05
Aug
11

(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) Hold Me Closer, Necromancer: Ngakak dari Awal sampai Akhir Baca Kisah Samhain si Necromancer Cemen

Jebol dari setahun kuliah, Sam yang berumur 19 tahun memasuki dunia kerja di restoran fast food. Bukan karir yang hebat, tetapi setidaknya ia punya cita-cita untuk bisa bertengger di posisi koki gorengan. Sayang, sahabatnya sejak kecil-Ramon-yang lebih dipercaya untuk posisi itu. Sam, harus berdiri di depan pelanggan sebagai kasir. Memang sih, apapun yang dilakukan Sam, apapun yang dijalani Sam, ia tak pernah sukses di sana. Selama ini ia mengira itu hanya karena ia pecundang asli. Ternyata kenyataannya jauh lebih dalem dari itu. Karena semua berkaitan dengan ritual yang dijalankan nyokapnya saat ia lahir. Tapi tentu saja Sam tidak tahu itu.

Kehebohan mulai terjadi saat Sam menyebabkan kerusakan kecil pada sebuah mobil yang parkir di belakang restoran. Kerusakan ini menyebabkan Sam menarik perhatian pemilik mobil yang ternyata seorang necromancer terhebat dan terjahat di wilayah itu, Douglas Montgomery.

Douglas sebel banget tahu ada necromancer lain yang berkeliaran di sono tanpa kedeteksi radarnya. Padahal aturan dunia supranatural cukup kuat: setiap ada kelahiran, perpindahan, atau apapun yang bisa memengaruhi peta kekuatan supranatural di tiap wilayah, harus ada pemberitahuan ke Dewan. Dan di kota itu, Douglas adalah ketua Dewan.

Mengapa Sam bisa tidak terdaftar, atau bahkan tidak menyadari kekuatannya? Kok kekuatanya bisa nggak kedeteksi Dewan sejak awal? Apa konsekuensi saat bakatnya-yang ia sendiri tidak sadari-ketahuan? Bagaimana Sam menghadapi situasi pelik yang melibatkan pembunuhan salah satu sahabatnya? Hanya seminggu waktu yang dimiliki Sam untuk mencari tahu tentang bakatnya sekaligus berusaha mencari jalan untuk mengakali Douglas.

Kehidupan Sam yang membosankan, dalam waktu seminggu berubah menjadi seru dan menegangkan. Yang tadinya cuma berkutat dengan hoki kentang dan kerja sebagai kasir di resto fast food, kemudian ia musti berurusan dengan mayat-mayat hidup. Bukan cuma jenis mayat hidup yang jalannya sempoyongan, tapi ini mayat-mayat yang bisa mencubit, menampar, memukul, mencekik. Sebut saja semua jenis siksaan deh.

Banyak joke segar yang membumbui novel. Jadi saat aku sudah pasrah ngira bakal dibawa ngebanyol sampai akhir, tiba-tiba Sam dan jalan cerita berubah jadi serius. Apalagi saat ia mendatangi rumah mantan bokapnya (hehehe, benernya sih bukan mantan. Tapi kalo seorang bokap cuma berandil jadi donor secara biologis untuk anaknya dan setelah itu lenyap dari hidup si anak, kayaknya istilah mantan bokap masih cocok ya?) dan bertemu dengan adik-adik tirinya yang ternyata berbakat necromancer seperti dirinya. Ia melihat keironisan situasi: dirinya (Sam) dan ibunya dibuang bokapnya karena mewarisi sisi necromancer dalam garis keturunan bokapnya.

Bokapnya lalu menikah lagi dengan perempuan yang sempat disebut Sam trophy wife karena menunjukkan bentuk ideal platonis seorang istri di Amerika (cantik, pirang, pintar masak, dll). Ternyata gen necromancer-nya sangat kuat, karena kedua adik tirinya juga memiliki bakat itu. Untungnya (atau sayangnya?) belum ketahuan. Jadi bokapnya bisa meneruskan perannya memiliki keluarga ideal yang bahagia. Dan Sam, agak sedih saat menyadari bahwa istri ayahnya mengira Sam adalah anak hasil selingkuhan ibunya dengan Nick adik ayahnya (hal yang diindikasikan si bokap sebagai penyebab perceraian mereka). Dari ingar-bingar kekonyolan Sam dan kawan-kawan, kita jadi dihentakkan ke fakta-fakta suram yang melingkupi sejarah kelahirannya.

Nah, tapi sebenarnya apa sih necromancer? Di salah satu situs internet yang aku temukan, necromancer diartikan sebagai manusia yang mempraktikkan ilmu tentang kematian, biasanya mengacu kepada pembangkitan mayat. Mereka menggunakan pengetahuan rahasianya untuk memanipulasi kekuatan kehidupan dan kematian. Jadi jelas ya, ini novel harusnya berkesan gotik banget. Keseraman jalan ceritanya mampu disamarkan si pengarang dengan dialog-dialog khas remaja bego🙂. Maka kesan seramnya tidak semencekam kayak saat kamu sedang baca Bram Stoker’s Dracula.

Karya Lish McBride ini menipu. Awalnya aku dibawa untuk jengkel dengan kehidupan Sam yang banyak kesandung-sandung. Nggak ada mulus-mulusnya. Mana sikapnya yang sembarangan bikin kita jadi ngecap dia cowok yang loser banget deh. Tapi lama-lama kita dibawa jadi maklum, hmm, ternyata semua itu karena mantra yak? Oke deh … (*sori, nggak berniat ngasih tau lebih lanjut. Takut bablas jadi spoiler. Hehehe).

Sam adalah jenis anak muda yang nggak menyadari kepahlawanannya hingga akhir cerita. Sehingga si pengarang dengan mudah bisa mengajak kita sebal dengan kebegoannya, gemes dengan kelambanannya, penasaran dengan tingkat intelejensinya, dan kemudian tada! Terkagum-kagum dengan keberuntungannya. Di novel ini kita memang tidak disuguhi kisah kepahlawanan seorang remaja yang memang sudah sejak awal disiapkan untuk menjadi ahli di bidangnya. Padahal dunia supranatural kan biasanya mengharuskan pelakunya menjalani pendidikan khusus untuk bisa bertahan di sana. Jadi kebayang kan, bagaimana gagapnya si Sam saat tiba-tiba terjerumus jadi necromancer dadakan dengan musuh seorang yang telah diakui hebat di bidang itu?

Sebagai tokoh, Sam juga menjadi semacam pembaharu di sisi protagonis genre fantasi *halah, istilahnya itu lho :O). Bayangkan saja, ia tidak menjalani pendidikan keilmuan di bidangnya seperti Harry Potter dkk atau Jace dkk di Mortal Instruments. Sam juga tidak berkesan seksi serta misterius dan menggoda seperti Patch di Hush, Hush atau sekali lagi Jace di Mortal Instruments. Cowok satu ini juga bukan ahli bela diri dengan atau tanpa alat seperti Aragorn. Ia juga bukan cowok tajir kayak si Damen-nya Evermore. Pokoknya Sam cemen abis.

Tapi hebatnya, meski cemen, untuk jatuh cinta kepada Sam gampang banget lho. Tutup mata dulu dari fakta bahwa ia drop out dari kampus hanya setahun setelah ia masuk, ia nggak pernah serius, ia kerja di resto fast food-tapi kerjaan seriusnya di sana cuma bercanda dengan teman-temannya. Nah, bagaimana caranya bisa jatuh cinta kalo kekurangannya sebegitu banyak? Aduh, jelas saja. Sam baik hati. Di luar kekonyolannya, ia setia kepada teman-temannya. Ia vegetarian (nah, berarti bisa dianggap bahwa ia memegang satu idealisme tertentu di otaknya). Di tengah cerita juga ada indikasi kalo Sam ganteng ^_^

Novel ini asik. Terjemahannya pas sehingga balutan kekonyolan yang  kayaknya diharapkan si pengarang menjadi bumbu dasar yang membedakan karyanya dengan novel-novel fantasi lain bisa terbaca jelas di sini. Yang sering bikin agak-agak bingung adalah typo. Munculnya sering. Bahkan sampai ke penulisan nama. Jadinya kadang dialog tertukar-tukar.

Gambar sampulnya juga pas. Meskipun berbeda dengan versi aslinya, tetapi versi Indonesia ini bisa menerjemahkan ke gaya yang sama dengan yang terbitan Amerika. Coba saja bandingkan:

Versi asli

Versi Indonesia:

Dan aku senang Atria nggak maksain bikin judul versi Indonesia. Karena kayaknya bakal susah bikin judul yang serima dengan kata necromancer di bahasa Indonesia. Takutnya jatuhnya malah jadi konyol dan nggak terbaca uara humornya seperti judul versi asli.

Nah, buat kalian yang suka novel-novel dengan sekuel bererot-erot, kayaknya bisa berharap banyak Lish McBride bakal nyambungin Hold Me Closer, Necromancer dengan serial setelahnya (Ini bukan info resmi, karena ternyata susah juga nyari data tentang karya Lish di internet).  Buktinya?

  1. Sam belum belajar necromancy dengan benar sampai akhir cerita.
  2. Jasad si musuh tidak ketemu.
  3. Ada binatang-binatang misterius yang sampai akhir cerita belum sempat dibahas tuntas.
  4. Ada Dewan yang belum banyak terceritakan sepak terjangnya.

Judul: HOLD ME CLOSER, NECROMANCER

Pengarang: Lish McBride

Penerbit: Atria

ISBN: 978-979-024-481-8

Soft cover

Halaman: 445 halaman

Terbit: Juni 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 55.000,-


0 Responses to “(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) Hold Me Closer, Necromancer: Ngakak dari Awal sampai Akhir Baca Kisah Samhain si Necromancer Cemen”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s