Archive for August, 2010

31
Aug
10

The Sea of Monsters, Percy Jackson & The Olympians-Serunya Sebuah Misi Penyelamatan Ilegal

Setelah mengalami musim panas yang heboh tahun kemarin, Percy Jackson gembira sekali dengan prospek berakhirnya masa sekolah kali ini. Bayangkan saja, boro-boro dikeluarkan dari sekolah seperti kebiasaan yang sering ia lalui, Percy malah berhasil melewati hampir setahun penuh tanpa insiden yang berarti.

Tapi orang memang nggak boleh bergembira dulu kalau ending belum berhasil dilewati. Karena di hari terakhir sekolah, ia justru harus menghadapi enam laistrygonian, monster raksasa kanibal pada saat jam olahraga.

Untung ada Tyson, cowok bongsor dengan gigi berantakan yang selalu nempel Percy selama tahun ajaran itu. Tanpa disangka, Tyson mampu membantu Percy menaklukkan monster-monster tersebut. Bahkan bola perunggu membara yang dilepaskan keenam monster mampu ditangkis dan dibalikkan Tyson.

Yah, itu baru awal kisah musim panas kedua Percy setelah jadi penghuni perkemahan musim panas untuk para blasteran. Masih banyak lagi kejutan lain yang menunggunya. Pertemuan dengan Annabeth di koridor sekolah, menumpang taksi yang disetiri (tiga orang) nenek sinting, layunya Pohon Pinus Thalia penjaga perkemahan, dan jati diri Tyson hanya menjadi kejutan pembuka lanjutan.

Setelah itu Percy, Annabeth, dan Tyson nekat melarikan diri dari perkemahan karena Percy sering memimpikan sahabatnya yang satir itu sedang menghadapi masalah. Perjalanan ini juga diharapkan merupakan pencarian Bulu Domba Emas yang dipercaya mampu mengobati Pohon Pinus Thalia yang sekarat. Bukan Percy Jackon jika perjalanannya hanya seperti piknik ke taman ria. Di novel ke-2 ini, Percy dan teman-teman harus mengarungi Segitiga Bermuda, yang dalam mitologi Yunani versi baru, menjadi lokasi Lautan Monster. Sesuai namanya, Lautan Monster penuh bahaya. Jarang yang bisa selamat setelah mengarunginya.

Sebuah kisah yang penuh petualangan seru, semakin menguatkan jalinan persahabatan antara Percy dan Annabeth. Di sini rahasia mengenai ramalan untuk Percy yang disembunyikan rapat-rapat mulai terkuak. Tapi serunya, kesembuhan Pohon Pinus Thalia ikut memengaruhi kans Percy menjadi tokoh sentral ramalan.

Percy semakin memikatku. Untung saja keinginanku untuk segera menuntaskan serial ini terpenuhi, karena di Indonesia, Percy Jackson masuknya telat sekali. Sehingga novel-novel ini terbit secara bersamaan dari seri pertama hingga terakhir.

Sedikit spoiler saja ya, Rick Riordan mampu mengemas dongengnya secara konsisten. Kepribadian Percy yang pemberani dan kurang pikir panjang (mengingatkanku pada Harry Potter) dan Annabeth yang pintar dan agak judes (Hermione, everybody?) semakin menonjol. Membuat kita bertanya-tanya, apa yang bakal terjadi dengan mereka dan bagaimana kepribadian mereka bakal memengaruhi ending big story-nya?

Penerbit : Hikmah (Mizan Fantasi)
Penulis : Rick Riordan
Harga : Rp 44.000.-
Soft cover
ISBN : 978-979-433-548-2

16
Aug
10

Dear Enemy-Kisah yang membuat kehidupan di panti asuhan menjadi serupa dengan petualangan hebat

Perhatian buat kamu yang belum pernah baca Daddy-Long-Legs, resensi ini bakal mengandung spoiler sampai ke taraf membahayakan kesehatan. Pertimbangkan dulu sebelum baca!

Dear Enemy adalah kisah Sallie McBride, sahabat Judy Abbot, protagonis di novel Daddy-Long-Legs. Sallie ditugasi Judy yang sudah hidup bahagia dengan suaminya Jervis Pendleton dan anaknya Judy Kecil untuk mengurusi Panti Asuhan John Grier-tempat Judy dulu tinggal. Kisahnya dirangkai dari surat-surat Sallie kepada Judy (kadang beserta suaminya), pacarnya Gordon Hallock, serta pada dr. Robin MacRae.

Awalnya Sallie banyak berkeluh kesah tentang situasi berat yang harus ia hadapi di Panti Asuhan John Grier. Ia juga banyak mengalami bentrok dengan dr. Robin Mac Rae, rekan kerjanya di John Grier yang judes, otoriter, dan menyebalkan. Sallie merasa dijerumuskan ke dunia yang suram itu, sementara sebelumnya ia hidup sebagai sosialita yang penuh gaya dan pesta.

Hari demi hari, Sallie menemukan kecintaannya pada tempatnya bekerja dan anak-anak asuhnya. Ia melakukan banyak perombakan demi kesejahteraan panti. Bersama-sama dengan musuh bebuyutannya, dr. Robin Macrae, Sallie berusaha membuat Panti Asuhan John Grier menjadi tempat yang lebih manusiawi untuk dihuni.

Oke, dibanding prekuelnya-Daddy-Long-Legs, Dear Enemy ratingnya menurutku satu strip di bawah. Mengapa?

1. Karena kita kehilangan ilustrasi-ilustrasi konyol yang menemani di banyak surat Judy untuk Daddy-Long-Legs-nya.

2. Hidup Sallie yang dikungkung dunia panti asuhan tentu saja kurang menarik dibanding hidup Judy yang justru lepas dari panti asuhan.

3. Cara Sallie bertemu dengan laki-laki pilihan hidupnya, agak-agak mirip dengan Judy. Jadi serasa deja vu saja.

Nah, tapi jangan lalu menganggap Dear Enemy nggak menarik ya. Karena sekali lagi, kalau nggak menarik, nggak mungkin aku muat di blog ini.

Di novel ini Sallie mampu betutur dengan bijak sekaligus lincah dan lucu. Satu kualitas yang sangat jarang bisa kita jumpai secara bersamaan pada perempuan-perempuan dewasa. Sallie juga mampu menyelesaikan masalah-masalah secara heroik, membuatku tak sabar ingin membaca sepak terjangnya di halaman-halaman berikutnya. Kisah cintanya juga berakhir sesuai dengan harapan, meski pada awalnya ia agak-agak membuatku kuatir dengan pilihannya.

Tapi sayang, pandangan-pandangan Jean Webster yang pada Daddy-Long-Legs aku kagumi karena mampu menghadirkan feminisme di eranya, agak-agak mengalami penurunan. Di sini ia kembali menempatkan para perempuan (terutama gadis-gadis penguni panti) sebagai penguasa dapur dan jahitan. Atau mungkin karena di sini yang dihadapi Sallie adalah gadis-gadis panti yang tidak seberuntung Judy kali ya? Karena memang sangat tidak masuk akal untuk membuat para gadis panti ini menjadi flappers* karena mereka kan kurang mengenyam pendidikan dan pengalaman yang memadai untuk memiliki pemikiran pemberontak.

Jadi, mungkin jalan untuk jadi ibu rumah tangga atau pengasuh anak memang pilihan yang tepat bagi gadis panti asuhan era itu 🙂

*Flappers adalah istilah untuk gaya baru perempuan di era 1920-an. Para flappers adalah perempuan-perempuan muda yang mengenakan gaun pendek, berambut bob, ber-makeup tebal, menyetir mobil, merokok, pokoknya mengadopsi gaya pria sebagai ungkapan kebebasan.

Penerbit: ATRIA

ISBN: 978-979-1411-69-1

Tebal: 382 hal.

Ukuran: 13 x 20,9cm

Terbit: Juli 2010

Soft cover

Harga: Rp 39.900,-

05
Aug
10

Demon’s Lexicon-Adakah memang wujud-wujud iblis asli dari neraka di antara kita?

“Kau kira dirimu manusia?”

Aku suka sekali dengan tokoh Hellboy bikinan Marvel. Setan yang datang langsung dari neraka hasil eksperimen Nazi pada masa Perang Dunia II. Hellboy adalah bukti dari keberhasilan pengasuhan. Bahwa meski kau adalah setan-lengkap dengan tanduk dan ekor, jika kau dibesarkan dengan baik hati dan penuh kasih sayang, maka kau akan bersikap seperti orang yang membesarkanmu.

Aku selalu membayangkan, andai Hellboy bertampang ganteng, kemungkinan hidupnya bakal lebih mudah. Soalnya kasian banget kan di dunia ini untuk jadi orang baik dengan tampang jelek? Soalnya kebanyakan orang masih menghakimi orang lain dari tampang. Gak percaya? tuh tampang-tampang cantik ganteng di sinetron. Semakin cantik dan lembut tampangnya, semakin laris deh dia dapat peran protagonis. Halah, malah ngebahas sinetron. Secara nonton saja gak pernah. Balik ke Demon’s Lexicon deh. Lanjut!

Dan kisah yang kubaca ini sangat mengingatkanku pada Hellboy yang sesuai harapanku.

Alan dan Nick Ryves, dua cowok kakak beradik, melalui sepanjang hidup mereka penuh teror. Ayah yang mati di depan mereka, ibu gila yang musti mereka seret ke sana kemari untuk menghindari serangan kelompok-kelompok penyihir yang mengincar karena ibu mereka membawa lari jimat milik seorang penyihir paling berkuasa. Mereka harus selalu berpindah-pindah kota dan sekolah. Mereka juga harus mempelajari segala cara membela diri sejak masih belia. Padahal saat ini saja usia mereka masing-masing baru 20 dan 17 tahun.

Aktivitas yang sungguh melelahkan. Tapi Alan si pirang pincang menjalaninya dengan sukarela. Ia tidak mempermasalahkan musti menjadi tulang punggung keluarga sejak ayah mereka meninggal saat Alan masih 12 tahun dan Nick 8 tahun. Di balik kebaikan hatinya, Alan menyimpan rapat sebuah rahasia kelam.

Nick, si dingin tampan adalah jagoan bertempur. Ia masih remaja, tapi sudah berkali-kali membunuh-jika memang terpaksa. Keterpaksaan itu membuatnya tidak memiliki penyesalan. Meski tidak membuatnya sedih, Nick sadar, Olivia tak pernah mencintainya. Bahkan perempuan itu jelas banget menunjukkan kebenciannya.

Suatu sore, datang sepasang tamu remaja-Mae dan Jamie Crawford. Kedatangan mereka mengacaukan siklus hidup yang biasa dijalani Alan dan Nick plus Mama Olivia. Mae dan Jamie mencari keluarga itu karena Jamie baru saja “ditandai” iblis.

Alan yang baik hati segera tergerak untuk menolong, meski Nick terang-terangan menolak. Ia tidak bisa memahami kebaikan hati Alan yang bersedia membahayakan hidup mereka yang memang sudah penuh bahaya untuk penolong remaja yang mereka tidak kenal sebelumnya. Keinginan menolong itu justru bikin Alan malah ditandai juga. Ini bikin Nick makin sebal. Padahal tanda dari iblis harus segera ditidaklanjuti, karena itu adalah langkah awal menuju kematian. Jiwa si orang yang ditandai adalah jiwa yang diinginkan iblis.

Jadilah keempat remaja itu berpetualang menyeberangi Inggris untuk mencari cara menghilangkan tanda iblis berpacu dengan waktu. Petualangan yang penuh dengan ketegangan yang menguak sebuah rahasia yang disimpan Alan raat-rapat. Pengetahuan baru akan rahasia-rahasia ini membuat Nick mempertanyakan persaudaraan mereka.

Akhirnya mereka harus berhadapan dengan Black Arthur, penyihir besar yang selama ini mengejar-ngejar keluarga ini. Pertemuan dengan Black Arthur inilah yang membuat sebuah rahasia lagi yang juga disimpan rapat oleh Alan-dan sebenarnya tak ingin dibuka-terbongkar. Alan yang pincang dan pendiam ternyata penuh rahasia dan muslihat.

Oke, Stooooop! Kalo gak brenti ngetik, bisa-bisa ini berubah dari resensi seperti yang aku rencanakan, jadi spoiler deh. Hehehe.

Don’t judge a book by it’s cover. Nah, aku sudah memperingatkan ya. Meski judulnya sudah mengandung kata iblis-iblisan, cover novel ini rada-rada menyesatkan. Gambarnya yang cowok ganteng bikin kita mengharapkan banyak romance di sini 🙂

Dan meski ceritanya lumayan seru, jangan dikira aku melalap Demon’s Lexicon dalam waktu semalam seperti kebiasaan ya. Novel ini menghabiskan waktu sekitar 3 bulan buatku menyelesaikan. Bukan karena tebal atau sulit dimengerti. Tapi karena adegan-adegan awalnya yang kurang bikin sreg. Untung aku nemu tekad buat nerusin baca. Karena makin lama, sihir dan pesonanya makin bermunculan. Terutama pesona si ganteng Nick.

Intinya, buku ini keren banget. Ya iya lah, kalo gak keren, masa aku tega ngeresensi dan masukin ke blog ini sih? Ceritanya gak gampang ditebak. Ending-nya menakjubkan. Alur ceritanya cepat, dengan dialog-dialog yang lincah dan bikin tersenyum. Kalo kamu suka kisah-kisah tentang penyihir dan iblis, di sini penuh deh. Meski deskripsi penyihir dan kegiatannya agak-agak kurang menarik karena mereka saling berebut kekuasaan tanpa kelihatan efek nyatanya selain awan yang bergulung-gulung atau serbuan binatang jadi-jadian.

Pesanku, kalo nemu terjemahan yang kurang enak di awal-awal halaman, babat saja. Karena kisah di halaman-halaman selanjutnya worth it. Jangan sampai menghabiskan 3 bulan baca kaya aku hanya karena alur yang kerasa mubeng-mubeng di awalan. Mungkin pengarangnya Sarah Rees Brennan belum nemu formula yang tepat waktu pertama nulis. Mungkin penerjemahnya yang masih demam panggung. Pokoknya enjoy the book!

Judul: The Demon’s Lexicon
ISBN: 9786028801096
Penulis: Sarah Rees Brennan
Penerbit Ufuk Press
Tanggal terbit April – 2010
Jumlah Halaman 360
Soft Cover
Dimensi(L x P) 140x205mm

Harga: Rp 54.900,-




%d bloggers like this: