15
Apr
12

Prom and Prejudice: Membawa aroma Jane Austen ke abad 21

Image

sampul terbitan amrik

Image

Sampul terbitan Indonesia🙂

Sebagai siswi beasiswa di Akademi Longbourn, hidup Elizabeth Bennet sungguh tidak nyaman. Ia harus tinggal di asrama yang penuh remaja cewek dengan background keluarga kaya raya. Soal kayanya sih gak masalah, tapi bullying dari mereka itu lho.

Bayangkan saja, disiram pake minuman milk shake segelas gede? Pernah. Dilemparin kertas langsung di muka? Jelas pernah. Dikasih kupon makan? Hampir tiap hari. Buat anak-anak kaya itu, kehidupan dari luar lingkungan mereka dianggap tidak masuk hitungan. Orang dari luar yang ‘berusaha’ masuk ke lingkungan mereka? Musti dibikin sengsara.

Ini adalah semester kedua bagi Lizzie. Kalo gak mikirin beasiswa musik yang ia idamkan, cewek ini sudah pengen nyerah, balik ke sekolah tempat teman-teman lamanya menuntut ilmu di New Jersey sana. Karena sudah kenyang dengan hinaan terang-terangan teman sekolahnya.

Sebuah pesta sekolah, mempertemukan siswi-siswi Akademi Longbourn dengan cowok-cowok Akademi Pemberley (ini Longbourn-nya para cowok, lengkap dengan harga mahal, gerombolan cowok kaya, dan tentu saja status elit-nya). Jane, sahabat Lizzie sedang pedekate dengan Charles Bingley, anak Pemberley. Ini membuat Lizzie musti membetahkan diri gaul juga dengan Charles dan teman-temannya, termasuk Will Darcy yang angkuhnya amit-amit. Charles-nya sih baik dan ramah. Keinginan membalas kebaikhatian Jane membuat Lizzie musti terlibat dengan hampir semua kegiatan Jane-Charles yang melibatkan Will serta saudari kembar Charles yang sombong plus jutek, Caroline.

Lizzie sebal banget tau Will yang memandang rendah anak beasiswa. Will tidak terima saat tau Lizzy membenci anak-anak kaya. Mereka terlibat pertengkaran saat berlibur di Vermont. Will berusaha membayari buku yang dibeli Lizzie, dan ditolak-mentah-mentah oleh Lizzie.

“Yah, setidaknya aku tak perlu bersembunyi di balik uangku. Semua yang kumiliki buah dari kerja keras.”

“Kau tidak mengenalku.”

Kucoba merendahkan suara. “Dan, pikirmu kau mengenalku? Ayolah Will, kapan kau pernah bekerja? Atau, kapan kau pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumahmu –oh sori maksudku, mansion?”

Will menunduk memandang lantai.

“Kurasa enggak pernah. …..

…..

Rahang Darcy mengertak. “kau benar-benar kritikus tajam, Pernah coba mengenal kami dulu sebelum menghakimi?”

“Kapan?” tiba-tiba suaraku serak. “Saat kupon makan dijejalkan dalam kotak suratku? Saat aku harus menggosok kuat-kuat tulisan ‘Anak Hobo pulang saja, deh!’ di pintuku? Saat orang melempar mukaku pada minggu pertama? Ayo bilang, pernah enggak mukamu dilempar milk shake?”

 

Sejak saat itu, hubungan di antara mereka menjadi semakin ruwet, melibatkan George Wickham. Lydia adik jane yang menyebalkan, dan Caudia Reynolds, pianis terkenal idola Lizzie.

Jadi, bagaimanakah kisah ruwet ini akhirnya mampu menyatukan Lizzie-Will? Kayaknya kalian musti baca sendiri.

Oke, kenapa aku beri spoiler soal ending hubungan Lizzie dan Will? Soalnya buat kalian penyuka karya klasik yang sudah baca Pride and Prejudice-nya Jane Austen, pasti bakal tau kalo Lizzie-Will akhirnya bakal jadian. Jadi sudah bukan rahasia lagi lah.

Novel ini adalah adaptasi bebas dari karya Ms. Austen yang jadi favoritku. Di antara Prom and Prejudice dengan Prada and Prejudice karya Mandy Hubbard yang juga adaptasian karya Jane Austen, aku pilih novel Elizabeth Eulberg ini. Ceritanya lebih kaya, problemnya lebih dalam, improvisasinya lebih menyatu dengan kehidupan remaja jaman sekarang. Novel ini juga menawarkan jalan cerita dengan muatan self-empowerment.

Merujuk pada novel karya Jane Austen, tingkah laku saudari-saudari Lizzie yang norak dan ibunya yang lebih norak lagi itu menjadi bumbu yang menyengat di hampir setiap bab. Sayang, Euelberg kurang bisa menampilkannya di novel ini. Mungkin karena pilihan kehidupan asrama sekolah yang kurang bisa melibatkan ortu ya? Tapi setidaknya ada Lydia sebagai wakil kenorakan itu. Meskipun rasa malu yang dihadapi Lizzie abad 21 jadi jauh berkurang dibanding yang dirasakan Lizzie abaad 18, karena di Prom and Prejudice Lydia adalah adik Jane, sahabat Lizzie, bukan adik Lizzie sendiri.

Sampulnya? Pre-teen banget. Cocok buat imprint yang nerbitin,karena namanya saja Bentang Belia. Walau kalo boleh pilih aku lebih suka cover edisi asli, yang lebih teen dan cukup mampu memotret ambiance cerita. Sayang sinopsis belakangnya salah nulis nama Elisabeth Bennet menjadi Elizabeth Bannet. Sebuah kesalahan minor, seminor penerjemah yang beberapa kalo nulis kata “jomlo” instead of “jomblo” yang lebih familier.

Judul: PROM AND PREJUDICE

Pengarang: Elizabeth Eulberg

Penerbit: Penerbit Bentang Belia

ISBN: 978-602-9397-01-7

Soft cover

Halaman: 211 halaman

Terbit: Januari 2012 (cetakan I)


7 Responses to “Prom and Prejudice: Membawa aroma Jane Austen ke abad 21”


  1. April 16, 2012 at 3:58 am

    aku suka gaya Elizabeth eulberg, tapi aku baru baca yang the lonely heart club yang juga diterbitkan bentang belia

    • April 16, 2012 at 4:16 am

      Yya, ada juga di aku tuh the lonely heart club. Sorry to say, bagusan Prom and Prejudice, meskipun si Lonely Heart juga gak jelek🙂 Aku sedang browsing nyariin Take a Bow, tapi sampai sekarang belum dapet ebook free download-nya. Jadi agak2 ketagihan karya Miss Eulberg :)))

      • 3 imaai
        May 31, 2012 at 8:50 am

        setuju banget.
        prom and prejudice tetep masih karya Elizabeth Eulberg terfavorit menurutku.
        belom nemu yg Take a bow juga nih…. gak sabar pengen baca

  2. July 14, 2012 at 5:43 am

    Halo, salam kenal,

    Terima kasih ya, utk kesan dan masukan atas buku terjemahan saya ini🙂

  3. 6 nisa
    September 19, 2012 at 4:25 am

    Pengen baca juga, kayakny bagus banget dehhh!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s