Archive for May, 2010

12
May
10

Vegan Virgin Valentine-butuh banyak perenungan dan perubahan untuk beralih dari remaja ke dewasa

Pernah dengar nggak, nasihat orang-orang lama tentang nyari pasangan hidup? Bahwa tingkat kedewasaan emosi cewek dan cowok itu nggak sama. Cewek lebih dewasa dari pada cowok. Dan perbedaan kedewasaan itu kira-kira sejauh 4-5 tahun. Jadi itulah alasan orang-orang lama menganggap usia ideal pasangan pacar/suami-istri itu sebaiknya musti berjarak 4-5 tahun lebih tua yang cowok. Biar bisa saling mengimbangi, katanya 😀

Tapi di sini aku nggak akan bicara tentang superioritas gender lho ya …. Aku cuma pengen ngasih ilustrasi betapa berbedanya cara pandang orang-orang kita (jaman dulu) dibanding dengan cara pandang orang Amrik sono tentang perbedaan usia pasangan. Perbedaan usia dengan cowok yang ia taksir adalah satu dari sekian banyak masalah yang dihadapi Mara Valentine akhir-akhir ini. Lihat saja daftarnya:

1. Putus dengan Travis setelah cowok itu mengejek ukuran tubuhnya karena nggak diturutin kemauannya (bisa kebayang kan, ‘kemauan’ ini apa maksudnya?)

2. Membenci kelas Tarian Improvisasi yang ia ambil di universitas

3. V datang dan tinggal di rumah. Keponakannya yang nyaris seumur dengan Mara itu super menjengkelkan, ribut, kurangajar, serampangan, pokoknya semua hal buruk yang dilakukan anak SMA, sebut saja, pasti nempel di V.

4. V bermesraan dengan mantan Mara di hari kedua mereka masuk sekolah.

5. Tiap hari dicurhati sahabatnya yang naksir James, bos mereka di Common Grounds.

6. Padahal Mara sendiri kayaknya naksir James.

7. Sayang (ini dia) James 4 tahun lebih tua yang kalo mereka pacaran, bakal diklasifikasikan sebagai kasus pedofilia. Belum lagi James itu nggak kuliah, padahal Mara bakal kuliah di Yale. James juga 6 senti lebih pendek dari Mara.

8. Dan masih banyak lagi.

Khas novel-novel Carolyn Mackler yang sudah aku baca, Vegan Virgin Valentine bahasannya lebih mendalam (dibanding novel Young Adult lain). Membuat pelakunya tampak memiliki kedewasaan yang agak di atas remaja lain seusianya. Tapi jangan khawatir, ini tidak mengurangi kelincahan cerita kok. Yah, mungkin bandingan kedewasaan Miss Mackler bertutur setaraf deh dengan Sarah Dessen.

Novel ini berkisah tentang remaja lurus-pintar-penurut bernama Mara Elizabeth Valentine. Ia punya keponakan yang hampir seumur dan 180° kebalikan pribadinya, V Valentine. Tak heran mereka saling benci pada setiap pertemuan. Sayang, ketenteraman hidup Mara harus diuji dengan keputusan orangtuanya (kakek-nenek V) untuk menampung keponakannya itu di rumah.

Gadis ini juga sedih, karena sahabatnya memusuhinya. Mau tahu alasannya? Mara pacaran dengan cowok yang sudah lama ditaksir si sahabat. Hal ini membuatnya berubah dari si cewek alim-pintar menjadi si jalang-perebut-gebetan-teman (setidaknya itu yang dipikir mantan sahabatnya dan teman sekamar cewek itu).

Mara juga menghadapi perubahan cara berpikir dalam memandang pendidikannya. Ia yang tadinya berharap bisa kuliah cepat, sekarang malah bertanya-tanya, “Untuk apa tergesa-gesa?” apalagi setelah ia mulai berpacaran.

Kisah yang tepat untuk remaja menjelang dewasa (anak kuliahan gitu lho) ini secara halus bertutur tentang keperawanan dan siapa yang layak mendapatkannya. Tidak bermaksud menggurui, juga tidak menjerumuskan. Setelah membaca dua novel Carolyn Mackler, aku nggak sabar nunggu karya yang lain diterjemahkan.

Penerbit: Gramedia

ISBN : 978-979-22-5068-8; 31201090041

Harga: Rp 29.000,-

Ukuran: 13.5 x 20 cm

Tebal: 240 hal

Terbit: Oktober 2009

Soft Cover

ISBN : 978-979-22-5068-8; 31201090041

Advertisements
03
May
10

The Mediator: Ninth Key-Susannah Simon Beraksi lagi!

Kehidupan California Suze sudah mulai jatuh di tempat yang tepat. Bayangkan saja, dari seorang cewek yang dianggap aneh dan bermasalah di New York, di Negara bagian baru ia malah jadi salah satu panutan, jadi wakil ketua kelas, punya teman hangout, diundang ke pesta-pesta, bahkan punya teman kencan cowok paling keren di kota. Saudara-saudara tirinya juga nggak nyebelin-nyebelin amat (kecuali Dopey lho ya).

Tapi sayang semua kenyamanan selalu ada cacatnya. Dan bagi Suze, cacatnya biasanya berbentu hantu yang suka muncul sembarangan. Mengganggu ketenteraman saja. Hantu yang pertama muncul berbentuk perempuan basah kuyup yang minta Suze untuk bilang pada si “Red” bahwa “Red” ini nggak bersalah pada kasus kematian perempuan itu. Tapi nyariin orang yang julukannya Red di sebuah kota yang cukup gede kan nyusahin banget. Mana hantu ini setiap ketemu selalu menjerit-jerit histeris. Hantu berikutnya yang nyusahin sekali lagi ya si Jesse teman sekamarnya. Meski rada-rada jatuh cinta sama Jesse tapi Suze kan nggak mungkin pacaran sama dia. Tapi Jesse suka muncul dan nggangguin Suze pacaran.

Kesalahpahaman dalam memahami pesan si hantu perempuan itu akhirnya malah membawa Suze ke kasus pembunuhan beruntun. Sekali lagi ia musti beraksi sendirian. Eh, ada Pastor Dominic sih. Tapi si pastor kan nggak ikut tendang-tendangan, diculik, dan nyaris dibunuh.

Satu kisah heboh lagi dari seri The Mediator. Meski sekali lagi, aku bingung dengan judulnya. Soalnya di dalam ada sedikit nyinggung soal Ninth Key, tapi tanpa penjelasan apapun. Dan porsinya kecil. Cuma omongan seorang peramal yang ngaco doang. Tapi biar deh. Siapa tahu di seri berikunya ada penjelasan yang masuk akal.

Aku heran dengan Meg Cabot ini. Dia nggak pernah kehabisan ide untuk plot ceritanya. Jarang ada pengulangan kisah. Aku bandingkan dengan Sidney Sheldon (bukan pengarang seangkatan, beda genre, dan lain-lain. Kesamaannya cuma karena sama-sama terkenal). Sidney Sheldon di buku-bukunya aku lihat seringkali mengulang plot, deskripsi, dan personality tokoh. Tapi sejauh ini, Meg berhasil lolos dari jebakan ini.

Setelah seri The Princess Diaries habis, aku sempat sedih, karena sudah nggak ada lagi novel serial karya Meg yang bisa aku tunggu-tunggu. Untung The Mediator segera beredar di sini 😀

Penerbit: Gramedia

ISBN: 978-979-22-5495-2

Tebal: 256 hal.

Terbit: Maret 2010

Soft cover

Harga: Rp 28.000,- 

01
May
10

The Mediator: Shadowland-Cewek jagoan yang seneng banget nendang pantat hantu bandel

Cantik, cerdas, pinter ngomong. Biasanya cewek remaja dengan kualitas seperti itu nggak bakal kesulitan nyari pacar, apalagi teman. Tapi hal itu nggak berlaku lho bagi Susannah Simon. Bahkan meski ia sudah memulai hidup bari nun jauh di California sono.
Semua itu terjadi karena Suze punya kualitas tambahan lain, yang nggak mungkin ia ceritakan ke orang lain bahkan ibunya karena tanpa cerita pun ia sudah tampak seperti orang sinting anti sosial. Kualitas itu juga bisa menjamin ia jadi anak yang paling kelihatan berandalan seantero sekolah. Suze bisa melihat hantu. Bukan sekedar melihat, ia juga seorang mediator. Penghubung antara orang hidup dan orang mati. Jadi ia nggak heran jika sekali-kali (bahkan sering) ia dihampiri hantu di pinggir jalan, yang curhat tentang masalah mereka yang belum terselesaikan biar jalan mereka ke akhirat bisa lapang.
Suze sempat berharap banyak jika kepindahannya ke California bakal memperbaiki kehidupan sosialnya. Tapi harapan itu langsung meletus hancur saat ia mendapati ternyata kamar barunya yang indah dihuni hantu dari jaman koboi. Ganteng banget sih hantunya. Tapi kan bukan itu masalahnya. Masalahnya Suze pengen hidup normal. Dan punya teman sekamar hantu cowok ganteng kan jaminan hidup nggak bakal pernah normal.
Kejadian semakin heboh setelah Suze mendapati hantu mantan cewek populer sekolah yang nggak rela pindah ke akhirat. Hantu itu akhirnya malah meneror mantan pacarnya, dan kemudian meneror Suze setelah tahu Suze adalah cewek baru yang menempati kursinya setelah ia meninggal. Akhirnya Suze harus benar-benar merelakan hidup normal yang ia dambakan setelah nyadar kalau bukan cuma ia yang jadi mediator di sekolah. Kepala sekolahnya yang gaul habis ternyata mediator juga, dan beliau menuntut Suze untuk mau berusaha menjadi mediator yang baik (entah apa itu maksudnya). Akhirnya di sekolah baru Suze juga musti beraksi kembali.
Khas Meg Cabot, selalu menyuguhkan cerita seru dengan plot tak terduga di tiap karyanya. Aku nggak pernah kecewa setelah membaca novel bikinan ibu satu ini. Dan The Mediator jelas nggak bakal jadi perusak rekor. Yang bikin aku heran, penasaran, dan kurang sreg hanya pemilihan judul seri ini: Shadowland (Negeri Bayang-bayang) soalnya setelah aku bolak-balik sampe lecet dan berdarah-darah, aku tetep nggak bisa nyari kaitan judul dengan isi cerita. Tapi sudahlah, yang penting novel ini asik, layak dikoleksi seri-seri selanjutnya (sebagai bocoran nih, bentar lagi aku ceritain juga di blog ini tentang buku ke-2 yang sudah terbit juga).

Penerbit: Gramedia

ISBN-13: 978-979-22-4938-5

Tebal: 256 hal.

Terbit: September 2009

Soft cover

Harga: Rp 28.000,-  




%d bloggers like this: