Archive for September, 2012

26
Sep
12

Take a Bow: Harusnya bisa jauh lebih bagus, titik!

Sophie, Emme, Carter, Ethan. Mereka adalah empat siswa senior CPA (Creative and Performing Arts) dengan background kemampuan seni yang berbeda-beda. Sophie adalah penyanyi, sebelum masuk ke CPA ia sudah menikmati spotlight sebagai bintang kecil-kecilan di area Brooklyn.

Emme, sahabat Sophie sejak umur 8 tahun. Bukan jenis cewek yang pede meski kemampuannya mencipta dan memainkan musik di atas rata-rata. Ada simbiosis mutualisme antara Sophie dengan Emme. Sophie membutuhkan lagu-lagu indah dengan karakter yang kuat. Ia selalu bisa mengandalkan Emme untuk itu. Emme, yang kurang suka tampil di atas panggung, merasa hanya Sophie lah yang mampu membuat lagu-lagu ciptaannya jadi terdengar indah. Bagi Sophie, CPA adalah batu loncatan ke arah panggung yang lebih besar. Sedang Emme masuk CPA karena bujukan Sophie.

Carter sudah jadi bintang film terkenal sejak kecil. Justru setelah menginjak masa remaja, popularitasnya kian surut digantikan bibit-bibit imut setelahnya. Apa ia kecewa? Ternyata tidak, karena sebenarnya Carter Harrison tidak menikmati ketenaran. Ia memang menyukai bidang seni, tapi bukan bidang yang selama ini diatur-atur dan disodorkan ibunya maca film serta opera sabun (setelah popularitasnya memudar). Carter suka melukis. CPA ia jadikan sebagai alat untuk mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan.

Ethan sangat berbakat di bidang musik. Suaranya juga bagus. Hanya satu kekurangannya (menurutnya sih): Ia tidak pernah bisa bikin lagu dengan lirik yang sebagus komposisi musiknya. Lirik bikinannya selalu dangkal (masih menurut Ethan). Dan ia menganggap, kehidupannya yang mulus-mulus saja lah penyebabnya.

“Aku anak tiga belas tahun yang tingal di sebuah rumah besar di Connecticut dengan ayah bankir investasi dan ibu seorang ibu rumah tangga. Apa yang mesti kutulis? Aku tak tahu apa-apa tentang penderitaan atau rasa sakit. Atau cinta.” Hal. 11

Bersama Jack dan Ben, Emme dan Ethan mulai menikmati band mereka.

Keempat siswa CPA tersebut menghadapi tahun terakhir dengan penuh antisipasi. Sophie, karena karirnya yang bisa dibilang mandek justru di tempat yang ia rasa seharusnya bisa menjadi batu loncatan. Emme, karena tidak yakin dengan kualitas musikalnya, Sophie yang sering mengabaikannya, serta aktivitas band yang menyita waktu. Carter yang pacaran dengan Sophie, merasa sikap-sikap Sophie semakin tidak ia sukai, sementara ia sendiri juga menghadapi dilema untuk segera memberi tahu ibunya akan pilihan jenis seni yang ia inginkan. Ethan? Selain menjadi lead singer sebuah band remaja yang mulai banyak penggemar, cowok ini juga mulai sadar bahwa ia naksir seorang teman (yang kayaknya justru sebal padanya). Jadi bagaimana kelanjutan ruwetnya pertemanan dan pikiran siswa-siswa CPA ini?

Karya Elizabeth Eulberg yang pertama aku baca adalah Prom and Prejudice, disambung dengan The Lonely Hearts Club. Take a Bow ini aku tunggu-tunggu sudah agak lama, nguber ebook gratisannya juga hampir tiap minggu. Tanpa hasil. Ternyata Bentang Belia sudah nerbitin dalam jangka waktu gak sampai setahun dari terbitan Point-Scholastic.

Sayangnya, setelah nunggu cukup lama, aku malah  kecewa. Kalo diperingkat, ternyata tingkat bagusnya novel-novel Eulberg sesuai dengan urutan yang aku tulis di review ini 😦

Jadi, benernya apa sih yang aku pikir tentang novel satu ini?

  1. Mulai dari cover ya … edisi Indonesia cover-nya (menurutku) kurang fun, gak kayak terbitan Bentang Belia yang lainnya. Dengan versi aslinya pun bagus versi asli 😦
  2. Meskipun angle penceritaan novel ini pindah-pindah Sophie-Emme-Carter-Ethan, tapi kerasa banget kalo pengarang lebih berpihak pada Emme. Kalo aku sih lebih suka dengan karakter Ethan.
  3. Bahasanya kurang enak dibaca. Aku gak bisa nuduh kalo problem di terjemahan, karena aku sendiri belum baca edisi aslinya. Cuma kebacanya tanggung banget. Novel remaja, tapi gak ada lincah-lincahnya. Seringkali penuturannya berbelit-belit yang bikin aku jadi cuma paham inti cerita, tapi untuk nyambungin kata-per katanya butuh perjuangan ekstra. Coba saja cek hal. 100 yang terpaksa gak aku kutip di sini karena panjangnya bagian yang aku maksud. Tapi intinya, itu adalah adegan di mana Ethan ‘disidang’ teman-teman band-nya. Adegannya tanggung. Emme diminta Jack untuk bantu ngasih pengertian ke Ethan. Nah, masalahnya, pengertian yang diberikan si Emme kok rasanya gak nyambung dengan topik yang jadi bahan penyidangan ya? *garuk2 pala
  4. Meskipun novel ini ditulis dari empat angle yang semuanya pake kata ganti orang pertama, jika dicermati, kita masih mudah-mudah saja kok ngenalin porsi penceritaan masing-masing orang. Bagian Carter ditulis dengan tanpa tanda kutip seperti dialog-dialog di novel pada umumnya, tapi kebanyakan pake gaya script (nama, tanda baca titik dua, dialog). Bagian Sophie terbaca pede abis dan agak-agak nyebelin, sedang Emme bisa dikenali dengan gayanya yang kurang nyaman. Ethan muncul sebagai pencerita yang penuh curiga dan penggerutu.
  5. Alurnya loncat-loncat, bikin bingung (sekali lagi menurutku), karena loncatnya gak pake pamit-pamit. Setidaknya harusnya pembaca dibantu dengan huruf italic kek, jika sedang flash back atau gimana gitu, jadi gak bloon di tengah bacaan @_@
  6. Satu yang aku lihat dari tiga karya Elizabeth Eulberg, benang merah tiap-tiap novelnya: penulis ini secara kental membawa pesan tentang pentingnya persahabatan .

Yah, jadi gitu deh, sebagai bacaan YA/teen/belia, novel ini buatku kurang mewakili kesegaran dan keriangan age bracket ini. Meski kalo dilihat sisi baiknya, benernya isinya dalem dengan bahasan tentang pasang surut persahabatan dan perjuangan menuju jenjang di atas SMA, bukan melulu kisah cinta dan pengutipan lagu-lagu lama yang agak mbosenin kayak di Lonely Hearts Club. Coba saja penuturannya lebih lincah ….

Gak rugi baca, tapi kalo ada yang lain mending habisin bacaan lain dulu deh. Itu sih ending note dariku 😉

Judul: TAKE A BOW

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerjemah: Mery Riansyah

Editor: Dila Maretihaq Sari

Penerbit: Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-42-0

Cetakan: 1-2012

Jumlah hal: 319

Advertisements
22
Sep
12

So Much Closer/Mengejar Mimpi: Menyebalkan di awal, mencerahkan di belakang ;)

Pernah nonton Felicity (film seri bergenre coming of age/young adult awal tahun 2000-an) gak? Waktu itu kayaknya yang muter Indosiar gitu deh, dengan jam tayang sekitar jam 22.30? Hehehe, referensinya jadul abis yak.

Oke, balik ke film satu itu, Felicity adalah seorang cewek lulusan SMA dari daerah sekitar midwestern Amrik (aku lupa kotanya tepatnya apa), yang pergi kuliah ke New York. Soal kuliah sih gak masalah benernya mau ke mana saja. Tapi ternyata si Felicity ini ninggalin tawaran kuliah kedokteran yang sudah ia kantongin, bikin kecewa ortunya, untuk pergi ke kampus yang (menurut ortunya) kurang penting, dengan alasan yang gak jelas.

Tentu saja Felicity gak mungkin cerita, kalo ia nekat pergi ke New York karena Ben, cowok incerannya ternyata kuliah di sono. Felicity ngerasa, bahwa benernya Ben adalah jodohnya yang belum nyadar saja akan keberadaan cewek itu. Jadi wajar-wajar saja kalo sudah saatnya bagi Felicity untuk ngejar mimpinya jadian dengan Ben (sudah ia simpen bertahun-tahun selama SMA), meski yang gak wajar adalah, fakta bahwa selama bertahun-tahun SMA itu si ben sama sekali gak kenal bahkan gak tau kalo Felicity mengamati boro-boro sampai naksir.

Nah, pembukaan novel satu ini miriiiip banget dengan kisah Felicity. Di awal tahun terakhir SMA-nya, Brooke baru tau kalo Scott Abrams, cowok yang ia taksir diam-diam (dan bahkan sama sekali gak nyadar akan keberadaan Brooke) bakal pindah ke New York. Felicity eh Brooke panik. Selama ini, Scott adalah satu-satunya alasan dia berangkat sekolah, karena baginya aktivitas sekolah itu gak banget. Bikin bosen.

Jadi gitu deh, Brooke mutusin kalo ia juga bakal pindah ke New York. Untung ayahnya yang telah cerai dengan ibunya tinggal di kota itu. Cona berbekal satu nama kota tujuan, Brooke nekat pindah.

Bayangin, New York kan nggak segede pasar inpres. Di pasar saja belum tentu kita bisa ketemu dengan orang yang kita cari, nah, ini di kota besar yang bisa dibilang belantara, tanpa alamat yang jelas yang bisa diandalkan jadi semacam kompas. Memangnya bisa?

Beruntung banget, Scott tinggal di daerah dengan area sekolah yang sama dengan Brooke, jadi akhirnya mereka nyangkut di sekolah yang sama pulak. Maka mulailah Brooke nyari cara untuk mewujudkan impiannya untuk kenal, makin dekat, dan akhirnya jadian dengan Scott Abrams.

Sekolah yang baru ternyata memberi pencerahan buat persepsi negatif Brooke tentang dunia sekolah. Di sana IQ jenius dia ditantang dengan kurikulum yang agak lebih maju dari sekolah sebelumnya, tugas-tugas yang tidak membosankan, serta aktivitas sebagai peer tutor yang mengantarnya bersahabat dengan Sadie dan John Dalton.

Bersama Sadie, Brooke diajari untuk lebih peduli pada sesama, aktif membantu sekeliling. John membuka pikiran Brooke untuk memandang segalanya dengan mata yang lebih terbuka, mensyukuri kehidupan, serta mencintai kota dengan cara yang konstruktif.

Tentunya persahabatan dengan Sadie dan John tetap tidak menyurutkan obsesi Brooke akan Scott.

Well, ada banyak catatan yang bisa aku bikin tentang novel satu ini:

  1. Kok ya ada, gitu cewek kayak Brooke (dan Felicity) yang ngejar-ngejar cowok yang bisa dibilang asing, sampai ke ujung dunia gitu. Mereka ‘membuang’ kehidupan lama mereka untuk cowok yang nggak begitu mereka kenal, lho. Meskipun aku mendukung segala macam tetek bengek tentang emansipasi atau women’s lib atau feminisme, tapi soal cewek ngejar cowok sampai ke kota lain ini so not my description about such thing. rasanya cemen abis, meski ending-nya Brooke mendapatkan pencerahan dan nilai lebih dari petualangan impulsifnya itu.
  2. Kecerdasan intelektual yang super teryata tidak menjamin kita untuk bisa selalu membuat keputusan-keputusan cerdas.
  3.  Aku suka petualangan yang dilakukan Brooke dalam usaha mengenali tempat tinggalnya yang baru. Tiap hari ia berjalan menyusuri rute yang berbeda-beda dari rumah ke sekolah (atau sebaliknya), mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Aku jadi ngebayangin, apa lingkungan tempat tinggal dia semenarik itu? *jadi pengen tinggal di sono
  4. So Much Closer awalnya cuma menawarkan obsesi nggak sehat seorang cewek tentang cowok yang ia taksir, tapi akhirnya obsesi itu mengarahkannya ke jalur yang lebih positif. Susane Colasanti selalu mampu menyisipkan pesan moral yang cukup dalem di dalam tulisan-tulisan dia.
  5. Aku suka dengan jalan cerita di mana Ms. Colasanti gak maksain semua masalah terselesaikan saat buku sampai ke halaman terakhir. Liat saja, ada beberapa problem Brooke yang dibiarkan masih terbuka (persahabatan dengan teman-teman dari kota asal, love life, dll) tapi masih nyisain harapan untuk happy ending.
  6. Sampulnya beda dari edisi Amrik, tapi dengan taste yang mirip: angle dari belakang, cowok dan cewek berdiri sebelahan. Kalo memang mau dibikin mirip, kenapa gak pake cover asli sekalian, yak? *Bingung Soalnya secara pilihan warna dan jenis pakaian yang dipakai si cewek, aku pilih cover asli banget-banget. Lebih terasa remaja. Mana cover yang versi Indonesia juga nggak memunculkan chemistry antara si cewek dan si cowok (kayaknya sih Brooke dengan John).
  7. Jilidannya agak-agak cemen, lembaran kertas mudah lepas dari lem 😦
  8. Jadi skor akhir: 80 untuk ide dan jalan cerita, 65 untuk cover, 70 untuk terjemahan. Kesimpulan, layak dikoleksi karena banyak muatan positif (asal sabar bacanya).

Judul: SO MUCH CLOSER/MENGEJAR MIMPI

Pengarang: Susane Colasanti

Penerjemah: Olivia Bernadette

Editor: Desy Natalia

ISBN: 978-602-00-1275-9

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Cetakan: 1-2011

Jumlah hal: 326

ImageCover versi Asli

ImageCover edisi Indonesia




%d bloggers like this: