18
Nov
12

The Son of Neptune: Sekali lagi disuguhi serunya petualangan demigod amnesia

Kehilangan ingatan, dikejar-kejar dua gorgon yang menyamar jadi sales promotion girl nawarin sample sosis, harus berkali-kali membunuh kedua gorgon tersebut (dengan menjatuhi mereka peti berisi bola boling, menggilas pake mobil polisi, memenggal kepala, dll) tapi mereka segera muncul lagi, berkali-kali digigit gorgon-gorgon itu juga tapi kok ya tetep gak mati, adalah nasib yang musti dihadapi Percy Jackson selama beberapa minggu terakhir. Kesialan tersebut belum ngitung bahwa karena dikejar-kejar gorgon itu, dia jadi gak sempat mandi boro-boro beli makan. Makanya musti pasrah badan bau, kelaparan hingga mengais-kais tempat sampah nyari makanan sisa.

Pokoknya dia disuruh Lupa si serigala untuk pergi ke arah Barat.

Sampai di seberang tempat tujuan, Percy masih diminta nyeberangin seorang nenek-nenek hippie dekil yang agak-agak sinting. Yah hero kita satu ini kan memang baek, jadinya dia mau dong. Dan jadilah dia nggendong si nenek yang menurut deskripsi, napasnya bau kecut (hueeek, bangun tidur gak langsung gosok gigi, pasti!).

Akhirnya, setelah kehebohan di terowongan, Percy nyampe di Kamp Jupiter, tempat penampungan demigod, sama dengan Perkemahan Blasteran di New York sono. Tapi yang ini untuk demigod-demigod keturunan dewa-dewi Romawi.

Oke, abaikan semua keributan yang mengiringi kedatangan Percy (dikejar-kejar dua gorgon, jadi anak Neptunus-dewa yang kurang disambut baik di Kamp Jupiter, dua dewa-dewi yang muncul karena kedatangannya, dan kemenangan Kohort V, serta teknik bertempurnya yang agak-agak aneh menurut para demigod Romawi), ia harus mengikut sebuah misi bareng dengan dua anak Kamp Jupiter, Hazel Levasque dan Frank Zhang untuk membebaskan Thanatos si Dewa Kematian, serta mencari Panji-panji Elang milik Kamp Jupiter yang telah lama hilang ke Alaska. Padahal kalo Thanatos benar-benar bisa dibebaskan, nasib dua teman Percy ada di ujung tanduk.

Hanya naik perahu, mereka bertiga mengarungi lautan ke Seattle. Di jalan bertemu dengan gerombolan raksasa dan bala bantuannya yang berniat menaklukkan Kamp Jupiter, ngakalin blasteran-tua-tukang-bully-harpie, ribut-ribut dengan segerombolan cewek feminis-Amazon, sampai ke nyaris diduduki pantat raksasa Alaska yang berbulu.

Jadi gitu deh, Percy harus menaklukkan amnesianya, sekaligus musti menuntaskan misi yang tampak gak mungkin. Seru gak? Mmm … masih perlu tanya ya? Hehehe.

Setelah The Lost Hero, The Son of Neptune adalah buku-2 dari serial The Heroes of Olympus karya Rick Riordan. Sekali lagi, installments ini mengisahkan para demigods (blasteran dewa), dewa-dewi Yunani/Romawi, monster-monster dan raksasa, serta keributan di antara mereka. Semua masih dengan setting masa kini ber-genre young-adult fantasy. Novel ini nantinya akan diikuti oleh The Mark of Athena (novelnya sudah di tangan, tunggu aku gak males ngeripiu ya … :P) lalu The House of Hades (yang ini gak tau deh kapan bakal rilisnya).

Dibanding serial Percy Jackson and the Olympians, novel-novel The Heroes of Olympus jauh lebih tebal. Sudut pandang penceritanya juga berubah-ubah, meskipun sama-sama dari sisi orang ke-3. Di The Heroes of Olympus Mr. Riordan berusaha lebih objektif dengan menaruh beberapa angle saat ia bertutur. Kadang dari si A, lalu si B, lalu si C, dst, dipisahkan berdasarkan bab.

Meskipun tetap lucu, novel ini tampak lebih menokohkan Percy dengan sisi yang lebih manusiawi. Rasa takut, khawatir, sedih, dimunculkan. Bukan hanya kekonyolan seorang remaja pemberani. Mungkin karena memang perasaan tokoh kita satu ini teraduk-aduk parah, ya. Soalnya kan selain kehilangan memori, dia sudah dibikin tidur seorang dewi selama berbulan-bulan (berarti pasti gak naik kelas dong ya … secara dia ngilang gitu selama masa sekolah), dan kemudian dicemplungkan ke sebuah mission impossible. Kalo dia Ethan Hunt sih oke saja. Tapi dia kan cuma seorang demigod remaja😛

Aku suka semua tokoh yang muncul di sini. Cuma para karpoi saja yang terasa kurang sreg. Terlalu konyol dan gak penting. Aku juga penasaran dengan si Nico. Sebenarnya apa sih agenda tersembunyi dia, kenapa dia pake acara gak mau terus-terang kalo kenal Percy sejak lama? Oke deh, gak terus terang dengan para demigod Romawi sih masuk akal. Tapi sama Percy? Dan sampai di akhir novel, motifnya tetep saja masih blur. Mungkin aku harus sabar nunggu penjelasannya di TMoA.

Typo gak banyak. Hanya kurang enak saja di beberapa kali penulisan, saat tanda petik penutup kalimat ketemu dengan kata ‘tanya’ di belakangnya. Karena huruf T-nya selalu jadi huruf besar. Halo ‘Penyelaras Aksara’???

Keanehan di kontinuitas isi cerita sih ada. Si Hazel – yang diceritakan sebenarnya lahir tahun 1930-an, sudah mati, tapi kembali dari Asphodel karena pintu kematian yang terbuka saat Thanatos ditawan raksasa – kan remaja produk jadul. Dia diceritakan banyak bingung liat televisi, komputer, iPod, internet …. Gestur yang dilakukan Hazel pun gestur-gestur jaman dulu seperti mengipas-kipaskan telapak tangan saat ketemu situasi yang bikin ia jengah. Tapi kenapa ya saat bab penceritaan ada di sisi dia (V-HAZEL), Mr. Riordan lupa dan bikin line:

‘HAZEL MERASA SEPERTI BARU MEMPERKENALKAN dua bom nuklir.” –hal. 63

Mmmm … sebagai anak yang lahir tahun 1930-an dan mati sebelum Perang Dunia II berakhir, rasanya istilah bom atom belum dikenal ya, karena bom itu muncul di akhir PD II. Nah, boro-boro bom nuklir, kan?:-/

Tapi beneran, gak banyak yang bisa aku ulas selain acungan jempol saja. Rugi buat yang sampai sekarang belum baca. Dibanding The Lost Hero, kekonyolan khas serial Percy Jackson lebih banyak muncul di sini. DI TLH biasanya aura konyol muncul saat cerita ada di sisi Leo Valdez. Nah, di SoN ini, selain Percy, Frank Zhang juga konyol secara menggemaskan. Coba saja ini:

“Untung bagi Hazel, Frank angkat bicara: “ Kuharap aku menderita GPPH atau disleksia saja. Aku malah tidak bisa mencerna laktosa.””-hal. 101

Hehehe, bayangkan keinginan Frank yang mundane banget buat para demigod. Dia pengen jadi demigod normal dengan GPPH dan disleksia-nya. Soalnya kelainan dan ciri-ciri fisik dia selalu saja bikin dia tampak aneh.

Yah, jadi gitu deh, the second installment seemed slightly better to me compared to the first one. Bukannya aku bilang TLH gak bagus lho ya …. Hanya saja, kangen Percy-ku terobati di sini :O)

Gak sabar buka segel The Mark of Athena :DDDD

Judul: THE SON OF NEPTUNE

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Rina Wulandari

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-676-2

Cetakan: 1, Juni 2012

Jumlah hal: 547


5 Responses to “The Son of Neptune: Sekali lagi disuguhi serunya petualangan demigod amnesia”


  1. 1 kristiana s
    November 20, 2012 at 1:48 am

    heheheheh.. suka ripiu mbak ian, deh🙂

    buat yg belum baca, pasti penasaran deh, baca ripiu ini😀

    thank you, mbak yu, udah diundang mampir. sering-sering ya ^^ *nungguin yg MoA*

    • November 20, 2012 at 8:06 am

      MoA sudah diperawanin segelnya, Liz. baru baca sampai hal. 11. hehehehe … kalo yg versi ibuk sih kemarin sdh nyampe hal 200-an. tapi tetep saja, belum selesai. bentar ya … tapi maap, kalo soal percy, ripiuku pasti agak2 subjektif deh. maklum ngeripiu pacar sendiri xoxoxoxoxo

  2. 3 Dea
    May 4, 2013 at 2:15 pm

    Makasih buat kaka yang udah post aku jadi ga sabar baca yseri yg kedua ini. Bener bgt, di TLH aku nggak terlalu suka tokoh jason yang serius bgt dan gak humoris. Coba percy? Aaaaah.. Iyaaa aku kangen percy bener” kangen -_- Kalo di film kan logan lerman tuh yaa jadi gimanaa gitu =))

    • May 8, 2013 at 5:06 am

      hehehe, makasih juga Dea, sudah mau mampir ke blog yang pemiliknya rada malas bikin posting ini :DDD Buruan baca ah. Buku ke-4 ntar oktober sudah keluar lho. btw, aku juga gak gitu suka jason. kurang bandel. hehehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s