Archive for June, 2011

26
Jun
11

(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) The Girl Who Could Fly: Dia Bisa Terbang!-Jangan tertipu gambar imut!

Setelah puluhan tahun menikah dan sudah pasrah tidak bakal memiliki anak, Betty dan Joe McCloud dikaruniai anak perempuan. Namanya Piper. Keluarga ini tinggal di sebuah tanah pertanian di Lowland County.

Menjadi normal adalah harapan Betty dan Joe. Tetapi anak gadis mereka bukan gadis normal. Sejak masih bayi, Piper mampu melambung dan melayang-layang di udara. Keanehan itu membuat Betty McCloud sengaja mengurung Piper di rumah agar jauh dari pergaulan anak-anak lain di Lowland County.

Mengurung Piper adalah pekerjaan yang lumayan berat, mengingat Piper adalah gadis kecil dengan banyak keingintahuan yang disertai dengan lebih banyak lagi pertanyaan dan kata-kata. Padahal keluarga tersebut memiliki tetangga, Millie Mae Miller, yang juga punya banyak keingintahuan dan lebih banyak lagi dugaan dan kedengkian.

Dikurung di tanah pertanian tidak membuat pikiran Piper ikut terkekang. Otaknya selalu berputar dengan bahan bakar berupa keingintahuan dan pertanyaan-pertanyaan. Dibantu pengamatannya terhadap lingkungan pertanian, Piper mengadakan percobaan yang hasilnya memuaskannya: ternyata ia bukan hanya bisa melayang, PIPER MCCLOUD BISA TERBANG!

Keahlian yang baru saja ditemukannya itu ternyata tidak menggembirakan kedua orangtuanya, terutama Betty. Maka mereka mewanti-wanti Piper untuk tidak mempraktikkan kemampuannya lagi dan membuatnya berjanji untuk selalu menjaga kakinya menjejak tanah.

Sayang, di sebuah event desa, Piper tidak bisa menahan diri untuk unjuk kebolehan. Kekhawatiran Betty terbukti. Orang-orang desa yang lugu itu bukannya senang menyaksikan bakat Piper, mereka justru ketakutan. Millie Mae menemukan bahan baru untuk gosipnya.

Kehebohan terjadi di Lowland County. Wartawan dan orang yang sekedar iseng mengepung rumah keluarga McCloud untuk membuktikan desas-desus mengenai gadis terbang. Keluarga ini ketakutan dan terkurung di dalam rumah.

Akhirnya bantuan datang dalam wujud perempuan muda-cantik-baik hati-cerdas bernama Dr. Laeticia Hellion. Ia menawarkan untuk menampung Piper di fasilitas khusus yang ada di bawah pengawasannya. Fasilitas itu dibangun untuk menampung orang-orang dengan bakat khusus agar mereka bisa mengendalikan bakatnya, dan memupuk serta meningkatkannya menjadi bakat yang lebih berguna. Dengan berat hati-dengan melihat pilihan-pilihan yang ada-kedua orangtua Piper merelakan anaknya pergi.

Akhirnya Piper berangkat. Ia dibawa melintasi negara bagian, masuk wilayah padang salju. Ia dibawa ke I.N.S.A.N.E., sebuah sekolah khusus super rahasia untuk anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa dengan mengendarai helikopter.

Piper menyukai kehidupan barunya di sekolah. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia bersekolah dengan anak-anak lain. Ia bahkan mendapat seragam khusus yang dibuat dari bahan pilihannya sendiri dengan model yang ia suka. Ia mendapatkan makan teratur dengan menu kesukaannya, hanya untuknya sendiri. Kamarnya indah, modern, dan lengkap.

Namun tak lama kemudian, karena suatu keisengan Conrad, salah satu temannya yang terkenal kejam, Piper menyaksikan bahwa kenyataan di I.N.S.A.N.E. tidak seindah yang terlihat di mata. Ia dikirim ke sekolah itu dengan harapan untuk mendapatkan perlindungan; namun I.N.S.A.N.E. ternyata menyimpan misi berbahaya yang membuatnya harus segera merencanakan tindakan drastis bersama teman-temannya.

Penggambaran INSANE beserta intrik antar penghuninya mengingatkanku pada sekolah khusus yang didirikan untuk menampung para remaja mutan di The X-Men. Coba deh baca. Iya gak sih?

Ah, apakah rahasia yang ditutupi rapat di dalam I.N.S.A.N.E.? Mampukah Piper dan teman-temannya menuntaskan misi mereka? Bagaimanakah kisah ini bakal berakhir?

W-O-W

Banyak hal berkecamuk di otakku saat membaca dan semakin banyak lagi saat novel ini selesai aku baca.

Cara Victoria Forester menuturkan sifat-sifat dan pembawaan masing-masing tokoh membuatku ingat karya-karya pengarang lain yang aku suka, Enid Blyton.

Kemudian, yang langsung terlintas di otak adalah tentang segala normal-tidak normal ini. Jadi ingat salah satu episode SpongeBob gak sih? Waktu itu si Squidward komplen tentang SpongeBob yang gak normal, dan akhirnya, episode itu bercerita tentang usaha gila-gilaan SpongeBob untuk menjadi orang normal.

Lalu saat mulai membaca novel ini, aku juga jadi ingat pengalamanku saat pertama kali membaca novel Harry Potter. Oke, jangan nuduh bakal ada sihir di sini ya, karena sama sekali tidak ada. Aku hanya ingat sensasi ambiance yang pertama kali kutangkap yang terasa sama.

Pertama kali aku membaca kisah Harry Potter adalah akhir tahun 2000. Aku meminjamnya dari teman kos yang baru beli The Prisoner of Azkaban.

Sebuah novel aneh dengan gambar berkesan goresan cat hasil karya anak sekolah. Sinopsis belakangnya tidak bisa membuatku ngerasa jelas, era apa yang kira-kira bakal ditawarkan novel tersebut. Masa lalu, masa kini, atau masa depan? Tapi kok clue yang muncul di gambar tampak agak berbau jadul ya?

Begitu membaca beberapa halaman depan, aku mulai yakin, kayaknya novel itu memang ber-setting jadul. Tetapi lama-lama, ada tanda-tanda modernitas yang muncul satu demi satu. Dan akhirnya, yak! Novel ini ternyata setting-nya masa kini.

Sensasi itulah yang aku dapat juga dari The Girl Who Cloud Fly karangan Victoria Forester ini.

Kemudian aku lanjutkan baca, kisahnya ternyata sama-sama mencengangkan. Banyak emosi yang aku kira tidak aku miliki, bisa teraduk-aduk dan muncul selama aku membacanya. Senang, geli, marah, sedih, jengkel, bahagia ….

Tokoh-tokoh utamanya mampu menipuku dengan gemilang. Orang yang tampak baik, ternyata jahat, tetapi akhirnya kejahatannya jadi tampak masuk akal. Anak yang jahat ternyata logis, tetapi ia mampu berkhianat demi kepentingannya sendiri, dan akhirnya malu dan berusaha memperbaiki kerusakan yang ia perbuat. Dan banyak lagi.

Novel yang diindonesiakan dengan judul Dia Bisa Terbang! ini juga menipuku secara genre. Dan aku yakin kalian juga bakal tertipu. Lihat saja gambarnya. Tokoh montok dengan pipi bulat dan hidung mencuat yang digambar dengan cat, membuatku merasa pasti bahwa novel ini ditujukan bagi anak kecil. Belum lagi gaya bahasanya yang diterjemahkan secara imut.

Tetapi, beberapa halaman kubuka dan baca, aku kaget. Anakku tidak boleh baca novel ini sebelum ia menginjak umur bernalar komplit deh! Itu kesimpulanku. Ternyata meski asik dan menggemaskan, novel ini cukup berbahaya buat anak kecil. Bayangkan saja, ada adegan Piper sedang mengira-ngira dan kemudian memutuskan cara belajar memperbaiki kemampuan melayangnya menjadi kemampuan terbang. mana penuturan cara berpikirnya logis banget. Kebayang gak sih, kalo anak kecil menganggapnya sebagai ajakan untuk ikutan mencoba? Uji coba si Piper berhasil, lagi. Wew!

Biar pada bingung, buat yang pengen coba memberikan novel ini kepada anak kecil, asal didampingi kayaknya masih banyak nilai positifnya juga kok. Perbedaan antara baik dan buruk, berani dan pengecut, logika berpikir, petualangan menantang, dan sikap ksatria banyak mewarnai jalan cerita.

Kebingunganku tidak berhenti di situ saja. Membaca setting-nya yang habis di fasilitas modern yang penuh percobaan ilmiah, membuatku pengen menempatkannya sebagai fiksi ilmiah. Tapi deskripsi tokoh, jalan cerita, dan detail-detailnya menyerupai kisah fantasi. Nah lo, beneran bingung kan, nempatin genre-nya? Yang jelas sih buatku masuk ke kategori “Sebuah novel yang masuk daftar baca-ulang”.

Akhir kata, novel ini asik banget. Sangat layak untuk dikoleksi-tapi musti hati-hati untuk memberikannya pada anak di bawah usia remaja lho ya. Aku juga cukup berharap untuk bakal nongol sekuelnya. Kenapa begitu? Karena meskipun happy ending, ada satu tokoh yang sampai di lembar terakhir masih misterius dan menyisakan rasa penasaran. Belum lagi ada tanda-tanda bakal muncul romance jika anak-anak ini ditunggu tumbuh remaja ^_^

Judul: The Girl Who Could Fly/Dia Bisa terbang!

Penulis: Victoria Forester

Penerbit: Atria

ISBN: 978-979-024-480-1

Soft cover

Halaman: 380 halaman

Terbit: Mei 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 50.000,-

Advertisements
21
Jun
11

Clockwork Angel-Pasukan Tentara Clockwork yang Mengancam Keberadaan Nephilim dan Kerajaan Inggris

Theresa (Tessa) Gray yang masih berkabung atas meninggalnya bibinya, menyeberangi samudera untuk bergabung dengan kakaknya, Nathaniel (Nate) yang telah duluan tinggal di London. Sesampai di dermaga, ia dijemput dua orang perempuan tua yang memperkenalkan diri sebagai Mrs. Gray dan Mrs. Black, orang suruhan kakaknya.

Ternyata kedua perempuan tersebut malah mengajaknya ke Rumah Kegelapan, dan menyiksanya di sana untuk membuat Tessa mau mempelajari cara “berubah”. Jika ia tidak “berubah” maka kakaknya akan dibunuh oleh seseorang yang bernama Magister.

Di bawah tekanan, ancaman, dan siksaan, akhirnya Tessa bisa menguasai kemampuan “berubah”. Kemajuan tersebut membuatnya “layak” dipersembahkan kepada sang Magister untuk dijadikan istri.

Setelah usaha pelarian yang sia-sia, Tessa diselamatkan oleh Will Herondale, seorang Pemburu Bayangan (Nephilim pembasmi iblis) yang menyusup ke sarang Saudari Kegelapan. Misi penyelamatan itu berhasil melenyapkan Mrs. Black, dan membuat Mrs. Dark melarikan diri.

Tessa diajak ke Institut, markas Pemburu Bayangan di kota London. Di sana ia berkenalan dengan penghuni Institut: Pemburu Bayangan-Pemburu Bayangan lain seperti Charlotte dan Henry Branwell, penanggung jawab Institut, James (Jem) Carstair sahabat Will yang berpenampilan aneh, dan Jessamine Lovelace. Ada juga para pelayan Institute: Thomas, Sophie, dan Agatha.

Para Pemburu Bayangan menyelidiki menghilangnya Nate. Petunjuk membawa pada Axel Mortmain, mantan atasan Nate. Axel memberikan pengakuan yang mengarahkan ke Klab Pandemonium, sebuah klab malam tempat berbaurnya penghuni Dunia Bawah dengan Fana yang dijalankan oleh penguasa klan vampir London, de Quincey.

Penyelidikan juga menemukan fakta adanya makhluk-makhluk buatan manusia, automaton yang bergerak menggunakan komponen mesin jam. Makhluk tersebut disebut automaton. Mereka bisa bergerak berdasar perintah. Dibuat untuk mematahkan dominasi para Pemburu Bayangan, karena mampu “menjawab” titah mengenai keunggulan ras Nephilim: Yang tidak diciptakan di surga atau neraka, tidak bisa dihancurkan para Nephilim. Automaton adalah ciptaan manusia.

Bagaimana para Nephilim London bertahan menghadapi gempuran tentara automaton? Siapakah si Magister yang misterius tersebut? Bisakah Tessa menemukan Nate? Dan yang penting adalah, siapakah sebenarnya Tessa? Mengapa ia bisa “berubah” sedang Nate yang adalah kakaknya tidak bisa melakukan itu?

 

Pertama sebelum bicara banyak, aku musti menyampaikan salutku untuk Cassandra Clare. Sebagai pengarang, ia cukup sibuk dengan sekuel-sekuel Mortal Instruments yang belum kelar (saat itu), tetapi ia masih bisa menyisihkan  waktu untuk menggarap The Infernal Devices. Padahal setting-nya beda banget. Jaman Victoria. Berarti ia kan musti membuat riset baru tentang kondisi jaman itu plus situasi kota London yang jelas sudah banyak berubah pada saat ini.

Nah, dengan bekal salut tersebut, maka aku jadi bisa memaklumi banyaknya persamaan-persamaan yang (sebenarnya) bikin jidat lumayan berkerut:

Mau cari cowok ganteng dengan gaya menyebalkan dan temperamen yang gak bisa ditebak? Taruh kepribadian Jace lalu sandingkan dengan Will. Dari postur, kegantengan yang menawan, kekurangajaran, kecerdasan, mirip banget. Cuma deskripsi rambut dan warna mata yang dibuat berbeda.

Bagaimana dengan cowok lain yang tipe setia, baik hati, polos? Di Mortal Instruments kita punya Simon. Posisi itu dipegang oleh James Carstair di The Infernal Devices, tapi minus sifat kikuknya.

Belum puas? Ada tokoh cewek yang kecemplung di dunia Pemburu Bayangan tanpa sengaja. Cewek yang ternyata memiliki kekuatan dahsyat yang ia tidak sadari pada awalnya. Cewek cerdas yang bisa ngimbangin kekurangajaran si cowok tokoh pertama tadi. Di Mortal Instruments kita ketemu dengan Clarissa (Clary) Fairchild/Fray. Kepribadian yang mirip bisa didapat di The Infernal Devices saat kamu memahami si Tessa. Kalo mau lebih dimirip-miripkan, coba saja nama belakangnya. Fray-Gray.

Lalu sosok Jessamine Lovelace yang sepintas mirip dengan Isabel Lightwood.

Kemiripan-kemiripan tersebut memang agak mengganggu buat kita yang sudah akrab banget dengan sosok-sosok pemeran utama di Mortal Instruments. Untungnya Cassandra Clare mampu menghapus ketidakpuasan tersebut dengan kemampuan dia menggabungkan kepribadian masing-masing pemeran, sehingga sifat dan sosok mereka melekat dengan isi cerita, tidak sekedar mirip dengan serial Mortal Insruments saja.

 

Kalo dilihat dari sisi jalan cerita, seru banget. Terutama keberadaan para automaton yang mengingatkanku pada film-film horor tahun 80-an, yang saat itu didominasi kebangkitan para mayat hidup. Mayat-mayat hidup ini biasanya diceritakan mampu menguasai kota, membuat situasi kota menjadi genting menyeramkan.

Nah, bukannya ada mayat hidup di novel ini ya. Kegiatan necromancy saja cuma muncul di satu adegan saja. Tetapi penggambaran bagaimana para automaton bergerak, deskripsi ekspresi mereka, dan lain-lain memang mengingatkanku pada para zombie. Kalo kalian terlalu muda untuk mengingat film-film produk pop cuture tahun 80an, mungkin kalian bisa mengingat videp clip Michael Jackson, Thriller yang fenomenal itu. Nah, kayak gitu deh penggambaran tingkat keseraman yang aku tangkap.

Oke, buat kalian yang belum sempat baca novel ini, mungkin agak-agak bingung mendapati nama-nama keluarga dan makhluk-makhluk yang mirip dengan yang muncul di Mortal Instruments. Kebingungan kalian gak salah kok. Penjelasannya adalah, installments The Infernal Devices adalah prekuel dari serial Mortal Instruments. Maka jangan heran jika ada beberapa makhluk keusia panjang yang hidup di era Mortal Instruments, dan sudah muncul di The Infernal Devices macam Magnus Bane dan Camille.

Tetapi ada setitik kekecewaan saat aku selesai membaca novel ini. Oke, si Tessa punya kalung berbentuk malaikat yang dibuat dari komponen jam. Tetapi bagaimana kalung itu tiba-tiba bisa “hidup” dan menyelamatkan Tessa di saat genting, tidak ada penjelasan sampai akhir cerita. Kalung yang disebut-sebut berkali-kali ini juga membuatku jadi mengharapkan peran krusial lain darinya. Yang ternyata gak ada tuh. Sekali berperan, sudah. Habis saja. Peran si kalung terlalu sepele untung dijadikan judul novel, Clockwork Angel.

 

Sekarang tentang layout dan redaksional edisi Indonesianya ya ….

Desain cover-nya gak bisa dikomentari banyak, secara Ufuk menggunakan cover versi internasional. Kamu bisa lihat gaya yang mirip dengan yang muncul di Mortal Instruments: satu orang tokoh utama yang berdiri dilatarbelakangi situasi kota tempat cerita novel berlangsung. Di Clockwork Angel, kayaknya tokoh yang berdiri di cover adalah si William Herondale, meski penggambaran gantengnya buatku masih kurang menawan. Pelukisannya malah jadi mirip tampang Robert Downey Jr. saat ia muncul di Sherlock Holmes.

Terjemahannya gak membingungkan. Cuma sekali lagi, ada beberapa istilah yang sebenarnya gak perlu diterjemahin karena istilahnya sudah umum digunakan, masih kena babat kamus, macam townhouse yang diterjemahkan menjadi rumah kota. Tetapi aku banyak dibingungkan dengan beberapa typo yang muncul beberapa kali. Huruf-huruf besar di awal kata yang berada di tengah-tengah kalimat, padahal kata tersebut bukan merupakan nama, kutipan, dll. Pokoknya hanya tiba-tiba muncul huruf-huruf besar saja gitu deh. Bikin aku jadi mikir, “Ini si Ufuk sedang pengen alay kali ya,” :O)

 

Akhir kata … membaca novel ini membuatku menyesal. Kok gak dari dulu yak, aku beli dan baca? Mengapa aku bisa tertinggal sampai hampir empat bulan, padahal kehebohan pre-order-nya di facebook Ufuk Press sudah dimulai sejak bulan Februari? Mana serial keduanya, Clockwork Prince, bahkan belum beredar di Amrik sono 😦

 

Judul: Clockwork Angel

Penulis: Cassandra Clare

Penerbit: Ufuk Press

ISBN: 978-602-8801-88-1

Soft cover

Halaman: 641 halaman

Terbit: Maret 2011 (cetakan I)

Harga: Rp 99.900,-

 

15
Jun
11

(Lomba Resensi Buku Serambi 2011) Suddenly Supernatural:Arwah di Sekolah-Medium kecil yang berkepribadian maksimum

Tipikal gaya perempuan LSM: Berwawasan cinta lingkungan, hemat energi, tidak banyak menggunakan produk perawatan tubuh. Perempuan seperti ini juga biasanya tidak terlalu mengikuti tren berpakaian karena jenis baju yang biasa dikenakan adalah rok panjang berjumbai-jumbai, celana drawstring longgar, blus dengan bahan linen atau sutera mentah, syal, dan sandal teplek. Mereka menyukai aksesoris, tetapi biasanya pilihannya jatuh kepada aksesoris berbahan dasar tali temali, kayu, batu, dan serat. Itulah bayanganku tentang perempuan tipe LSM. Entah salah atau benar, buatku mereka tampak keren saja tuh.

Nah, seperti itulah ibu Kat tampak secara fisik. Tetapi ibu Kat bukan cuma aktif mengampanyekan “Hemat Energi” atau “berikan ASI yang Menjadi Hak Anakmu!” atau “Hentikan Pembantaian Paus” atau hal-hal semacam itu. Ia memang hemat energi, karena ia menggunakan sesedikit mungkin listrik dan lebih banyak menyalakan lilin sebagai penerangan di dalam rumah, tetapi itu bukan masalah besar buat Kat. Yang menjadi beban untuknya adalah, bahwa ibunya adalah seorang MEDIUM. Ngerti medium kan? Bukan medium dalam arti tengah-tengah antara small dan large. Medium yang ini berarti perantara. Lebih tepatnya adalah penghubung antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup. Para medium ini bisa mendengarkan dan melihat arwah, dan mereka menyampaikan kehendak para arwah yang belum terlaksana kepada para kerabat atau teman yang masih hidup. Arwah-arwah itu baru bisa tenang di kehidupan barunya jika kehendak atau masalahnya di dunia sudah terselesaikan. Dan ibu Kat dengan senang hati membantu mereka.

Sebenarnya Kat tidak memiliki masalah dengan profesi ibunya, meski profesi itu tidak bisa memberikan penghasilan yang besar, dan ayahnya sudah lima tahun meninggalkan mereka. Masalahnya, ia tahu bahwa profesi semacam itu bukan jenis profesi orangtua yang bisa diobrolkan dengan teman-teman. Bayangkan saja kalo kamu bilang bahwa kamu punya ibu yang bisa ngobrol dengan arwah dan kemudian arwah-arwah tersebut bisa bikin ribut di dalam rumahmu. Pasti teman-temanmu bakal ketakutan, kan? Masih mending kalo cuma ketakutan. Kalo lalu beredar gosip bahwa ibumu adalah orang sinting? Karena itulah Kat selalu deg-degan jika ada temannya bertandang ke rumah. Ia takut kunjungan temannya bertepatan dengan sesi pemanggilan arwah yang sedang dilakukan ibunya.

Kat sendiri nggak pernah ngaku kepada ibunya kalo sejak ulangtahunnya yang ke-13, ia juga bisa melihat arwah. Punya ibu yang masuk kategori aneh sudah merupakan beban. Jangan jadikan dirimu yang ternyata juga aneh menjadi beban tambahan dalam pergaulan di sekolah. Kira-kira begitu deh pendapat Kat untuk membenarkan tindakannya menyembunyikan kemampuannya.

Suatu hari, salah satu cewek paling populer di sekolah (selalu begitu ya?) menyapanya. Cewek itu, Shoshanna Longbarrow, ingin mampir ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok. Terpaksa deh, Kat menyetujui. Kesempatan gaul dengan cewek populer kan tidak datang setiap hari. Dan hal itu jelas-jelas bakal bisa mengangkat kasta Kat jika ia memainkan perannya dengan tepat.

Nah, benar saja, ketakutan Kat terjadi. Saat ia sedang ngobrol lumayan seru dan klop dengan Shoshanna, hantu-hantu yang dipanggil ibunya mulai bertingkah. Awalnya cuma temperatur yang menurun secara drastis. Tetapi kemudian diikuti dengan suara-suara berisik dan benda-benda yang mulai bergerak tanpa disentuh. Shoshanna ketakutan, dan berlari pulang. Tapi tidak sebelum melontarkan ancaman untuk menyebarkan kejadian itu ke seluruh sekolah.

Di tengah hari-harinya yang penuh ketakutan jika Shoshanna menjalankan ancamannya, Kat berkenalan dengan Cewek Selo. Namanya sih Jacqueline, dan ia minta dipanggil Jac. Tetapi cewek ini selalu menyeret-nyeret tas selo ke manapun ia pergi di sekitar sekolah. Jadi ia dikenal sebagai Cewek Selo. Cewek Selo ternyata tidak seaneh bayangan Kat. Ia bahkan menyenangkan untuk diajak berteman. Dan kenyataan bahwa Kat juga aneh karena bisa melihat arwah malah justru dianggap keren oleh Jac.

Masalah Kat tidak berhenti hanya sampai di situ. Ia mulai dikejar-kejar sesosok arwah murid yang meninggal puluhan tahun lalu. Namanya Suzanne Bennis. Suzanne yang sering muncul di perpustakaan memiliki masalah dan ia minta Kat untuk bantu. Tetapi Kat sendiri masih merasa aneh dengan bakat barunya itu. Belum lagi ia juga sedang menghindar dari ejekan kroni-kroni Shoshanna yang dipimpin Brooklyn Bigelow. Ia tidak punya waktu untuk membantu arwah. Sayangnya ternyata keberadaan arwah itu berkaitan erat dengan masalah yang juga sedang dihadapi sahabatnya, Jac. Sehingga terpaksa Kat melibatkan diri membantu karena ia melihat Jac juga membutuhkan bantuan. Bagaimanakah cara Kat menghadapi siksaan yang dilancarkan Brooklyn? Bagaimanakah Kat mengusahakan bantuan bagi Suzanne dan Jac? Apakah akhirnya Kat meminta bantuan ibunya? Apakah masalah Kat hanya berhenti di situ saja?

Membeli Suddenly Supernatural-yang diindonesiakan dengan judul Arwah di Sekolah-cukup dilematis buatku. Membaca resume-nya di internet, membuatku tertarik untuk beli. Tetapi, begitu nyampe ke toko buku, aku agak-agak ragu juga, secara sampulnya kok anak-anak banget ya? Hal ini membuatku beberapa kali gagal membeli. Akhirnya karena stok novel yang menarik perhatianku di toko sudah habis dan yang baru belum muncul di sono, aku nekat beli juga. rasa malesku ternyata gak berhenti di situ saja. Di rumah, novel ini sempat aku biarkan nganggur juga. Hehehe, belum rela baca novel bergenre tweens.

Sampai giliran aku harus membacanya, aku tarik lagi deh semua ragu yang sudah aku lempar ke permukaan. Novel ini menarik banget, asal kamu-kamu yang sudah lewat usia abege membacanya dengan membuang semua referensi dewasamu. Jadilah abege, tempatkan dirimu di pikiran dan situasi mereka, maka kamu bisa menikmati novel ini dengan nyaman. Mengapa begitu? Mengapa musti menyamar jadi abege dulu, secara novel ini (paling tidak installment yang ini) tidak menyajikan cinta-cintaan?

Yee, masalah abege kan bukan di cinta monyet doang. Hidup mereka rumit juga lho:

1. Mau lihat konflik batin abege yang mulai merasakan krisis pergaulan karena tingkah-polah ortu? Ada.

2. Mau bumbu kehidupan sekolah menengah yang penuh hirarki kasta? Ada juga.

3. Pengen lihat si tokoh nemu sahabat? Jelas ada.

Hidup menjadi abege tidak mudah. Aku tahu itu, karena aku kan pernah jadi abege juga bertahun-tahun lalu 😛 Tren mungkin memang sudah berubah, tetapi tekanannya masih sama. Abege mana yang gak pengen diterima teman-temannya? Untuk bisa diterima di pergaulan, rumus paling gampang yang mereka jalankan adalah melakukan adaptasi dengan cara mengadopsi perilaku yang secara umum dijalankan peer group-nya. Berani berbeda, maka musti siap dicela dan dianggap aneh sepanjang masa pubertas, atau sampai kelulusan.

Kehidupan di sekolah sudah banyak banget dibahas di novel-novel bergere tweens dan teens. Novel-novel horor sedang banyak beredar juga di pasaran. Jadi gabungan genre tweens/teens dengan horor jelas sudah pernah ada di pasaran. Bagaimana cara Suddenly Supernatural menembus deretan novel-novel sejenis hingga memiliki unique selling point?

Suddenly Supernatural memang tidak menawarkan banyak hal baru. Tapi di tengah banyak ketidakbaruan itu, ada setetes hal yang mengharukan bagiku. Novel-novel remaja lain, biasanya akan sibuk menggabungkan problem sekolah, problem dengan lawan jenis, dan problem saling tidak memahami dengan ortu. Di sini, meskipun mengalami dua di antaranya, Kat hanya memandang satu sebagai masalah utamanya. Dia adalah anak manis yang bisa menerima keanehan ibunya. Kat memberikan contoh kedewasaan tweens dalam memecahkan masalah.

Karena itu aku bilang sih, novel ini layak dibaca ibu-ibu yang ingin tahu isi pikiran anak-anak (pra) remajanya, dan sebaiknya dibaca para (pra) remaja karena selain kisah spooky yang cukup memikat, ada wise thought in disguise-nya, bahwa selaku medium yang baru saja menemukan bakatnya, Kat ada di posisi maksimum di tingkat kedewasaan sebagai (pra) remaja 🙂

Yang menyenangkan lagi, meskipun happy end, Elizabeth Cody Kimmel masih melanjutkan kisah-kisah Kat ini ke serial-serial berikutnya. Jadi, aku bilang sih … siap menunggu munculnya sambungan Suddenly Supernatural berikutnya ^_^

Judul: SUDDENLY SUPERNATURAL/ARWAH DI SEKOLAH

Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel

Penerbit: ATRIA

ISBN: 978-979-024-467-2

Soft cover

Halaman: 207 halaman

Terbit: Desember 2010

Harga: Rp 35.000,-

10
Jun
11

Party Season-Musim Pesta: Bacaan Baruku yang Bergenre Agak Jadul

Beberapa hari yang lalu, pas sedang ngantre di kasir TB Gramedia Slamet Riyadi, ada mbak-mbak yang ngajak ngobrol, “masih suka baca chicklit ya?” kayaknya dia heran saja.

Aku maklum dengan pertanyaan dia. Memang sih, sekarang sudah lewat dari demam chicklit. Gramedia Pustaka Utama saja sebagai penerbit yang bertanggung jawab menyebarkan virus chicklit di awal tahun 2000-an sudah gak melanjutkan niatnya untuk ngeluarin setidaknya satu judul per bulan. Sekarang cewek-cewek dewasa sedang suka dengan genre historical romance. Biasanya setting yang diambil adalah jaman tahun 1800-an atau 1700-an.

Tapi hari itu aku memang sedang pengen baca cerita yang agak modern. Sedang bosen gaul dengan kuda, duel, petticoat, renda, pedang, dan tumpukan surat cinta yang diikat pita. Jadi terpilih deh PARTY SEASON bikinan Sarah Mason untuk masuk ke tas belanjaku.

Ceritanya tentang Isabel Serranti, party planner yang baru putus dari pacarnya, Rob Gillingham. Berkat bibinya yang suka ngobrol, ia ketiban kerjaan untuk merancang dan penyelenggarakan pesta amal di estat tempatnya tumbuh besar dulu, Pantiles. Padahal Isabel punya kenangan buruk tentang Pantiles yang membuatnya tidak mau menginjak tempat itu lagi. Kalau bisa, selamanya.

Akhirnya atas desakan bosnya, Gerald, karena tahu kedekatan emosional Isabel dengan Pantiles-minus traumanya terhadap estat itu-Isabel malah harus menjadi pelaksana pesta di sana. Waktu yang ia miliki untuk persiapan hanya satu bulan, padahal tema yang diminta panitia adalah sirkus. Jadilah Isabel harus tunggang-langgang mempersiapkan acara itu (dibantu sahabatnya yang agak-agak nyebelin, si Dominic) dan terpaksa harus sering nginep di Pantiles.

Penghuni Pantiles tetap seramah yang ia ingat dulu. Ada Monty yang pasa masa kecil Isabel adalah tuan tanah di sana, ada Will anak kedua Monty yang menjadi manajer estat, ada tambahan Mrs. Delaney dan anaknya, Harry, lalu ada Aunt Flo yang eksentrik. Terakhir, Isabel juga harus (sering) bertemu dengan Simon Monkwell, anak pertama Monty, mantan sahabat masa kecilnya yang sekarang sukses menjadi pengusaha sukses dengan citra buruk di London.

Simon adalah sumber trauma masa kecil Isabel. Setelah melewatkan dua tahun bersahabat erat, tahu-tahu tanpa peringatan dan penyebab yang bisa diingat Isabel, Simon secara drastis menjauhinya. Bukan cuma itu, Simon kecil bahkan menjadi penindas yang kejam. Meninggalkan Isabel di tengah hutan pada waktu malam, menguncinya di dalam kamar kosong atau lemari selama berjam-jam, mengguyurnya dengan seember serangga, dll.

Pertemuan pertamanya dengan Simon membuatnya heran. Simon seakan “lupa” pada kejadian-kejadian itu. Ia tidak bersikap memusuhi, tapi juga tidak tampak ingat kepada kenangan masa lalu mereka. Isabel sendiri berusaha bersikap profesional dan terlibat sesedikit mungkin dengan Simon Monkwell.

Simon yang sedang disibukkan dengan rencana akuisisi sebuah perusahaan besar di Inggris harus menemui masalah saat kehidupan pribadi dan masa lalunya diutak-utik di media. Ia menuduh Isabel sebagai sumbernya. Karena hanya Isabel yang orang baru di lingkungan itu, dan ia juga akhirnya menyinggung bahwa Isabel punya motif, karena dendamnya terhadap Simon.

Di tengah kesibukan mempersiapkan pesta, Isabel akhirnya harus menghadapi perasaannya yang kembali teraduk-aduk kenangan masa kecil. Ia juga harus membuktikan bahwa ia tidak (terlalu) bersalah atas kerunyaman bisnis yang dihadapi Simon.

 

Sesuai rumus chicklit, pasti ceritanya ringan, ber-setting jaman sekarang, ada cinta-cintaan, dan alurnya mudah ditebak. Tidak banyak hal baru yang ditawarkan. Kitsch, kitsch, kitsch, period.

 

Tetapi ada beberapa hal yang bisa aku garisbawahi. Kekuatan PARTY SEASON sebagai bacaan yang lumayan enak.

  1. Tokohnya, Isabel Serranti adalah cewek yang tau apa yang ia kerjakan. Ia tidak konyol, tidak manja, tidak pemabuk atau perokok (tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penyuka booze dan rokok, di chicklit-chicklit yang aku baca, banyak cewek yang dikisahkan sebagai tokoh yang serampangan dengan kebiasaan mengepulkan asap tanpa henti dan mabuk-mabukan sampai muntah setidaknya seminggu dua kali).
  2. Setting pertanian keluarga di tengah desa membuat pengarangnya bisa dengan leluasa memasukkan unsur-unsur pedesaan seperti jerami, serangga, dll sebagai bahan joke segar.
  3. Ada tokoh-tokoh sahabat dan saudara yang konyol, lucu, tapi setia. Rumus klise chicklit yang tetap enak untuk menjadi bumbu cerita.
  4. Last but not least, tidak ada adegan seks. Yes! Sori, bukan bermaksud untuk menjadi hipokrit dengan bilang kalo aku kurang suka baca kisah-kisah dengan bumbu seks yang menggebu. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Secara pribadi, aku suka kisah-kisah dengan bumbu romance atau malah kisah romance tok. Adegan seks yang eksplisit buatku malah merusak romantisme cerita. Dan hal ini banyak banget didapat dari novel-novel dewasa. Apalagi chicklit. Biasanya novel ber-genre ini penuh taburan adegan ranjang yang bikin celana basah. Gak enak banget kan baca sambil musti ganti pakaian dalam berkali-kali?

 

Jadi itu deh … di antara gempuran novel-novel fantasy fiction dan historical romance, aku masih menyarankan kalian untuk berhenti sejenak dan cekikikan dikit sambil baca PARTY SEASON. Kisahnya dijamin ringan, mudah dicerna, dengan terjemahan yang lancar tanpa banyak typo. Karakter tokoh-tokoh penggembiranya pun kuat, sehingga membuatku menyukai tokoh Aunt Flo yang flamboyan dan kleptomaniak, serta Aunt Winnie yang serampangan dan ngomongnya kenceng banget.

Desain sampulnya sih biasa banget. Aku kurang tau apa maksud kotak-kotakan di sekujur sampul, meski secara visual tetap enak dilihat. Tetapi kalo boleh pilih, aku sih lebih suka desain sampulnya yang asli dari Inggris sono. Lebih girly soalnya. Singkat kata, aku gak nyesel beli novel ini meski genre-nya sudah out of date ^_^

SourceURL:file://localhost/Users/Bening_Tri_Swasono/Desktop/PARTY%20SEASON.doc @font-face { font-family: “Times New Roman”; }@font-face { font-family: “Trebuchet MS”; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 0in 0in 0.0001pt; font-size: 12pt; font-family: “Trebuchet MS”; }table.MsoNormalTable { font-size: 10pt; font-family: “Times New Roman”; }div.Section1 { page: Section1; }

Judul: PARTY SEASON

Penulis: Sarah Mason

 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-7076-1

Soft cover

Halaman: 436 halaman

Terbit: Mei 2011

Harga: Rp 50.000,-

 

 

04
Jun
11

Victoria and Nicola: Dua Gadis Kembar dalam Dua Novel yang Berbeda

Hehehe, maaf, judulnya agak-agak menyesatkan 😀

Victoria and the Rogue

Lady Victoria Arbuthnot selama ini tinggal di pedalaman India. Ia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan paman-pamannya. Kebiasaannya yang suka ikut campur dan ngatur bikin paman-pamannya memutuskan untuk mengirimnya kembali ke Inggris untuk tinggal dengan kerabatnya yang lain, keluarga Gardiner yang tinggal di London.

Selama perjalanan panjang dari India ke Inggris yang memakan waktu sekitar tiga bulan, Victoria berkenalan dan bertunangan dengan Lord Malfrey, bangsawan ganteng yang melakukan perjalanan dengan kapal yang sama. Selama perjalanan itu pula Victoria yang memang masih remaja berusia 16 tahun juga menjalin permusuhan dengan Kapten Jacob Carstairs yang memang menjengkelkan.

