19
Sep
11

Once a Witch: (mengutip dialog uncle Ben-nya Spider-Man) With great power comes great responsibilities

Pernah ngalamin ngerasa jadi outsider di lingkungan sendiri? Perasaan itulah yang dialami Tamsin Greene. Gadis 17 tahun ini sepanjang hidupnya ngerasa terasing di tengah keluarga besarnya. Bayangkan saja, hampir seluruh anggota keluarganya memiliki Talenta (bakat khusus) sihir yang membuat mereka berbeda dari penyihir-penyihir lain. Talenta tersebut akan menguat dan mendapat pengukuhan keluarga saat mereka mencapai usia 8 tahun.

Bagaimana dengan Talenta Tamsin? Sampai usianya yang 17 tahun, bakat khususnya belum satu pun muncul. Dan Tamsin tampaknya harus menerima nasib sebagai satu-satunya anggota keluarga penyihir yang tidak mampu menyihir. Hal ini diperburuk dengan perlakuan menyebalkan dari kakaknya yang cantik, Rowena, si calon penerus kepemimpinan keluarga. Kekuatan sihir Rowena juga gede banget. Ia mampu memengaruhi orang untuk bertindak sesuai kehendaknya.

Suatu malam, Tamsin mendapat kesempatan tak terduga untuk mencoba membalikkan nasib. Seorang dosen NYU bernama Alistair Callum mendatangi toko neneknya dan meminta tolong padanya (benernya pada Rowena sih, tapi Tamsing ngaku-ngaku sebagai kakaknya) untuk menemukan sebuah benda milik keluaranya yang telah lama hilang.

Dibantu Gabriel, sahabat masa kecilnya, Tamsin berhasil menemukan benda tersebut. Tapi sayang, penemuan mereka malah membawa kekacauan, membuka rahasia yang tersimpan di dalam keluarga. Termasuk rahasia mengenai Tamsin sendiri yang disimpan rapat oleh kedua orangtuanya, nenek, dan kakaknya. Kekacauan yang terjadi pun tidak bisa dianggap enteng karena melibatkan perubahan sejarah. Mengapa? karena Tamsin mencari benda tersebut di masa lalu, menggunakan bakat Gabriel yang tidak diketahui satu pun anggota keluarga, yaitu: Melintas. Kemampuan unuk melakukan perjalanan menembus waktu. Pelintasan waktu sangat berbahaya. Bakat ini telah bergenerasi-generasi tidak dimiliki satu pun penyihir.

Nah, sebenarnya, apa rahasia yang disimpan rapat keluarga Tamsin, bahkan dari diri gadis itu sendiri? Siapa sebenarnya Alistair Callum, bagaimana Tamsin berusaha memperbaiki kekacauan yang ia timbulkan? Dan … sempat ada romance gak sih di novel sini? Hohoho.

Penuturan dari orang pertama di dalam Once a Witch mengajak kita untuk berempati dalam pada kepahitan yang dirasakan Tamsin sebagai orang yang tidak mampu mempraktikkan sihir di tengah keluarga penyihir. Ngingetin aku banget pada Arabella Figgs, tetangga Harry Potter yang ternyata squib (kelahiran keluarga penyihir, tapi tidak punya kemampuan sihir) juga.

Awal-awal halaman, Once a Witch dituturkan dengan penerjemahan yang agak kaku. Tapi tidak lama kemudian, dengan enak aku sudah bisa ngerasain chemistry yang akrab terasa saat baca novel bagus. Akhirnya bener saja, Kisahnya mengalir lancar, seru, meramu kelincahan remaja dengan keseriusan masalah hidup dan mati keluarga. Typo-nya juga tidak terlalu banyak (hore!!!).

Tentang pengarang, ini bukan novel pertama Carolyn MacCullough. Kemana ya aku sama sekali belum pernah dengar namanya sebelumnya? Padahal novel-novel dia yang lain sama-sama mengembara di area YA. Jadi bikin penasaran pengen browsing novel-novel Miss MacCullough yang lain🙂

Ketidaknyamanan yang aku rasakan sepanjang baca novel ini hanya satu: banyaknya nama paman dan bibi serta sepupu yang muncul silih berganti. Kamu gak bakal tahu, tokoh mana yang nantinya bakal berperan gede di sini, atau di sekuelnya (Always a Witch). Jadi terpaksa banget kan ngapalin masing-masing tokoh (walau gak harus juga sih). Karena siapa tau-siapa tau, nanti tokoh yang kita lewatin sekilas, ternyata punya peran gede, jadinya terpaksa bongkar-bongkar halaman lama lagi deh. Mungkin akan lebih ngebantu kalo ada panduan tokoh-tokoh seperti di novel Awakened-nya Ednah Walters itu kali ya.

Untuk cover, gak bisa komplen, manis banget. Eskpresi dan background mewakili perasaan dan situasi yang dihadapi Tamsin sepanjang cerita, bahkan sampai ke rumah kuno di latarnya. Sepintas agak layak jadi cover novel horor ya? Aku suka suasana romantic-spooky yang muncul di sono😀

Overall, definitely a page-turner novel. Buatku, bacaan setebal 417 halaman dan selesai dalam 30 jam cukup bisa dicatat dalam rekor membacaku, karena aku tipe pembaca lambat yang menikmati tiap-tiap kata dan dialog dengan tidak tergesa-gesa. Tapi Once a Witch mampu membuatku ngebut, karena kisahnya yang memang mendebarkan. Tamsin yang namanya gak enak dilafalkan, mampu berubah dari loser menjadi hero di sepanjang isi cerita tanpa mengurangi sisi human tiap orang bahwa tak ada orang yang sempurna, tak ada orang yang tak pernah bertindak salah. Tapi siapa Tamsin sebenarnya? Baca sendiri saja ya …. :O)

Judul: ONCE A WITCH

Pengarang: Carolyn MacCullough

Penerjemah: Nina Setyowati

Editor: Hayu Handayani

Penerbit: Ufuk Press

ISBN: 978-602-9159-45-5

Soft cover

Halaman: 417 halaman

Terbit: Agustus 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 59.900,-


2 Responses to “Once a Witch: (mengutip dialog uncle Ben-nya Spider-Man) With great power comes great responsibilities”


  1. June 12, 2012 at 7:24 am

    Buku yang bagus di review juga secara apik…
    izin copas bolehkah?
    salam kenal…
    terimakasih sebelumnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s