27
Mar
11

AGGELOS-Kisah cinta fallen angel (lagi) yang semoga tidak perlu ditinjau menggunakan teori postkolonialisme

Viola Mondru Sedih banget. Dia-sekali lagi-terancam gagal ikut Celeste Pons, sebuah kontes balet lokal yang cukup bergengsi. Apa sih ancaman kegagalan Viola kali ini? Ternyata kontes tahun ini mengharuskan peserta untuk disertai musisi pengiring, bukan iringan musik dari CD.

Dengan tenggat waktu kontes yang tinggal beberapa minggu, Viola kesulitan menemukan pengiring yang tepat, meski ia dibantu sepupunya, Karen. Sampai ia harus mengadakan audisi kecil-kecilan di sekolah, tapi tetap saja gak berhasil.

Di satu kesempatan, Viola dikejutkan orang yang mengacak-acak kamarnya. Orang itu ternyata adalah seorang cowok tampan menyebalkan yang ia temui di taman. Apa yang dilakukan cowok itu di kamarnya? Siapa sebenarnya dia? Kenapa si cowok berkeras kamar Viola adalah kamarnya?

Di sekolah Viola kembali terkejut menemui ternyata cowok itu adalah murid baru di sekolah. Bahkan dia juga tetangga depan rumah Viola dan Karen. Belum cukup kesebalannya, ternyata Karen naksir cowok itu. Tambah lagi? Ternyata cowok itu mampu main biola dengan cantik, memainkan lagu yang menurut viola paling pas untuk jadi pengiring tariannya. Bagaimana caranya membujuk cowok menyebalkan itu untuk mau mengiringi Viola di kontes Celeste Pons?

Pertanyaan mendasar lainnya adalah, siapa sebenarnya cowok itu? Apa yang dilakukannya hingga sampai ke halaman 250 novel Aggelos ini isinya cuma adu mulut sok imut tanpa kejelasan plot? Apa yang sebenarnya ingin diceritakan si pengarang: kisah cinta gak jelas antara Viola dan Slaven, alat musik ajaib yang misterius, sebab musabab keberadaan Slaven di bumi, atau apa lagi?

Baru sekali ini aku baca novel yang penuh omong kosong. Padahal awalnya aku cukup berharap banyak dari sinopsis di sampul belakangnya. Pengambilan setting-nya juga gak umum, hingga aku kira bakal ketemu cerita yang super asik. Sayang jalan ceritanya aneh, terlalu banyak adegan yang maunya cute dan heboh tapi akhirnya terbaca maksa. Contoh: Viola pas nuduh Slaven nyuri sandwich-nya di taman. Trus Viola nggetok pala Slaven di kamar, dan banyak lagi. Sampe enek. Belum lagi ceritanya yang gak fokus, karakter para tokohnya juga gak ada yang nyantol di hati. Si Viola terlalu cengeng dan lembek, si Slaven sok misterius tapi nanggung.

Bahasan akhir, adalah si pengarang sendiri.

Saat lihat novel ini di display toko, aku kira novel ini adalah bikinan pengarang luar negeri, secara kebanyakan novel bergenre fantasi memang bersumber dari luar. Tapi begitu aku punya kesempatan untuk membuka-buka bagian dalamnya, aku lihat ucapan terima kasih kok pada Mbak … Bang … Mas … Pak …. Gak mungkin banget kan, kalo penerjemah bilang makasih pada tante-tante atau engkongnya? Akhirnya aku sampai di halaman 6 yang tidak mencantumkan nama penerjemah. Trus juga gak ada nama penerbit asli dari luar. Jadi kesimpulannya sih, berarti pengarang lokal.

Aku bukannya anti pengarang lokal lho ya … Tapi pengarang lokal dengan nama interlokal. eh, nama bule? Kayaknya kok terlalu kebetulan ya. Semoga ini bukan kasus yang harus dibongkar dengan teori postkolonialisme. Semoga nama pengarang memang asli Harry K. Peterson, hingga pemilihan nama bukan karena inferioritas si penulis yang notabene orang Indonesia dan sedang berhadapan dengan karyanya yang genrenya selama ini  menjadi hegemoni bangsa Barat, sehingga ia merasa perlu menggunakan nama alias berbau Barat untuk legalitas dan penerimaan di kalangan penggemar genre fantasi. Karena bagiku, bukan akar si pengarang yang bakal menentukan tingkat kebagusan sebuah karya, tapi bagaimana ia membuat plot, bagaimana ia mengisinya dengan karakter yang kuat, dan bagaimana craftmanship dari awal hingga akhir cerita. Sayang sekali, ketiga kategori itu ambruk di dongeng Aggelos ini.

Judul: Aggelos

Penulis: Harry K. Peterson

Penerbit: Mizan fantasi

ISBN: 978-979-433-588-8

Soft cover

Halaman: 515 halaman

Terbit: Mei 2010

Harga: Rp 58.000,-


7 Responses to “AGGELOS-Kisah cinta fallen angel (lagi) yang semoga tidak perlu ditinjau menggunakan teori postkolonialisme”


  1. 1 ci bonet
    July 8, 2011 at 12:45 pm

    novel aggelos da bgian kedua na gc??

    Aq pngen tw,,,
    akhir na slaven bner2 nebatin janji na gc??

    • July 8, 2011 at 1:00 pm

      Hi ci bonet. Iya, Aggelos sudah keluar sekuelnya, Tetra Mars. Jangan tanya deh bagaimana kelanjutannya, soalnya setelah baca buku pertama ini aku sudah putus asa dan memutuskan kayaknya mending beli novel2 lain deh. Tapi mungkin ceritanya membaik di sekuelnya, who knows? Itu masalah selera juga sih. Btw Tetra Mars sudah keluar sejak Mei lalu lho.

  2. 5 anton
    October 5, 2011 at 9:06 am

    kalo gitu ga jadi beli deh…

    • October 5, 2011 at 1:55 pm

      hihihi, baca komen ini jadi pengen ngekek deh. gimana ya … kalo aku tanya ke yang pernah baca tetra mars, katanya karya si Harry K. Peterson ini membaik di buku ke-2. Tapi gak brani jamin juga, soalnya (sekali lagi) buatku mending baca yang lain deh, secara novel fantasi sedang boom, jadi daftar beli sudah menumpuk. mana harganya cukup mahal lagi buat ukuran novel lokal.

  3. 7 max
    January 3, 2012 at 11:06 am

    buku tetra mars seru kok. ceritanya juga bagus🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s