02
Jul
11

Awakened-Kena batunya. Kebiasaanku baca novel disambi macem-macem tidak bisa diterapkan di sini …

Just Finished my AWAKENED novel, written by Ednah Walters ….

Setelah mencapai usia 16 tahun, Lil Falcon mulai mendengar suara-suara dan juga merasakan percikan bola cahaya di penglihatannya. Sesuatu yang ia anggap sebagai gangguan minor.

Suatu sore, ia tidak bisa mengesampingkan gangguan itu lagi saat suara yang ia dengar mulai membujuknya untuk bertemu, minta bantuannya. Apakah bentuk fisiknya dengan tinggi tubuh 180 cm dan rambut merah keriting belum cukup aneh, sekarang ia musti mulai mendengar hantu juga? Belum lagi kenyataan bahwa ia akan menjadi murid baru di SMA saat tahun ajaran sudah dimulai selama dua minggu.

Karena gangguan suara itu mulai gencar, Lil memberanikan diri mendatangi tempat yang dirujuk si “hantu”. Di sana ia bertemu dengan cowok “hantu” itu yang ternyata jauh lebih mengganggu dalam wujud fisiknya.

Oke, ternyata Bran Llyr bukan hantu. Ia cowok terganteng yang pernah dilihat Lil dengan mata hijau tajam dan rambut sebahu yang hitam legam. Bran juga mampu melakukan teleportasi dan meceritakan hal-hal mustahil yang lama-lama terdengar masuk akal sekaligus mengerikan. Hal yang diceritakan Bran adalah fakta tersembunyi mengenai asal-usulnya, kakeknya, dan sekelompok orang yang disebut sebagai Guardian/Demon/Nephilim. Bran bahkan mengaku sebagai trainee Guardian.

Banyaknya informasi yang masuk secara mendadak itu membuat Lil “meledak”. Bisa dibilang sih dalam arti yang sebenarnya. Badai mengamuk di lingkungan lembah tempat trailer Grampa parkir.

Ares Falcon, kakek Lil yang biasa ia sapa dengan sebutan Grampa menenangkannya, dan menunjukkan bahwa Lil lah yang menyebabkan badai tersebut. Ares kemudian menjelaskan perihal siapa dirinya yang sebenarnya, berarti juga siapa Lil yang sebenarnya.

Jadi mulailah Lil menjalani hari-harinya sebagai murid baru di sekolah, dan trainee Guardia baru. Ia harus menyeimbangkan interaksinya dengan teman-temannya yang manusia biasa macam Kylie, McKenzie, Cade, Zack, Nikki, Amelia, dll, sementara ada juga Kim, Sykes, Remy, dan Izzy, teman-teman baru lain dari sisi trainee Guardian.

Peran Bran sendiri tidak habis sampai di situ. Kehadirannya mengubah peta kekuatan di antara para Demon dan Guardian, karena Bran adalah pemuda campuran Demon dan Guardian yang dibesarkan di lingkungan Demon. Kemunculannya juga membuka fakta tersembunyi ke perang besar lama yang dulu sempat timbul karena menghilangnya Teriel, Kardinal Guardian Air, juga akhirnya membuka fakta baru mengenai siapa ayah Lil yang sebenarnya.

Whew! pokoknya begitulah.

Ednah Walters menceritakan jalannya pertempuran-pertempuran di novel ini-baik pertempuran beneran atau dalam sesi latihan di dojo-dengan rinci banget. Serasa nonton film action. Pengetahuannya tentang senjata-senjata bela diri dan gerakan martial arts kayaknya patut diacungi jempol. Aku yakin ia memang praktisi di bidang itu.

Dalam penciptaan plot, pengarang satu ini juga cukup jago. Ia bisa membuat drama di setiap bab. Penempelan karakter di masing-masing tokoh juga lengkap dan menyatu dengan perannya, sehingga masing-masing karakter-yang banyak banget-muncul memang karena layak muncul, bukan cuma karena ia suka bikin novel dengan jumlah tokoh yang rimbun.

Tetapi di sisi kenephiliman, buatku ada beberapa ganjalan. Saat aku sudah menemukan alur yang enak mengenai sosok-sosok nephilim dan demon di novel-novel lain meski penggambarannya gak sama (Contoh: di Mortal Instruments, kita bakal nemu para nephilim sebagai pemburu iblis dan penjaga kedamaian di Dunia Bawah, sementara di serial Hush, Hush, para nephilim dibuat lebih menyerupai penggambaran di mitos berbasis agama, sebagai malaikat terbuang yang dikutuk dari surga), di novel ini aku justru menemukan gambaran yang berkesan para Guardian dan Demon (nephilim yang berbeda pilihan jalan hidup) sebagai makhluk luar angkasa. Oke, memang sudah dijelaskan bahwa mereka tinggal di dimensi yang berbeda. Tetapi kemampuan mereka berteleportasi, identitas diri mereka yang diikuti dengan kekuatan super yang berbeda-beda, mengingatkan pada para superhero gak sih? Kalo aku sih jadi langsung ingat pada Superman dan planet Krypton-nya ^_^

Sekarang ke si Lil Aku suka tokoh cewek ini (di luar kebiasaannya yang suka gampang keluar air mata). Ia keras kepala, pantang menyerah, dan digambarkan cerdas. Dan seperti tokoh sentral di novel fantasi, Lil memiliki peran krusial. Ia bahkan digambarkan memenuhi persyaratan “sang penyelamat” bagi Guardian maupun Demon. Sehingga ia diuber dan dibujuk untuk masuk ke dua kubu tersebut. Tapi untuk kalian yang akhirnya niat baca novel ini, maaf ya aku duluin, soalnya aku mau pamer: aku berhasil menebak siapa ayah Lil sejak kira-kira nama tokoh ini mulai sering muncul. Ayo, aku tantang kalian nebak juga! :O)

Sekarang kita sampai ke romance-nya. Buatku romance di novel ini agak garing, kurang menggigit, dan sudah ketebak dari awal. Mana jatuh cintanya terlalu cepat terjadi. Masa baru tiga kali ketemu sudah termehek-mehek gitu sih? Gak enak banget dibacanya. Cara Lil menggambarkan sosok Bran (bukan spoiler lho ya … soalnya aku yakin kalian sudah nebak dari awal kalo Lil pasti jadian sama Bran) menyerupai cara Bella menggambarkan Edward (Twilight) atau cara Ever menggambarkan Damen (Evermore). Agak terlalu mengharu-biru. Kurang insightful jika kita bandingkan dengan bagaimana remaja 16 tahun menyikapi lawan jenis.

Terjemahannya cukupan deh. Tapi buanyak banget typo-nya.

Bagaimana dengan cover-nya? Tentunya ungkapan Don’t Judge a Book by Its Cover bisa diberlakukan ya di sini. Cover novel ini menjanjikan banget. Cowok ganteng six packs tampak sedang berjalan menunduk dengan ekspresi bandel. Jadi mikir yang nggak-nggak saja nih pas ngeliat pertamanya ^_^. Bran cukup mirip dengan cowok yang di cover. Tapi sayang beribu sayang … satu deskripsi vital yang sering disebut di dalam novel malah jauh meleset dari cover. Apanya coba? Kayaknya lebih seru kalo kalian experience sendiri deh dari baca novelnya.

Ngerampungin baca novel ini membuatku berada di antara dua kubu. Suka dan tidak suka. Mengapa? Bacanya gak bisa pake stop. Begitu banyak nama, begitu banyak tokoh, begitu banyak kisah masa lalu, begitu banyak gelar … sampe klenger bacanya, sumpah. Pantesan dari awal novel sudah dijajarkan nama-nama tokoh dan silsilah serta istilah-istilah. Ternyata memang akhirnya pembaca membutuhkannya sebagai pengingat. Apalagi kalo pembacanya seperti aku yang gak pernah selesai baca novel dalam satu hari.

Teori yang terbentuk dari pengalamanku baca Awakened ini adalah: bentuk penceritaan yang seperti ini kayaknya bakal kita temui lagi, karena Ednah Walters berniat bikin sekuel-sekuelnya. The Guardian Legacy book 2 bakal muncul dengan judul Betrayed. Can’t wait to prove my theory🙂

Judul: Awakened

Penulis: Ednah Walters

Penerbit: Arah Publishing/Ufuk Publishing House

ISBN: 978-602-9159-21-9

Soft cover

Halaman: 552 halaman

Terbit: Mei 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 89.900,-


3 Responses to “Awakened-Kena batunya. Kebiasaanku baca novel disambi macem-macem tidak bisa diterapkan di sini …”


  1. September 30, 2011 at 7:08 pm

    Aaaaa.. Aku nyelesein novelnya dalam waktu 7 jam, lama gara2 bolak balik nyari jenis, nama ama gelar yang di depan.. Tapi semuanya seru banget, bisa kali kalo yg kedua terbit langsung kabar kabarin. Sukses terus, nice blog btw🙂

  2. 3 Kristiana S
    June 3, 2013 at 11:13 am

    “Pengetahuannya tentang senjata-
    senjata bela diri dan gerakan martial arts kayaknya patut diacungi jempol. Aku yakin
    ia memang praktisi di bidang itu.”

    Hehehe, Ednah Walters itu penggemar game, anime dan manga… Apalagi dengan 5 orang anak (!) yang cowok semua🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s