Sayang begitu sampai di London, Victoria harus menerima kenyataan bahwa Jack Carstairs adalah teman keluarga Gardiner, sehingga mau tak mau ia harus sering bertemu dengan pria menjengkelkan itu. Dan sayang pula berlalunya waktu di London menyibakkan beberapa kenyataan buruk tentang tunangannya.

Lalu bagaimana Victoria mengatasi masalah yang ia hadapi? Bagaimanakah kelanjutan hubungannya dengan Lord Malfrey? Bagaimana pula sikap Jack Carstairs menyaksikan musibah yang menimpa Victoria?

Judul: Victoria and the Rogue

Penulis: Meg Cabot

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-6550-7

Soft cover

Halaman: 246 halaman

Terbit: Desember 2010

Harga: Rp 35.000,-

Nicola and the Viscount

Nicola Sparks, 16 tahun dan yatim piatu. Ia baru lulus dari sekolah dan siap menjadi debutante di kota London. Nicky adalah gadis cantik dan cerdas yang sangat menyukai fashion. Fakta bahwa uang sakunya relatif kecil tidak menutup kemampuannya berpenampilan menawan karena Nicola pintar menjahit dan memermak pakaian. Ia juga memiliki kecenderungan suka mengomentari cara berpakaian orang lain.

Lord Sebastian Bartholomew adalah pria yang berkali-kali dideskripsikan Nicky sebagai “Sang Dewa” karena ketampanannya yang ditunjang oleh rambut pirang dan mata sebiru langit. Selain tampan, Lord Sebastian juga kaya raya dan lulusan Oxford University. Ia juga adalah anggota tim dayung. Kakak salah satu sahabat Nicky ini juga akhirnya menyampaikan lamarannya kepada Nicky.

Kebahagiaan Nicky menyambut pertunangannya dirusak oleh Nathaniel Sheridan kakak sahabatnya yang lain, Eleanor Sheridan. Nathaniel yang sejak kecil sering menggoda Nicky, membisikkan beberapa fakta buruk tentang Sebastian yang sebenarnya juga mulai disadari Nicky.

Jadi, seberapa buruk kah Sebastian? Bisakah cinta mereka berdua mengalahkan kekurangan-kekurangan yang muncul di tengah pertunangan?

Judul: Nicola and the Viscount

Penulis: Meg Cabot

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-7110-2

Soft cover

Halaman: 288 halaman

Terbit: Mei 2011

Harga: Rp 40.000,-

Mengapa aku menaruh dua novel ini di dalam satu review? Karena pengarangnya sama? Karena genrenya sama? Karena lokasinya yang sama? Karena kepribadian tokoh-tokohnya yang sama? Karena fakta-fakta kecil tentang para tokoh yang sama juga (usia, golongan sosial, lokasi tinggal, era setting, dll)? Atau karena aku malas saja? Hehehe, kayaknya sih jawabannya ya, ya ya, ya, ya, ya, dan ya.

Dua novel karya Meg Cabot yang saat itu menggunakan nama Meggin Cabot untuk membedakannya dari karya-karya YA-nya yang ber-setting modern kontemporer macam The Princess Diaries Series, The Mediator, atau karya-karyanya yang ber-genre chicklit. Sedang untuk historical romance yang ditujukan pasar yang lebih dewasa, Meg Cabot waktu itu menggunakan nama Patricia Cabot. Duh, ruwet ya?

Oke, Meg Cabot adalah salah satu pengarang favoritku. Tetapi akhir-akhir ini aku menemukan beberapa cacat yang membuktikan bahwa ia manusia juga (sori, dulu aku begitu kagum pada karya-karyanya, jadi kalo ada yang bilang Meg adalah salah satu dewi Yunani yang menjelma di bumi, pasti aku bakal percaya saja :D). Nah, di mana cacat novel ini? Atau boleh aku sebut kedua novel ini? Hmm, tentu saja di plot, setting, karakter tokoh, dan alur cerita yang sangat sama. Hampir bisa dibilang keduanya adalah novel yang sama dengan penggantian nama-nama tokoh dan adegan minor. Yang lain? Mirip!

Sumpah, meski overall aku masih suka banget dengan kedua novel ini, aku agak-agak kecewa ngebacanya. Setelah baca Victoria and the Rogue yang memang terbit duluan di Indonesia (meski di Amrik terbitnya belakangan), aku tidak menemukan satu pun hal baru di Nicola and the Viscount.

Tapi untuk selingan, keduanya masih bisa dinikmati kok. Sekali lagi, Meg Cabot tetap menunjukkan kelasnya sebagai pengarang fiksi populer yang top. Dua novel historical romance bergenre YA ini sangat teliti dalam memanfaatkan tren di era regency di Inggris sono. Mulai dari detail pakaian yang bergaris empire, tatanan rambut yang disanggul tinggi, hingga gaya berbicara dan tata pergaulan masyarakat Inggris kelas atas saat itu. Semua terekam secara manis, membuat aku bisa membayangkan keanggunannya jika diterjemahkan dalam sebuah film. Oh ya, seharusnya Hollywood mulai mempertimbangkan film remaja ber-setting regency. Pasti akan tampak indah 🙂

Sebagai bonus, aku suka banget menikmati cover-covernya. Keduanya menampilkan gambar sampul yang manis dengan dominasi warna-warna pastel. Abege banget, imut banget.




%d bloggers like this: