26
Jul
11

Kupu-kupu Pembunuh Naga-Serasa nonton film laga di lembar-lembar kertas. Hanya jauh lebih dalem …

Setiawan Chandra, mantan napi karena kasus perampokan toko mas, menyusuri jalanan Jakarta untuk mengumpulkan anak buahnya di penjara dulu: Slamet Botak, Farhan Kumis, Boni Gendut, dan Dika Dalang. Ia bermaksud mengajak mereka bergabung bekerja dengannya menjadi tim keamanan seorang pengusaha besar.

Maria Regina Pingkan Bramantyo sedang menyetir Honda Jazz biru metaliknya saat tiba-tiba perempuan yang mengendarai sepeda motor bebek matik di depannya mengerem karena menghindari dua ekor kucing yang berkejaran. Meski sudah menginjak rem dengan sigap, Pingkan-nama panggilan gadis itu-akhirnya tetap menyerempet perempuan pengendara sepeda motor dan membuatnya jatuh tertimpa kendaraannya.

Muhammad Zaki Abdurrahman, biasa dipanggil Kiki oleh keluarganya, tetapi populer dengan nama Jack di kalangan teman-temannya. Pemuda campuran Jawa-Betawi yang sholeh ini bekerja di toko komputer pamannya karena memang sedang cuti kuliah. Ia ketambahan tugas menggantikan bapaknya yang tukang ojek untuk mengantar dan jemput langganannya kuliah.

Nasib, beban ekonomi, dan bela diri mempertemukan tiga tokoh yang datang dari latar belakang berbeda ini dalam jalinan cerita yang sarat adu jotos, tendang, dan gebuk, dengan balutan budaya Betawi yang lumayan kental.

Pingkan adalah langganan ojek Pak Joko ayah Jack. Akhirnya Jack yang ketiban tugas mengantar-jemput gadis itu. Hubungan profesional (hehehe) ini jadinya tidak murni karena keduanya menyimpan rasa kagum yang saling berbalas. Meskipun sama-sama berusaha mengerem perasaan, rasa itu tetap tumbuh subur.

Berkali-kali Jack dan Pingkan harus saling bantu mengerahkan keahlian bela diri mereka karena serangan preman dan tukang pukul. Adu pukul dan tebasan kaki mewarnai hampir setiap interaksi mereka berdua. Adegan laga seperti ini juga yang mempertemukan mereka dengan Chen (nama panggilan Setiawan Chandra). Mereka berada di sisi yang berlainan di cerita ini. Chen, adalah tukang pukul laki-laki yang ingin membalas dendam kepada ayah Pingkan.

Musuh Pingkan dan Jack bukan hanya Chen dan gerombolannya saja. Masih ada Frida sang preman cewek kampus. Ia dan gengnya mengeroyok sahabat Pingkan. Ada juga Aji Pelor, preman kampung dan mantan sahabat Jack. Ia jengkel kepada Jack karena sudah beberapa kali mengalahkannya di masa lalu. Kejengkelannya bertambah nyata saat tahu Jack dekat dengan Pingkan yang ia anggap menabrak warga kampungnya. Deretan musuh tidak berhenti di situ. Masih ada Andre, mantan pacar Pingkan yang tidak rela cewek pujaannya dekat dengan Jack. Belum lagi orang-orang yang kurang suka dengan hubungan mereka tanpa melibatkan adu pukul macam Bu Vita ibu Pingkan, Bu Helen ibu Andre, Lela pacar Jack, dll.

Aku kurang suka film laga macam film-film yang dibintangi Mark Dacascos, Jean-Claude Van Damme, Eric Roberts, Steven Seagal, dll. Habis plotnya selalu sama. Bintang-bintang itu selalu jadi protagonis yang membela kaum lemah dan akhirnya terlibat di dalam intrik berkepanjangan (atau bisa juga diganti dengan skenario balas dendam). Biasanya mereka adalah para tokoh yang baik hati, sayang anak kecil dan kaum manula, dan sayang cewek cantik😛 Trus habis itu saat harus bertanding dengan musuh (di ring ataupun di jalanan) mereka pasti menang lawan para kroco, tapi lalu babak-belur saat menghadapi bos atau jawara yang sesungguhnya. Dan di saat kritis atau ronde terakhir, saat energi sudah terkuras dan darah sudah berleleran, tiba-tiba situasi terbalik sehingga mereka bisa mengalahkan sang lawan dan menjadi jagoan di akhir cerita. Sumpah, klise banget.

Secara alur, Jack sering menghadapi situasi yang sama. Menang bentar, lalu kalah sampai sempoyongan, tetapi akhirnya mampu mengalahkan si lawan di akhir pertandingan/perkelahian. Tetapi kenapa ya aku tidak melepeh cerita ini dari awal baca adegan tempurnya?

Bung Kelinci memiliki chemistry dengan cerita laga. Itu kesimpulanku. Detail yang ia sampaikan mampu melenakanku hingga lupa untuk merasa tidak suka dengan adegan tendang dan tampar. Pengetahuannya akan martial arts patut mendapat jempol banyak (aku pinjam jempol-jempol teman di facebook dulu deh).

Kedetailan novel ini tidak cukup hanya di adegan tempur saja. Semua lokasi dan tokoh juga muncul deskriptif. Rasanya seperti membaca skrip film. Menyenangkan, meski kadang aku agak bosan dengan berkali-kalinya muncul pelukisan Jack yang super tampan dan Pingkan yang cuantik seperti model (dasar sirik saja kali yak? Hihihi).

Gaya bahasanya santun, lincah. Banyak memberiku tambahan pengetahuan agama secara tak sengaja. Contohnya istilah zholim. Selama ini istilah tersebut aku ketahui hanya bermakna “kejam”. Tetapi Bung Kelinci membawa zholim ke artian lain, yaitu “berlebihan”. Jalan ceritanya juga agak mengandung dakwah agama, tetapi tidak ada kesan menggurui. Contohnya, hanya rasa sejuk saja yang aku rasakan saat tahu bagaimana cara Jack menjalin hubungan dengan Lela selama ini.

Tetapi di gaya bahasa aku juga menemukan sedikit ganjelan. Meskipun Bung Kelinci sudah beberapa kali menyatakan bahwa Pingkan sempat tumbuh di London dan kuliah di jurusan Sastra Inggris, aku ngerasa kurang nyaman saja membaca dialog-dialog Pingkan yang campur-campur Inggris. Apa ya? Kayaknya sih karena bahasa Inggrisnya terlalu sempurna untuk digunakan sehari-hari di percakapan kali ya? Jadinya seperti sedang baca buku teks bahasa Inggris di SMA dulu. Tapi itu hanya rasa-rasa minor saja kok. Nggak ngganggu jalan cerita yang lancar.

Dari judul yang Kupu-kupu Pembunuh Naga, aku awalnya main asumsi. Kupu-kupu adalah serangga yang indah. Maka aku kira yang dimaksud dengan kupu-kupu adalah si Pingkan. Ternyata dugaanku meleset jauh. Iya, jauh, soalnya kejelasan hubungan antara jalan cerita dengan judul baru muncul di halaman ke-300. Hadoooh, aku kira nggak bakal jelas sampai akhir. Hehehe.

Oke, intinya aku jatuh cinta kepada Jack (sori Pingkan, kayaknya kamu harus melangkahi mayatku dulu untuk bisa mendapatkan si Jack). Dan ending cerita menyisakan banyak tanda tanya, membuatku ingin melayangkan si parang yang dibawa entah siapa itu ke Bung Kelinci saja. Teganya menghentikan cerita di sana!!! Sampai kapan penantianku ini bakal terpuaskan?

Judul: KUPU-KUPU PEMBUNUH NAGA
Pengarang: Iwan “Bung Kelinci” Sulistiawan

Penerbit: Ufuk Press

ISBN: 978-602-9159-22-6

Soft cover

Halaman: 346 halaman

Terbit: Juni 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 59.900,-


9 Responses to “Kupu-kupu Pembunuh Naga-Serasa nonton film laga di lembar-lembar kertas. Hanya jauh lebih dalem …”


  1. 1 rahmatmuntaha
    November 10, 2011 at 9:00 am

    thanks reviewnya…ini novel yg sangat bagus.
    http://kafebuku.com/kupu-kupu-pembunuh-naga/

  2. 3 raka
    November 15, 2011 at 2:43 pm

    itu novel ada lanjutannya ngga ya? penasaran ni..

  3. November 20, 2012 at 7:12 am

    filemnya apa judulnya…??

  4. 7 vie zilguwin
    January 6, 2014 at 7:53 am

    penasaran sama lanjutan ceritanya

  5. 8 rhara starqueen
    January 8, 2014 at 8:13 am

    penasaran nich sma film nya

  6. 9 rhara starqueen
    January 8, 2014 at 8:14 am

    pnasaran nich sma film nya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s