20
Oct
11

FLIPPED: Kedewasaan di balik kisah cinta monyet-monyetan

Juli Baker jatuh cinta pada pandangan pertama-dan seterusnya-sejak Bryce Loski datang sebagai tetangga depan rumahnya. Gadis kecil itu lalu terbiasa menguntit Bryce, mendatangi rumahnya, mengajaknya ngobrol, bahkan mengendus-endus wangi Bryce. Tentu saja Bryce “gilo”. Cowok seumuran itu kan maunya gaul dengan teman yang biasanya sejender, dan belum ada ketertarikan dengan lawan jenis.

Selama bertahun-tahun Bryce harus melewatkan hari-harinya deg-degan kalo si Juli mampir atau malah ngajak ngobrol. Karena ia selalu gak punya jawaban untuk apapun pertanyaan ataupun topik obrolan Juli. Pokoknya Bryce cuma pengen menghindari Juli secepat mungkin!

Herannya, Chet, kakek Bryce, malah sangat tertarik pada gadis menyebalkan itu. Setelah aksi demo Juli karena pohon sikamor tempatnya biasa bertengger ditebang pemiliknya-dan Juli sampai dimuat di koran lokal-Chet semakin suka mengamati Juli. Kadang Bryce cemburu melihat perhatian kakeknya pada gadis tetangga, padahal ia yang cucu Chet saja gak pernah diajak bicara (kecuali kalo kata, “Tolong operkan garamnya” setiap mereka ngumpul makan bisa dianggap sebagai pembicaraan).

Rasa kagum dan terpesona Juli pada Bryce seakan gak ada matinya, hingga “peristiwa telur” terjadi. Hampir seminggu sekali selama dua tahun, Juli rutin mengirim telur hasil ayam piaraannya ke keluarga Loski. Ternyata keluarga Loski  tidak menginginkannya karena takut bakteri salmonela mencemari telur tersebut. Bryce yang bertugas memberitahu Juli untuk menghentikan kiriman telur gratisnya terlalu takut untuk bicara. Akhirnya ia membiarkan saja Juli mengirim, dan mencegat gadis itu sebelum masuk ke rumahnya, sehingga ayah dan ibu Bryce tidak tahu kalo mereka masih menerima kiriman telur.

Hingga suatu pagi, Juli melihat Bryce membuang telur kirimannya. Juli sakit hati, dan Bryce gak enak hati. Hal ini membuat Juli memutuskan untuk mencoba melupakan rasa sukanya pada Bryce, melupakan mata birunya yang memukau, dan berusaha melihat Bryce yang sebenarnya yang ada di bawah penampilan menawan itu (seperti nasihat Chet). Peristiwa ini justru membuat Bryce mulai mempertimbangkan sikap-sikapnya kepada Juli, dan menemukan hal-hal lain di luar sikap sok tau, menyebalkan, dan penguntit seperti yang ia tempelkan pada Juli selama ini.

Banyak hal-hal yang terjadi di seputaran perasaan Juli terhadap Bryce dan sebaliknya. Ada  paman David yang terbelakang, ada kakak cewek Bryce yang centil, ortu yang usil dan cetek, ortu yang penyayang, ada sahabat yang konyol, ada juga kakak cowok Juli yang heboh.

Perasaan tak berbalas Juli selama bertahun-tahun, berubah menjadi rasa sakit hati yang menyesakkan Juli, membuatnya mampu melihat situasi yang terjadi dengan kacamata yang lebih jernih dan lebar. Hal yang sama juga terjadi pada Bryce. Bagaimana kelanjutannya? Bisakah Bryce memperbaiki kerusakan yang parah terjadi? Bisakah Juli memaafkan kepicikan Bryce selama ini?

Awalnya jidatku agak berkerut baca gaya bahasanya yang “nggak gue banget” ini. Gak cuma terlalu remaja, terlalu abege malah. Tapi siapa suruh juga baca buku abege kalo gak bisa menyelami mereka mulai dari gaya bahasanya yang terbaca manja itu kan? Makanya, aku putuskan, jalan terus deh. Baca sampai tuntas!!!

Novel ini gak terlalu tebal, dan nyaris tiap peristiwa diceritakan dua kali dengan sudut pandang Bryce dan Juli. Kita diajak memahami bagaimana opini Bryce tentang si Juli yang sotoy dan sok akrab. Kita juga diajak memahami mengapa Juli segitu terobsesinya dengan Bryce (yang musti dicatat nih: gak respek sama sekali ke Juli).

Awalnya aku setuju dengan Bryce, Juli menyebalkan. Sisi feminisku juga menentang cara Juli mengejar-ngejar dan memuja si Bryce. Tapi pengarang kemudian menjelaskan (dari sisi Juli), mengapa ia berlaku seperti itu. Betapa sikap Bryce yang sering ngumpet-ngumpet itu diterjemahkan Juli sebagai sikap malu-malu yang menggemaskan.

Meski ini adalah cerita abege, aku banyak memetik hikmah (bahasanya gak banget yak? Hehehe) dari sini:

  1. jangan melihat orang dari permukaannya saja. Coba selami hatinya, karena bungkus/penampilan kadang mengaburkan penilaian.
  2. Coba pahami orang dari sudut pandang orang lain, karena kamu akan melihat situasi yang benar-benar berbeda.
  3. Jika semua itu sudah dijalankan, coba juga melihat situasi dari atas. Dengan cara ini, kamu akan melihat sesuatu secara keseluruhan, bukan hanya potongan-potongan yang dengan mudah bisa menyesatkan.
  4. Jika berbuat salah, jangan berhenti di situ, tapi cari tahu di mana kesalahanmu, dan segera perbaiki. Kesalahan yang menumpuk selama bertahun-tahun tidak akan terlupakan, tapi bisa berubah menjadi bom bunuh diri yang melantakkan kita.
  5. Jika orang lain berbuat salah, coba dengarkan dulu alasan dia, lalu putuskan apakah akan memaafkan, atau membiarkan rasa marah yang menang.

Joke dan dialognya juga lucu. Aku paling ngekek saat sampai di perdebatan antara Bryce dan Garret temannya tentang ayam: ayam jantan-ayam betina-ayam biasa, entah apa sebenarnya maksud si Garret.

Ini adalah novel remaja tanggung, membuat ikut malu mengingat jaman pertama kali naksir lawan jenis dan bagaimana kita berusaha menyembunyikan rasa sekaligus memberitahu si gebetan tentang eksistensi kita ^_^. Tapi aku menemukan kebijaksanaan di dalam diri pelaku-pelakunya. Aku salut pada pengarangnya yang mampu mengolah satu topik kecil (cinta monyet) menjadi sesuatu yang sebesar ini.

Sangat layak dibaca, aku bahkan akan merekomendasikan novel ini buat anakku begitu ia menginjak kelas 6 SD. Tokoh-tokoh utama di dalamnya sangat pantas jadi teladan kebaikan dalam diri remaja. Gak sabar deh nunggu karya-karya Wendelin Van Draanen lainnya.

Omong-omong, novel ini pernah memenangkan penghargaan: Rebecca Caudill Young Reader’s Book Award Nominee (2004), South Carolina Book Award for Junior Book Award (2004), Sunshine State Young Readers Grade 6-8 Nominee (2004), Nevada Young Readers Award, VIrginia Young Readers Program Award VIrginia Young Readers Program Award, South Carolina Children’s Book Award, California Young Readers Medal . Jadi kayaknya worth it saja harganya cukup mahal untuk ukuran ketebalan yang cuma segitu.

Judul: FLIPPED

Pengarang: Wendelin Van Draanen

Penerjemah: Sylvia L’Namir

Penerbit: OrangeBooks/Lingkar Pena Publishing House

ISBN: 978-602-8851-11-4

Soft cover

Halaman: 272 halaman

Terbit: Agustus 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 49.000,-


7 Responses to “FLIPPED: Kedewasaan di balik kisah cinta monyet-monyetan”


  1. October 20, 2011 at 8:41 am

    Omong-omong waktu cinta monyet itu terjadi, seumuran Juli-Bryce ga? hehehe… Anakku udah baca buku ini dan komentarnya “kok pohon sikamornya beda sama yang dibayangin?” Oalaah… emang bayangin apa, nDuk? Heheh… Aku sih baru baca sampe halaman 15. Iya, agak berkerut kening sama bahasanya. Tapi pasti akan melanjutkannya kalo kata Ian bagus mah.😀

  2. October 21, 2011 at 2:19 am

    senengnya bisa “nyetani” mbak Dina buat lanjut baca. worth it banget kok🙂
    soal cinta monyet nih, kalo seumuran Juli-Bryce sudahnaksir cowok mbak. tapi seumuran juli-bryce pas berkonflik. pas umur 7 sih boro2. hehehe🙂

  3. October 22, 2011 at 8:22 am

    menarik Kak😀
    kapan-kapan coba aah ..
    hehehe ..

    banyak buku-buku yg kakak resensi aku beli loo .. hehhee😀
    ini aja dalam misi nyelesaiin Hold Me Closer, Necromancer .. wkwkwk😀

    • October 22, 2011 at 11:01 am

      hai alima. makasih sudah berkunjung, sista. yang ini kamu wajib beli deh. imut dan remaja banget. banyak nilai positif yang bisa dietik cma dari baca satu novel ini saja.
      btw, ternyata beli novel samhain si necromancer yak? hehehe … semoga memuaskan ^_^

      • December 15, 2011 at 1:00 pm

        Iya Kak.. hehehe, lucu juga ceritanya😀
        Memuaskan kok Kak.. hihihii😀

        Oiya, Kakak ikut ngebaca Siklus Warisan (Eragon, Eldest, Brisingr, Inheritance) enggak?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s