Archive for March, 2011

27
Mar
11

AGGELOS-Kisah cinta fallen angel (lagi) yang semoga tidak perlu ditinjau menggunakan teori postkolonialisme

Viola Mondru Sedih banget. Dia-sekali lagi-terancam gagal ikut Celeste Pons, sebuah kontes balet lokal yang cukup bergengsi. Apa sih ancaman kegagalan Viola kali ini? Ternyata kontes tahun ini mengharuskan peserta untuk disertai musisi pengiring, bukan iringan musik dari CD.

Dengan tenggat waktu kontes yang tinggal beberapa minggu, Viola kesulitan menemukan pengiring yang tepat, meski ia dibantu sepupunya, Karen. Sampai ia harus mengadakan audisi kecil-kecilan di sekolah, tapi tetap saja gak berhasil.

Di satu kesempatan, Viola dikejutkan orang yang mengacak-acak kamarnya. Orang itu ternyata adalah seorang cowok tampan menyebalkan yang ia temui di taman. Apa yang dilakukan cowok itu di kamarnya? Siapa sebenarnya dia? Kenapa si cowok berkeras kamar Viola adalah kamarnya?

Di sekolah Viola kembali terkejut menemui ternyata cowok itu adalah murid baru di sekolah. Bahkan dia juga tetangga depan rumah Viola dan Karen. Belum cukup kesebalannya, ternyata Karen naksir cowok itu. Tambah lagi? Ternyata cowok itu mampu main biola dengan cantik, memainkan lagu yang menurut viola paling pas untuk jadi pengiring tariannya. Bagaimana caranya membujuk cowok menyebalkan itu untuk mau mengiringi Viola di kontes Celeste Pons?

Pertanyaan mendasar lainnya adalah, siapa sebenarnya cowok itu? Apa yang dilakukannya hingga sampai ke halaman 250 novel Aggelos ini isinya cuma adu mulut sok imut tanpa kejelasan plot? Apa yang sebenarnya ingin diceritakan si pengarang: kisah cinta gak jelas antara Viola dan Slaven, alat musik ajaib yang misterius, sebab musabab keberadaan Slaven di bumi, atau apa lagi?

Baru sekali ini aku baca novel yang penuh omong kosong. Padahal awalnya aku cukup berharap banyak dari sinopsis di sampul belakangnya. Pengambilan setting-nya juga gak umum, hingga aku kira bakal ketemu cerita yang super asik. Sayang jalan ceritanya aneh, terlalu banyak adegan yang maunya cute dan heboh tapi akhirnya terbaca maksa. Contoh: Viola pas nuduh Slaven nyuri sandwich-nya di taman. Trus Viola nggetok pala Slaven di kamar, dan banyak lagi. Sampe enek. Belum lagi ceritanya yang gak fokus, karakter para tokohnya juga gak ada yang nyantol di hati. Si Viola terlalu cengeng dan lembek, si Slaven sok misterius tapi nanggung.

Bahasan akhir, adalah si pengarang sendiri.

Saat lihat novel ini di display toko, aku kira novel ini adalah bikinan pengarang luar negeri, secara kebanyakan novel bergenre fantasi memang bersumber dari luar. Tapi begitu aku punya kesempatan untuk membuka-buka bagian dalamnya, aku lihat ucapan terima kasih kok pada Mbak … Bang … Mas … Pak …. Gak mungkin banget kan, kalo penerjemah bilang makasih pada tante-tante atau engkongnya? Akhirnya aku sampai di halaman 6 yang tidak mencantumkan nama penerjemah. Trus juga gak ada nama penerbit asli dari luar. Jadi kesimpulannya sih, berarti pengarang lokal.

Aku bukannya anti pengarang lokal lho ya … Tapi pengarang lokal dengan nama interlokal. eh, nama bule? Kayaknya kok terlalu kebetulan ya. Semoga ini bukan kasus yang harus dibongkar dengan teori postkolonialisme. Semoga nama pengarang memang asli Harry K. Peterson, hingga pemilihan nama bukan karena inferioritas si penulis yang notabene orang Indonesia dan sedang berhadapan dengan karyanya yang genrenya selama ini  menjadi hegemoni bangsa Barat, sehingga ia merasa perlu menggunakan nama alias berbau Barat untuk legalitas dan penerimaan di kalangan penggemar genre fantasi. Karena bagiku, bukan akar si pengarang yang bakal menentukan tingkat kebagusan sebuah karya, tapi bagaimana ia membuat plot, bagaimana ia mengisinya dengan karakter yang kuat, dan bagaimana craftmanship dari awal hingga akhir cerita. Sayang sekali, ketiga kategori itu ambruk di dongeng Aggelos ini.

Judul: Aggelos

Penulis: Harry K. Peterson

Penerbit: Mizan fantasi

ISBN: 978-979-433-588-8

Soft cover

Halaman: 515 halaman

Terbit: Mei 2010

Harga: Rp 58.000,-

25
Mar
11

The Summoning: Pemanggilan-Ketegangan dan pengadeganannya serasa sedang “membaca” film

Oh. Wow.

Pilih mana, jadi orang yang sama sekali gak terkenal karena pemalu dan pendiam, atau jadi pusat perhatian karena memiliki banyak keistimewaan? Chloe pernah mengalami itu semua. Dan coba bayangkan jadi dia, karena ternyata dia tak menyukai semuanya.

Chloe Saunders gadis yang baru saja menginjak 15 tahun dan bercita-cita menjadi sutradara film. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati ibunya, dan diasuh deretan pembantu serta tantenya, Lauren Fellows. Ayahnya adalah pengusaha yang selalu bepergian ke luar negeri.

Chloe yang pemalu, pendiam, dan cenderung gagap saat gugup musti menghadapi banyak kejutan di hari ulangtahunnya: menstruasi yang akhirnya muncul, anak kecil yang nyelonong ke depan taksi yang ia tumpangi (dan ternyata setelah ditingkahi teriakan histeris Chloe, ia tak bisa menemukan jejak atau pun mayat si anak kecil di kolong maupun atap taksi). Di sekolah ia juga sempat malu karena Brent yang ia taksir hanya cuek saja, dan puncaknya, ia diganggu sosok penjaga sekolah berseragam yang marah-marah dan meleleh di depannya.

Tumpukan stres membuat Chloe dikira mengamuk di sekolah. Akhirnya ia dikirim ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Diagnosis para dokter merujuk Rumah Lyle untuk perawatan intensif selanjutnya.

Ditinggal di Rumah Lyle bersama beberapa remaja lain yang sama-sama dianggap bermasalah membuat Chloe mulai mempertanyakan kewarasannya. Apalagi ia kemudian kembali mengalami penglihatan-penglihatan seram-yang orang lain tidak.

Skizofrenia, itulah diagnosisnya.

Rumah Lyle menampung remaja-remaja yang dianggap memiliki masalah mental. Ada Liz yang cantik, ramah, dan bisa menerbangkan benda-benda saat ia marah, Derek yang bongsor, jerawatan parah, jenius, galak/antisosial, serta memiliki tenaga yang luat biasa, lalu ada Simon-saudara angkat Derek-si blasteran Korea yang ganteng dan bisa membuat kabut dan menggerakkan benda-benda hanya dengan menjentikkan jari, Rae si pemuja api, dan Tori yang pendengki, jahat, dan memiliki gangguan kestabilan emosi. Chloe langsung kewalahan menghadapi sikap bermusuhan Tori dan kegalakan Derek.

Singkat cerita, Rumah Lyle ternyata menyimpan rahasia kelam. Keamanan anak-anak itu terancam, apalagi sebelumnya Liz sudah dibawa pergi karena tak bisa mengontrol kekuatannya-dan Chloe yakin, Liz akhirnya dibunuh.

Derek, Simon, Chloe, dan Rae akhirnya merencanakan pelarian dengan tujuan awal mencari ayah Derek dan Simon. Pelarian itu berubah menjadi kejar-kejaran di tengah malam karena mereka ketahuan.

Kisah fantastis. Di tengah guyuran deras novel-novel young-adult bernuansa fantasy, The Summoning karya Kelley Armstrong ini masih mampu menembus pasar dan menciptakan pembeda di antara pesaingnya. The Summoning akhirnya tidak hanya sibuk mengeksplorasi genre fantasi (yang biasanya penuh dengan makhluk-makhluk gaib). Novel ini malah menyuguhkan kejutan-kejutan khas drama thriller psikologis. Lorong-lorong sempit, bisik-bisik, kejar-kejaran, sifat penuh rahasia dan pengkhianatan, sebut saja … semua tanpa ampun disajikan di sini oleh Kelley Armstrong. Membuat aku semakin deg-degan dan berkeringat dingin, tapi juga gak mau ngelepasin meski harus masuk kamar mandi.

Untuk mendapatkan kisah yang tegang dan seru, selain plot dan jalan cerita, sang pengarang juga harus memberi perhatian penuh kepada karakter masing-masing tokoh. Nah, The Summoning memiliki kelebihan di semua lini tersebut. Ide ceritanya sangat kuat dan cukup orisinal. Padahal dengan banyaknya novel bergenre fantasi yang sudah beredar di pasaran, sebenarnya wajar banget kalo dia agak-agak terpengaruh novel lain yang sudah duluan muncul. Tapi Kelley berhasil lolos dari jebakan itu.

The Summoning memadukan kisah fantasi dengan ketegangan film drama psikologis, dan diberi bumbu action yang mendebarkan. Jalan ceritanya juga tidak melulu mengisahkan pelarian remaja-remaja tersebut. Kelley bahkan menambahkan misteri mengapa ada orang dewasa yang mau berepot-repot mengumpulkan supernatural-supernatural muda bermasalah dalam satu atap. Mengingatkanku pada sekolah berasrama yang didirikan Profesor Charles Xavier di The X-Men. Tapi kalo Profesor Charles Xavier mengumpulkan remaja-remaja itu untuk mengajari mereka mengontrol kekuatan dan memberi mereka pemahaman mengenai penggunaan kekuatan untuk kebaikan. Sedang di Rumah Lyle remaja-remaja tersebut diberitahu kalo apa yang mereka kira mereka lihat atau mereka pikir atau lakukan itu salah, lalu diberi label penyakit kejiwaan yang seram, dan kemudian disuruh untuk “sembuh”.

Karakter-karakter tokoh dimunculkan secara gemilang. Aku terkejut-kejut dengan perubahan sikap yang ditunjukkan para karakter di sepanjang jalan cerita, secara seperti biasa, saat kita membaca sebuah kisah, biasanya kan kita memang sudah mengira-ngira sebenarnya kisah ini bagaimana, siapa yang jahat, dan lain-lain. Nah, kalo kamu belum pernah baca The Summoning, percaya deh, pasti bakal sering jengkel mendapati tebakan-tebakanmu salah 😀

Ada Chloe yang gagap, si jahat Tori, si jahat Derek, si ramah Simon, Dr. Gill, dll. Semua tokoh dibiarkan mengeksplorasi sifat-sifat yang sejak awal muncul sudah kita baca deskripsinya. Dan lihat lah ke mana jalan cerita membawa masing-masing karakter dalam plot.

Nah, sekarang aku sampai pada bumbu yang harus ada dalam genre YA. Cinta dan kelincahan. Dialog di The Summoning mengalir lancar. Aku banyak tersenyum membaca bagaimana remaja-remaja itu saling berinteraksi. Apalagi begitu sampai pada interaksi dengan lawan jenis. Banyak adegan dan dialog imut bertebaran. Tapi jangan ngarep deh untuk menemukan kisah cinta apalagi sampai adegan ciuman. Gak ada banget. Kita sudah terlalu disibukkan dengan petualangan mereka. Tapi jangan kuatir, kayaknya masih bisa berharap untuk menemukan cinta-cintaan atau monyet-monyetan di sekuel-sekuel The Summoning: The Awakening dan The Reckoning kalo ngeliat perkembangan hubungan tokoh-tokoh utama.

Penerjemahan juga lancar. Gak banyak typo, gak membingungkan. Hanya, seperti biasa, Ufuk terlalu bersemangat dalam penerjemahan, hingga kadang ada istilah yang seharusnya gak perlu kena babat terjemahan, ini juga tetep diindonesiakan. Contoh? “cincin basket”. Kayaknya kita lebih familier dengan istilah “ring basket” saja kali, ya. Tapi gak banyak kok. Dan gak ngganggu jalan cerita.

Nah, sekarang kekecewaanku baca novel ini deh. Aku tuh paling sebal kalo baca novel yang:

  1. Gak happy ending (hahaha, pecinta budaya kitsch banget ya:D)
  2. Jalan cerita yang nggantung di klimaks, menyisakan rasa penasaran.

Nah, gak cukup salah satunya, The Summoning mengecewakanku dengan memberiku dua kriteria tersebut di atas! Jadi do me a favor, please … bikin semaput aku saja, dan tolong jangan bangunkan aku sampai The Awakening terbit di pasaran! :”(

Judul: The Summoning/Pemanggilan

Penulis: Kelley Armstrong

Penerbit: Ufuk Publishing

ISBN: 978-602-8801-67-6

Soft cover

Halaman: 458 halaman

Terbit: Februari 2011

Harga: Rp 59.900,-

16
Mar
11

Cherry Crush-Pengalaman baru menyelami protagonis yang tidak membuatku jatuh simpati

Sebagai cewek yang sama sekali gak populer di sekolah, Cherry Costello sangat menanti-nanti saat ia akan pindah dari Glasgow ke kota baru, ke sekolah baru, karena itu berarti ia bakal punya kesempatan untuk memulai segalanya sebagai orang baru juga. Tapi bukan berarti Cherry tidak dihantui rasa takut. Karena awalan baru ini berarti ia harus berusaha keras untuk menjadi orang yang pantas untuk disukai, layak untuk disayangi. Apalagi awalan baru ini di tempat keluarga pacar bokapnya.

Charlotte Tanberry, pacar bokap Cherry ternyata bukan hanya Charlotte seorang. Menjelang kepindahannya Cherry baru tahu kalau Charlotte sudah punya empat orang anak gadis-Honey, Skye, Summer, dan Coco-yang cantik-cantik dan beranbut pirang, dan masing-masing tampak ceria, populer, dengan membawa bakat alami yang berbeda-beda. Jauh banget dengan Cherry yang pendiam, tanpa teman, dan terkenal sebagai tukan bohong, atau anak dengan imajinasi yang hiperaktif, tergantung dari sudut mana kita mau menilai.

Di Tanglewood House, penginapan bed & breakfast yang dikelola keluarga Tanberry, Cherry menemui fakta kalo awal baru yang ia harap agak-agak sulit terlaksana. Honey Tanberry, anak sulung Charlotte langsung menunjukkan kebencian di menit pertama pertemuan mereka. Untung saudara-saudara yang lain mau menerima Cherry dengan tangan terbuka.

Di antara keseharian Cherry berusaha menyesuaikan diri dengan irama hidup penginapan, Cherry juga berharap harap cemas dengan bisnis cokelat yang ingin dimulai bokapnya di sana. Bisnis ini sangat didukung keluarga Tanberry-minus Honey-sehingga mereka semakin akrab dalam merencanakan produk dan pemasarannya. Bahkan akhirnya Honey tergerak untuk ikut terlibat. Harapan Cherry untuk segera melihat kedua keluarga benar-benar menyatu semakin mengembang.

Sayang, Cherry merusak kebaikan mereka dengan kebiasaan buruk yang sudah lama ia jalani di Glasgow. Sayang juga usahanya untuk mendekati Honey terganjal rasa sukanya pada Shay-pacar Honey. Hidup Cherry memang penuh kesulitan yang kebanyakan terjalin dan berakar dari kelakuan Cherry sendiri.

Membaca Cherry Crush membuatku menemui satu pengalaman baru sebagai pembaca novel fanatik. Cherry adalah satu-satunya protagonis novel yang pernah aku baca sejauh ini yang sangat sulit untuk diberi simpati. Setiap langkahnya selalu tidak tepat. Semua tindakannya selalu mengarah pada kesalahan. Belum lagi sejak awal memang kita tahu kalo Cherry adalah:

  1. Pembohong
  2. Tidak mampu membela diri sendiri
  3. Main mata dengan pacar orang lain
  4. Hidup di angan-angan
  5. Nggak pedean
  6. Dll, dll, dll.

Tapi dipikir-pikir lagi, Cathy Cassidy mengajak aku untuk mencoba mendalami anak remaja bermasalah. Halaman demi halaman, di antara semua kelembekan Cherry, aku ditarik untuk mulai memberi empati. Bahwa semua sifat buruk dan kelemahan gadis ini disebabkan masa lalu yang kurang enak. Semua sifat kurang baiknya adalah usaha-usaha putus asa Cherry untuk mendapat simpati dan pertemanan yang selama ini tidak ia miliki.

Akhirnya aku hanya bisa berpikir kalo aku jadi Cherry, mungkin akhirnya aku juga bakal berbohong. Kalo aku semiskin Cherry, mungkin aku bakal berandai-andai. Dan karena terlalu lama berandai-andai, aku akhirnya bisa juga jatuh ke kebohongan yang bersambung-sambung.

Tapi Cherry kurang didukung bokapnya. Memang sih si bokap sayang sama dia. Tapi keterlibatannya kurang banget untuk mengganti hilangnya sosok ibu. Bahkan aku rada menangkap keegoisan si bokap yang bisa-bisanya pergi pacaran ke kota Charlotte dan meninggalkan Cherry di Glasgow dengan tetangga flat mereka. Di Tanglewood juga si bokap terlalu sibuk dengan mimpi pabrik cokelatnya, hingga Cherry harus bersusah payah menghadapi calon saudara tiri seperti Honey yang persis saudara tiri Cinderella jahatnya.

Novel ini layak banget jadi selingan di antara genre YA yang biasa aku baca. Apalagi setelah sampai ke ending. Wow, serasa membaca novel psychological suspense thriller dengan sikap Honey yang aneh di menaranya. Pantes saja dia bersikap aneh sih, secara Honey sedang super kecewa karena bokapnya tiba-tiba pindah kerja dan pacarnya mutusin dia. Aku jadi menunggu-nunggu lanjutannya nih. Kayak apa jadinya hubungan Cherry-Honey-Shay? Bagaimana Cherry masuk ke sekolah baru? Sayang kayaknya di seri berikut giliran Skye yang jadi tokoh utama. Ketauan banget dari judulnya, Vanilla Skye.

Judul: Cherry Crush-The Chocolate Box Girls

Pengarang: Cathy Cassidy

ISBN: 978-602-8801-81-2

Penerbit: Ufuk Publishing

Terbit: Maret 2011

Soft Cover

Hal: 327

Harga: Rp 44.900,-




%d bloggers like this: