Archive for August, 2011

18
Aug
11

Waiting for You/Menantimu-Perpanjangan bacaan buat kalian penggemar karya Sarah Dessen

 

Setelah menghabiskan tahun ajaran kemarin berkubang dengan depresi tanpa sebab yang jelas, Marisa memutuskan sudah saatnya baginya dan sahabatnya, Sterling, untuk menikmati masa SMA seperti anak-anak seusia mereka dengan bergaul, punya pacar, dan terlibat banyak acara sosial.

 

Tetapi membuat resolusi ternyata lebih gampang daripada pelaksanaannya. Cowok tetangga yang ternyata menyukai, situasi harmonis rumah yang berubah total, adik yang selalu nyebelin, gebetan yang tiba-tiba balik naksir, sampai ke sahabat yang berbalik mendiamkannya membuat Marisa nyaris balik ke situasi depresi yang dulu lagi. Padahal ia sudah berjanji pada ibunya: boleh tidak minum obat, kecuali tanda-tanda depresi muncul kembali.

 

Tetapi di samping semua kekacauan, persahabatannya yang sempat retak dengan Nash Parker si cowok tetangga kembali erat. Ia juga berhasil mendapatkan Derek cowok yang jadi gebetannya selama ini. Bahkan, ada seorang cowok anonim yang melakukan siaran radio setiap malam. Ia bukan hanya menambah semangat Marisa dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya, tetapi juga hampir seluruh remaja di daerah tempat ia tinggal. Pokoknya cowok anonim bernama Dirk si Bengal itu tiba-tiba menjadi idola karena komentar-komentarnya yang tepat, tajam, bijak, dan mampu mengorek rahasia-rahasia sekolah yang selama ini tak seorang pun bisa mengakses.

 

Lalu bagaimana akhir kekacauan di dalam rumah Marisa? Bagaimana ia mengatasi depresinya? Bagaimana kelanjutan persahabatannya dengan Sterling yang retak? Mampukah ia mempertahankan Derek sebagai pacarnya? Bahagiakah ia akhirnya?

 

 

Waiting for You adalah novel YA yang sangat-sangat teenflicks. Sekarang kamu bisa dengan mudah menemukan pengarang bagus di genre ini macam Sarah Dessen, Meg Cabot, Carolyn Mackler, Melissa Kantor, Hailey Abbott, Cathy Cassidy, Ally Carter, Mariah Fredericks, Julie Anne Peters. Semua dengan kesamaan: bukan beraliran fantasi atau sci-fi, ber-setting SMA, masa kini. Nah, mulai saat ini aku resmi memasukkan Susane Colasanti ke deretan pengarang novel teens yang karyanya mampu menyentuh hati dengan cara mereka sendiri.

 

Aku suka novel ini. Meski mengusung genre yang sudah dibahas dan dikerjakan banyak pengarang, Susane Colasanti masih membawa kebaruan, menyuguhkan gak cuma cekikikan dan usaha mati-matian mengejar-ngejar cowok. Ia menyisipkan kedalaman berpikir seorang remaja dalam menghadapi masalah. Ia memberikan permasalahan yang realistis. Persahabatan, pacaran, perceraian, pertengkaran dengan saudara, kekecewaan kepada ortu. Semua muncul secara alami, tanpa kesan dipasang untuk menyesak-nyesaki novel.

 

Gaya menulis Susane Colasanti aku baca mirip sekali dengan Sarah Dessen. Lembut, girly, dan penuh pemikiran. Satu selingan di antara novel-novel remaja penuh haha-hihi yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Pengarang mampu menghadirkan kegugupan dan kegelisahan Marisa di sepanjang isi cerita. Novel ini juga tidak menyuguhkan happy ending yang meledak-ledak, tidak berkesan living happily ever after. Tetap sama dengan gaya Sarah Dessen.

 

Terjemahannya enak dibaca, pas dengan gaya dan kepribadian Marisa yang (rasanya) ingin dimunculkan si pengarang. Typo juga tidak terdeteksi radarku.

 

Sekarang cover. Gambar versi asli (Penguin inc.) memiliki kemiripan dengan cover bikinan Elex Media Komputindo. Keduanya mengambil setting tempat favorit tokoh-tokoh utama: dermaga pinggir sungai, dengan pemandangan air tenang dan daratan hijau di kejauhan. Bikin ingat sama setting Dawson’s Creek gak sih?

 

Tetapi gambar versi Indonesia justru lebih bisa menerjemahkan judul serta kepribadian marisa. Sosok cewek yang duduk sendirian di sana tampak kesepian, mencari tempat menyepi. Tetapi kepalanya yang agak ditelengkan ke kanan justru seakan-akan menunggu sesuatu (atau seseorang) datang.

 

Definitely a goodread guys. And as per your info: aku bisa menebak identitas Dirk si Bengal sebelum dibeberkan di ending. Bagaimana dengan kamu? 🙂

 

 

Judul: WAITING FOR YOU/Menantimu

Pengarang: Susane Colasanti

Penerjemah: Stephanie Yuanita

Penerbit: Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-0694-9

Soft cover

Halaman: 406 halaman

Terbit: 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 54.800,-

Cover versi Penguin Inc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

cover versi Elex Media Komputindo

 

 

 

 

 

17
Aug
11

Rembulan Ungu-Halus meramu sejarah, kisah cinta, dan insight politik kekinian

Rembulan Ungu-Halus meramu sejarah, kisah cinta, dan insight politik kekinian.

16
Aug
11

Rembulan Ungu-Halus meramu sejarah, kisah cinta, dan insight politik kekinian

Panjalu mendapat tugas rahasia dari Pangeran Pekik untuk pergi ke Banyuwangi dan menyerahkan surat yang tak kalah rahasia kepada Mangunjaya, Demang Banyuwangi. Di tengah hutan Mantingan, ia dicegat segerombolan orang bertopeng. Mereka menginginkan surat yang ia bawa. Meskipun luka parah, Panjalu berhasil lolos dan selamat sampai ke Banyuwangi atas bantuan Sekar Pandan dan kakeknya, Reksawana.

Ternyata surat yang dibawa Panjalu berisi permintaan Pangeran Pekik kepada Mangunjaya untuk merelakan putri remajanya yang cantik, Oyi, agar boleh diboyong ke Mataram. Pangeran Pekik menginginkan Oyi untuk dijadikan selir Amangkurat, penguasa Mataram. Selir kesayangan Amangkurat baru saja tewas, diduga karena diracun. Panjalu terlanjur jatuh cinta kepada Oyi. Begitu pula sebaliknya. Tetapi komitmen tingginya selaku prajurit Mataram membuatnya surut melanjutkan kisah cinta mereka.

Sementara itu, Amangkurat, sultan Mataram pengganti Sultan Agung Hanyakrakusuma, diceritakan sebagai penguasa yang lupa akan tugas utamanya sebagai pemimpin sekaligus pengayom warganya. Segala tindakannya berdasar kepentingan pribadi. Semua penilaiannya subjektif, tergantung kedekatan dengan pembawa pesan. Ia juga egois dan pemarah, sehingga tak ada yang berani mengkritik kebijakannya meskipun hal tersebut sering menyengsarakan rakyatnya. Istana baru di Plered serta pembuatan Segara Anakan yang dibangun menggunakan tenaga rakyat mengharuskan mereka meninggalkan kegiatan utamanya, bertani. Hal tersebut membuat rakyat menjadi kelaparan.

Ketidakbecusan Amangkurat mengurus kerajaan membuat beberapa pihak berkumpul dan mengatur taktik suksesi. Diwarnai dengan intrik-intrik di dalam keraton, adu domba, penjilat-penjilat bertebaran. Para abdi dalem kebingungan menentukan poros kesetiaan. Korban berjatuhan. Para pangeran saling bertentangan menunggu lengsernya sang penguasa.Tetapi ternyata para tetua memiliki plot makro yang rapi.

 

Tidak bisa bernapas. Ketegangan sepanjang 511 halaman yang terpaksa aku selesaikan dalam waktu cukup lama, satu minggu. Kisah yang dituturkan dan direka ulang dari Babad Tanah Jawi ini benar-benar fiksi yang menguras konsentrasi. Alurnya cepat, berputar, maju-mundur, dengan setting yang berpindah-pindah dan melibatkan banyak sekali tokoh dan nama. Hampir semua tokoh memiliki hidden agenda, sehingga sulit untuk menentukan siapakah yang menjadi protagonis murni di sini.

Cara bertuturnya mirip sekali dengan ketoprak. Setiap bab dibuat pendek, dengan judul khusus. Maka jangan heran jika pas membuka daftar isi kita melihat ada 98 bab di sana 🙂 Aku suka dengan pemasukan istilah-istilah lokal untuk hal-hal yang memang umum sebutannya saat itu. Karena kesan fiksi sejarahnya jadi berasa banget. Jika perlu, penjelasannya langsung ditulis di samping istilah tersebut. Contoh: “Jika Ratu Malang nanti diangkat menjadi garwa prameswari atau istri utama, …” di hal. 156.

Tetapi trik tersebut terasa menjadi ganjelan saat tetap digunakan di dalam dialog, karena jadi terasa mengganggu kelancaran pembicaraan. Contoh: “… dijauhkan dari kekuasaan adigang-adigung-adiguna atau kejam, sombong, dan seraka yang telah membuat hidup rakyat sengsara….” hal. 34. Bukankah istilah berbahasa Jawa tidak perlu diterjemahkan saat yang melakukan percakapan adalah sesama orang Jawa? Soalnya kesannya si tokoh yang sedang berdialog jadi sotoy banget, merasa orang yang diajak ngomong perlu terjemahan. Mungkin akan lebih enak dibaca jika pas ada istilah lokal di dalam dialog, penerjemahan cukup di catatan kaki atau di glosarium ^_^

Untuk alur cerita, runut banget, lengkap banget. Meskipun loncat-loncat adegannya membuat ngos-ngosan yang baca. Apalagi dengan banyaknya tokoh yang muncul. Mulai dari tokoh asli Mataram, tokoh Banyuwangi, Madura, sampai ke Makassar. Bahkan nyaris terbaca kebanyakan tokoh. Membaca novel ini mengingatkanku berkali-kali dengan pengalaman jaman kecil dulu suka nonton ketoprak di TVRI Yogyakarta. Bayangkan saja, adegan abdi dalem pacaran pun ada :O)

Plot utamanya tidak bisa ditebak (kecuali kalau kamu memangs udah tahu jalannya Babad Tanah Jawi yang menjadi latar cerita). Bondan Nusantara bikin kita jadi bertanya-tanya motif di belakang tindakan setiap tokoh. Pemahaman politik penulis tajam banget. Ia bisa menyuguhkan kekacauan pengurusan kerajaan jaman dahulu dengan sentilan-sentilan yang (seharusnya) bisa bikin panas kuping penguasa jaman sekarang.

Nah, sayangnya di antara semua yang lengkap-lengkap tadi, aku nangkep ada beberapa hal penting yang tak terselesaikan di kisah ini:

1. Siapakah sebenarnya pembunuh Ratu Malang?

2. Siapakah Raja Mataram kemudian?

3. Peran Ki Ageng Jati Asih juga tidak mendapat highlight. Padahal ada bab yang mengambil lokasi di padepokannya, Tugu Pitu. Jadinya kerasa nanggung saja.

Sedang beberapa hal lain:

1. Begitu gampang kah orang jatuh cinta?

2. Begitu tak berharga kah nyawa orang?

3. Apakah memang sebegitu banyak jumlah tentara yang bisa dimiliki sebuah kerajaan di Jawa Tengah di abad 17, mengingat populasi penduduk baru meningkat tajam setelah abad 20?

 

Overall, very recommended untuk penyuka fiksi sejarah. Apalagi buatku yang punya kedekatan lokasi dengan beberapa setting: Kajoran, Makam Sunan Tembayat, Padepokan Tugu Pitu …). Bikin pengen napak tilas mencoba cari di mana Panjalu, Sekar Pandan, dkk pernah berdiri waktu itu ^_^

Buat kalian pencari ending … hmm, novel ini ambigu banget, tapi secara makro, happy ending. Jangan tanyakan ending untuk love stories-nya ya :O) (memang love stories, plural, karena yang cinta-cintaan di sini banyak banget).

 

Judul: REMBULAN UNGU

Pengarang: Bondan Nusantara

Editor: Faiz Ahsoul & Esti Budihabsari

Penerbit: Qanita-PT. Mizan Pustaka

ISBN: 978-602-8579-69-8

Soft cover

Halaman: 511 halaman

Terbit: Mei 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 65.000,-

08
Aug
11

The Young Samurai-The Way of the Warrior: Breathtaking Epic yang Dialami Abege Inggris dari Era Jacobean

Sudah hampir dua tahun ia menjadi awak kapal Alexandria yang dinahkodai ayahnya, dengan misi menemukan Jepang. Rute menuju kepulauan yang menjanjikan rempah-rempah itu selama ini hanya diketahui pelaut Spanyol dan Portugis.

Di tengah lautan, Alexandria terjebak badai hebat yang mengakibatkan kebocoran lambung kapal. Untung mereka berhasil berlabuh di sebuah teluk sunyi di Toba untuk perbaikan, dan kemudian berencana meneruskan perjalanan ke Nagasaki.

Malam menjelang keberangkatan setelah kapal berhasil diperbaiki, Alexandria mendapat serangan. Satu persatu awak kapal tewas tanpa ketahuan dari arah mana senjata penyerang berasal. Akhirnya anak kecil berumur 12 tahun itu harus menyaksikan ayahnya meninggal di tangan sosok bertopeng dengan mata satu yang berwarna hijau. Sosok itu ternyata mengincar rutter, panduan navigasi berharga milik sang nahkoda. Rutter dan si bocah terselamatkan hanya karena keberhasilan salah satu awak kapal meledakkan gudang amunisi sebelum ia sendiri tewas.

Jack Fletcher, si bocah, jadi satu-satunya awak kapal yang selamat. Keberanian dan kebaikan hatinya membuatnya diangkat anak oleh samurai hebat yang menyelamatkannya, Masamoto Takeshi. Bersama dengan Yamato anak Masamoto dan Akiko keponakan samurai tersebut, mereka berangkat ke Kyoto menimba ilmu samurai di Niten Ichi Ryu, ‘Sekolah Aliran Utama Dua Surga’ yang dikelola Masamoto.

Niten Ichi Ryu sangat disiplin dalam mengajar siswa-siswanya. Ilmu berkuda, memanah, bela diri tangan kosong, bela diri dengan senjata, dan meditasi dalah beberapa ilmu penting yang mereka pelajari. Di sekolah ini pula Jack mendapat seorang musuh bebuyutan, Kazuki. Kazuki dan kroni-kroninya bahkan berhasil kembali menghasut Yamato untuk membenci Jack. Padahal sebelumnya Yamato pernah memiliki perasaan benci yang kemudian ia pupus karena hutang budinya kepada Jack.

Kebencian Kazuki ini membuat Niten Ichi Ryu harus mempertahankan kehormatan sekolah dan bertanding taryu-jiai dengan sekolah saingan, Hagyu.

Di sela semua latihan berat, permusuhan, persahabatan, kebencian, dan rasa rindu kampung halaman yang dialami Jack, ia masih dihantui rasa takut bahwa ninja pembunuh ayahnya, Dokugan Ryu atau Si Mata Naga (yang ternyata juga merupakan ninja pembunuh anak tertua Masamoto) akan kembali untuk mendapatkan rutter yang masih ada di tangannya.

Novel ini hadiah hiburan dari lomba resensi The Last Olympians yang diadakan Mizan Publishing tahun lalu beserta empat novel lain. Ya ampuuuun, baru dibaca sekarang? Hihihi. Soalnya di antara saat itu dengan sekarang terlalu banyak novel bagus yang bermunculan. Jadinya kelupaan. Dan ternyata begitu aku baca malah nggak bisa naruh sampai kelar satu jilid (sekarang sedang nyambung baca book-2).

Formula novel ini sih mirip-mirip dengan segala novel, film, atau cerita laga. Sang protagonis belajar ilmu beladiri dan mengalami pelecehan karena kondisinya selama masa belajar. Si Jack, dia dilecehkan teman-teman seperguruannya karena ia seorang gaijin (orang asing/orang barbar) di mata orang Jepang. Posisinya sebagai anak angkat Masamoto tidak menolongnya di pergaulan. Hanya Akiko yang tulus menjadi temannya. Setelah berkali-kali kalah dan membuat kesalahan, akhirnya Jack dihadapkan pada satu ujian untuk membuktikan keberanian, keahlian, kepandaian, dan kemudian kebaikhatiannya.

Tetapi mungkin karena masih berformat novel, belum film, dan tidak ada budaya pop yang menjadi latar belakang (karena setting yang digunakan Chris Bradford adalah Jepang di abad 17) membuat novel ini bisa mengeluarkan aura sastra di mataku. Kemampuan Chris Bradford meramu cerita laga dengan bumbu budaya Jepang yang kental terbaca syahdu (wueeek, bahasanya!).

Meski alurnya pelan, jangan harap novel ini akan membosankan. Serbuan istilah-istilah berbahasa Jepang membuatku tidak sempat menguap. Novel yang sudah meraih beberapa penghargaan bergengsi ini memang pantas dikoleksi untuk konsumsi keluarga. Mengapa?

  1. Terjemahannya bagus. Membuat jalan ceritanya mengalir lancar bahkan bagi anak yang masih menjelang remaja.
  2. Jalan ceritanya tidak banyak berlompatan, memudahkan.
  3. Semangat pantang menyerah yang dimiliki Jack terasa menular. Aku yang baca saja langsung ngerasa heroik banget begitu kelar satu buku ^_^
  4. Tidak ada adegan seks, tidak ada flirting. Hanya rasa suka karena kagum yang muncul. Nggak tau deh di sekuel-sekuel selanjutnya.
  5. Banyak filosofi yang bisa kita petik dan renungkan sambil menikmati asiknya novel ini.

Untuk cover-nya, predictable deh sebagai cerita dengan genre ini. Tapi nggak bisa dikomplain karena memang seperti itu cover yang digunakan di edisi aslinya (beda coloring doang). Komplainku hanya:

  1. Kemiripan book-1 dengan book-2 yang bikin aku sering tertukar-tukar saat ngambil :).
  2. Dan judulnya itu lho … agak terlalu klise. Kita sering menemukan kata-kata: samurai dan warrior di film-film laga tahun 80-an. Tapi gabungan keduanya? Hadoooh.
  3. Yang terakhir nih: (aduh aduh aduh maaf) Kok bau kertasnya gak enak ya? Agak-agak kecut gitu. Tidak sekualitas novel-novel terbitan Hikmah/Mizan lainnya.

Judul: YOUNG SAMURAI-THE WAY OF THE WARRIOR

Pengarang: Chris Bradford

Penerbit: Hikmah

ISBN: 978-979-19238-6-6

Soft cover

Halaman: 474 halaman

Terbit: Maret 2009 (cetakan I)

Harga: Rp 59.500,-

07
Aug
11

Fallen-Terkutuk: Satu lagi gothic romance mewarnai genre young adult

 

Dari awalnya bersekolah di sebuah SMA swasta top di kotanya, kehidupan Luce berubah drastis saat ia harus dikirim ke Sekolah Anak Nakal Berpengawasan Khusus Sword & Cross. Kejadian ini bermula dari sebuah kecelakaan aneh yang diragukan keinosenannya oleh semua pihak termasuk teman-teman sekolahnya, hakim, bahkan orangtuanya. Sebuah kebakaran pondok yang menyebabkan kematian Trevor, atlet sekolah yang juga merupakan pacar Luce.

Sword & Cross memang bukan tempat yang nyaman mengingat fungsinya adalah semacam sekolah rehabilitasi remaja bermasalah. Maka nggak heran kalo tempat itu dilengkapi dengan berbagai jenis tingkatan hukuman, kamera pengawas, serta teralis besi dan kawat duri untuk menjaga penghuninya dari kenyamanan layaknya dunia luar.

Setelah merasa terbuang dari dunia nyamannya, Luce ternyata juga tidak merasakan penerimaan di lingkungan baru. Semua temannya berdandan dan bertingkah seperti preman. Ada Molly yang mengguyurnya dengan daging giling di tengah kafetaria, ada Daniel yang mengacungkan jari tengah dari kejauhan di awal pertemuan, ada Cam yang terang-terangan merayunya, ada Gabbe yang berpenampilan seperti layaknya cheerleader si sekolah umum biasa, ada pula Arriane yang tampak agak sinting sejak pertemuan pertama.

Hal tersebut belum seberapa. Karena ternyata Luce juga masih dikuntit bayangan-bayangan hitam yang melata di udara atau di tanah. Hal menyeramkan yang sudah ia alami sebagai menu harian selama bertahun-tahun. Bayangan-bayangan ini juga muncul menjelang kematian Trevor, dan semakin membuat Luce khawatir dengan kehadirannya yang bertambah mengganggu.

Sejak mendapat acungan jari tengah dari Daniel, Luce malah jadi penasaran pada cowok tampan pendiam itu. Sikap-sikap Daniel Grigori sering bertolak belakang dari waktu ke waktu. Biasanya ia jahat dan jutek, tapi kadang-kadang ia memberi sedikit perhatian yang membuat Luce semakin penasaran dengan perasaan deja vu yang ia rasakan terhadap Daniel.

Sementara Daniel sering bersikap menyebalkan, Cam, cowok ganteng lain di sekolah, malah menampakkan sikap sebaliknya. Ia memberi perhatian dan hadiah kepada Luce, membuat gadis itu terombang-ambing dengan rasa simpati dan hangat yang ditawarkan Cam.

Tetapi ada banyak keanehan yang melingkupi Sword & Cross yang akhirnya membuat Luce merasa bahwa bahaya masih membayanginya. Bisakah ia lolos dari kematian kali ini? Siapakah sebenarnya Daniel? Apakah cowok itu berteman atau malah bermusuhan dengan Cam? Mengapa teman-teman sekolahnya menampakkan gejala dan sikap ganjil? Bagaimana dengan Miss Sophia guru agama di sana, mengapa ia tampak tahu banyak hal tentang Daniel?

Melihat gambar sampulnya dan membaca judulnya, langsung mengingatkanku kepada band beraliran Gothic Metal terkenal yang berasal dari Arkansas Amerika, Evanescence. Kalian pasti ingat lagu mereka yang sempat jadi super hit dan diaransemen ulang oleh musisi-musisi lain ke berbagai jenis aliran musik, Fallen. Merembet dari judul yang sama, aura gelap yang melingkupi video clip Evanescence mirip dengan kegelapan yang melatarbelakangi setting novel ini. Belum lagi kostum yang dikenakan Amy Lee si vokalis. Sealiran banget dengan pakaian yang dikenakan cewek di cover novel Fallen ini.

Gambar sampulnya super keren. Persis sih dengan cover versi Amerikanya. Ekspresi si cewek sangat persis dalam melukiskan apa yang dirasakan Luce di sepanjang cerita. Didominasi warna gelap, cewek berbaju hitam ini berdiri di tengah hutan dengan selubung kabut dan burung kondor di latar belakangnya. Spooky.

Terjemahan novel ini enak dibaca dan dicerna. Tanpa typo yang terdeteksi, membuat pembacaan jadi lancar sampai ke akhir halaman.

Saat bertutur, Lauren Kate juga berhasil menjaga kemuraman sampai ke akhir cerita. Semua deskripsi di novel mengenai situasi dan lokasi menambah keseraman yang dialami Luce. Tapi sayang aku kurang mendapat kepribadian yang menarik dari si tokoh utama.

Luce Price sebagai protagonis cerita hanya tergambar sebagai cewek cengeng yang selalu perlu ditolong orang lain di semua situasi. Ia cuma korban tanpa bisa menunjukkan sikap mandiri dan kemauan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Luce juga terlalu lama digambarkan sebagai cewek yang perhatiannya cuma ke sikap misterius Daniel. Bikin gemes pengen nampar deh. Di mana gengsi dan jual mahalmu, Sista? 😦

Penggambaran Daniel Grigori dan Cameron Briel juga agak-agak terlalu klise. Memang sih, kita bakal mengharap cowok cakep memperebutkan si cewek tokoh sentral. Tapi sepak terjang Cam dan cara Luce bersikap terhadap Daniel rasanya bisa kita temui dengan gampang di novel-novel lain sebelumnya. Jadi dari sisi chemistry antara masing-masing tokoh, aku tidak menemukan hal baru.

Inti ceritanya juga bukan hal baru. Tentang fallen angels dan perang antara kebaikan versus keburukan. Bukan tema yang tidak menarik, karena sampai sekarang para penggemar fallen angels masih bertebaran di toko-toko buku (termasuk aku). Sayangnya kok aku nggak menangkap inti yang dipertentangkan di sini ya? Memang sih ada indikasi kalo di sekuel bakal ada penjelasan lebih lanjut. Tapi mbok ya setidaknya ada sedikit penjelasan tentang sedikit hal. Jangan taruh penasaran di semua sudut. Karena jadinya aku ngerasa tidak membaca satu pun pencerahan dari permasalahan di awal cerita. Hal clear yang aku tangkap cuma akhirnya Luce bisa jadian dengan salah satu tokoh. Tapi mengapa Luce bisa menjadi tokoh sentral cerita, mengapa bayangan-bayangan selalu mengikutinya dan semakin menggila menjelang kejadian menyeramkan terjadi, mengapa Luce harus mati di usia 17, mengapa ada kelompok-kelompok fallen angels, sebenarnya mengapa mereka bertentangan di bumi, dll dll tidak ada penjelasannya.

Yah, untuk penggemar setia fantasy fiction, sekuel novel ini masih pantas ditunggu. Setidaknya meski ada beberapa kekecewaan, aku masih punya harapan ceritanya bakal berkembang menjadi lebih seru di buku berikutnya. Dengan catatan si pengarang nanti nggak terlalu sibuk menggambarkan sesi pacaran Luce dan pacar barunya lho ya. Sayang banget keseraman yang berhasil dijaga dari awal hingga akhir cerita kalo harus melempem ke sekedar dongeng cinta berbalut adegan tawuran antar malaikat buangan.

Judul: FALLEN/TERKUTUK

Pengarang: Lauren Kate

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-7253-6

Soft cover

Halaman: 440 halaman

Terbit: Juli 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 60.000,-

05
Aug
11

(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) Hold Me Closer, Necromancer: Ngakak dari Awal sampai Akhir Baca Kisah Samhain si Necromancer Cemen

Jebol dari setahun kuliah, Sam yang berumur 19 tahun memasuki dunia kerja di restoran fast food. Bukan karir yang hebat, tetapi setidaknya ia punya cita-cita untuk bisa bertengger di posisi koki gorengan. Sayang, sahabatnya sejak kecil-Ramon-yang lebih dipercaya untuk posisi itu. Sam, harus berdiri di depan pelanggan sebagai kasir. Memang sih, apapun yang dilakukan Sam, apapun yang dijalani Sam, ia tak pernah sukses di sana. Selama ini ia mengira itu hanya karena ia pecundang asli. Ternyata kenyataannya jauh lebih dalem dari itu. Karena semua berkaitan dengan ritual yang dijalankan nyokapnya saat ia lahir. Tapi tentu saja Sam tidak tahu itu.

Kehebohan mulai terjadi saat Sam menyebabkan kerusakan kecil pada sebuah mobil yang parkir di belakang restoran. Kerusakan ini menyebabkan Sam menarik perhatian pemilik mobil yang ternyata seorang necromancer terhebat dan terjahat di wilayah itu, Douglas Montgomery.

Douglas sebel banget tahu ada necromancer lain yang berkeliaran di sono tanpa kedeteksi radarnya. Padahal aturan dunia supranatural cukup kuat: setiap ada kelahiran, perpindahan, atau apapun yang bisa memengaruhi peta kekuatan supranatural di tiap wilayah, harus ada pemberitahuan ke Dewan. Dan di kota itu, Douglas adalah ketua Dewan.

Mengapa Sam bisa tidak terdaftar, atau bahkan tidak menyadari kekuatannya? Kok kekuatanya bisa nggak kedeteksi Dewan sejak awal? Apa konsekuensi saat bakatnya-yang ia sendiri tidak sadari-ketahuan? Bagaimana Sam menghadapi situasi pelik yang melibatkan pembunuhan salah satu sahabatnya? Hanya seminggu waktu yang dimiliki Sam untuk mencari tahu tentang bakatnya sekaligus berusaha mencari jalan untuk mengakali Douglas.

Kehidupan Sam yang membosankan, dalam waktu seminggu berubah menjadi seru dan menegangkan. Yang tadinya cuma berkutat dengan hoki kentang dan kerja sebagai kasir di resto fast food, kemudian ia musti berurusan dengan mayat-mayat hidup. Bukan cuma jenis mayat hidup yang jalannya sempoyongan, tapi ini mayat-mayat yang bisa mencubit, menampar, memukul, mencekik. Sebut saja semua jenis siksaan deh.

Banyak joke segar yang membumbui novel. Jadi saat aku sudah pasrah ngira bakal dibawa ngebanyol sampai akhir, tiba-tiba Sam dan jalan cerita berubah jadi serius. Apalagi saat ia mendatangi rumah mantan bokapnya (hehehe, benernya sih bukan mantan. Tapi kalo seorang bokap cuma berandil jadi donor secara biologis untuk anaknya dan setelah itu lenyap dari hidup si anak, kayaknya istilah mantan bokap masih cocok ya?) dan bertemu dengan adik-adik tirinya yang ternyata berbakat necromancer seperti dirinya. Ia melihat keironisan situasi: dirinya (Sam) dan ibunya dibuang bokapnya karena mewarisi sisi necromancer dalam garis keturunan bokapnya.

Bokapnya lalu menikah lagi dengan perempuan yang sempat disebut Sam trophy wife karena menunjukkan bentuk ideal platonis seorang istri di Amerika (cantik, pirang, pintar masak, dll). Ternyata gen necromancer-nya sangat kuat, karena kedua adik tirinya juga memiliki bakat itu. Untungnya (atau sayangnya?) belum ketahuan. Jadi bokapnya bisa meneruskan perannya memiliki keluarga ideal yang bahagia. Dan Sam, agak sedih saat menyadari bahwa istri ayahnya mengira Sam adalah anak hasil selingkuhan ibunya dengan Nick adik ayahnya (hal yang diindikasikan si bokap sebagai penyebab perceraian mereka). Dari ingar-bingar kekonyolan Sam dan kawan-kawan, kita jadi dihentakkan ke fakta-fakta suram yang melingkupi sejarah kelahirannya.

Nah, tapi sebenarnya apa sih necromancer? Di salah satu situs internet yang aku temukan, necromancer diartikan sebagai manusia yang mempraktikkan ilmu tentang kematian, biasanya mengacu kepada pembangkitan mayat. Mereka menggunakan pengetahuan rahasianya untuk memanipulasi kekuatan kehidupan dan kematian. Jadi jelas ya, ini novel harusnya berkesan gotik banget. Keseraman jalan ceritanya mampu disamarkan si pengarang dengan dialog-dialog khas remaja bego :). Maka kesan seramnya tidak semencekam kayak saat kamu sedang baca Bram Stoker’s Dracula.

Karya Lish McBride ini menipu. Awalnya aku dibawa untuk jengkel dengan kehidupan Sam yang banyak kesandung-sandung. Nggak ada mulus-mulusnya. Mana sikapnya yang sembarangan bikin kita jadi ngecap dia cowok yang loser banget deh. Tapi lama-lama kita dibawa jadi maklum, hmm, ternyata semua itu karena mantra yak? Oke deh … (*sori, nggak berniat ngasih tau lebih lanjut. Takut bablas jadi spoiler. Hehehe).

Sam adalah jenis anak muda yang nggak menyadari kepahlawanannya hingga akhir cerita. Sehingga si pengarang dengan mudah bisa mengajak kita sebal dengan kebegoannya, gemes dengan kelambanannya, penasaran dengan tingkat intelejensinya, dan kemudian tada! Terkagum-kagum dengan keberuntungannya. Di novel ini kita memang tidak disuguhi kisah kepahlawanan seorang remaja yang memang sudah sejak awal disiapkan untuk menjadi ahli di bidangnya. Padahal dunia supranatural kan biasanya mengharuskan pelakunya menjalani pendidikan khusus untuk bisa bertahan di sana. Jadi kebayang kan, bagaimana gagapnya si Sam saat tiba-tiba terjerumus jadi necromancer dadakan dengan musuh seorang yang telah diakui hebat di bidang itu?

Sebagai tokoh, Sam juga menjadi semacam pembaharu di sisi protagonis genre fantasi *halah, istilahnya itu lho :O). Bayangkan saja, ia tidak menjalani pendidikan keilmuan di bidangnya seperti Harry Potter dkk atau Jace dkk di Mortal Instruments. Sam juga tidak berkesan seksi serta misterius dan menggoda seperti Patch di Hush, Hush atau sekali lagi Jace di Mortal Instruments. Cowok satu ini juga bukan ahli bela diri dengan atau tanpa alat seperti Aragorn. Ia juga bukan cowok tajir kayak si Damen-nya Evermore. Pokoknya Sam cemen abis.

Tapi hebatnya, meski cemen, untuk jatuh cinta kepada Sam gampang banget lho. Tutup mata dulu dari fakta bahwa ia drop out dari kampus hanya setahun setelah ia masuk, ia nggak pernah serius, ia kerja di resto fast food-tapi kerjaan seriusnya di sana cuma bercanda dengan teman-temannya. Nah, bagaimana caranya bisa jatuh cinta kalo kekurangannya sebegitu banyak? Aduh, jelas saja. Sam baik hati. Di luar kekonyolannya, ia setia kepada teman-temannya. Ia vegetarian (nah, berarti bisa dianggap bahwa ia memegang satu idealisme tertentu di otaknya). Di tengah cerita juga ada indikasi kalo Sam ganteng ^_^

Novel ini asik. Terjemahannya pas sehingga balutan kekonyolan yang  kayaknya diharapkan si pengarang menjadi bumbu dasar yang membedakan karyanya dengan novel-novel fantasi lain bisa terbaca jelas di sini. Yang sering bikin agak-agak bingung adalah typo. Munculnya sering. Bahkan sampai ke penulisan nama. Jadinya kadang dialog tertukar-tukar.

Gambar sampulnya juga pas. Meskipun berbeda dengan versi aslinya, tetapi versi Indonesia ini bisa menerjemahkan ke gaya yang sama dengan yang terbitan Amerika. Coba saja bandingkan:

Versi asli

Versi Indonesia:

Dan aku senang Atria nggak maksain bikin judul versi Indonesia. Karena kayaknya bakal susah bikin judul yang serima dengan kata necromancer di bahasa Indonesia. Takutnya jatuhnya malah jadi konyol dan nggak terbaca uara humornya seperti judul versi asli.

Nah, buat kalian yang suka novel-novel dengan sekuel bererot-erot, kayaknya bisa berharap banyak Lish McBride bakal nyambungin Hold Me Closer, Necromancer dengan serial setelahnya (Ini bukan info resmi, karena ternyata susah juga nyari data tentang karya Lish di internet).  Buktinya?

  1. Sam belum belajar necromancy dengan benar sampai akhir cerita.
  2. Jasad si musuh tidak ketemu.
  3. Ada binatang-binatang misterius yang sampai akhir cerita belum sempat dibahas tuntas.
  4. Ada Dewan yang belum banyak terceritakan sepak terjangnya.

Judul: HOLD ME CLOSER, NECROMANCER

Pengarang: Lish McBride

Penerbit: Atria

ISBN: 978-979-024-481-8

Soft cover

Halaman: 445 halaman

Terbit: Juni 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 55.000,-




%d bloggers like this: