22
Sep
12

So Much Closer/Mengejar Mimpi: Menyebalkan di awal, mencerahkan di belakang ;)

Pernah nonton Felicity (film seri bergenre coming of age/young adult awal tahun 2000-an) gak? Waktu itu kayaknya yang muter Indosiar gitu deh, dengan jam tayang sekitar jam 22.30? Hehehe, referensinya jadul abis yak.

Oke, balik ke film satu itu, Felicity adalah seorang cewek lulusan SMA dari daerah sekitar midwestern Amrik (aku lupa kotanya tepatnya apa), yang pergi kuliah ke New York. Soal kuliah sih gak masalah benernya mau ke mana saja. Tapi ternyata si Felicity ini ninggalin tawaran kuliah kedokteran yang sudah ia kantongin, bikin kecewa ortunya, untuk pergi ke kampus yang (menurut ortunya) kurang penting, dengan alasan yang gak jelas.

Tentu saja Felicity gak mungkin cerita, kalo ia nekat pergi ke New York karena Ben, cowok incerannya ternyata kuliah di sono. Felicity ngerasa, bahwa benernya Ben adalah jodohnya yang belum nyadar saja akan keberadaan cewek itu. Jadi wajar-wajar saja kalo sudah saatnya bagi Felicity untuk ngejar mimpinya jadian dengan Ben (sudah ia simpen bertahun-tahun selama SMA), meski yang gak wajar adalah, fakta bahwa selama bertahun-tahun SMA itu si ben sama sekali gak kenal bahkan gak tau kalo Felicity mengamati boro-boro sampai naksir.

Nah, pembukaan novel satu ini miriiiip banget dengan kisah Felicity. Di awal tahun terakhir SMA-nya, Brooke baru tau kalo Scott Abrams, cowok yang ia taksir diam-diam (dan bahkan sama sekali gak nyadar akan keberadaan Brooke) bakal pindah ke New York. Felicity eh Brooke panik. Selama ini, Scott adalah satu-satunya alasan dia berangkat sekolah, karena baginya aktivitas sekolah itu gak banget. Bikin bosen.

Jadi gitu deh, Brooke mutusin kalo ia juga bakal pindah ke New York. Untung ayahnya yang telah cerai dengan ibunya tinggal di kota itu. Cona berbekal satu nama kota tujuan, Brooke nekat pindah.

Bayangin, New York kan nggak segede pasar inpres. Di pasar saja belum tentu kita bisa ketemu dengan orang yang kita cari, nah, ini di kota besar yang bisa dibilang belantara, tanpa alamat yang jelas yang bisa diandalkan jadi semacam kompas. Memangnya bisa?

Beruntung banget, Scott tinggal di daerah dengan area sekolah yang sama dengan Brooke, jadi akhirnya mereka nyangkut di sekolah yang sama pulak. Maka mulailah Brooke nyari cara untuk mewujudkan impiannya untuk kenal, makin dekat, dan akhirnya jadian dengan Scott Abrams.

Sekolah yang baru ternyata memberi pencerahan buat persepsi negatif Brooke tentang dunia sekolah. Di sana IQ jenius dia ditantang dengan kurikulum yang agak lebih maju dari sekolah sebelumnya, tugas-tugas yang tidak membosankan, serta aktivitas sebagai peer tutor yang mengantarnya bersahabat dengan Sadie dan John Dalton.

Bersama Sadie, Brooke diajari untuk lebih peduli pada sesama, aktif membantu sekeliling. John membuka pikiran Brooke untuk memandang segalanya dengan mata yang lebih terbuka, mensyukuri kehidupan, serta mencintai kota dengan cara yang konstruktif.

Tentunya persahabatan dengan Sadie dan John tetap tidak menyurutkan obsesi Brooke akan Scott.

Well, ada banyak catatan yang bisa aku bikin tentang novel satu ini:

  1. Kok ya ada, gitu cewek kayak Brooke (dan Felicity) yang ngejar-ngejar cowok yang bisa dibilang asing, sampai ke ujung dunia gitu. Mereka ‘membuang’ kehidupan lama mereka untuk cowok yang nggak begitu mereka kenal, lho. Meskipun aku mendukung segala macam tetek bengek tentang emansipasi atau women’s lib atau feminisme, tapi soal cewek ngejar cowok sampai ke kota lain ini so not my description about such thing. rasanya cemen abis, meski ending-nya Brooke mendapatkan pencerahan dan nilai lebih dari petualangan impulsifnya itu.
  2. Kecerdasan intelektual yang super teryata tidak menjamin kita untuk bisa selalu membuat keputusan-keputusan cerdas.
  3.  Aku suka petualangan yang dilakukan Brooke dalam usaha mengenali tempat tinggalnya yang baru. Tiap hari ia berjalan menyusuri rute yang berbeda-beda dari rumah ke sekolah (atau sebaliknya), mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Aku jadi ngebayangin, apa lingkungan tempat tinggal dia semenarik itu? *jadi pengen tinggal di sono
  4. So Much Closer awalnya cuma menawarkan obsesi nggak sehat seorang cewek tentang cowok yang ia taksir, tapi akhirnya obsesi itu mengarahkannya ke jalur yang lebih positif. Susane Colasanti selalu mampu menyisipkan pesan moral yang cukup dalem di dalam tulisan-tulisan dia.
  5. Aku suka dengan jalan cerita di mana Ms. Colasanti gak maksain semua masalah terselesaikan saat buku sampai ke halaman terakhir. Liat saja, ada beberapa problem Brooke yang dibiarkan masih terbuka (persahabatan dengan teman-teman dari kota asal, love life, dll) tapi masih nyisain harapan untuk happy ending.
  6. Sampulnya beda dari edisi Amrik, tapi dengan taste yang mirip: angle dari belakang, cowok dan cewek berdiri sebelahan. Kalo memang mau dibikin mirip, kenapa gak pake cover asli sekalian, yak? *Bingung Soalnya secara pilihan warna dan jenis pakaian yang dipakai si cewek, aku pilih cover asli banget-banget. Lebih terasa remaja. Mana cover yang versi Indonesia juga nggak memunculkan chemistry antara si cewek dan si cowok (kayaknya sih Brooke dengan John).
  7. Jilidannya agak-agak cemen, lembaran kertas mudah lepas dari lem😦
  8. Jadi skor akhir: 80 untuk ide dan jalan cerita, 65 untuk cover, 70 untuk terjemahan. Kesimpulan, layak dikoleksi karena banyak muatan positif (asal sabar bacanya).

Judul: SO MUCH CLOSER/MENGEJAR MIMPI

Pengarang: Susane Colasanti

Penerjemah: Olivia Bernadette

Editor: Desy Natalia

ISBN: 978-602-00-1275-9

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Cetakan: 1-2011

Jumlah hal: 326

ImageCover versi Asli

ImageCover edisi Indonesia


0 Responses to “So Much Closer/Mengejar Mimpi: Menyebalkan di awal, mencerahkan di belakang ;)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s