04
Oct
16

SIWA Kesatria Wangsa Surya

20161003_224927.jpg

Judul: The Immortals of MELUHA

Pengarang: Amish Tripathi

Penerjemah: Nur Aini

Editor: Agus Hadiyonounni Yuliana M.

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-738-7

Cetakan: 1, 2013

Jumlah hal: 586

 

 

Judul: SIWA Kesatria Wangsa Surya

Pengarang: Amish Tripathi

Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini

Editor: Shalahuddin Gh.

Proofreader: Jenny M. Indarto

Penerbit: Javanica

ISBN: 978-602-6799-15-9

Cetakan: 1, Oktober 2016

Jumlah hal: 426

Kaki Gunung Kailasha, Tibet memberi sumbangan maha besar bagi peradaban Bharatawarsa dengan lahir dan tumbuh besarnya Siwa di sana. Kepala suku liar yang terbiasa menatap hidup hari demi hari, bisa dibilang menjadikan kemampuan bertahan hidup sukunya dari serangan suku lain sebagai ukuran capaian setiap harinya. Sungguh melelahkan. Hal itulah yang membuat Siwa memutuskan menerima tawaran Nandi, tamu yang bertandang, untuk mengungsi bersama seluruh sukunya ke negeri indah sang tamu, Meluha.

Di Meluha, Siwa diberitahu bahwa ia ternyata adalah orang yang telah ditunggu-tunggu Meluha selama ribuan tahun untuk menjadi penyelamat negeri tersebut. Sejak itu, mulailah penyesuaian diri Siwa dengan budaya yang jauh lebih maju dari yang dikenal oleh suku barbarnya. Siwa juga mendapati tradisi-tradisi yang kurang ia sukai, perempuan yang ia cintai, sulitnya menembus dan akhirnya merebut hati orang-orang terpelajar yang terbiasa menghargai pribadi dari capaian yang diraih, bukan dari ramalan serta tanda fisik yang melekat. belakangan, ia juga menemukan musuh yang setara, serta mengalami pertempuran yang menyisakan penyesalan.

Awalnya Siwa mengharapkan hidup baru bagi rakyatnya. Ternyata di Meluha bukan kehidupan baru yang tenteram damai yang ia peroleh, tetapi kehidupan yang penuh petualangan, hal baru, membukakan pemahaman anyar mengenai kebaikan dan kejahatan.

 

Aku gak bisa ngomong banyak tentang jalan cerita buku ini, karena aku yakin, spoiler bakal aku tebar kalau keran yang itu aku buka. Jadi mending percaya saja kalo aku bilang: asik banget. Gaya tuturnya deskriptif cenderung puitis. Bahkan di saat melukiskan adegan-adegan peperangan, tanpa membuat energi yang memancar dari kata-kata yang dipilih untuk melukiskan adegan tempur menjadi meredup.

Sebagai informasi kamu yang belum tau, novel ini karya pengarang India, Amish Tripathi. Sudah pernah terbit di sini dengan judul The Immortals of MELUHA keluaran Mizan Fantasi tahun 2013. Lalu (mungkin) karena penjualan gak sukses, buku yang sebenanya mengawali trilogi ini tidak diteruskan penerbitan sekuelnya. Satu lagi buku masuk ke tumpukan PHP-an penerbit lokal.

Yang kayak gini nih yang sering bikin aku mikir panjang untuk beli buku-buku yang pake logi-logi (trilogi, tetralogi, dll dll). Untung sekarang ada internet yang ngasih kita akses info tentang buku-buku sebelum nekat beli. Jadi akhirnya sekarang aku gak sering terjebak punya buku PHP-an. Meskipun sebelum aku tercerahkan, tumpukan buku berjenis itu sudah lumayan banyak di lemari. Dih, malah curhat.

Nah, gak tau dengan alasan apa, Javanica bulan ini ngerilis buku yang sama dengan judul berbeda, SIWA Kesatria Wangsa Surya. Kalo di Mizan seperti yang sudah aku sebut di atas, dimasukkan sebagai buku fantasi (makanya terbit di bawah imprint mereka yang handle novel-novel fantasi: Mizan Fantasi/MF), di Javanica, buku ini kena tag ‘Fiksi Sejarah’.

Aku ngerasa beruntung sudah baca empat versi novel ini. Edisi asli berbahasa Inggris, terbitan Mizan Fantasi, keluaran Javanica, bahkan juga naskah terjemahan mentah Javanica. Jadi begini nih hasil pengamatanku ….

Ditilik dari desain sampul, aku lihat aroma fantasi-futuristik-distopia menguar kental di cover MF. Warna biru mendominasi, font yang tampak tegas. Mengingatkan aku akan serial Divergent (terutama Four) karya Veronica Roth atau Legend series bikinan Marie Lu. Cerita yang berkisah di era ribuan tahun sebelum Masehi menurutku kurang terwakili di sampul buku. Malah, aku pribadi yang kurang suka genre YA distopia, waktu lihat The Immortals of Meluha di toko buku, langsung melenggang pergi. Gak minat untuk ngelirik. Karena aku kira itu another depressing dystopian novel😀

20161004_081455.jpg

Sampul milik Javanica lebih aku suka. Kehadiran sosok manusia berotot di sana selain membawa appeals tersendiri sebagai desain sampul, juga bikin aura kepahlawanan isi buku langsung menggoda. Pilihan font dan tata letaknya pun menghadirkan kejadulan setting. Perencanaan sampul Javanica menurutku lebih rapi.

Untuk kualitas terjemahan dan edit, sekali lagi aku memberikan poin lebih kepada Javanica. Penerbit ini berani menggubah ulang kalimat-kalimat dari buku asli, menyesuaikannya dengan gaya tutur Indonesia, tanpa mengubah esensi kalimat, apalagi esensi cerita. Sehingga novel terbitan Javanica jauh lebih nyaman dibaca. Ceritanya lebih mengalir, tiap kata terangkai saling menguatkan. Tidak ada missing link yang bikin jidat berkerut.

Versi MF yang berusaha teguh menjaga kata-kata agar tidak melenceng dari kata asli, akhirnya jadi terasa seperti buku terjemahan. Kaku, dengan banyak kalimat yang membingungkan.

Ada satu kalimat di awal buku …. Pada versi English, ditulis, “Shiva had seen JUST A FEW sunrises in his twenty-one years. But the sunset! He tried never to miss the sunset!” Kalimat ini menyiratkan kurangnya pengalaman memandang matahari terbit sepanjang usia si tokoh yang sudah dua puluh satu tahun itu.

Versi MF menuliskan, “Selama dua puluh satu tahun hidupnya, SUDAH beberapa kali Shiva melihat matahari terbit. Akan halnya matahari terbenam! Dia selalu berupaya agar tidak melewatkannya!”

Coba bandingkan dengan apa yang tertulis di versi Javanica, “Menginjak usia yang kedua puluh satu, lelaki itu TIDAK TERLALU SERING melihat matahari terbit. Berbeda dengan matahari terbenam yang sering ia saksikan.”

Terjemahan MF mengesankan ‘beberapa kali melihat matahari terbit’ seakan prestasi. Lalu jadi aneh karena kalimat selanjutnya justru menyayangkan kurangnya pengalaman tersebut. Yang kemudian ditutup dengan seringnya Shiva melihat matahari terbenam. Kebingungan seperti itu tidak muncul pada versi Javanica, bukan?

Usaha MF untuk menjaga intonasi (mempertahankan tanda seru) supaya tetap mirip dengan versi asli juga membuat kalimat veri MF jadi terbaca aneh, kan? Berbeda dengan Javanica yang berani mengubah susunan serta penggunaan tanda baca, sehingga membuat kita di Indonesia nyaman menerima narasinya.

 

Kekurangtepatan terjemahan MF muncul berkali-kali. Misalnya saat mendeskripsikan pondok Shiva. Buku versi English menyatakan, “The huts in Shiva’s village WERE LUXURIOUS compared to others in their land.” Bagaimana bisa, MF menerjemahkan dengan kalimat “Pondok-pondok di desa Shiva TIDAK LEBIH MEWAH dibanding pondok-pondok lain di wilayah itu”? sementara versi Javanica sudah lumayan sesuai dengan naskah asli, “Pondok-pondok di desanya CUKUP MEWAH dibandingkan pondok-pondok di desa lain.”

 

ISTILAH ASING

MF berusaha konsisten dan tidak mengubah apapun istilah atau nama yang muncul di buku. Masalahnya, tokoh-tokoh, lokasi, peristiwa buku ini adalah tokoh-tokoh, lokasi, peristiwa yang sebenarnya sudah familier di kalangan masyarakat Indonesia. Misalnya Shiva. Daripada tetap menggunakan ejaan India yang belibet di lidah, kenapa gak memanfaatkan nama ‘Siwa’ yang memang sudah kita kenal? Begitu juga dengan Shri Ram, padahal nama Sri Rama sudah kita akrabi sejak dulu. Penggunaan istilah-istilah baru untuk hal yang telah lama ada justru akan membuat buku terkesan asing. Sense of belonging aku sebagai pembaca akhirnya tidak tercipta.

Tapi, di saat penggunaan istilah-istilah MF berusaha konsisten, The Immortals of MELUHA terbaca malu-malu, sampai harus menyamarkan ganja yang diisap Shiva menjadi sekedar rokok dan tembakau. Halo, sudahkah punggawa MF ngecek, kalo tembakau baru masuk ke daratan India (Bharatawarsa) di abad 17 M, Sementara buku ini ber-setting ribuan tahun SM? Ngganja biar saja ngganja kali. Karena memang itulah yang diisap masyarakat India di masa lalu. Dan ganja pun adalah kelengkapan upacara serta puja di sana. baca Shiva ngerokok jadi berasa sedang nonton iklan Marlboro😛

Begitu pula untuk pengindonesiaan istilah-istilah. MF terbaca kedodoran di beberapa tempat, misalnya saat bercerita tentang Kanakhala. MF menuliskan perempuan ini sebagai ‘ajudan’, sedang Javanica menerjemahkan jabatannya sebagai ‘mahapatih’. Versi aslinya, Amish menuliskan ‘prime minister’. Ajudan adalah pembantu pelaksana. Sedang mahapatih adalah penasihat sekaligus kekuatan eksekutif yang mewakili raja. Jadi kita bisa melihat, posisi mahapatih jauh-jauh di atas ajudan.

 

CATATAN KHUSUS UNTUK VERSI ASLI

Aku menemukan kelemahan kontinuitas di versi asli yang akhirnya memengaruhi edisi terjemahannya. “apa arti Rama?”  tanya Siwa sambil menunduk memandangi kata yang menutupi setiap senti pakaian kuningnya (Versi Inggrisnya: ‘What is Ram?’ enquired Shiva as he looked down at the word covering every inch of his saffron cloth.). Di sini aku kurang puas. Siwa diceritakan sebagai kepala suku liar (terasing) di kaki Gunung Kailasha. Nah, apa kepala suku terasing yang seumur hidupnya terlalu sibuk bertempur mempertahankan wilayah dari suku liar lain akan sempat (atau ada yag mengajari) baca tulis? Apalagi jaman segitu jarak masing-masing teritori ditempuh dalam waktu yang lumayan panjang, berminggu-minggu. Ini secara logika seharusnya membuat ilmu pengetahuan tidak tersampaikan ke pelosok.

 

CATATAN KHUSUS UNTUK VERSI JAVANICA

Di luar segala kenyamanan baca dan konsistensi terjemahan/editan, dll, versi Javanica juga berusaha menjaga konsistensi di urusan ukuran. Saat buku asli menyatakan meter, maka untuk membuat buku ini lebih berasa aroma jadulnya, meter pun diubah menjadi tombak. Sayang ada beberapa ukuran seperti hektar, menit, jam, yang masih belum terkonversi. Belum nemu padanannya, ya?😉

 

KESIMPULANKU

Serial ini bagus, bener. Tapi aku sih menyarankan kalian baca versi Javanica saja. Selain bahasanya lebih nyaman, istilah-istilah gak bikin kriting jidat, terjemahannya juga gak rancu. Dan yang jelas, setidaknya sampai buku ke-2, proses terjemah serta edit dengar-dengar sudah jalan. Jadi kasus PHP kelihatannya gak akan terjadi di sini.

Nah, daripada njomplang gitu lho setelah baca buku pertama keluaran MF, lalu buku kedua baca versi Javanica, mending mulai baca yang Javanica deh dari buku pertama.


2 Responses to “SIWA Kesatria Wangsa Surya”


  1. 1 Jenny M Indarto
    October 4, 2016 at 7:29 am

    💋💋💋💋

    Makasih reviewnya mabob

  2. 2 Ayu
    November 18, 2016 at 5:02 am

    terimakasih infonya kak… serasa mendapat angin segar apabila karya Amish tentang si trilogi ini akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia (maklum, kemampuan bahasa inggris saya payah… :p ).. saya sudah punya seri novelnya yg terjemahan Nur Aini, sedih rasanya berasa di PHP sebab sequel duanya tak kunjung datang…😥
    apabila nanti ada info lebih lanjut untuk The Secret of The Nagas, mohon infonya yaaa… apabila ada waktu senggang, tolong infonya dikirim ke saya melalui ayumelatie@gmail.com
    terimakasih…🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s