Archive for the 'action' Category

06
Jan
14

My 2014’s Reading Challenge List

Hohohoho, sudah ganti taun, dan tumpukan buku menjulang dalam posisi mengkhawatirkan. Biar lebih aman slash ngurangin rasa bersalah karena nimbun stok slash biar ada tempat buat buku2 baru, musti bikin reading challenge nih buat 2014 (semoga kesampaian, amin amin amin …).

Kali ini, aku bakal bikin challenge untuk kategori fiction dan non fiction.

Untuk fiction, aku bagi jadi tiga sub kategori: hard copies, emak, dan watty. Niatnya sih pengen nyikat 150 judul di taun ini. Ambisius banget, yak? biarin … doain saja bisa terlaksana.

oke, ini daftar Reading Challenge~ku sejauh ini. Belum genap 150 judul sih … daftar berikut bakal nyusul kalo sudah ada judul yang aku inginkan, dan atau aku berhasil baca buku yang justru belum kepikiran masuk ke daftar ini.

FICTION

HARD COPY NOVELS

  1. Beyonders ~ Brandon Mulls
  2. Middle School the Worst Years of My Life ~ James Patterson
  3. Tiger (The Five Ancestors 1) ~ Jeff Stone
  4. Monkey (The Five Ancestors 2) ~ Jeff Stone
  5. Snake (The Five Ancestors 3) ~ Jeff Stone
  6. The Demigods Diaries ~ Rick Riordan
  7. The Red Pyramid (Kane Chronicle 1) ~ Rick Riordan
  8. The Throne of Fire (Kane Chronicle 2) ~ Rick Riordan
  9. The Serpent’s Shadow (Kane Chronicle 3) ~ Rick Riordan
  10. Runaway Run ~ Mia Arsjad
  11. A Wish for Love ~ Mariskova
  12. Jinx ~ Meg Cabot
  13. The Hobbit ~ JRR. Tolkien
  14. The Fellowship of the Ring (TLOTR 1) ~ JRR. Tolkien (reread)
  15. The Two Tower (TLOTR 2) ~ JRR. Tolkien
  16. The Return of the King (TLOTR 3) ~ JRR. Tolkien
  17. Revenge of the Girl with the Great Personality ~ Elizabeth Eulberg
  18. The House of Hades ~ Rick Riordan (reread)

WATTY

  1. Skittles & Science ~ EternalZephyr
  2. Being the Player’s Neighbor
  3. The Normals ~ EstrangeloEdessa
  4. Just Kidding but Seriously ~ Melissassilem
  5. The Quirky Tale of April Hale ~ demonicblackcat
  6. Project Popularity ~ MelTheBookAddict
  7. Coming Together ~ Knightsrachel
  8. Drama Queen ~ Sian7Fenwick7 (the file no longer available. huh?)
  9. Good Enough to Eat ~ CrayonChomper
  10. Up in the Air ~ CrayonChomper
  11. The Cell Phone Swap ~ DoNotMicrowave
  12. I am Talon ~ DoNotMicrowave
  13. Boy Blunders ~ ElzLOL
  14. Bra Boy ~
  15. Pairing Up the Bad Boy
  16. Leap of faith
  17. I’m the Geek Who Slapped the Football Player
  18. Don’t Fall in Love in a Witness Program
  19. I Ship Us
  20. You’ve Fallen for Me ~ roastedpiglet

EBOOK COLLECTION

  1. Educating Caroline ~ Patricia Cabot
  2. Ransom My Heart ~ Mia Thermopolis
  3. The Almost Truth ~ Eileen Cook
  4. His Kiss ~ Melanie Marks (reread)
  5. Just Listen ~ Sarah Dessen (reread)
  6. The Truth about Forever ~ Sarah Dessen (reread)
  7. Angel Beach ~ Tess Oliver
  8. Harmonic Feedback
  9. Moonglass  ~ Jessi Kirby
  10. Playing Hurt
  11. Geek Girl ~ Holly Smale
  12. A Match Made in High School ~ Kristin Walker
  13. My Wish for You
  14. Spark (Elemental 2) ~ Brigid Kemmerer
  15. Spirit (elemental 3) ~ Brigid Kemmerer
  16. Karma Club ~ Jessica Brody
  17. The Girl in the Park ~ Mariah Frederick
  18. Shadowhunter’s Codex ~ Cassandra Clare

NON FICTION

1. Brand Gardener ~ Handoko Hendroyono (finishing)

2. Political Branding & Public Relations ~ Silih Agung Wasesa

3. The Brand Mindset ~ Duane E. Knapp (reread)

4. Membunuh Indonesia ~ Abhisam DM, dkk

5. The Media Handbook ~ Helen Katz

Notes:

1. Italic letters: in reading progress

2. Striked through: already read

 

1558374_10202947865163775_321195645_nSebagian buku yang musti ‘ditelan’ dan masih banyak lagiiiii … 😀

26
Jun
13

STORM: Pertentangan para pengendali kekuatan alam

Beberapa minggu hidup Becca kacau balau. Dimulai dengan sebuah kejadian memalukan di pesta, diikuti dengan bisik–bisik, hinaan, dan perlakuan kejam anak–anak lain di sekolah. Becca pikir, jika ia diam saja maka semua akan berlalu. Tetapi ternyata tidak segampang itu, hingga ia memutuskan untuk ikut kelas bela diri.

Usai kelas yang agak terasa tidak berguna itu, Becca menyelamatkan seorang cowok dari keroyokan dua cowok lain. Dia kira keributan hanya akan selesai sampai di situ, tetapi ternyata itu menjadi awal rentetan kejadian menyeramkan yang melibatkan semua gejala alam mulai dari angin ribut, hujan badai, gempa bumi, bahkan banjir dan kebakaran.

Kejadian–kejadian itu membuat Becca mempertanyakan kejujuran masing2 pihak yang terlibat. Apakah Chris si cowok yang dia selamatkan itu memang setidak bersalah yang ia tampakkan? Apakah kakak–kakak kembar cowok itu, dua cowok yang juga superganteng itu juga semenyenangkan yang mereka tampakkan? Apakah kakak tertua mereka yang menyebalkan itu memang membunuhi orang sebanyak itu? Bagaimana dengan kata–kata dua cowok yang mengeroyok Chris? Mereka tidak mungkin berbohong semeyakinkan itu, kan? bagaimana dengan orang–orang lain? Kenapa kota kecil mereka jadi tampak menyeramkan padahal warganya masih yang itu–itu juga?

Belum lagi dengan si Pemandu? Siapa lagi orang ini? Dan yang penting, yang manakah dia di antara orang–orang yang muncul di tengah kekacauan peristiwa alam di kota mereka?

Hah, setelah beli tanggal 30 Mei 2013, akhirnya aku berhasil ngrampungin novel ini. Bukan karena jelek ceritanya lho, tapi akhir–akhir ini aku nemu asiknya baca secara paralel antara beberapa hard copies, ebook, dan Wattpad. Jadinya banyak yang terbengkalai :DDD

Awal nemu info tentang novel ini, aku ragu …. Saat ini kan tren novel sudah mulai bergeser ke arah dystopian. Mulai dari zombi–zombian yang sampai sekarang belum aku temukan sisi menariknya (muka pucat jalan gak lurus, di mana menariknya? Apocalyptical world, hadeeeh … I’m a self–proclaimed happy–ending lover. Dan kesukaan zombi–zombi ngemil otak manusia? Eeeew), sampai ke situasi–situasi di mana aturan baru yang penuh represi diterapkan, atau remaja–remaja hasil eksperimen berkeliaran mencari jati diri, aku belum nemu rasa ‘klik’.

Jadi, buatku YA romance–high school adalah pelampiasan yang segar. Karena terus terang saja, untuk beralih ke New Adult aku belum siap. Apalagi sampai ke eroro. *malu2 nutupin muka.

Ternyata STORM lumayan mengasyikkan. Dari sisi alur, ketegangan terasa di setiap halaman. Mulai dari ketegangan hubungan dengan orang tua, dengan peer group, dengan sahabat, sampai ketegangan karena inti permasalahan.

STORM juga menyuguhkan kelincahan dan kelucuan dialog, sayang, typo macam kelebihan huruf atau salah ketik huruf atau penempatan tanda baca cukup banyak bertebaran. Nih, contohnya di halaman 20 alinea pertama baris kedua:

>>Menyebut celana jin–nya rombeng ….<<

Untuk penulisan kata asing yang telah diindonesiakan macam jenis celana ‘jin’ atau ‘jins’ yang merupakan adaptasi dari ‘jeans’, bukankah tanda hubung (–) sudah tidak dibutuhkan? Ketidaknyamanan macam ini bisa ditemukan di beberapa halaman lainnya.

Belum lagi beberapa terjemahan terbaca janggal seakan sebenarnya belum selesai proses edit. Misalnya halaman 532 alinea 11:

>>”Becca.” Suara ayahnya memotong suara Becca dan ayahnya melangkah maju ke arahnya.<<

naskah aslinya:

>>”Becca.” Her father’s voice sliced right through her, and he stepped toward her.<<

Oke, memang bener sih, terjemahan kata per katanya. Tetapi gak nyaman juga kan, dalam satu kalimat kita musti baca kaya ‘–nya’ sampai tiga kali gitu? Mungkin akan lebih pas jika kita baca dengan cara:

>>”Becca.” Sang ayah menyela ucapan gadis itu, dan melangkah ke arahnya.

Jadi gitu deh …

STORM sebagai buku pertama dari serial ELEMENTAL, menjanjikan ketegangan dari awal sampai akhir lembar kertasnya. Aku ‘beruntung’ saja saat ini sudah ngadepin SPARK (second instalment) dalam bentuk ebook, jadi mungkin aku gak akan sepenasaran itu dengan salah satu tokoh sentral yang dibahas berkali–kali tapi justru pas di belakang raibnya terasa antiklimaks (eh, bukan spoiler kan? :P)

Akhir kata, kalo aku bilang sih Brigid Kemmerer mampu menyuguhkan keseimbangan di serial ELEMENTAL pertamanya ini. Sisi misteri, action, dan romance muncul tanpa saling mengalahkan, membuatku menunggu–nunggu buku selanjutnya. FYI buat yang belum tau, ada novella yang bisa didapat dalam bentuk ebook untuk peristiwa yang terjadi 5 tahun sebelum STORM berlangsung (ELEMENTAL) . dan di antara STORM serta SPARK juga satu novella (FEARLESS). Tidak akan ngaruh banyak kalo kamu gak baca juga, tapi jelas akan membantu pemahamanmu tentang kejadian2 di antara masing2 novel.

Judul: STORM

Pengarang: Brigid Kemmerer

Penerjemah: Tria Barmawi

Editor: Putra Nugroho

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-727-1

Cetakan: 1, Mei 2013

Jumlah hal: 552

Image

11
Dec
12

The Mark of Athena: Ending nyesek, tapi masih ada harapan kok ;)

Peringatan

Jika niat baca novel ini, sebaiknya baca:

https://iluvwrite.wordpress.com/2012/06/01/the-los-hero-niatnya-jadi-obat-kangen-si-percy-yang-justru-bikin-tambah-kangen/

dan

https://iluvwrite.wordpress.com/2012/11/18/the-son-of-neptune-sekali-lagi-disuguhi-serunya-petualangan-demigod-amnesia/

dulu ya ….

Tujuh blasteran akan menjawab panggilan

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal

Argo II berlabuh di angkasa Perkemahan Jupiter (gak bisa mendarat karena diomelin Terminus si Dewa Perbatasan) membawa awak Annabeth Chase, Jason Grace, Piper McLean, Leo Valdez, dan Gleeson Hedge sang satir sinting. Misinya ada dua: memenangkan rasa percaya demigod Romawi serta menjemput wakil demigod Romawi untuk ikut dalam misi, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke negara asal para dewa untuk mencegah kebangkitan Gaea serta mencari Pintu Ajal dan menutupnya.

Sayang misi mereka yang pertama gagal total setelah Leo menembaki Perkemahan Jupiter secara membabi buta. Terpaksa seluruh awak Argo II ditambah Percy, Frank Zhang, dan Hazel Levasque angkat sauh, kabur dengan tambahan tugas di misi mereka, mengikuti Tanda Athena (untuk Annabeth) dan menemukan Nico di Angelo dalam waktu enam hari.

Karena kapal rusak setelah dikejar-kejar legioner demigod Romawi, mereka mampir di tengah danau garam di Salt Lake City. Sebuah misi bagi Leo dan Hazel untuk menemukan perunggu langit sebagai penambal lambung kapal yang bocor. Di sana mereka malah bertemu dengan Nemesis sang Dewi Pembalasan. Namanya juga Dewi Pembalasan, jadi bukannya membantu misi, dia malah mempersulit dengan ngasih fortune cookie ke Leo. Tentunya jika Leo nekat ngebuka kue itu, dia bakal dapat bantuan dari Nemesis, tapi juga bakal ditagih balasan yang ‘setimpal’. Ini nih yang sering bikin aku sebal. Para dewa-dewi ini begitu dudul dan egois. Bukannya para demigod itu pergi kalang kabut, tunggang langgang untuk menyelamatkan mereka-mereka (para penghuni Olympus) juga? Nah kenapa mereka gak bisa lebih masuk akal dikit. Bantu kek, tanpa minta imbalan, tanpa mempersulit, tanpa nambahin beban? Bukannya kalo para demigod gagal, dewa-dewi juga yang kapiran? *gemes-gemes sebel

Selain Nemesis, mereka juga terlibat pertengkaran dengan para naiad fans fanatik Narcissus. Nah, Narcissus ini musti dibahas abis nih. Tau cowok satu ini kan? itu tuh pelopor (halah) istilah narsis sebagai kata untuk melukiskan orang yang memuja dirinya sendiri. Nah, karena Pintu Ajal yang terbuka, tentu saja Narcissus yang harusnya sudah mati ribuan taun lalu jadi hidup lagi. Dan cowok satu ini tetep saja hobi banget ngaca di telaga.

>>”Memang,” gumam sang pemuda, suaranya seperti melamun. Matanya masih terpaku ke air. “Aku memang amat sangat ganteng.”-hal. 87

Taruhan deh, kalian bakal ngakak saat baca adegan di setting ini. Segala tingkah para naiad, Leo, dan Narcissus parah banget.

Oke, kita kembali ke petualangan tujuh demigod kita setelah selamat dari kejaran para naiad yang ngamuk.  Selanjutnya mereka ke Kansas. Di sono Percy harus bertarung dengan Jason. Pertarungan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Piper. Lho? Hehehe … baca sendiri dong rinciannya. Masa minta diceritain.

Perjalanan nyambung ke Florida, Charleston, dan akhirnya mereka berlayar beneran menuju Mare Nostrum (Laut Mediterania) yang dianggap sebagai lautan terkutuk bagi para demigod Romawi.

Di laut mereka kembali mengalami kejadian-kejadian seru saat ketemu dengan Hercules (ternyata cowok satu ini nyebelin banget setelah jadi dewa lho-versi Rick Riordan sih …), ketemu manusia kuda-ikan, dan Bocah Emas juga. Nah, pas adegan-adegan di markas para manusia kuda-ikan ini aku ngekek abis lagi. Coba saja dialog ini:

>>”Oh.” Leo sama sekali tak tahu siapa orang-orang itu. “kalian yang melatih Bill? Mengagumkan.”

“Betul!” Aphros menepuk dada. “Aku sendiri yang melatih Bill. Putra duyung hebat.”

“Coba kutebak. Kau mengajar seni bertempur.”

Aphros mengangkat tangan dengan jengkel. “Kenapa semua orang berasumsi begitu?”

Leo melirik pedang mahabesar di punggung sang manusia ikan. “Eh, entahlah.”

“Aku mengajar musik dan puisi!” kata Aphros, “keterampilan! Tata boga! Semuanya penting untuk pahlawan.”

“Tentu saja.” Leo berusaha mempertahankan ekspresinya agar tetap datar. “Menjahit? Membuat kue?”

“Ya. Aku senang kau mengerti. Barangkali nanti, kalau aku tidak harus membunuhmu, aku bisa membagi resep brownies-ku.” Aphros melambai ke belakang dengan muak. “Saudaraku Bythos-dia mengajar seni bertempur.”

Leo tidak yakin apakah harus merasa lega atau tersinggung karena instruktur seni bertempur yang menginterogasi Frank, sedangkan Leo mendapatkan guru PKK. << hal. 307

Meskipun ada tujuh demigod yang terlibat di petualangan ini, para demigod asal Romawi macam Jason Grace, Hazel Levasque, dan Frank Zhang tidak mendapatkan porsi point of view. Rick Roirdan hanya menempatkan angle cerita dari sisi Annabeth, Percy, Leo, dan Piper. Mungkin House of Hades nanti akan membeberkan petualangan dari sisi mereka.

The Mark of Athena banyak mengungkap pergolakan batin ketujuh demigod.

-Percy dan Jason yang biasanya menjadi pimpinan misi-misi yang mereka jalani dan harus berkali-kali dibuat tak berdaya selama beberapa pertarungan. Dua cowok ini juga tampaknya agak-agak gak terbiasa dengan keberadaan sesama demigod kuat (selain interaksi kadang-kadang mereka dengan si Nico di Angelo). Jadinya meskipun pada dasarnya mereka dengan mudah bersahabat, friksi yang menunjukkan ego mereka sebagai orang yang biasa memimpin tim kadang muncul. Aku suka ini. Karena remaja-remaja ini jadi keliatan manusiawi. Meskipun … tentu saja quote dari Nico yang akhirnya memupus rasa penasaranku:

>>Nico memutar-mutar cincin tengkorak peraknya. “Percy adalah demigod terkuat yang pernah kutemui. Kalian jangan tersinggung ya, tapi itulah yang sebenarnya (hore!!! *yang ini quote dariku lho 😛).<< hal. 590

-Annabeth mengalami krisis karena ibunya yang bingung dengan identitasnya dan marah-marah menuntut kesetiaan Annabeth dalam bentuk yang paling ekstrem.

-Leo nyaris terpuruk menyadari dirinya kurang mendapat porsi penting di petualangan ini.

-Piper merasa sebagai demigod yang tidak terlalu banyak gunanya.

Oke, kalo aku sih setuju-setuju saja dengan perasaan Piper. Tampaknya di antara ketujuh remaja perkasa itu, hanya Piper yang kemampuannya ‘cuma’ charmspeak. Maaf ya, kemampuan macam apa itu? Rasanya buat kaum fana seperti kita-kita, charmspeak nyaris mirip-mirip dengan keahlian sebagai orator atau malah tukang gendam di terminal-terminal pas menjelang hari raya. Hehehe.

Nah, sekarang saatnya mbahas typo. Adakah? Jelas ada. Itu lho di halaman 477, ada tulisan yang aneh:

>>Leo melirik bola-bola mekanis yang dorman di meja.<<

Halo, apa itu maksudnya?

Akhirnya setelah aku cek ke versi English-nya, inilah hasilnya:

>>Leo glanced at the dormant spheres on the worktables.<<

Which is meant:

‘Leo melirik bola-bola mekanis yang menggeletak terbengkalai di di meja.’

Dari sisi cover, versi yang terbit di Indonesia ini buatku tampak jauh lebih baik disbanding cover The Son of Neptune. Bahkan dibanding versi TMoA yang terbit internasional di bawah Dysney-Hyperion. Tepuk tangan untuk pilihan cover oleh Mizan Fantasi!!! *SFX: tepukan tangan

Dari sisi ending, waduh, nyesek banget. Bikin pengen maksa Om Riordan buruan nyelesaiin The House of Hades. Tapi yakin deh, keadilan pasti tetap ada buat para penggemar setia Percy O=)

Nah, untuk rekomendasi, tentunya aku gak bisa bilang banyak, kecuali: rugi banget baca The Mark of Athena ini … kalo gak baca mulai dari The Lost Hero. Soalnya kan ya selain gak bakal mudeng, tentunya kalian bakal melewatkan petualangan-petualangan seru di serial berjilid tebal ini. Hehehe ….

Judul: THE MARK OF ATHENA

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-740-0

Cetakan: 1, Oktober 2012

Jumlah hal: 603

Ini pic-nya tapi terus terang saja, aku ngambilnya dari wall bu Tiwuk Endah (jangan diomelin ya bu, soalnya TMoA-ku terlanjur gak laik potret nih) hehehe 😀 481429_413586462048650_382171053_n

18
Nov
12

The Son of Neptune: Sekali lagi disuguhi serunya petualangan demigod amnesia

Kehilangan ingatan, dikejar-kejar dua gorgon yang menyamar jadi sales promotion girl nawarin sample sosis, harus berkali-kali membunuh kedua gorgon tersebut (dengan menjatuhi mereka peti berisi bola boling, menggilas pake mobil polisi, memenggal kepala, dll) tapi mereka segera muncul lagi, berkali-kali digigit gorgon-gorgon itu juga tapi kok ya tetep gak mati, adalah nasib yang musti dihadapi Percy Jackson selama beberapa minggu terakhir. Kesialan tersebut belum ngitung bahwa karena dikejar-kejar gorgon itu, dia jadi gak sempat mandi boro-boro beli makan. Makanya musti pasrah badan bau, kelaparan hingga mengais-kais tempat sampah nyari makanan sisa.

Pokoknya dia disuruh Lupa si serigala untuk pergi ke arah Barat.

Sampai di seberang tempat tujuan, Percy masih diminta nyeberangin seorang nenek-nenek hippie dekil yang agak-agak sinting. Yah hero kita satu ini kan memang baek, jadinya dia mau dong. Dan jadilah dia nggendong si nenek yang menurut deskripsi, napasnya bau kecut (hueeek, bangun tidur gak langsung gosok gigi, pasti!).

Akhirnya, setelah kehebohan di terowongan, Percy nyampe di Kamp Jupiter, tempat penampungan demigod, sama dengan Perkemahan Blasteran di New York sono. Tapi yang ini untuk demigod-demigod keturunan dewa-dewi Romawi.

Oke, abaikan semua keributan yang mengiringi kedatangan Percy (dikejar-kejar dua gorgon, jadi anak Neptunus-dewa yang kurang disambut baik di Kamp Jupiter, dua dewa-dewi yang muncul karena kedatangannya, dan kemenangan Kohort V, serta teknik bertempurnya yang agak-agak aneh menurut para demigod Romawi), ia harus mengikut sebuah misi bareng dengan dua anak Kamp Jupiter, Hazel Levasque dan Frank Zhang untuk membebaskan Thanatos si Dewa Kematian, serta mencari Panji-panji Elang milik Kamp Jupiter yang telah lama hilang ke Alaska. Padahal kalo Thanatos benar-benar bisa dibebaskan, nasib dua teman Percy ada di ujung tanduk.

Hanya naik perahu, mereka bertiga mengarungi lautan ke Seattle. Di jalan bertemu dengan gerombolan raksasa dan bala bantuannya yang berniat menaklukkan Kamp Jupiter, ngakalin blasteran-tua-tukang-bully-harpie, ribut-ribut dengan segerombolan cewek feminis-Amazon, sampai ke nyaris diduduki pantat raksasa Alaska yang berbulu.

Jadi gitu deh, Percy harus menaklukkan amnesianya, sekaligus musti menuntaskan misi yang tampak gak mungkin. Seru gak? Mmm … masih perlu tanya ya? Hehehe.

Setelah The Lost Hero, The Son of Neptune adalah buku-2 dari serial The Heroes of Olympus karya Rick Riordan. Sekali lagi, installments ini mengisahkan para demigods (blasteran dewa), dewa-dewi Yunani/Romawi, monster-monster dan raksasa, serta keributan di antara mereka. Semua masih dengan setting masa kini ber-genre young-adult fantasy. Novel ini nantinya akan diikuti oleh The Mark of Athena (novelnya sudah di tangan, tunggu aku gak males ngeripiu ya … :P) lalu The House of Hades (yang ini gak tau deh kapan bakal rilisnya).

Dibanding serial Percy Jackson and the Olympians, novel-novel The Heroes of Olympus jauh lebih tebal. Sudut pandang penceritanya juga berubah-ubah, meskipun sama-sama dari sisi orang ke-3. Di The Heroes of Olympus Mr. Riordan berusaha lebih objektif dengan menaruh beberapa angle saat ia bertutur. Kadang dari si A, lalu si B, lalu si C, dst, dipisahkan berdasarkan bab.

Meskipun tetap lucu, novel ini tampak lebih menokohkan Percy dengan sisi yang lebih manusiawi. Rasa takut, khawatir, sedih, dimunculkan. Bukan hanya kekonyolan seorang remaja pemberani. Mungkin karena memang perasaan tokoh kita satu ini teraduk-aduk parah, ya. Soalnya kan selain kehilangan memori, dia sudah dibikin tidur seorang dewi selama berbulan-bulan (berarti pasti gak naik kelas dong ya … secara dia ngilang gitu selama masa sekolah), dan kemudian dicemplungkan ke sebuah mission impossible. Kalo dia Ethan Hunt sih oke saja. Tapi dia kan cuma seorang demigod remaja 😛

Aku suka semua tokoh yang muncul di sini. Cuma para karpoi saja yang terasa kurang sreg. Terlalu konyol dan gak penting. Aku juga penasaran dengan si Nico. Sebenarnya apa sih agenda tersembunyi dia, kenapa dia pake acara gak mau terus-terang kalo kenal Percy sejak lama? Oke deh, gak terus terang dengan para demigod Romawi sih masuk akal. Tapi sama Percy? Dan sampai di akhir novel, motifnya tetep saja masih blur. Mungkin aku harus sabar nunggu penjelasannya di TMoA.

Typo gak banyak. Hanya kurang enak saja di beberapa kali penulisan, saat tanda petik penutup kalimat ketemu dengan kata ‘tanya’ di belakangnya. Karena huruf T-nya selalu jadi huruf besar. Halo ‘Penyelaras Aksara’???

Keanehan di kontinuitas isi cerita sih ada. Si Hazel – yang diceritakan sebenarnya lahir tahun 1930-an, sudah mati, tapi kembali dari Asphodel karena pintu kematian yang terbuka saat Thanatos ditawan raksasa – kan remaja produk jadul. Dia diceritakan banyak bingung liat televisi, komputer, iPod, internet …. Gestur yang dilakukan Hazel pun gestur-gestur jaman dulu seperti mengipas-kipaskan telapak tangan saat ketemu situasi yang bikin ia jengah. Tapi kenapa ya saat bab penceritaan ada di sisi dia (V-HAZEL), Mr. Riordan lupa dan bikin line:

‘HAZEL MERASA SEPERTI BARU MEMPERKENALKAN dua bom nuklir.” –hal. 63

Mmmm … sebagai anak yang lahir tahun 1930-an dan mati sebelum Perang Dunia II berakhir, rasanya istilah bom atom belum dikenal ya, karena bom itu muncul di akhir PD II. Nah, boro-boro bom nuklir, kan? :-/

Tapi beneran, gak banyak yang bisa aku ulas selain acungan jempol saja. Rugi buat yang sampai sekarang belum baca. Dibanding The Lost Hero, kekonyolan khas serial Percy Jackson lebih banyak muncul di sini. DI TLH biasanya aura konyol muncul saat cerita ada di sisi Leo Valdez. Nah, di SoN ini, selain Percy, Frank Zhang juga konyol secara menggemaskan. Coba saja ini:

“Untung bagi Hazel, Frank angkat bicara: “ Kuharap aku menderita GPPH atau disleksia saja. Aku malah tidak bisa mencerna laktosa.””-hal. 101

Hehehe, bayangkan keinginan Frank yang mundane banget buat para demigod. Dia pengen jadi demigod normal dengan GPPH dan disleksia-nya. Soalnya kelainan dan ciri-ciri fisik dia selalu saja bikin dia tampak aneh.

Yah, jadi gitu deh, the second installment seemed slightly better to me compared to the first one. Bukannya aku bilang TLH gak bagus lho ya …. Hanya saja, kangen Percy-ku terobati di sini :O)

Gak sabar buka segel The Mark of Athena :DDDD

Judul: THE SON OF NEPTUNE

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Rina Wulandari

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-676-2

Cetakan: 1, Juni 2012

Jumlah hal: 547

05
Aug
12

THE RECKONING: Perhitungan-Akhirnya mereka nemu solusi juga, meski bukan solusi permanen ;)

Berkaca pada serial The Darkest Powers ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang tua sangat bisa jadi pihak yang mengecewakan anak-anak. Mulai dari setuju dan mengambil bagian dalam menjadikan anak sebagai subjek penelitian genetis, marah dan menghukum anak-anak tersebut saat hasil penelitian tersebut berbalik arah membuat anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang dianggap membahayakan, menjejali mereka dengan obat-obatan untuk menekan kemungkinan munculnya kekuatan mutan, membohongi, sampai kemudian mengejar-ngejar anak-anak tersebut saat mereka tak kuat menjadi kelinci percobaan. Ngejarnya pun gak tanggung-tanggung. Dari awalnya hanya menggunakan peluru pembius, sampai akhirnya menggunakan peluru beneran. Kebayang kan, bagaimana paniknya anak-anak 15-17 tahun tersebut?

Chloe (necromancer), Tori Enright (penyihir), Derek Souza (werewolf), dan Simon Bae (penyihir) berhasil melarikan diri dari Buffalo sampai ke Albany dan bertemu dengan Andrew, teman ayah Derek dan Simon yang memang sejak awal dipilih Kim Bae untuk menjadi pelindung mereka jika ada situasi genting dan mereka tidak bisa menghubungi sang ayah. Ternyata ‘lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya’ berlaku buat mereka, sehingga sekali lagi, keempat remaja tersebut musti melarikan diri.

Novel ini juga semakin menyuguhkan ketegangan saat ada dua werewolf yang mengejar-ngejar Chloe dan Derek, padahal mereka berdua sedang menjalani proses Berubah Derek yang pertama kali (menyakitkan serta menguras tenaga). Mereka juga musti menghadapi hantu cowok yang tukang bully. Untung ada bantuan dari Liz deh.

Hubungan antar para pelaku juga semakin menarik saja di sini. Tentunya kalian gak mau melewatkan ketegangan antara Derek-Chloe-Simon. Makin serunya lagi, bagaimana Chloe secara gak sengaja nemu hubungan antara Simon dan Tori. Sayang, sampai novel ini berakhir Simon dan Tori malah belum ngeh dengan ‘penemuan’ Chloe.

 

 

Puas. Campuran suspense, romance, serta dialog lucu masih mewarnai 3rd installment ini. Dan bagusnya, Kelley Armstrong mampu mengolah persentase masing-masing unsur secara tepat sehingga tak ada yang terbaca dominan, tak ada juga salah satu yang terbengkalai.

Terjemahan novel ini enak, dan cover-nya juga konsisten, mampu bercerita tentang si tokoh utama serta background-nya hanya dengan satu gambar. Lebih memuaskannya lagi, ada tampangku di dalamnya. Huehehehehe.

Hanya satu ketidakpuasanku terhadap serial ini: kalo begini terus, kapan mereka bisa menjalani kehidupan yang normal seperti pergi ke sekolah, atau bahkan mandi serta ganti baju secara teratur? *sigh (curhatan emak-emak)

Note:

Buat kalian yang gak ngikutin dari awal, fyi, novel ini adalah buku ke-3 (kayaknya yang terakhir) dari serial The Darkest Powers. ini link review buku 1.

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/03/25/the-summoning-pemanggilan-ketegangan-dan-pengadeganannya-serasa-sedang-%E2%80%9Cmembaca%E2%80%9D-film/

dan buku 2:

https://iluvwrite.wordpress.com/2011/12/25/the-awakening-penyadaran-tiba-tiba-menggelandang-di-jalanan-plus-masih-juga-dikejar-kejar-komplotan/

*Jadi jangan nekat baca yang ini kalo belum nyentuh dua novel yang lebih duluan muncul, tentunya;)*

 

Judul: THE RECKONING (The Darkest Powers Book 3)

Pengarang: Kelley Armstrong

Penerjemah: Melody Violine

Editor: Uly Amalia

ISBN: 978-602-18349-0-9

Tebal: 449 hal (soft cover)

Terbit: Juni 2012 (Cetakan 1)

Penerbit: Ufuk Publishing House

01
Jun
12

The Lost Hero: Niatnya Jadi Obat Kangen si Percy yang Justru Bikin Tambah Kangen :(

“Tujuh blasteran akan menjawab panggilan.

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal.

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan,

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal.”

Ramalan di atas muncul di menjelang akhir novel ke-5 pentalogi Percy Jackson: The Last Olympian. Rangkaian kata-kata membingungkan tersebut juga yang ternyata menjadi materi petualangan baru para demigod di The Heroes of Olympus.

Kisah kali ini dibuka dengan Jason yang mendapati dirinya ada di atas sebuah bus Sekolah Alam Liar. Seakan-akan belum cukup bingung, ia yang ngerasa gak kenal satu pun remaja yang ada di atas bus, tiba-tiba ternyata berstatus pacar cewek cakep bernama Piper, dan tiba-tiba juga bersahabat dengan cowok bernama Leo. Jason tidak paham siapa dirinya, hanya tau namanya saja. Seakan-akan ia pasien amnesia yang dijatuhkan ke tengah rombongan karyawisata SMA.

Kunjungan ke Museum di tengah Grand Canyon itu jadi penuh kepanikan saat rombongan yang sedang meniti jembatan tiba-tiba kena serangan badai. Hampir semua murid bisa menyelamatkan diri masuk kembali ke museum. Tinggal Jason, Piper, Leo, Dylan, dan Pak Hedge pendamping karya wisata.

Ternyata Dylan adalah monster yang menyamar. Pak Hedge pun menyimpan rahasia yang terpaksa ia kuak di tengah kekacauan tersebut. Jason dengan refleks mengeluarkan uang koin yang ada di sakunya, dan ia ubah menjadi pedang emas bermata dua yang tajam. Saat bertarung di tengah badai, datang bala bantuan berupa kereta perang yang ditarik pegasus. Kereta itu dikendarai seorang cewek, Annabeth beserta temannya, dan mereka mengajak Jason, Piper, serta Leo ke tempat bernama Perkemahan Blasteran.

Singkat kata, Perkemahan Blasteran ternyata tempat yang cukup menyenangkan, karena Jason, Piper, dan Leo berkumpul dengan teman-teman seusia mereka yang sama-sama bermasalah, menderita disleksia, dan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder/Kelainan Hiperaktivitas dan Kurang Perhatian). Mereka semuanya adalah anak-anak dewa-dewi Olympus dengan salah satu orang tua manusia fana. Mereka mengalami masalah dikejar-kejar monster, sehingga Perkemahan Blasteran adalah tempat yang relatif aman bagi mereka, karena sudah dilindungi.

Kenyamanan Jason, Piper, dan Leo tidak bertahan lama. Mereka ternyata dikumpulkan untuk memenuhi ramalan mengenai tujuh demigod yang disebut di awal tulisan ini tadi. Siapa empat demigod yang lain? Belum ada yang tahu. Tapi sebelumnya, mereka harus menyelesaikan tugas penting dan berbahaya, menyelamatkan Hera, ratu para dewa Olympus yang ditahan di satu tempat yang mereka bahkan belum tau lokasinya. Mereka hanya punya waktu seminggu sebelum hal buruk lainnnya muncul, dan Hera binasa.

Berangkatlah tiga remaja tersebut mengarungi udara mengendarai robot naga bernama Festus. Petualangan yang menegangkan yang mempertemukan mereka dengan kakak Jason yang tidak disadarinya kalo pernah ada, tokoh-tokoh cerita Yunani kuno yang seharusnya sudah mati ribuan tahun yang lalu, monster-monster seram, dan akhirnya, kebangkitan calon penghancur dewa-dewa. Belum lagi kenyataan bahwa Piper, Jason, dan Leo sama-sama menyimpan rahasia mengenai keberadaan masa lalu dan mimpi-mimpi mereka.

Petualangan para demigod kali ini membutuhkan nyaris dua kali lipat halaman serial yang sebelumnya telah mendahului. 585 halaman penuh ketegangan, bikin aku yang mau menceritakan ulang jadi gagap sendiri. Semua adegan lucu, penting, dan ngaruh ke jalan cerita.

Untuk jalan cerita, plot, gak ada komplen deh. Masih super keren.

Novel ini juga membantu aku lebih memahami jalan pikiran para makhluk superior yang berebut dunia (titan, emak-bapak titan, dewa, raksasa, dll). Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kalo para bad guys itu berniat menguasai dunia dengan cara meremukkannya, lha berarti para manusia pengisi dunia kan bakal pada mati tuh. Trus nanti yang mereka kuasai itu apaan yak? buat apa jadi penguasa kalo gak ada anak buah dan kacung buat disuruh-suruh? Dasar makhluk superior aneh!

Nah, sekarang jalan pikiran para dewa-dewi. Mereka pada jatuh cinta pada manusia, sehingga menghasilkan ras demigod. Para demigod dicuekin pas lahir. Lalu begitu gede diklaim, hanya biar bisa ngebantu kerjaan remeh-temeh mereka di dunia. Nah, giliran para demigod mau bantu, masih juga diribetkan dengan ramalan-ramalan gak jelas, dihambat dewa-dewi lainnya, padahal tujuan bantuan itu kan juga untuk menyelamatkan para dewa. *Garukgarukpala

Dilihat secara kepribadian para tokoh, The Lost Hero terbaca (agak) lebih ‘dewasa’ dibanding serial Percy Jackson and the Olympians. Dewasa di sini bukan berati PG rated lho ya. Tapi si Jason yang tokoh utama dan kayanya lebih muda dikit dari Percy, joke-jokenya gak setolol Percy dan mulutnya gak selancang Percy. Bikin aku jadi makin kangen sama anak Poseidon satu itu. Porsi Grover yang hilang agak tergantikan oleh salah satu satir yang muncul. Leo juga lumayan konyol.

Sekarang typo yuuuk. Gak banyak jejak typo di sini. Tapi coba cek halaman 351 alinea tiga deh. Di baris ke 4-6, “…Lalu Kronos, pimpinan Titan—yah, kau barangkali sudah dengar bagaimana kisahnya, Zeus mencincang ayahnya, Ouranos, …”

Halo, kok tiba-tiba bisa muncul Zeus di situ, yak? Yang mencincang ayahnya adalah si Kronos kali? Soalnya kan yang dicincang si Ouranos. Sedang untuk urusan cincang-mencincang, jatah Zeus masih jauh setelah era itu. Zeus kan memang mencincang ayahnya. Tapi ayah si Zeus yang dipotong kecil-kecil itu Kronos, bukan? (Setelah ngecek versi English-nya, ternyata memang yang tertulis adalah “…Then Kronos, the head Titan—well, you’ve probably heard how he chopped up his father Ouranos …”. Berarti bener-bener typo. Case closed :D)

Ada satu lagi (yang justru aku suka). Lihat halaman 536 alinea 2 deh. Begini kalimatnya, “Seperti Enceladus, sang raja raksasa bertubuh manusia dari pinggang ke atas, mengenakan baju zirah perunggu, sedangkan dari pinggang ke bawah dia memiliki kaki naga bersisik; namun kulitnya sewarna petai ….”

Aku heran, kok ada petai bisa masuk ke buku terjemahan, yak? Ternyata aslinya adalah “Like Enceladus, the giant king was humanoid from the waist up, clad in bronze armor, and from the waist down he had scaly dragon’s legs; but his skin was the color of lima beans.”

Hehehe, entah sengaja atau bukan, perubahan dari ‘lima beans’ ke ‘petai’ terasa sebagai penerjemahan yang mempertimbangkan local wisdom. Lima beans, kalo diindonesiakan bakal jadi ‘kacang polong’. Tingkat kelucuannya tidak akan sama dengan jika kita menggunakan ‘petai’ yang memang sudah sangat dikenal orang kita, serta sering jadi sayur yang bernasib sebagai bahan olok-olokan.

Jadi gitu ya, novel ini sangat layak baca. Tapi saranku sih, sebelum baca serial The Heroes of Olympus ini, yang kayaknya bakal ngabisin 3 novel (sejauh ini sudah keluar dua novel di pasaran Amrik: The Lost Heroes dan The Son of Neptune. Musim gugur ntar The Mark of Athena bakal nyusul), sebaiknya sih kalian kelarin Percy Jackson & The Olympians biar tau seberapa heroiknya si demigod yang ngilang dari Camp Half-Blood itu.

Judul: THE LOST HERO

Penulis Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-653-3

Halaman: 586 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 79.000,-

11
May
12

SILENCE: Jika pilihannya adalah yang dihadapi Nora, aku sih mending tetap amnesia saja :(

Eh, ternyata di antara saat terakhir kali kita nutup CRESCENDO dan buka sampul depan SILENCE, si Nora diculik lho. Gak tanggung-tanggung durasi nyuliknya, tiga bulanan. Ngapain saja ya dia selama itu? Ada di mana? Siapa yang nyulik? Apa sempat ganti baju? (huek huek huek! kalo gak sempat).

Sayangnya, saat ia dilempar dan dilepasin ke tengah kuburan, Nora mengalami amnesia (duh, di sini kok jadi inget sinetron-sinetron) sehingga gak bisa ingat apa yang terjadi selama lima bulan terakhir dari hidupnya. Nora menjalani kembali hidupnya, meskipun sifat ngeyelannya membuatnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa berang saat ia tahu, sepanjang kepergiannya, ibunya malah pacaran dengan Hank Millar, bokap musuh bebuyutannya, Marcie. Nora juga heran melihat Vee Sky, sobatnya yang biasa jelalatan kalo ngeliat cowok cakep, bisa memproklamirkan diri sedang menjalani detoks cowok. Ia juga ngerasa aneh saat tahu Marcie yang agak-agak ramah padanya. Tapi yang paling membingungkan dan membuatnya penasaran adalah sosok Jev. Cowok satu ini menyebalkan dan jelas bad influence kalo ngeliat teman-teman gaulnya. Tapi kenapa Nora justru ngerasa Jev adalah bagian penting hidupnya yang ikut hilang dalam amnesianya?

Seiring isi novel setebal 585 halaman ini, satu persatu misteri terkuak. Akhirnya Nora bisa menyatukan potongan-potongan puzzle-nya, dan menghadapi manipulasi-manipulasi fakta yang selama ini dilakukan secara penuh perhitungan, cold blooded, dan kejam oleh ayah kandungnya. Rasa ingin tahu Nora ternyata kembali menyeretnya ke dalam kesulitan. Kali ini selain harus memikirkan banyak nyawa untuk diselamatkan, ia juga (terpaksa) harus memimpin satu perang di antara dua ras makhluk supranatural.

Seperti yang pernah aku akuin di wall facebook-ku beberapa hari yang lalu, keringat dingin benar-benar membasahi telapak tanganku saat membuka setiap halaman novel satu ini. Bahkan sampai lembar terakhir. Meskipun ada beberapa hal yang sudah bisa aku tebak, tapi tetap saja, seram dan tegang. Becca Fitzpatrick sangat mampu menghadirkan suspense dari awal sampai akhir cerita. Dari sisi cerita, ganjalanku cuma satu: si bad guy terlalu gampang mati. Aku jadi setengah berharap dia bakal muncul lagi entah dengan cara gimana di buku berikutnya.

Nah, saking hebohnya ini cerita, jelas dong kita sebagai pembaca jadi ikut larut dan kebawa naik-turunnya emosi. Ada satu hal yang pasti karena hal ini, aku jadi sebal sama Nora. Mau tauuuuu aja. Selalu nyari masalah. Tapi giliran kena masalah, selaluuu saja cuma bisa lolos karena diselamatkan Patch, atau Jev, atau Scott. Kalo memang mau coba-coba nyelidik, sikap impulsifnya dikurangin dikit, napa?

Tapi baca novel ini enak karena ceritanya memang asik. Penerjemahannya juga enak, gak nemu satu typo-pun. Ada ding satu, di halaman 369. Cek baris ke-9. Bukankah harusnya ‘Rasanya itu tidak bisa kita mungkiri’ instead of ‘pungkiri’? Tapi itu saja kok yang aku temukan 😀

Oke, sekarang sampai ke cover. Hadoooh, di antara HUSH, HUSH, CRESCENDO, dan SILENCE ini, menurutku cover SILENCE yang paling enggak banget. Pose Drew Doyon yang sedang nggendong cewek entah siapa itu (kenapa bukan aku sih???) gak enak diliat. Tampak nanggung 😦 Pilihan kertas paperback-nya aku juga kurang suka. Memang, ketebalannya adalah perbaikan dari CRESCENDO yang tipis banget. Tapi kenapa glossy dan kemerah-merahan sih? Kesan misterius yang aku tangkap di cover dua serial awal jadi gak muncul di sini. Tapi aku salut dengan penempatan bulu warna merah di sono. Dramatis.

Oke, overall, novel ini masih sangat enak dibaca. Sekuel berikutnya, yang kabarnya berjudul FINALE jelas layak ditunggu.

Judul: SILENCE

Penulis Becca Fitzpatrick

Penerjemah: Leinofar Bahfein

Penerbit: Ufuk Publishing House

ISBN: 978-602-9346-63-3

Ukuran: 14 x 20.5 cm

Halaman: 585 halaman

Terbit: Maret 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 74.500,-




%d bloggers like this: