23
May
11

Beastly: Dongeng Pengantar Tidur yang Gak Bakal Bikin Ketiduran …

Memang susah menjadi orang yang ganteng atau cantik. Apalagi kalo ditambah dengan beban seperti bodi bagus, kaya, dan (mungkin) pintar juga. Bagaimana tidak susah, karena pasti sulit banget untuk bisa low profile. Gak gampang juga untuk gak ngelirik kaca atau apapun yang agak-agak memantuklan bayangan, karena naluri mengagumi diri yang besar. Belum lagi tuntutan dari diri sendiri untuk selalu tampil keren, karena kita bakal berpikir orang lain juga pasti menuntut hal itu dari kita, gak kurang!

Itulah yang terjadi pada Kyle Kingsbury. Sebagai cowok super ganteng berambut pirang dengan mata biru, tubuh tinggi, anak pembaca berita kaya dan berpengaruh di Manhattan, ia terbiasa mendapatkan sanjungan dan pujian karena kelebihan fisiknya. Sehingga ia lupa bahwa semua itu hanya keberuntungan yang bersifat genetis, tidak melibatkan pencapaian diri. Kyle tumbuh menjadi remaja yang tidak peka terhadap lingkungan, kejam, bermulut kasar, dan tukang tindas. Teman-temannya mendukungnya, ayahnya membiarkannya.

Suatu hari, Kyle berangkat ke pesta dansa sekolah, menjanjikan kencan dengan dua orang gadis. Yang satu adalah pasangannya yang biasa, Sloane Hagen-gadis tercantik di sekolah. Satunya lagi adalah Kendra Hilferty, seorang cewek bermata dan beranbut hijau dengan hidung bengkok dan badan gemuk,  dan pakaian serba hitam yang kedodoran. Sama sekali bukan cewek yang memenuhi selera Kyle. Dan memang ia tidak berniat serius untuk mengajak Kendra jadi kencannya di pesta dansa. Kyle hanya ingin menghina Kendra di hadapan publik sekolah, karena ia jelek.

Dengan bantuan Sloane, Kyle berhasil melaksanakan rencananya. Tapi di pintu masuk ruang dansa ia juga sempat membuat marah Sloane karena cewek itu meminta korsase anggrek ungu dan-berkat kesalahan tolol pelayan Kyle, Magda-akhirnya cuma mendapatkan mawar putih yang jauh dari standar kekerenan Sloane.

Sloane membuang mawar tersebut. Kyle mengambilnya dan memberikannya secara sambil lalu kepada cewek beasiswa miskin yang menjaga pintu ruang dansa.

Seusai pesta yang kurang memuaskan, Kyle kembali harus menghadapi Kendra yang bertingkah aneh. Cewek itu berhasil berhasil menerobos masuk ke kamar Kyle dan melakukan percakapan paling serius sepanjang hidup Kyle.

Kendra ternyata tidak sejelek itu. Ia memang bermata dan berambut hijau. Tapi hidungnya baik-baik saja. Senyumnya juga menawan. Kendra cuma menyamar untuk menguji Kyle dan menganggap Kyle tidak lolos ujian. Kendra adalah penyihir, dan ia memantrai Kyle hingga cowok tampan dan sombong itu menjadi bukan serigala, atau beruang, atau gorila, atau anjing, tapi spesies mengerikan yang berjalan tegak, yang nyaris menyerupai manusia, tapi bukan. Taring bermunculan dari mulutnya, cakar mencuat dari jari-jari, dan bulu tumbuh dari setiap pori-pori pada tubuh. Kyle yang biasanya memandang rendah pada orang yang memiliki jerawat atau bau mulut, kini diubah menjadi monster. Karena menurut Kendra, seperti itulah bentuk Kyle yang sebenarnya. Makhluk buruk rupa.

Kendra berkata bahwa Kyle punya waktu dia tahun untuk menemukan cewek yang bisa mencintainya apa adanya, mencintainya karena kebaikan hatinya, sehingga nanti ia bisa berubah kembali menjadi Kyle sempurna seperti sedia kala.

Setelah itu, muncul lah tokoh-tokoh seperti ayah Kyle yang menyebalkan, Magda pelayan sabar yang bersedia mengikuti Kyle ke rumah pembuangan mewahnya, Will si tutor buta yang menjadi teman sekaligus penasihatnya, kemudian ada Linda Owens, gadis yang “ditukar” ayahnya sebagai ganti kebebasan setelah sang ayah tertangkap Kyle saat mendobrak masuk rumah Kyle.

Tentu saja, sejak awal kita memang sudah diingatkan, bahwa novel ini mengadaptasi kisah Beauty and the Beast dengan setting modern. Sehingga dari awal kita sudah bakal tahu, pasti happy ending. Nothing less. Kita juga sudah paham, Magda dan Will adalah pengganti perabotan yang bisa menari-nari dan berbicara. Sedang Linda jelas menjadi si Belle.

Tapi aku akui saja, aku sangat terhibur dengan jalan ceritanya. Alex Finn mampu memindahkan jaman Beauty and the Beast ke New York modern tanpa gagap. Kastil Beast berubah menjadi apartemen mewah, ayah yang musti melakukan perjalanan dagang diubah menjadi ayah yang pecandu narkoba, dll.

Kepribadian tokoh-tokohnya juga kuat dan nyata. Aku bisa merasakan kekejaman yang diperbuat Kyle hingga ingin bisa mendapatkan kesempatan menoyor kepalanya yang tengil. Aku tahu memang ada cewek-cewek tipe Sloane yang berkeliaran di muka bumi, dan tipe Linda yang memang bisa dikatakan agak-agak transparan kalo bersebelahan dengan tipe flamboyan macam Kyle.

Kembali ke kehidupan Kyle, ia berhasil memaksa seorang cewek beasiswa pintar untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, kepintaran Linda kurang tergambarkan di novel. Ia hanya tampak seperti cewek sensitif yang suka sastra, karena pelajaran itulah yang terbaca di novel di hampir semua sesi tutorial yang didapat kedua remaja.

Di novel ini aku juga menemukan bahwa yang selama ini digambarkan jahat dan kejam di dongeng-dongeng, bisa dinetralisasi menjadi sebuah kejahatan yang memiliki maksud baik di belakangnya. Setiap sikap negatif, ada imbangan positifnya meski sedikit. Seorang penyihir jahat, ternyata tidak sejahat itu. Tapi sayang naluri balas dendamku tidak terpenuhi dengan tidak tersentuhnya Sloane dari keburukan selain cuma gambaran mendapat sebuah jerawat gede di wajah.

Oke, apa lagi ya? Hmm, sedikit sekali novel remaja (romance-fantasy, apalagi) yang menempatkan cowok sebagai pencerita. Biasanya kita bakal menemukan sudut pandang ini di novel bergenre action-fantasy macam Harry Potter atau Percy Jackson. Jadi aku memahami kalau novel ini jadi agak terbaca terlalu banyak perenungan untuk tokoh cowok yang biasanya diuraikan di novel tidak banyak suara hatinya.

Mungkin keanehan ini bisa dimaklumi dengan kenyataan bahwa Kyle memang sedang dihadapkan pada perubahan hidup yang drastis. Sehingga hidup tidak menyisakan apapun bagi dia kecuali waktu yang panjang untuk merenungi kejahatannya, menyesali nasibnya, dan menerima takdirnya.

Tapi mungkin lebih bisa dimaklumi juga karena nama Alex Flinn agak “menipu” (terutama bagi kita yang di Indonesia). Alex Flinn adalah pengarang perempuan. Ia sudah punya beberapa karya young-adult. Dan beberapa di antara beberapa itu adalah adaptasi dongeng anak-anak yang terkenal macam Pangeran Kodok dan Sleeping Beauty. Jadi gak sabar nunggu karya dia berikutnya, karena over all, Beastly adalah dongeng pengantar tidur yang gak bakal bikin kamu ketiduran saking bosennya.

Last but not least, kembali ke novelnya. Cover-nya kurang menarik. Tadinya aku kira cover itu mengambil freeze frame salah satu adegan di film, karena karya Alex Finn ini memang sudah diadaptasi ke layar sinema dengan judul yang sama. Pemerannya Alex Pettyfer (yes!) dan Vanessa Hudgens (big no, no!). tapi ternyata cover bukan adaptasi film. Jadi aku agak kurang bisa memaafkan pose aneh yang ditampilkan di sana. Kurang ada chemistry di antara Kyle dan Linda di cover itu.

Judul: Beastly

Penulis: Alex Finn

Penerbit: Mizan fantasi

ISBN: 978-979-433-612-0

Soft cover

Halaman: 409 halaman

Terbit: Maret 2011

Harga: Rp 45.000,-


0 Responses to “Beastly: Dongeng Pengantar Tidur yang Gak Bakal Bikin Ketiduran …”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s