04
Jan
12

MY RIDICULOUS ROMANTIC OBSESSION: Medusa, trauma SMA, dan disleksia

Hampir semua orang ingin jadi “orang normal”. Tapi saat kita ditakdirkan memiliki kenormalan di setiap sisi kehidupan, seringkali kita ingin menyelipkan kisah-kisah film atau novel ke dalam kehidupan kita, membayangkan jika kita menjadi salah satu tokohnya, dan menjalaninya, menambahkan bumbu sedikit-sedikit, hanya agar kita bisa memandang kehidupan normal kita yang agak membosankan itu menjadi sedikit lebih berwarna.

Sarah Hastings juga mengalaminya. Gadis yang memulai tahun kuliahnya sebagai mahasiswa jurusan Sejarah Seni ini memandang dirinya sebagai gadis biasa dengan rambut liar bagai Medusa dengan pinggul yang lumayan lebar. Ia merasa sebagai si Otak ketimbang si Cantik atau si Gaul. Maka Sarah merasa tidak nyaman saat Ben, teman kuliahnya, kelihatan terang-terangan membuntutinya, dan tampak menikmati kebersamaan dan pertemanan mereka.

Sarah membiarkan saja segala upaya Ben untuk mendekat. Oh, jangan salah, ia menikmatinya, karena Sarah memang diam-diam menyimpan ketertarikan pada Ben yang ganteng, gagah, baik hati, pinter main gitar, ramah, lucu, dan penuh perhatian.

Tapi memangnya Sarah pantas berada di samping Ben? Gadis itu diam-diam selalu menengok kiri-kanan, melihat peluang di mana gadis yang jauh lebih menarik dari dirinya muncul tiba-tiba dan merenggut Ben dari sebelahnya. Ia menganggap perhatian Ben hanya bentuk kekhilafan belaka.

Sampai ada satu peristiwa yang membongkar “aib” Ben. Sungguh melegakan bahwa “nobody’s perfect” memang benar adanya. Tapi apakah kekurangan Ben tersebut justru membuat Sarah merendahkan dan membuang pertemanannya dengan Ben? Dan yang terpenting, apakah sebenarnya motivasi Ben mendekati Sarah?

 

Novel ini lucu, heartwarming, mencerahkan, tapi sekaligus berbau cheesy. Plotnya chicklit banget, tapi terbungkus dalam kemasan Young-Adult. Kelincahan dan kelucuannya isi cerita mampu menutupi terjemahan yang kadang terbaca kedodoran. Hmm, kedodoran gimana sih? Gini lho, jangan salah, terjemahannya cukup apik. Tapi giliran tiba di kalimat-kalimat panjang, seringkali rentetan kata per katanya jadi kehilangan arti saat sudah nyambung jadi sebuah kalimat. Contoh:

“Pipiku tidak bisa lari ke mana-mana. Mereka mencapai mata besarku di mana air mata yang lengket tumpah.”-hal. 224

Inti ceritanya sih benernya umum banget. Makanya aku bilang, plotnya sangat berbau chicklit. Cewek dengan segudang kualitas yang gak menyadari potensi dirinya. Ia cuma mampu memandang dan mengupas kelemahan serta kekurangan yang ia miliki, hingga lupa kalau dirinya adalah pribadi yang menarik.

Si cewek “nemu” cowok yang oke banget. Saking okenya sampai penggambaran dan penyebutannya di awal cerita adalah Adonis-Dewa ganteng Yunani.

Tapi di balik ke-cheesy-an cerita ini, kamu bisa mendapatkan konflik dan kisah yang cukup “dalem” saat sampai pada adegan di mana Sarah menyadari kekurangan fatal si Ben. Kasiaaaan banget. Gak tega aku bacanya :”(

 

Dari sisi jalan cerita, cukup memuaskan, meski sebenarnya banyak yang masih bisa dieksplorasi. Becca Wilhite terbaca tanggung saat menggambarkan tokoh Krissy. Motivasi, kepribadian, sikap, dan sifatnya yang (aku baca) ditempatkan sebagai tokoh antagonis bagi hubungan Sarah-Ben, jadinya nanggung. Belum lagi alasan-alasan yang mendasari sikap aneh Krissy di kelas juga akhirnya gak terjelaskan.

Hal yang sama juga tampak di tokoh ibu si Sarah. Tokoh ini harusnya bisa lucu banget. Apalagi dengan adegan-adegan yang melibatkan Mildred si GPS di awal cerita. Sayang ya bahasannya cuma segitu.

 

My Ridiculous Romantic Obsession buatku adalah satu breakhrough di area novel Young-Adult. Kenapa bisa begitu? Menurut catatan genre YA-ku, nvel-novel tipe ini biasanya menokohkan remaja SMA atau malah SMP. Belum pernah deh (catat ya, belum pernah) aku baca kisah yang ber-setting di lingkungan anak kuliahan. Jadinya ada warna baru yang dibawa Becca Wilhite. Karena ceritanya jadi tidak melulu berlompatan di wilayah cheerleader, jago basket/football, dll. Hal ini dan kedalaman bahasan di ruang kuliah lah yang akhirnya membuat novel ini jadi terbaca lebih berbobot dibanding seharusnya (menilik plot yang disajikan).

Nah, layak dibaca kah, kalo begitu? Tentu saja. Meski dengan catatan: GIRLYYYYYY banget ya, hehehe. Satu poin tambahan aku berikan karena meskipun usia kuliahan kan itungannya sudah dianggap sebagai usia dewasa di Amrik sono, tapi novel ini mampu bersabar untuk gak memasukkan sex scene di dalamnya (Hore!). Kenapa sih aku benci sex scene di dalam novel? Haha, bukannya niat sok moralis ya (soalnya gak sok sih, kan memang moralis :P), tapi buatku nilai romantic sebuah novel jadi sering kerasa hilang begitu sudah ngeseks sih. Maka, berapa jempol? Aku berikan empat jempol untuk skala lima tertinggi.

 

Judul: MY RIDICULOUS ROMANTIC OBSESSION

Pengarang: Becca Wilhite

Penerjemah: Nadya Andwiani

Penyunting: Jia Effendie

Penerbit: Atria

ISBN: 978-979-024-488-7

Soft cover

Halaman: 265 halaman

Terbit: November 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 40.000,-


4 Responses to “MY RIDICULOUS ROMANTIC OBSESSION: Medusa, trauma SMA, dan disleksia”


  1. January 5, 2012 at 12:47 am

    Satu lagi cerita sinderela…

  2. January 26, 2012 at 4:26 pm

    Sebenernya udah ngincer ini dari pertama liat covernya yang “Over blush On Girl” [yang bikin lala bohang-black and white artist].

  3. 4 Faraz
    January 29, 2012 at 8:18 am

    This novel made me “crazy”. I’m really really obsessed with Ben. And now I’ve found the real BEN in my life. Hahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s