14
Oct
11

City of Fallen Angels: Pengalaman baca novel yang sakitnya serasa punya jahitan luka yang sudah kering dan dibongkar lagi

Perang Mortal (perang merebut kembali Instrumen-instrumen Mortal yang dikuasai Valentine Morgenstern) baru beberapa minggu usai, menyisakan kemenangan di pihak Pemburu Bayangan dan penghuni Dunia Bawah. Kemenangan itu bukannya tanpa cacat, karena ada banyak korban berjatuhan dari pihak Pemburu Bayangan dan penghuni Dunia Bawah. Hati kecil Clary, Jace, dan kawan-kawan mereka juga kurang puas karena mereka tidak bisa menemukan mayat Sebastian Verlac/Jonathan Christopher Morgenstern, anak Valentine yang tewas di tangan Jace.

Di luar itu semua, kehidupan berjalan lancar. Clary kukuh dengan niatnya meninggalkan sekolah umum dan menjalani pendidikan Pemburu Bayangan di Lightwood Institute. Simon berusaha menyeimbangkan kehidupan vampir-Pengembara-Siang-nya dengan kegiatan sekolah dan latihan band. Ibu Clary masih menikmati pertunangannya dengan Luke sekaligus mempersiapkan pesta pernikahan mereka. Alec dan Magnus masih dimabuk cinta dan melakukan perjalanan keliling dunia. Jace sendiri sibuk melatih Clary diseling-selingi dengan sesi pacaran mereka.

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Mayat-mayat tanpa identitas mulai ditemukan di banyak lokasi penghuni Dunia Bawah. Ada yang ditemukan di daerah warlock, di dekat sarang manusia serigala, di wilayah kerajaan peri. Situasi jadi semakin tegang saat mayat-mayat itu dikenali sebagai  Pemburu Bayangan meski bukan berasal dari konklaf New York. Kalau begitu, siapa pembunuh mereka?

Di sebuah rumah sakit juga ditemukan fenomena mengerikan. Ada bayi ditinggalkan tanpa nama. Pesan di keranjangnya meminta pihak yang berwenang untuk melakukan eutanasia terhadap bayi tersebut. Tapi tanpa dibunuh pun, bayi tersebut akhirnya mati. Kematiannya membuka glamor yang melingkupi si bayi, hingga akhirnya tampak matanya yang hitam pekat dan tangannya yang berujung seperti cakar.

Simon sendiri mengalami masalah. Ia kesulitan menyembunyikan identitas barunya dari ibunya. Tanda Cain di kening cowok itu juga mulai menampakkan kekuatan saat selama beberapa kali ia diserang sekelompok orang misterius, yang justru langsung mati begitu menyentuhnya.

Jace dan Clary sendiri bukannya selama-lamanya berada di surga cinta. Jace mulai mendapat mimpi-mimpi buruk yang membuatnya enggan bertemu dengan Clary seberapapun besar cinta di antara mereka.

Semua kejadian di atas, dirangkai dalam peristiwa-peristiwa yang berkelebat cepat, menjadi sebuah kisah City of Fallen Angels. Lebih kompleks, lebih gelap, lebih menyeramkan, lebih menyesakkan dibanding prekuel-prekuelnya. Apalagi dengan klimaks yang menutup cerita.

Novel ini tidak aku sambut dengan seantusias saat City of Ashes atau City of Glass pertama keluar. Membayangkan sebuah happy ending yang kemudian masih ditempelin dengan sekuel, sudah membuatku pesimis. Pasti bakal muncul masalah-masalah lain lagi deh. Dan benar saja, gak tanggung-tanggung, masalahnya semakin pelik, rumit, dan mengerikan. Semakin tidak terbayangkan bagaimana nanti ending-nya bakal digulirkan Cassandra Clare. Pernah punya luka sobek dan musti dijahit? Bayangkan jika jahitan yang sudah rapi dan hampir kering itu musti dibongkar karena ada kesalahan di proses penyembuhan pertama. Sepertinya, deskripsi itu yang nyaris menyamai perasaanku saat baca novel satu ini.

Dari sisi alur cerita, kisah ini semakin menawan. Banyaknya nama tokoh yang berseliweran tidak membuat pembaca bingung (asal sebelumnya sudah baca 3 novel serial The Mortal Instruments secara lengkap lho ya). Mengapa? Karena setiap tokoh dihadirkan dengan kepribadian yang jelas beda dari tokoh yang lain. Semua membawa permasalahan disertai latar belakang yang kuat, sehingga gampang saja masing-masing karakter bertengger di  otak kita. Kali ini Cassandra Clare juga lebih tajam dalam menaruh klimaks di tiap pergantian adegan. Kita dipaksa selalu deg-degan nungguin adegan kembali membahas tokoh yang terakhir kita baca.

Kepribadian para tokoh sudah lebih matang, sehingga kekonyolan remaja tanggung sudah tidak terlalu banyak muncul di sini. Padahal, kadang ngangenin juga lho baca clumsiness mereka. Deskripsi ini terutama untuk menggambarkan Simon Lewis. Dia sudah jauh lebih tangguh, dark, pemikir, dan jadi agak-agak playboy meski dengan alasan yang manis. Izzy juga sudah tidak terlalu jutek. Singkat kata, mereka lebih dewasa dibanding tiga novel sebelumnya. Padahal hanya beda beberapa bulan kejadiannya🙂

Terjemahan novel ini lancar, enak dibaca, dengan typo yang super minim. Aku begitu gembira nemu satu kata “merenyukkan” di halaman 87. Aku kira itu typo. Ternyata begitu aku cek, kata tersebut memang ada di kamus. Semacam paduan untuk “merunyamkan” dan “meremukkan”. Jadinya malah tambah vocab deh. Tapi kayaknya si penerjemah agak kewalahan saat musti menerjemahkan kalimat-kalimat panjang, contoh:

“Clary bertanya-tanya apakah kecenderungan Isabelle untuk memakai alas kaki yang tidak tepat bersifat genetis” di halaman 174. Aku agak dibikin pusing dengan kalimat tersebut, hingga musti mengulang-ulang baca. Aku nangkap frasa …”tidak tepat secara genetis” jadi satu kesatuan. Dan itu membingungkan. Akhirnya, aku pikir, mungkin akan bikin pembaca (baca: aku) lebih lancar nerusin ke kalimat selanjutnya jika susunannya:

“Clary bertanya-tanya apakah kecenderungan Isabelle untuk memakai alas kaki yang tidak tepat memang bersifat genetis. ”Sisipan “memang” bisa meminimkan kebingunganku membaca.

Ini novel-wajib-baca buat kamu penggemar YA fantasy. Apalagi yang sudah ngikutin serial The Mortal Instruments selama ini. Juga buat kamu-kamu penggemar film seru adaptasian novel. Asal tau saja (buat yang belum tau sih …) City of Bones, buku pertama serial ini sudah masuk masa pra produksi dan rencananya bakal dibintangi Jamie Campbell Bower sebagai Jace (buat yang belum familiar, cowok satu ini adalah pemeran Gellert Grindelwald muda di Harry Potter-7 dan pemeran Caius di New Moon-nya Twilight Series) serta Lily Collins (sekarang sedang meranin tokoh dongeng Snow White). Memang tidak menjanjikan happy ending seperti kesukaanku. Kalo sudah dapat alur seru, seram, tegang, dengan bumbu lucu, dan masih bersambung, setidaknya aku masih bisa berharap happy end-nya masih disimpan untuk City of the Lost Souls atau City of Heavenly Fire. Semoga … Sejak kapan sih kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan?😀

Hmm, harusnya aku sudahin dulu kali ya, obrolan ini. Tapi iseng-iseng buka halaman 578, aku lihat deretan novel yang disarankan Ufuk buat dibaca. (Ini OOT lho ya) Ngekek saja lihat novel pertama-The Way of Shadow-dan deskripsinya di sana. Kurang teliti ya Fuk, kok malah sinopsis Once a Witch yang muncul?

Judul: CITY OF FALLEN ANGELS (The Mortal Instruments book four)

Pengarang: Cassandra Clare

Penerjemah: Meda Satria

Pemeriksa Aksara: Tendy Yuliandes

Penerbit: Ufuk Publishing House

ISBN: 978-602-9159-60-8

Soft cover

Halaman: 580 halaman

Terbit: Agustus 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 89.900,-


0 Responses to “City of Fallen Angels: Pengalaman baca novel yang sakitnya serasa punya jahitan luka yang sudah kering dan dibongkar lagi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s