26
Jun
11

(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) The Girl Who Could Fly: Dia Bisa Terbang!-Jangan tertipu gambar imut!

Setelah puluhan tahun menikah dan sudah pasrah tidak bakal memiliki anak, Betty dan Joe McCloud dikaruniai anak perempuan. Namanya Piper. Keluarga ini tinggal di sebuah tanah pertanian di Lowland County.

Menjadi normal adalah harapan Betty dan Joe. Tetapi anak gadis mereka bukan gadis normal. Sejak masih bayi, Piper mampu melambung dan melayang-layang di udara. Keanehan itu membuat Betty McCloud sengaja mengurung Piper di rumah agar jauh dari pergaulan anak-anak lain di Lowland County.

Mengurung Piper adalah pekerjaan yang lumayan berat, mengingat Piper adalah gadis kecil dengan banyak keingintahuan yang disertai dengan lebih banyak lagi pertanyaan dan kata-kata. Padahal keluarga tersebut memiliki tetangga, Millie Mae Miller, yang juga punya banyak keingintahuan dan lebih banyak lagi dugaan dan kedengkian.

Dikurung di tanah pertanian tidak membuat pikiran Piper ikut terkekang. Otaknya selalu berputar dengan bahan bakar berupa keingintahuan dan pertanyaan-pertanyaan. Dibantu pengamatannya terhadap lingkungan pertanian, Piper mengadakan percobaan yang hasilnya memuaskannya: ternyata ia bukan hanya bisa melayang, PIPER MCCLOUD BISA TERBANG!

Keahlian yang baru saja ditemukannya itu ternyata tidak menggembirakan kedua orangtuanya, terutama Betty. Maka mereka mewanti-wanti Piper untuk tidak mempraktikkan kemampuannya lagi dan membuatnya berjanji untuk selalu menjaga kakinya menjejak tanah.

Sayang, di sebuah event desa, Piper tidak bisa menahan diri untuk unjuk kebolehan. Kekhawatiran Betty terbukti. Orang-orang desa yang lugu itu bukannya senang menyaksikan bakat Piper, mereka justru ketakutan. Millie Mae menemukan bahan baru untuk gosipnya.

Kehebohan terjadi di Lowland County. Wartawan dan orang yang sekedar iseng mengepung rumah keluarga McCloud untuk membuktikan desas-desus mengenai gadis terbang. Keluarga ini ketakutan dan terkurung di dalam rumah.

Akhirnya bantuan datang dalam wujud perempuan muda-cantik-baik hati-cerdas bernama Dr. Laeticia Hellion. Ia menawarkan untuk menampung Piper di fasilitas khusus yang ada di bawah pengawasannya. Fasilitas itu dibangun untuk menampung orang-orang dengan bakat khusus agar mereka bisa mengendalikan bakatnya, dan memupuk serta meningkatkannya menjadi bakat yang lebih berguna. Dengan berat hati-dengan melihat pilihan-pilihan yang ada-kedua orangtua Piper merelakan anaknya pergi.

Akhirnya Piper berangkat. Ia dibawa melintasi negara bagian, masuk wilayah padang salju. Ia dibawa ke I.N.S.A.N.E., sebuah sekolah khusus super rahasia untuk anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa dengan mengendarai helikopter.

Piper menyukai kehidupan barunya di sekolah. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia bersekolah dengan anak-anak lain. Ia bahkan mendapat seragam khusus yang dibuat dari bahan pilihannya sendiri dengan model yang ia suka. Ia mendapatkan makan teratur dengan menu kesukaannya, hanya untuknya sendiri. Kamarnya indah, modern, dan lengkap.

Namun tak lama kemudian, karena suatu keisengan Conrad, salah satu temannya yang terkenal kejam, Piper menyaksikan bahwa kenyataan di I.N.S.A.N.E. tidak seindah yang terlihat di mata. Ia dikirim ke sekolah itu dengan harapan untuk mendapatkan perlindungan; namun I.N.S.A.N.E. ternyata menyimpan misi berbahaya yang membuatnya harus segera merencanakan tindakan drastis bersama teman-temannya.

Penggambaran INSANE beserta intrik antar penghuninya mengingatkanku pada sekolah khusus yang didirikan untuk menampung para remaja mutan di The X-Men. Coba deh baca. Iya gak sih?

Ah, apakah rahasia yang ditutupi rapat di dalam I.N.S.A.N.E.? Mampukah Piper dan teman-temannya menuntaskan misi mereka? Bagaimanakah kisah ini bakal berakhir?

W-O-W

Banyak hal berkecamuk di otakku saat membaca dan semakin banyak lagi saat novel ini selesai aku baca.

Cara Victoria Forester menuturkan sifat-sifat dan pembawaan masing-masing tokoh membuatku ingat karya-karya pengarang lain yang aku suka, Enid Blyton.

Kemudian, yang langsung terlintas di otak adalah tentang segala normal-tidak normal ini. Jadi ingat salah satu episode SpongeBob gak sih? Waktu itu si Squidward komplen tentang SpongeBob yang gak normal, dan akhirnya, episode itu bercerita tentang usaha gila-gilaan SpongeBob untuk menjadi orang normal.

Lalu saat mulai membaca novel ini, aku juga jadi ingat pengalamanku saat pertama kali membaca novel Harry Potter. Oke, jangan nuduh bakal ada sihir di sini ya, karena sama sekali tidak ada. Aku hanya ingat sensasi ambiance yang pertama kali kutangkap yang terasa sama.

Pertama kali aku membaca kisah Harry Potter adalah akhir tahun 2000. Aku meminjamnya dari teman kos yang baru beli The Prisoner of Azkaban.

Sebuah novel aneh dengan gambar berkesan goresan cat hasil karya anak sekolah. Sinopsis belakangnya tidak bisa membuatku ngerasa jelas, era apa yang kira-kira bakal ditawarkan novel tersebut. Masa lalu, masa kini, atau masa depan? Tapi kok clue yang muncul di gambar tampak agak berbau jadul ya?

Begitu membaca beberapa halaman depan, aku mulai yakin, kayaknya novel itu memang ber-setting jadul. Tetapi lama-lama, ada tanda-tanda modernitas yang muncul satu demi satu. Dan akhirnya, yak! Novel ini ternyata setting-nya masa kini.

Sensasi itulah yang aku dapat juga dari The Girl Who Cloud Fly karangan Victoria Forester ini.

Kemudian aku lanjutkan baca, kisahnya ternyata sama-sama mencengangkan. Banyak emosi yang aku kira tidak aku miliki, bisa teraduk-aduk dan muncul selama aku membacanya. Senang, geli, marah, sedih, jengkel, bahagia ….

Tokoh-tokoh utamanya mampu menipuku dengan gemilang. Orang yang tampak baik, ternyata jahat, tetapi akhirnya kejahatannya jadi tampak masuk akal. Anak yang jahat ternyata logis, tetapi ia mampu berkhianat demi kepentingannya sendiri, dan akhirnya malu dan berusaha memperbaiki kerusakan yang ia perbuat. Dan banyak lagi.

Novel yang diindonesiakan dengan judul Dia Bisa Terbang! ini juga menipuku secara genre. Dan aku yakin kalian juga bakal tertipu. Lihat saja gambarnya. Tokoh montok dengan pipi bulat dan hidung mencuat yang digambar dengan cat, membuatku merasa pasti bahwa novel ini ditujukan bagi anak kecil. Belum lagi gaya bahasanya yang diterjemahkan secara imut.

Tetapi, beberapa halaman kubuka dan baca, aku kaget. Anakku tidak boleh baca novel ini sebelum ia menginjak umur bernalar komplit deh! Itu kesimpulanku. Ternyata meski asik dan menggemaskan, novel ini cukup berbahaya buat anak kecil. Bayangkan saja, ada adegan Piper sedang mengira-ngira dan kemudian memutuskan cara belajar memperbaiki kemampuan melayangnya menjadi kemampuan terbang. mana penuturan cara berpikirnya logis banget. Kebayang gak sih, kalo anak kecil menganggapnya sebagai ajakan untuk ikutan mencoba? Uji coba si Piper berhasil, lagi. Wew!

Biar pada bingung, buat yang pengen coba memberikan novel ini kepada anak kecil, asal didampingi kayaknya masih banyak nilai positifnya juga kok. Perbedaan antara baik dan buruk, berani dan pengecut, logika berpikir, petualangan menantang, dan sikap ksatria banyak mewarnai jalan cerita.

Kebingunganku tidak berhenti di situ saja. Membaca setting-nya yang habis di fasilitas modern yang penuh percobaan ilmiah, membuatku pengen menempatkannya sebagai fiksi ilmiah. Tapi deskripsi tokoh, jalan cerita, dan detail-detailnya menyerupai kisah fantasi. Nah lo, beneran bingung kan, nempatin genre-nya? Yang jelas sih buatku masuk ke kategori “Sebuah novel yang masuk daftar baca-ulang”.

Akhir kata, novel ini asik banget. Sangat layak untuk dikoleksi-tapi musti hati-hati untuk memberikannya pada anak di bawah usia remaja lho ya. Aku juga cukup berharap untuk bakal nongol sekuelnya. Kenapa begitu? Karena meskipun happy ending, ada satu tokoh yang sampai di lembar terakhir masih misterius dan menyisakan rasa penasaran. Belum lagi ada tanda-tanda bakal muncul romance jika anak-anak ini ditunggu tumbuh remaja ^_^

Judul: The Girl Who Could Fly/Dia Bisa terbang!

Penulis: Victoria Forester

Penerbit: Atria

ISBN: 978-979-024-480-1

Soft cover

Halaman: 380 halaman

Terbit: Mei 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 50.000,-


0 Responses to “(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) The Girl Who Could Fly: Dia Bisa Terbang!-Jangan tertipu gambar imut!”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s