17
Apr
10

City of Bones-Pemanfaatan tren gothic novel dengan cara yang lebih hingar-bingar

Ini adalah buku ke-1 dari seri The Mortal Instruments. Baca beberapa lembar pertama, kesan yang langsung tertangkap olehku adalah, bahwa Cassandra Clare sebagai pengarang benar-benar menyiapkan karyanya ini sebagai novel yang nantinya akan mudah diadaptasi jika difilmkan. Ia menghindari pembukaan deskriptif yang biasa diambil penulis. Di City of Bones kita langsung disuguhi entrance bergaya sinema, dengan mengedepankan suspense sebagai penarik minat.
Lembar demi lembar, semakin membuat terpikat dengan alurnya yang cepat, tapi tidak kehilangan ruh young adult novel yang lincah dengan dialog-dialog cerdas. Kecepatan bertutur novel yang terjemahan bahasa Indonesianya menghabiskan 664 halaman ini membuat kita pada akhirnya takjub, karena ternyata kisahnya hanya berlangsung sekitar seminggu. Bandingkan deh dengan serial Harry Potter dengan ketebalan yang nyaris sama. Ceritanya rata-rata memakan satu tahun ajaran.
Kisah City of Bones dimulai dengan ‘penglihatan’ baru Clary (hampir 16 tahun) yang mengantarnya jadi saksi pembunuhan keroyokan yang dilakukan oleh tiga remaja. Tapi di saat yang hampir bersamaan, Clary sadar kalau ternyata cuma dia yang bisa melihat para pembunuh dan korbannya, sedang Simon-sahabatnya, dan penjaga keamanan klub tidak bisa. Kalau aku di posisi Clary, aku bakal menyangka sedang kena gejala awal skizofrenia😀.
Kebingungan Clary mulai terjawab dengan terjadinya peristiwa-peristiwa heboh setelahnya. Ibunya yang tiba-tiba hilang, munculnya Pembuas dan Yang Terabaikan, perkenalan resminya dengan geng Pemburu Bayangan remaja: Jace, Alec, dan Isabelle, serta guru mereka Hodge, dan riwayat hidup ibunya yang ternyata rumit.
Semua tokoh digambarkan secara detail, semua kisah ada latar belakangnya. Membawa petualangan Clary, Simon, dan para Pemburu Bayangan muda ke Piala Mortal dan mantan Pemburu Bayangan-Valentine-yang jahat-yang berniat menguasai Piala Mortal untuk menciptakan ras nephilim (setengah manusia setengah malaikat) baru untuk membasmi penghuni dunia bawah lainnya seperti manusia serigala, peri, vampir, dll.
Seperti kisah-kisah remaja lain, kurang asik jika tanpa bumbu romance. Maka di tengah kegemparan selama seminggu, Clary menemukan dirinya naksir Jace, si Pemburu Bayangan nyebelin yang sombong tapi tangkas. Apalagi ternyata Jace tak segan-segan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Clary, dan kayaknya memiliki perasaan yang sama ke Clary.
Romance di buku ini juga diwarnai cinta segitiga-cinta segitiga (ada banyak soalnya) antara Clary-Jace-Simon, Clary-Jace-Alec, dan Clary-Simon-Isabelle. Belum lagi cinta segitiga yang melibatkan generasi sebelumnya: Jocelyn-Luke-Valentine. Pokoknya seru banget.
Setiap cerita pasti ada cacatnya. Nah, di tengah hebohnya alur cerita, aku menemukan satu kebetulan yang agak mengganggu. Kenapa keberadaan Jocelyn bisa ketahuan Valentine setelah ia berhasil ngumpet di New York selama lebih dari 15 tahun? Kenapa waktunya bersamaan banget dengan datangnya ‘penglihatan’ Clary? Padahal penyebab ‘penglihatan’ itu hanya karena jadwal mantra yang tidak ditepati. Semoga sih ‘gangguan’ ini punya penjelasan masuk akal di buku-buku selanjutnya.
Tapi di luar itu semua dan banyaknya salah ketik serta beberapa terjemahan yang tidak perlu (contoh: sofa cinta yang pasti dari love seat-hal. 57) dan malah bikin bingung, buku ini bagus banget. Nggak sabar nunggu seri-seri berikutnya dari kisah Clary dan Jace.

ISBN: 978-602-8224-80-2
Penerbit: Ufuk Press
Penerjemah Indonesia: Melody Violin
Terbit: 15 Maret 2010
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 664 halaman
Harga: Rp 89.900


4 Responses to “City of Bones-Pemanfaatan tren gothic novel dengan cara yang lebih hingar-bingar”


  1. 1 arfin kuswandari
    April 20, 2010 at 4:34 am

    kayaknya lebih seru dari serial twilight ya…..buruan dunks bacanya….aku mau pinjam…..

    • April 20, 2010 at 4:50 am

      seru, mencengangkan. gak sabar nunggu seri berikutnya. masa musti pesen ke amazon.com sih? hhh. sudah selesai kok baca yg ini. sedang baca sesi ke-2 nih🙂. kamu baca hush, hush dulu. tapi minggu depan selesai pasti.

  2. 3 melody
    May 17, 2010 at 4:28 am

    coba baca the demon’s lexicon juga😀

    • May 17, 2010 at 4:39 am

      Sedang baca, thanx to your note😀. semoga cukup menghibur, setelah kemarin kecewa beli dua novel Vampire diaries (yang satu karangan LJ. Smith, satunya lagi Christopher Moore). dua2nya mengecewakan kalo menurutku. nyesel beli😦 gaya tuturnya gak lincah. bikin males nerusin baca.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s