01
Jun
12

The Lost Hero: Niatnya Jadi Obat Kangen si Percy yang Justru Bikin Tambah Kangen :(

“Tujuh blasteran akan menjawab panggilan.

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal.

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan,

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal.”

Ramalan di atas muncul di menjelang akhir novel ke-5 pentalogi Percy Jackson: The Last Olympian. Rangkaian kata-kata membingungkan tersebut juga yang ternyata menjadi materi petualangan baru para demigod di The Heroes of Olympus.

Kisah kali ini dibuka dengan Jason yang mendapati dirinya ada di atas sebuah bus Sekolah Alam Liar. Seakan-akan belum cukup bingung, ia yang ngerasa gak kenal satu pun remaja yang ada di atas bus, tiba-tiba ternyata berstatus pacar cewek cakep bernama Piper, dan tiba-tiba juga bersahabat dengan cowok bernama Leo. Jason tidak paham siapa dirinya, hanya tau namanya saja. Seakan-akan ia pasien amnesia yang dijatuhkan ke tengah rombongan karyawisata SMA.

Kunjungan ke Museum di tengah Grand Canyon itu jadi penuh kepanikan saat rombongan yang sedang meniti jembatan tiba-tiba kena serangan badai. Hampir semua murid bisa menyelamatkan diri masuk kembali ke museum. Tinggal Jason, Piper, Leo, Dylan, dan Pak Hedge pendamping karya wisata.

Ternyata Dylan adalah monster yang menyamar. Pak Hedge pun menyimpan rahasia yang terpaksa ia kuak di tengah kekacauan tersebut. Jason dengan refleks mengeluarkan uang koin yang ada di sakunya, dan ia ubah menjadi pedang emas bermata dua yang tajam. Saat bertarung di tengah badai, datang bala bantuan berupa kereta perang yang ditarik pegasus. Kereta itu dikendarai seorang cewek, Annabeth beserta temannya, dan mereka mengajak Jason, Piper, serta Leo ke tempat bernama Perkemahan Blasteran.

Singkat kata, Perkemahan Blasteran ternyata tempat yang cukup menyenangkan, karena Jason, Piper, dan Leo berkumpul dengan teman-teman seusia mereka yang sama-sama bermasalah, menderita disleksia, dan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder/Kelainan Hiperaktivitas dan Kurang Perhatian). Mereka semuanya adalah anak-anak dewa-dewi Olympus dengan salah satu orang tua manusia fana. Mereka mengalami masalah dikejar-kejar monster, sehingga Perkemahan Blasteran adalah tempat yang relatif aman bagi mereka, karena sudah dilindungi.

Kenyamanan Jason, Piper, dan Leo tidak bertahan lama. Mereka ternyata dikumpulkan untuk memenuhi ramalan mengenai tujuh demigod yang disebut di awal tulisan ini tadi. Siapa empat demigod yang lain? Belum ada yang tahu. Tapi sebelumnya, mereka harus menyelesaikan tugas penting dan berbahaya, menyelamatkan Hera, ratu para dewa Olympus yang ditahan di satu tempat yang mereka bahkan belum tau lokasinya. Mereka hanya punya waktu seminggu sebelum hal buruk lainnnya muncul, dan Hera binasa.

Berangkatlah tiga remaja tersebut mengarungi udara mengendarai robot naga bernama Festus. Petualangan yang menegangkan yang mempertemukan mereka dengan kakak Jason yang tidak disadarinya kalo pernah ada, tokoh-tokoh cerita Yunani kuno yang seharusnya sudah mati ribuan tahun yang lalu, monster-monster seram, dan akhirnya, kebangkitan calon penghancur dewa-dewa. Belum lagi kenyataan bahwa Piper, Jason, dan Leo sama-sama menyimpan rahasia mengenai keberadaan masa lalu dan mimpi-mimpi mereka.

Petualangan para demigod kali ini membutuhkan nyaris dua kali lipat halaman serial yang sebelumnya telah mendahului. 585 halaman penuh ketegangan, bikin aku yang mau menceritakan ulang jadi gagap sendiri. Semua adegan lucu, penting, dan ngaruh ke jalan cerita.

Untuk jalan cerita, plot, gak ada komplen deh. Masih super keren.

Novel ini juga membantu aku lebih memahami jalan pikiran para makhluk superior yang berebut dunia (titan, emak-bapak titan, dewa, raksasa, dll). Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kalo para bad guys itu berniat menguasai dunia dengan cara meremukkannya, lha berarti para manusia pengisi dunia kan bakal pada mati tuh. Trus nanti yang mereka kuasai itu apaan yak? buat apa jadi penguasa kalo gak ada anak buah dan kacung buat disuruh-suruh? Dasar makhluk superior aneh!

Nah, sekarang jalan pikiran para dewa-dewi. Mereka pada jatuh cinta pada manusia, sehingga menghasilkan ras demigod. Para demigod dicuekin pas lahir. Lalu begitu gede diklaim, hanya biar bisa ngebantu kerjaan remeh-temeh mereka di dunia. Nah, giliran para demigod mau bantu, masih juga diribetkan dengan ramalan-ramalan gak jelas, dihambat dewa-dewi lainnya, padahal tujuan bantuan itu kan juga untuk menyelamatkan para dewa. *Garukgarukpala

Dilihat secara kepribadian para tokoh, The Lost Hero terbaca (agak) lebih ‘dewasa’ dibanding serial Percy Jackson and the Olympians. Dewasa di sini bukan berati PG rated lho ya. Tapi si Jason yang tokoh utama dan kayanya lebih muda dikit dari Percy, joke-jokenya gak setolol Percy dan mulutnya gak selancang Percy. Bikin aku jadi makin kangen sama anak Poseidon satu itu. Porsi Grover yang hilang agak tergantikan oleh salah satu satir yang muncul. Leo juga lumayan konyol.

Sekarang typo yuuuk. Gak banyak jejak typo di sini. Tapi coba cek halaman 351 alinea tiga deh. Di baris ke 4-6, “…Lalu Kronos, pimpinan Titan—yah, kau barangkali sudah dengar bagaimana kisahnya, Zeus mencincang ayahnya, Ouranos, …”

Halo, kok tiba-tiba bisa muncul Zeus di situ, yak? Yang mencincang ayahnya adalah si Kronos kali? Soalnya kan yang dicincang si Ouranos. Sedang untuk urusan cincang-mencincang, jatah Zeus masih jauh setelah era itu. Zeus kan memang mencincang ayahnya. Tapi ayah si Zeus yang dipotong kecil-kecil itu Kronos, bukan? (Setelah ngecek versi English-nya, ternyata memang yang tertulis adalah “…Then Kronos, the head Titan—well, you’ve probably heard how he chopped up his father Ouranos …”. Berarti bener-bener typo. Case closed :D)

Ada satu lagi (yang justru aku suka). Lihat halaman 536 alinea 2 deh. Begini kalimatnya, “Seperti Enceladus, sang raja raksasa bertubuh manusia dari pinggang ke atas, mengenakan baju zirah perunggu, sedangkan dari pinggang ke bawah dia memiliki kaki naga bersisik; namun kulitnya sewarna petai ….”

Aku heran, kok ada petai bisa masuk ke buku terjemahan, yak? Ternyata aslinya adalah “Like Enceladus, the giant king was humanoid from the waist up, clad in bronze armor, and from the waist down he had scaly dragon’s legs; but his skin was the color of lima beans.”

Hehehe, entah sengaja atau bukan, perubahan dari ‘lima beans’ ke ‘petai’ terasa sebagai penerjemahan yang mempertimbangkan local wisdom. Lima beans, kalo diindonesiakan bakal jadi ‘kacang polong’. Tingkat kelucuannya tidak akan sama dengan jika kita menggunakan ‘petai’ yang memang sudah sangat dikenal orang kita, serta sering jadi sayur yang bernasib sebagai bahan olok-olokan.

Jadi gitu ya, novel ini sangat layak baca. Tapi saranku sih, sebelum baca serial The Heroes of Olympus ini, yang kayaknya bakal ngabisin 3 novel (sejauh ini sudah keluar dua novel di pasaran Amrik: The Lost Heroes dan The Son of Neptune. Musim gugur ntar The Mark of Athena bakal nyusul), sebaiknya sih kalian kelarin Percy Jackson & The Olympians biar tau seberapa heroiknya si demigod yang ngilang dari Camp Half-Blood itu.

Judul: THE LOST HERO

Penulis Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-653-3

Halaman: 586 halaman

Terbit: Januari 2012 (Cetakan I)

Harga: Rp 79.000,-


2 Responses to “The Lost Hero: Niatnya Jadi Obat Kangen si Percy yang Justru Bikin Tambah Kangen :(”


  1. 1 Marian
    March 1, 2013 at 7:43 am

    Setlah baca the son of neptune… Aha jason.. sy jdi bertnya2 apa hubunganya ma reyna.. Udah trlnjur stju ngeliat dy ma piper alnya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s