22
Nov
10

City of Glass-Misi penyelamatan ibu berkembang menjadi misi penyelamatan kota suci kaum nephilim

Clary bertekad ikut ke Idris, karena ia dapat pesan dari salah seorang teman ibunya kalau Jocelyn cuma bisa “dibangunkan” oleh seorang warlock khusus yang tinggal di Kota Kaca. Sayang, karena kesalahpahaman (yang awalnya disengaja juga), akhirnya Clary tak jadi berangkat, malah Simon yang terbawa masuk ke portal.
Berbekal kenekatan dan kemampuan hebat dengan pengetahuan pas-pasan, Clary berhasil menyusul ke sana. Tapi bukannya bertemu dengan Kota Kaca di ujung perjalanan, ia malah harus megap-megap nyaris tenggelam di Danau Lyn. Untung ada Luke yang berhasil menyeretnya.
Kota Kaca sedang dalam keadaan genting. Hampir seluruh Shadow Hunter berkumpul di sana. Mereka tau, kota itu adalah sasaran berikut Valentine yang sedang mencari Cermin Mimpi yang sejak dulu hanya jadi legenda saja keberadaannya karena tak seorang pun bisa mengartikan apa atau di mana sebenarnya benda tersebut. Tapi dugaan paling gampang memang kemungkinan besar berada di Idris, Negara asal para Shadow Hunter. Belum lagi, penaklukan Kota Kaca sepertinya juga jadi salah satu obsesi Valentine. Kota yang menara penangkal iblis yang cuma bisa disingkirkan mantranya jika menara tersebut diolesi daran iblis (yang kayaknya nggak mungkin banget, secara kalo mau ngolesin berarti musti masuk dulu ke kota yang sudah dilindungi mantra anti iblis di perbatasan-perbatasannya).
Jadi gitu deh, remaja-remaja yang tadinya berkeliaran di Manhattan itu sekarang malah pada ngumpul di Kota Kaca. Masih ditambah lagi dengan beberapa nama baru seperti Aline Penhallow dan Sebastian Verlac.
Singkatnya, jauh-jauh menyusul ke Kota Kaca, Clary harus menemui fakta mengecewakan, warlock yang ia cari sudah tewas, Jace, mantan-kecengan/calon-pacar-potensial-yang-akhirnya-jadi-kakak-kandung menolak mentah-mentah kehadirannya di Idris, Jace yang tampaknya sudah langsung dapat cewek baru, dan Simon yang malah dipenjara karena ia dianggap penghuni Dunia Bawah yang masuk kota secara ilegal.
Itu cuma urusan-urusan pribadi yang remeh. Masih banyak hal-hal tak terduga yang ia hadapi di sana. Termasuk keberhasilan Valentine menaklukan mantra Kota Kaca dan merusak menara penangkal iblis.
Novel ini jauh lebih kompleks dari prekuel-prekuelnya. Banyak tokoh baru. Muncul nama-nama yang tak terduga yang mengubah alur cerita dengan cepat. Porsi Isabel tetap kurang banyak dieksploitasi (cuma diberi jatah penting sedikit di pinggir danau :D).
Biasanya novel sekuelan suka kehabisan napas. Pengarangnya suka sudah garing di belakang-belakang (sekali lagi aku bakal mencontohkan Stephenie Meyer dengan Twilight Saga-nya). Tapi untungnya Cassandra Clare nggak mengalami masalah ini. Ia bisa meramu ceritanya untuk tetap (kalo kata “semakin” dianggap terlalu berlebihan) menarik dan seru. Dialog-dialog cerdas dan lucu tetap bermunculan di sana-sini. Adegan-adegan imut tetap bertebaran di antara leleran darah dan lendir (eeeewww). Kisah cinta juga dijamin bakal tetap ada (banyak).
Kalo kalian bisa nebak Clary dan Jace bakal menang melawan Valentine, ya nggak heran lah. Itu rumus yang harus selalu diikuti pengarang yang pengen ceritanya laris. Masak tokohnya yang notabene masih remaja dibikin mati sih?
Yang bikin aku kurang sreg cuma cara Clary nemu cinta sejatinya dan dialog-dialog dia dengan si cinta sejati (ye ye ye ye ye … gak bakal aku, sebut lah di sini) yang kerasa terlalu tua. Gimana ya, aku kan pernah jadi remaja 16 tahun. Dan kayaknya aku dulu nggak mikir dan ngomong sampe sedalem itu deh pas pacaran dengan pacarku waktu itu. Itu kesannya dialog yang pantas diomong orang-orang dengan umur dua kali lipat mereka.

Bagaimana keluarga Lightwood menghadaipi kematian anggota keluarganya juga agak-agak terasa terlalu dingin. Tapi mungkin itu bisa dimaklumi karena memang kaum Shadow Hunter yang kehidupannya keras dan sering menghadapi kematian.
Secara fisik, novel ini masih pakai pola gambar yang mirip dengan prekuel-prekuelnya. Kalau di City of Bones kita bakal nemu gambar cowok pirang ikal berkilauan dengan background kota besar (kayaknya sih Jace yang dijadikan tokoh cover), maka di City of Ashes kita bakal nemu Clary (rambutnya merah, kan?) berkacak pinggang dengan kilau di sekeliling dan kota di latar belakang juga. Maka di City of Glass, ada cowok berambut hitam dengan bayangan sayap dan kota besar juga di latar belakang (kayaknya Alec, meski nggak seganteng Alec dalam bayanganku). Kalo biasanya cover banyak bercerita tentang isi novel, maka di City of Glass, meski apa yang ditampakkan tentang cowok (yang aku tuduh) alec benar, tapi porsi Alec tidak segede yang aku harap saat memandang cover. Ngerti maksudku kan? Tapi tetep saja, don’t judge a book by its cover. Soalnya gede apa nggak porsinya si Alec, novel ini asik beneran. Jadi nggak sabar juga buat nunggu City of Fallen Angel

Tapi sekali lagi aku nemu banyak buanget salah cetak, salah naruh nama di dialog (contoh: mustinya satu dialog yang ngomong si Jace, tapi di situ ditulis ‘kata Alec’), dan penerjemahan yang kurang pas. Kayaknya kejar jam tayang banget nih. Tapi mo gimana lagi, mungkin ada kekhawatiran momen The Mortal Instruments Maniac keburu habis.

Judul: City of Glass
ISBN: 978-602-8801-47-8
Penerbit: Ufuk Press
Terbit: November 2010
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 664 halaman
Harga: Rp 109.900
Soft cover


3 Responses to “City of Glass-Misi penyelamatan ibu berkembang menjadi misi penyelamatan kota suci kaum nephilim”


  1. 1 Ian shadowshunter
    December 21, 2011 at 7:56 am

    Itu yang jadi cover di City of Glass bukan Alec mbak, tapi si Sebastian, itulah alesannya kenapa dia ada sayapnya, cz di buku kan di sebutin ada tokoh yang bersayap muncul di mimpi Clary, di City of Glass terungkap kalo anaknya Valentine adalah Sebastian, bukan Jace. Jadi cover ini benar2 ngegambarin ending novel. Hehe

  2. 3 Ian shadowshunter
    December 21, 2011 at 8:00 am

    Ada di websitenya ms. Clare
    http://cassie-claire.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s