16
Aug
11

Rembulan Ungu-Halus meramu sejarah, kisah cinta, dan insight politik kekinian

Panjalu mendapat tugas rahasia dari Pangeran Pekik untuk pergi ke Banyuwangi dan menyerahkan surat yang tak kalah rahasia kepada Mangunjaya, Demang Banyuwangi. Di tengah hutan Mantingan, ia dicegat segerombolan orang bertopeng. Mereka menginginkan surat yang ia bawa. Meskipun luka parah, Panjalu berhasil lolos dan selamat sampai ke Banyuwangi atas bantuan Sekar Pandan dan kakeknya, Reksawana.

Ternyata surat yang dibawa Panjalu berisi permintaan Pangeran Pekik kepada Mangunjaya untuk merelakan putri remajanya yang cantik, Oyi, agar boleh diboyong ke Mataram. Pangeran Pekik menginginkan Oyi untuk dijadikan selir Amangkurat, penguasa Mataram. Selir kesayangan Amangkurat baru saja tewas, diduga karena diracun. Panjalu terlanjur jatuh cinta kepada Oyi. Begitu pula sebaliknya. Tetapi komitmen tingginya selaku prajurit Mataram membuatnya surut melanjutkan kisah cinta mereka.

Sementara itu, Amangkurat, sultan Mataram pengganti Sultan Agung Hanyakrakusuma, diceritakan sebagai penguasa yang lupa akan tugas utamanya sebagai pemimpin sekaligus pengayom warganya. Segala tindakannya berdasar kepentingan pribadi. Semua penilaiannya subjektif, tergantung kedekatan dengan pembawa pesan. Ia juga egois dan pemarah, sehingga tak ada yang berani mengkritik kebijakannya meskipun hal tersebut sering menyengsarakan rakyatnya. Istana baru di Plered serta pembuatan Segara Anakan yang dibangun menggunakan tenaga rakyat mengharuskan mereka meninggalkan kegiatan utamanya, bertani. Hal tersebut membuat rakyat menjadi kelaparan.

Ketidakbecusan Amangkurat mengurus kerajaan membuat beberapa pihak berkumpul dan mengatur taktik suksesi. Diwarnai dengan intrik-intrik di dalam keraton, adu domba, penjilat-penjilat bertebaran. Para abdi dalem kebingungan menentukan poros kesetiaan. Korban berjatuhan. Para pangeran saling bertentangan menunggu lengsernya sang penguasa.Tetapi ternyata para tetua memiliki plot makro yang rapi.

 

Tidak bisa bernapas. Ketegangan sepanjang 511 halaman yang terpaksa aku selesaikan dalam waktu cukup lama, satu minggu. Kisah yang dituturkan dan direka ulang dari Babad Tanah Jawi ini benar-benar fiksi yang menguras konsentrasi. Alurnya cepat, berputar, maju-mundur, dengan setting yang berpindah-pindah dan melibatkan banyak sekali tokoh dan nama. Hampir semua tokoh memiliki hidden agenda, sehingga sulit untuk menentukan siapakah yang menjadi protagonis murni di sini.

Cara bertuturnya mirip sekali dengan ketoprak. Setiap bab dibuat pendek, dengan judul khusus. Maka jangan heran jika pas membuka daftar isi kita melihat ada 98 bab di sana🙂 Aku suka dengan pemasukan istilah-istilah lokal untuk hal-hal yang memang umum sebutannya saat itu. Karena kesan fiksi sejarahnya jadi berasa banget. Jika perlu, penjelasannya langsung ditulis di samping istilah tersebut. Contoh: “Jika Ratu Malang nanti diangkat menjadi garwa prameswari atau istri utama, …” di hal. 156.

Tetapi trik tersebut terasa menjadi ganjelan saat tetap digunakan di dalam dialog, karena jadi terasa mengganggu kelancaran pembicaraan. Contoh: “… dijauhkan dari kekuasaan adigang-adigung-adiguna atau kejam, sombong, dan seraka yang telah membuat hidup rakyat sengsara….” hal. 34. Bukankah istilah berbahasa Jawa tidak perlu diterjemahkan saat yang melakukan percakapan adalah sesama orang Jawa? Soalnya kesannya si tokoh yang sedang berdialog jadi sotoy banget, merasa orang yang diajak ngomong perlu terjemahan. Mungkin akan lebih enak dibaca jika pas ada istilah lokal di dalam dialog, penerjemahan cukup di catatan kaki atau di glosarium ^_^

Untuk alur cerita, runut banget, lengkap banget. Meskipun loncat-loncat adegannya membuat ngos-ngosan yang baca. Apalagi dengan banyaknya tokoh yang muncul. Mulai dari tokoh asli Mataram, tokoh Banyuwangi, Madura, sampai ke Makassar. Bahkan nyaris terbaca kebanyakan tokoh. Membaca novel ini mengingatkanku berkali-kali dengan pengalaman jaman kecil dulu suka nonton ketoprak di TVRI Yogyakarta. Bayangkan saja, adegan abdi dalem pacaran pun ada :O)

Plot utamanya tidak bisa ditebak (kecuali kalau kamu memangs udah tahu jalannya Babad Tanah Jawi yang menjadi latar cerita). Bondan Nusantara bikin kita jadi bertanya-tanya motif di belakang tindakan setiap tokoh. Pemahaman politik penulis tajam banget. Ia bisa menyuguhkan kekacauan pengurusan kerajaan jaman dahulu dengan sentilan-sentilan yang (seharusnya) bisa bikin panas kuping penguasa jaman sekarang.

Nah, sayangnya di antara semua yang lengkap-lengkap tadi, aku nangkep ada beberapa hal penting yang tak terselesaikan di kisah ini:

1. Siapakah sebenarnya pembunuh Ratu Malang?

2. Siapakah Raja Mataram kemudian?

3. Peran Ki Ageng Jati Asih juga tidak mendapat highlight. Padahal ada bab yang mengambil lokasi di padepokannya, Tugu Pitu. Jadinya kerasa nanggung saja.

Sedang beberapa hal lain:

1. Begitu gampang kah orang jatuh cinta?

2. Begitu tak berharga kah nyawa orang?

3. Apakah memang sebegitu banyak jumlah tentara yang bisa dimiliki sebuah kerajaan di Jawa Tengah di abad 17, mengingat populasi penduduk baru meningkat tajam setelah abad 20?

 

Overall, very recommended untuk penyuka fiksi sejarah. Apalagi buatku yang punya kedekatan lokasi dengan beberapa setting: Kajoran, Makam Sunan Tembayat, Padepokan Tugu Pitu …). Bikin pengen napak tilas mencoba cari di mana Panjalu, Sekar Pandan, dkk pernah berdiri waktu itu ^_^

Buat kalian pencari ending … hmm, novel ini ambigu banget, tapi secara makro, happy ending. Jangan tanyakan ending untuk love stories-nya ya :O) (memang love stories, plural, karena yang cinta-cintaan di sini banyak banget).

 

Judul: REMBULAN UNGU

Pengarang: Bondan Nusantara

Editor: Faiz Ahsoul & Esti Budihabsari

Penerbit: Qanita-PT. Mizan Pustaka

ISBN: 978-602-8579-69-8

Soft cover

Halaman: 511 halaman

Terbit: Mei 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 65.000,-


6 Responses to “Rembulan Ungu-Halus meramu sejarah, kisah cinta, dan insight politik kekinian”


  1. 2 ahmad
    September 5, 2011 at 8:14 am

    Baca Gadis-gadis Amangkurat juga lah. Aspek historisnya lebih kuat.

    • September 6, 2011 at 12:45 am

      oke tengkiu. ntar lah, gampang. karena pd dsrnya genre seperti ini aku kurang menikmati. kalo kisah lokal sejarah diromankan jadinya buatku agak merusak nilai kehistorisan itu sendiri. jadinya dibacanya sebagai murni roman berlatar sejarah🙂

  2. 4 Itang Huteru
    December 11, 2011 at 11:41 am

    pengin baca novelnya segera ….sayang sekali di daerah ku buku itu belum ada ….

  3. 5 Bondan Nusantara
    December 21, 2011 at 5:02 pm

    Trims atas kritik dan resensinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s