bikinannya selalu dangkal (masih menurut Ethan). Dan ia menganggap, kehidupannya yang mulus-mulus saja lah penyebabnya.

“Aku anak tiga belas tahun yang tingal di sebuah rumah besar di Connecticut dengan ayah bankir investasi dan ibu seorang ibu rumah tangga. Apa yang mesti kutulis? Aku tak tahu apa-apa tentang penderitaan atau rasa sakit. Atau cinta.” Hal. 11

Bersama Jack dan Ben, Emme dan Ethan mulai menikmati band mereka.

Keempat siswa CPA tersebut menghadapi tahun terakhir dengan penuh antisipasi. Sophie, karena karirnya yang bisa dibilang mandek justru di tempat yang ia rasa seharusnya bisa menjadi batu loncatan. Emme, karena tidak yakin dengan kualitas musikalnya, Sophie yang sering mengabaikannya, serta aktivitas band yang menyita waktu. Carter yang pacaran dengan Sophie, merasa sikap-sikap Sophie semakin tidak ia sukai, sementara ia sendiri juga menghadapi dilema untuk segera memberi tahu ibunya akan pilihan jenis seni yang ia inginkan. Ethan? Selain menjadi lead singer sebuah band remaja yang mulai banyak penggemar, cowok ini juga mulai sadar bahwa ia naksir seorang teman (yang kayaknya justru sebal padanya). Jadi bagaimana kelanjutan ruwetnya pertemanan dan pikiran siswa-siswa CPA ini?

Karya Elizabeth Eulberg yang pertama aku baca adalah Prom and Prejudice, disambung dengan The Lonely Hearts Club. Take a Bow ini aku tunggu-tunggu sudah agak lama, nguber ebook gratisannya juga hampir tiap minggu. Tanpa hasil. Ternyata Bentang Belia sudah nerbitin dalam jangka waktu gak sampai setahun dari terbitan Point-Scholastic.

Sayangnya, setelah nunggu cukup lama, aku malah  kecewa. Kalo diperingkat, ternyata tingkat bagusnya novel-novel Eulberg sesuai dengan urutan yang aku tulis di review ini 😦

Jadi, benernya apa sih yang aku pikir tentang novel satu ini?

  1. Mulai dari cover ya … edisi Indonesia cover-nya (menurutku) kurang fun, gak kayak terbitan Bentang Belia yang lainnya. Dengan versi aslinya pun bagus versi asli 😦
  2. Meskipun angle penceritaan novel ini pindah-pindah Sophie-Emme-Carter-Ethan, tapi kerasa banget kalo pengarang lebih berpihak pada Emme. Kalo aku sih lebih suka dengan karakter Ethan.
  3. Bahasanya kurang enak dibaca. Aku gak bisa nuduh kalo problem di terjemahan, karena aku sendiri belum baca edisi aslinya. Cuma kebacanya tanggung banget. Novel remaja, tapi gak ada lincah-lincahnya. Seringkali penuturannya berbelit-belit yang bikin aku jadi cuma paham inti cerita, tapi untuk nyambungin kata-per katanya butuh perjuangan ekstra. Coba saja cek hal. 100 yang terpaksa gak aku kutip di sini karena panjangnya bagian yang aku maksud. Tapi intinya, itu adalah adegan di mana Ethan ‘disidang’ teman-teman band-nya. Adegannya tanggung. Emme diminta Jack untuk bantu ngasih pengertian ke Ethan. Nah, masalahnya, pengertian yang diberikan si Emme kok rasanya gak nyambung dengan topik yang jadi bahan penyidangan ya? *garuk2 pala
  4. Meskipun novel ini ditulis dari empat angle yang semuanya pake kata ganti orang pertama, jika dicermati, kita masih mudah-mudah saja kok ngenalin porsi penceritaan masing-masing orang. Bagian Carter ditulis dengan tanpa tanda kutip seperti dialog-dialog di novel pada umumnya, tapi kebanyakan pake gaya script (nama, tanda baca titik dua, dialog). Bagian Sophie terbaca pede abis dan agak-agak nyebelin, sedang Emme bisa dikenali dengan gayanya yang kurang nyaman. Ethan muncul sebagai pencerita yang penuh curiga dan penggerutu.
  5. Alurnya loncat-loncat, bikin bingung (sekali lagi menurutku), karena loncatnya gak pake pamit-pamit. Setidaknya harusnya pembaca dibantu dengan huruf italic kek, jika sedang flash back atau gimana gitu, jadi gak bloon di tengah bacaan @_@
  6. Satu yang aku lihat dari tiga karya Elizabeth Eulberg, benang merah tiap-tiap novelnya: penulis ini secara kental membawa pesan tentang pentingnya persahabatan .

Yah, jadi gitu deh, sebagai bacaan YA/teen/belia, novel ini buatku kurang mewakili kesegaran dan keriangan age bracket ini. Meski kalo dilihat sisi baiknya, benernya isinya dalem dengan bahasan tentang pasang surut persahabatan dan perjuangan menuju jenjang di atas SMA, bukan melulu kisah cinta dan pengutipan lagu-lagu lama yang agak mbosenin kayak di Lonely Hearts Club. Coba saja penuturannya lebih lincah ….

Gak rugi baca, tapi kalo ada yang lain mending habisin bacaan lain dulu deh. Itu sih ending note dariku 😉

Judul: TAKE A BOW

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerjemah: Mery Riansyah

Editor: Dila Maretihaq Sari

Penerbit: Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-42-0

Cetakan: 1-2012

Jumlah hal: 319

15
Apr
12

Prom and Prejudice: Membawa aroma Jane Austen ke abad 21

Image

sampul terbitan amrik

Image

Sampul terbitan Indonesia 🙂

Sebagai siswi beasiswa di Akademi Longbourn, hidup Elizabeth Bennet sungguh tidak nyaman. Ia harus tinggal di asrama yang penuh remaja cewek dengan background keluarga kaya raya. Soal kayanya sih gak masalah, tapi bullying dari mereka itu lho.

Bayangkan saja, disiram pake minuman milk shake segelas gede? Pernah. Dilemparin kertas langsung di muka? Jelas pernah. Dikasih kupon makan? Hampir tiap hari. Buat anak-anak kaya itu, kehidupan dari luar lingkungan mereka dianggap tidak masuk hitungan. Orang dari luar yang ‘berusaha’ masuk ke lingkungan mereka? Musti dibikin sengsara.

Ini adalah semester kedua bagi Lizzie. Kalo gak mikirin beasiswa musik yang ia idamkan, cewek ini sudah pengen nyerah, balik ke sekolah tempat teman-teman lamanya menuntut ilmu di New Jersey sana. Karena sudah kenyang dengan hinaan terang-terangan teman sekolahnya.

Sebuah pesta sekolah, mempertemukan siswi-siswi Akademi Longbourn dengan cowok-cowok Akademi Pemberley (ini Longbourn-nya para cowok, lengkap dengan harga mahal, gerombolan cowok kaya, dan tentu saja status elit-nya). Jane, sahabat Lizzie sedang pedekate dengan Charles Bingley, anak Pemberley. Ini membuat Lizzie musti membetahkan diri gaul juga dengan Charles dan teman-temannya, termasuk Will Darcy yang angkuhnya amit-amit. Charles-nya sih baik dan ramah. Keinginan membalas kebaikhatian Jane membuat Lizzie musti terlibat dengan hampir semua kegiatan Jane-Charles yang melibatkan Will serta saudari kembar Charles yang sombong plus jutek, Caroline.

Lizzie sebal banget tau Will yang memandang rendah anak beasiswa. Will tidak terima saat tau Lizzy membenci anak-anak kaya. Mereka terlibat pertengkaran saat berlibur di Vermont. Will berusaha membayari buku yang dibeli Lizzie, dan ditolak-mentah-mentah oleh Lizzie.

“Yah, setidaknya aku tak perlu bersembunyi di balik uangku. Semua yang kumiliki buah dari kerja keras.”

“Kau tidak mengenalku.”

Kucoba merendahkan suara. “Dan, pikirmu kau mengenalku? Ayolah Will, kapan kau pernah bekerja? Atau, kapan kau pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumahmu –oh sori maksudku, mansion?”

Will menunduk memandang lantai.

“Kurasa enggak pernah. …..

…..

Rahang Darcy mengertak. “kau benar-benar kritikus tajam, Pernah coba mengenal kami dulu sebelum menghakimi?”

“Kapan?” tiba-tiba suaraku serak. “Saat kupon makan dijejalkan dalam kotak suratku? Saat aku harus menggosok kuat-kuat tulisan ‘Anak Hobo pulang saja, deh!’ di pintuku? Saat orang melempar mukaku pada minggu pertama? Ayo bilang, pernah enggak mukamu dilempar milk shake?”

 

Sejak saat itu, hubungan di antara mereka menjadi semakin ruwet, melibatkan George Wickham. Lydia adik jane yang menyebalkan, dan Caudia Reynolds, pianis terkenal idola Lizzie.

Jadi, bagaimanakah kisah ruwet ini akhirnya mampu menyatukan Lizzie-Will? Kayaknya kalian musti baca sendiri.

Oke, kenapa aku beri spoiler soal ending hubungan Lizzie dan Will? Soalnya buat kalian penyuka karya klasik yang sudah baca Pride and Prejudice-nya Jane Austen, pasti bakal tau kalo Lizzie-Will akhirnya bakal jadian. Jadi sudah bukan rahasia lagi lah.

Novel ini adalah adaptasi bebas dari karya Ms. Austen yang jadi favoritku. Di antara Prom and Prejudice dengan Prada and Prejudice karya Mandy Hubbard yang juga adaptasian karya Jane Austen, aku pilih novel Elizabeth Eulberg ini. Ceritanya lebih kaya, problemnya lebih dalam, improvisasinya lebih menyatu dengan kehidupan remaja jaman sekarang. Novel ini juga menawarkan jalan cerita dengan muatan self-empowerment.

Merujuk pada novel karya Jane Austen, tingkah laku saudari-saudari Lizzie yang norak dan ibunya yang lebih norak lagi itu menjadi bumbu yang menyengat di hampir setiap bab. Sayang, Euelberg kurang bisa menampilkannya di novel ini. Mungkin karena pilihan kehidupan asrama sekolah yang kurang bisa melibatkan ortu ya? Tapi setidaknya ada Lydia sebagai wakil kenorakan itu. Meskipun rasa malu yang dihadapi Lizzie abad 21 jadi jauh berkurang dibanding yang dirasakan Lizzie abaad 18, karena di Prom and Prejudice Lydia adalah adik Jane, sahabat Lizzie, bukan adik Lizzie sendiri.

Sampulnya? Pre-teen banget. Cocok buat imprint yang nerbitin,karena namanya saja Bentang Belia. Walau kalo boleh pilih aku lebih suka cover edisi asli, yang lebih teen dan cukup mampu memotret ambiance cerita. Sayang sinopsis belakangnya salah nulis nama Elisabeth Bennet menjadi Elizabeth Bannet. Sebuah kesalahan minor, seminor penerjemah yang beberapa kalo nulis kata “jomlo” instead of “jomblo” yang lebih familier.

Judul: PROM AND PREJUDICE

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerbit: Penerbit Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-01-7

Soft cover

Halaman: 211 halaman

Terbit: Januari 2012 (cetakan I)




%d bloggers like this: