13
Mar
12

My Partner-Secangkir Teh Panas dengan Gula Dua Sendok Teh

Situasi: menjadi anggota sebuah keluarga bahagia sejahtera beranak dua (Tita anak pertama dari dua bersaudara), dalam waktu setahun semua kata sifat itu lenyap tak berbekas. Keluarganya tercerai-berai. Papa harus masuk penjara karena kasus korupsi di BUMN tempatnya bekerja, Mama menjadi penghuni rumah perawatan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, adiknya pilih mengungsi ke rumah nenek di Cirebon karena malu. Tita sendiri masih bertahan di rumah keluarga yang sebentar lagi harus ikut disita kejaksaan berikut mobil, tabungan, dan harta keluarga lain yang berupa tanah, rumah, serta perhiasan.

Bahagia? Rasanya Tita sudah lupa dengan rasanya. Hari-harinya penuh kekhawatiran, malu, resah, marah. Situasi bertambah runyam karena Tita harus pergi dari rumah saat ia masih luntang-lantung tanpa kerjaan setelah lulus kuliah. Untung (kalo bisa dibilang untung) ada tawaran kerjaan dari Jodik, cowok yang mengerjakan renovasi kamar mandi dan pengerjaan taman rumahnya.

Kerja pada Jodik bikin Tita jadi makin bangkrut. Provokasi cowok itu mengusik ego Tita, hingga terpaksa merogoh tabungannya yang sudah semakin menipis jumlahnya untuk mencicil hutang renovasi rumah yang dilakukan papanya dulu itu. Sebelum sempat gajian, Tita malah cabut dari kantor Jodik karena ngerasa kemampuan dan pengetahuannya tidak berguna. Ia tidak mau kalo Jodik mempekerjakannya karena kasihan.

Tita akhirnya menerima tawaran Dido, anak mantan bos papanya yang punya kantor developer mentereng. Uang gaji dari kantor Dido jelas mampu membayar biaya obat Mama, biaya kebutuhan penjara Papa, dan biaya hidupnya sendiri.

Bagaimanakah Retni SB membawa kisah perjuangan Tita? Mampukah Tita mengentaskan dirinya dari jurang kebangkrutan? Seberapa heroiknya gadis itu dalam menghadapi kemalangan yang bertubi-tubi? Adalah kebahagiaan bakal menanti?

Retni SB menyodorkan kisah ini tanpa janji-janji surga. Aku melihat realitas di sini, meski kisahnya jelas-jelas fiksi belaka. Bagaimana Tita menyikapi belitan problemnya, bagaimana ia bersikap menghadapi cowok-cowok menyebalkan, bagaimana hatinya melambung saat para cowok itu memberikan perhatian, dengan mudah bisa aku relasikan pada diriku meski tentu saja, kisah Tita tidak sama dengan kisah manapun yang pernah terjadi padaku dulu.

Memang sih, karena realitas itu juga akhirnya aku agak kecewa, soalnya bad guys di novel ini tidak mendapat ‘pelajaran setimpal sesuai perbuatan-perbuatan mereka’. Jadi gemes-gemes sendiri pengen merencanakan aksi balas dendam dengan judul, “Andai aku jadi Retni SB, aku bakal menghukum si anu begini, si ane begitu, dll dll.” Tapi kalo itu bener-bener dijalankan, hasilnya kayaknya malah jadi kisah superhero kali ya.

Sekali lagi, kembalikan pada realitas, bahwa tidak selamanya kita bisa membalas orang-orang yang menyakiti kita dengan cara yang kita inginkan. Seringkali kita harus merelakan saja kejadian-kejadian tersebut dan berjalan maju. Biarkan waktu, karma, dan tentunya Tuhan yang menjalankan porsi pembalasan. Novel ini tidak menjanjikan pembalasan dendam, tidak menceritakan kesuksesan besar setelah terlunta-lunta. Jalan ceritanya bertutur tentang pentingnya kita tahu sampai di mana duka cita boleh dipelihara, dan perlunya mengambil sikap untuk meneruskan hidup meski di depan mata lubang masih menganga siap menangkap kaki yang terjerumus karena langkah yang tidak tepat.

My Partner formulanya Metropoooooop banget. Chickliiiiiit banget. Ringan, tapi belum sampai pada tahap murahan. Manis. Setelah Dimi is Married yang kurang begitu aku sukai jalan ceritanya, tadinya aku agak meragukan My Partner. Soalnya jarak terbitnya dengan si Dimi agak-agak terlalu dekat. Apa iya, bakal bisa lebih bagus dari Dimi yang kurang menggigit (buatku)?

Untungnya aku keliru. My Partner enak dibaca. Formatnya yang agak-agak klise tidak mengurangi kemanisan isi ceritanya. Kisahnya yang agak lebih pedas dibanding problem-problem yang dihadapi tokoh di novel-novel Retni sebelum ini, diperlunak oleh kalimat-kalimat lucu menyebalkan yang sering dilontarkan Jodik.

Satu ciri Retni SB yang terjaga dari novel pertama yang aku baca sampai yang terakhir ini adalah kesantaian gaya tuturnya, dipadu dengan lincahnya alur cerita, dan santunnya manner tokoh-tokohnya. Aku selalu terhibur dengan novel yang tidak menampilkan sex scenes secara eksplisit. Novel yang cukup menghentikan adegan pacaran sampai ke pegangan tangan atau apes-apesnya ciuman bibir deh (hahaha, SMA banget ya?). Dan Retni SB selalu muncul dengan gaya semacam ini, yang sekali lagi, menambah manis ceritanya.

Membaca novel ini seperti menikmati secangkir teh panas dengan gula dua sendok teh. Awalnya menghajar mulut karena temperaturnya, tapi begitu kita sudah meniup-niup sebentar, di lidah akan terasa pas, dengan efek menenteramkan.

Judul: My Partner

Pengarang: Retni SB

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-8017-3

Soft cover

Halaman: 281 halaman

Terbit: Februari 2012 (cetakan I)

Harga: Rp 43.000,-Image


2 Responses to “My Partner-Secangkir Teh Panas dengan Gula Dua Sendok Teh”


  1. March 13, 2012 at 3:40 pm

    hehey suka banget analogi teh panas yang menghajar mulut :p

    untk novel retni sendiri gak bisa komentar krena gak pernah baca

    • March 14, 2012 at 1:23 am

      😀 makasih sudah baca, Sist, makasih juga kalo ada yg bisa dinikmati di sini. Bukan penggemar metropop ya? Aku sih bukan pembeli setia genre ini, tapi untuk penulis2 tertentu macam Retni SB dan Mariskova, biasanya aku sempat2in beli. I love the way they wrote🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s