29
Apr
10

Daddy-Long-Legs, dongeng dengan sudut pandang feminis, atau anti feminis?

Bagaimana rasanya jika kita diharuskan menulis surat secara rutin setiap bulan pada satu orang yang tidak kita kenal, dan menurut perjanjian, orang itu tidak akan membuat balasan untuk surat-surat yang telah kita kirim? Buat Judy Abbot (Jerusha sih, menurut akte kelahiran) nggak terlalu masalah kali, secara dia toh mendapatkan beasiswa untuk kuliah lengkap beserta uang biaya hidup layak. Tapi kadang Judy sebal juga pada Mr. Smith, atau seringkali ia sebut Daddy-Long-Legs karena si tuan anonim itu pernah ia tangkap kelebatan sosoknya di depan panti asuhan tempat Judy dibesarkan. Orangnya tinggi, kurus, dengan kaki yang panjang, kayak kaki labah-labah daddy long legs.
Jadi deh, selama empat tahun kuliah, Judy rutin menulis ke daddy-long-legs. Kadang suratnya manis, kadang penuh keluh kesah, kadang bahkan penuh sumpah serapah, tergantung bagaimana perasaannya dalam menghadapi situasi dan lingkungan serta bagaimana perasaannya saat harus menulis pada orang yang tidak pernah membalas suratnya. Karena jelas pasti rasanya garing banget kan, nulis surat yang nggak bakal dibalas?
Hidup Judy di kampus menyenangkan sekali, karena ia orang yang mampu menikmati sekaligus memandang semua hal dari sisi humor. Bahkan kehidupannya dulu dip anti asuhan pun terbaca menyenangkan dari sudut pandang Judy. Di kampus, Judy punya banyak teman, dan berkenalan juga dengan cowok-cowok ganteng dan terpelajar. Ada kakak sahabatnya, Jimmy McBride, dan paman teman lainnya, Jervis Pendleton.
Membaca alur cerita novel ini yang lincah, manis, cerdas, dan lucu, rasanya tak percaya kalau kisah ini dibuat oleh Jean Webster di tahun 1912. Coba nama pengarangnya ditutup, aku bakal mengira sedang membaca novel karya Meg Cabot.

Mengacu pada judul entry, itu pertanyaan yang akhirnya bakal aku ajukan ke  kalian yang sudah membacanya.

Novel ini bisa dianggap anti feminis, karena menunjukkan ketergantungan Judy yang amat sangat pada belas kasihan si Daddy-Long-Legs dalam pembiayaan kuliah dan hidupnya di kampus. Betapa Judy harus mengirim surat, sebagai balasan untuk kehidupan nyaman yang ia dapat selama kuliah. Tapi coba kalian cermati lebih lanjut, kalau aku sih lebih setuju kalau novel ini mengandung muatan nilai-nilai feminis yang sangat tinggi.  Bayangkan saja, Judy yang sebenarnya ada di posisi meminta, bisa membuat Daddy-Long-Legs sadar, bahwa ia tak bisa mengatur kehidupan seorang gadis. Apalagi itu gadis yang sekolah tinggi. Keceriaan dan kecerdasan Judy mampu mengubah cara pandang Daddy-Long-Legs yang kaku, menjadi manusia yang akhirnya lebih humanis. Tapi aku nggak akan membeber ceritanya sampai lebih jauh. Mending kalian nilai saja sendiri😀
Novel ini sangat aku rekomendasikan sebagai bacaan remaja yang berbobot, karena muatan moralnya yang tinggi mengenai pentingnya bersyukur, berterima kasih, dan tingginya Jean Webster dalam menilai persahabatan. Dan semakin menyenangkan lagi, karena ceritanya happy ending😀

Penerbit: ATRIA

ISBN: 978-979-1411-83-7

Tebal: 237 hal.

Ukuran: 13 x 20,5 cm

Terbit: Desember 2009

Soft Cover

Harga: Rp 29.900,-


2 Responses to “Daddy-Long-Legs, dongeng dengan sudut pandang feminis, atau anti feminis?”


  1. July 19, 2013 at 12:32 pm

    aku pengen beli novelnya, tapi dimana? kok sulit banget??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s