Archive for September, 2010

28
Sep
10

City of Ashes-Kemenangan Valentine yang tertunda dan keberpihakan pada incest

“Lucu, seru, dan seksi. Salah satu buku favorit saya.”-Holly Back, Penulis Spiderwick Chronicles

SPOILER ALERT! SPOILER ALERT!

Buat kamu yang belum pernah baca novel pertama serial The Mortal Instruments mending jangan baca resensi ini. Hehehe …


Setelah pertempuran sengit antara kelompok manusia serigala di bawah pimpinan Luke melawan pasukan Yang Terabaikan yang dibentuk oleh Valentine Morgenstern di Renwick, situasi agak mendingin selama beberapa minggu. Termasuk situasi antara Clary dan Jace yang baru saja mengetahui fakta bahwa ternyata mereka saudara seayah-ibu.

Buat orang lain dengan situasi yang lain, nemu saudara kandung setelah seumuran hidup remaja mereka mengira bahwa mereka adalah anak tunggal, biasanya membawa kegembiraan. Tapi emosi gembira tak bisa melingkupi Clary dan Jace. Kan mereka sudah terlanjur saling jatuh cinta. Bahkan mereka sudah berciuman di malam ulang tahun Clary.

Uh, membaca kisah Mortal Instruments ini bikin aku jadi agak-agak condong untuk jadi suporter Jace dan Clary agar mau nekat menjalankan cinta incest mereka. Habis gimana dunk, chemistry di antara mereka gak ada duanya!

Akhirnya Clary memutuskan untuk memberi kesempatan pada Simon, sahabatnya sejak kecil. Keputusan ini agak membuat marah Jace. Hingga situasi antara ketiganya jadi membingungkan. Ditambah lagi dengan Alec yang masih mengharap cinta meski tahu bahwa ia bertepuk sebelah tangan.

Oke, mari kita tinggalkan kisah cinta berantakan di antara para tokoh muda ini. Sebab masih ada Instrumen Mortal lain yang diincar Valentine setelah ia berhasil mendapatkan Piala Mortal. Barang tersebut adalah Pedang Maellartach. Pedang yang disimpan di Kota Tulang berhasil direbut Valentine setelah ia membantai seluruh Saudara Hening dan meningalkan Jace yang sedang ditahan di sana.

Nah, nah, nah … gimana bisa nih Jace ditahan? Memangnya dia pesakitan? Wah, ada ceritanya lagi tuh. Kehebohan di cerita City of Bones memaksa Kunci mendatangkan Inkuisitor Imogen Herondale ke New York. Imogen yang menyalahkan kematian anaknya pada Valentine, ternyata menimpakan kepahitannya pada Jace yang anak Valentine. Jadi bisa kebayang deh, Jace yang memang rada-rada suka nyebelin omongannya jadi pelampiasan dendam sang Inkuisitor.

Di kisah lain, terjadi beberapa kali pembantaian kaum Dunia Bawah dengan modus berupa darah yang tersedot habis. Tentunya tertuduh pertama adalah para vampir. Tapi Raphael, sang pimpinan vampir meyakinkan bahwa pembunuhan beruntun itu bukan tindakan kaumnya. Apalagi ternyata setelahnya ada anggota vampir yang juga diculik. Kegiatan pemunculan iblis juga terdeteksi semakin gencar. Ada apa?

Jace dan kawan-kawan berhasil menggabung-gabungkan fakta-fakta yang terjadi, dan melacak keberadaan sang biang keladi, hingga pertempuran kembali terjadi.

Seperti yang aku bilang di review City of Bones, serial ini bagus banget. Di City of Ashes kisah The Mortal Instruments semakin seru. Alur cinta di antara para tokohnya semakin kompleks dengan provokasi Ratu Seelie. Belum lagi keberadaan Magnus Bane yang baik, meski agak-agak flamboyan dan heboh (penggemar glitter dan permata sih!)

Sayang peran Isabelle di sini tetap tidak vital. Seandainya dia tidak dilukiskan sebagai cantik memesona dan jago bertempur tak kalah dengan Jace dan Alec, mungkin kalau di filmnya nanti mau tega dibuang pun bisa saja. Sejauh ini peran Isabelle hanya jadi salah-satu-teman-yang-melontarkan-kalimat-judes-tapi kocak, atau jadi salah-satu-teman-yang-secara-tak-terduga-mampu-membawa-penghiburan-saat-sang-tokoh-sedang-sedih.

Akhirnya, aku cuma bisa bilang bahwa membahas novel keren tentunya gak bisa lepas dari keandalan sang penulis. Nah, makanya si Cassandra Clare ini aku beri jempol banyak banget untuk kemampuannya bikin aku bertanya-tanya “Lalu, si Anu gimana dunk?” di hampir setiap bab dan sub babnya. Cara bertuturnya yang melompat-lompat menurutku masih memudahkan adaptasi film. Cassandra juga mampu menjaga irama ceritanya untuk selalu berada di tengah, tidak berpihak pada salah satu tokoh-meski kita tau dong, tokoh protagonis biasanya menang :)-hingga ia memberi kesempatan pada para tokoh antagonis untuk mengungkap latar belakang tindakan mereka.

So, jangan ketinggalan untuk beli yang ini (meski kesalahan ketik masih tetep saja banyak), dan tunggu juga kehadiran City of Glass yang katanya bakal launch versi Indonesianya November nanti (Weee, aku sudah baca dan tau ending-nya :P)

Penerbit: Ufuk Press

ISBN: 978-602-8801-30-0

Terbit: Juli 2010

Ukuran: 14×20.5 cm

Halaman: 610 hal

Harga: Rp 99.900,-

Advertisements



%d bloggers like this: