Archive for April, 2010

30
Apr
10

Confessions of a Not It Girl-Bukan Cewek gaul yang disampaikan dengan cara yang gaul abis

Jan Miller sebal pada apapun yang melekat padanya. Namanya yang nggak keren, rambutnya yang mengembang, pantatnya yang gede, ibunya yang serampangan, ayahnya yang aneh. Coba ia seperti sahabatnya yang cantik, langsing, punya ayah-ibu yang keren, sudah keterima di universitas terkenal lewat saringan awal ….
Tapi kita kan nggak bisa milih bagaimana kita hidup. Karena itu Jan mau nggak mau harus menelan rasa irinya saat melihat kehidupan sosial sahabatnya yang heboh dengan pacar anak kuliahan. Sedang Jan, cuma sampai pada tahap naksir cowok sekelas. Itu saja nggak sukses, karena Tom Richmond, cowok keren yang pertama ia taksir, dan setelah itu ternyata juga punya perhatian khusus pada jan, ternyata nggak pinter nyium. Ia bahkan nyarin bikin Jan tenggelam di kubangan air liur Tom. Terus ada Josh Gardner, cowok imut anggota tim football yang sekelas dengannya di Bahasa Inggris. Sayang kayaknya Josh sudah punya pacar keren di luar kota.

Sebuah cerita tentang cewek biasa-biasa saja yang pengen punya pacar, dari sudut pandang orang pertama. Confessions of a Not It Girl mengajak kita bersimpati pada ‘penderitaan’ Jan Miller, dan senyam-senyum sendiri membayangkan kejadian-kejadian memalukan yang harus sering ia lalui karena kebiasaannya melebih-lebihkan adegan.

Ini seperti sebuah kisah Cinderella yang mampu membuat masalahnya sirna pada saat ia mengenakan gaun yang tepat. Bisa dibayangkan kan, kalau kamu bakal nemu plot standar? Tapi Melissa Kantor menyampaikannya secara lucu dan cerdas. Hingga kita bisa ikut mengharu-biru, dan memberikan simpati pada si Jan Miller. Pada akhirnya, kita akan diberi pesan, bahwa apa yang tampak indah di luaran, kadang tidak seindah yang kita bayangkan. Dan kesalahpahaman bisa muncul hanya karena kita tidak mau bertanya.

Novel terbitan Gramedia ini sudah sering aku temukan di area diskonan. Apa saking nggak lakunya ya, soalnya di sana numpuk banyak banget. Kalau aku lihat sih, gambar sampulnya nggak keren sih. Cemen. Padahal, setelah baca ini, aku jadi berharap, ”Semoga Gramedia atau penerbit lain di Indonesia berkenan menerbitkan novel-novel Melissa Kantor.” Soalnya aku sudah baca excerpt karya lainnya, sama serunya. Remaja banget, heboh banget.

Penerbit: Gramedia

ISBN: 979-22-1252-3

Tebal: 227 hal

Terbit: Maret 2005

Soft cover

Harga: Rp 30.000,-

29
Apr
10

Daddy-Long-Legs, dongeng dengan sudut pandang feminis, atau anti feminis?

Bagaimana rasanya jika kita diharuskan menulis surat secara rutin setiap bulan pada satu orang yang tidak kita kenal, dan menurut perjanjian, orang itu tidak akan membuat balasan untuk surat-surat yang telah kita kirim? Buat Judy Abbot (Jerusha sih, menurut akte kelahiran) nggak terlalu masalah kali, secara dia toh mendapatkan beasiswa untuk kuliah lengkap beserta uang biaya hidup layak. Tapi kadang Judy sebal juga pada Mr. Smith, atau seringkali ia sebut Daddy-Long-Legs karena si tuan anonim itu pernah ia tangkap kelebatan sosoknya di depan panti asuhan tempat Judy dibesarkan. Orangnya tinggi, kurus, dengan kaki yang panjang, kayak kaki labah-labah daddy long legs.
Jadi deh, selama empat tahun kuliah, Judy rutin menulis ke daddy-long-legs. Kadang suratnya manis, kadang penuh keluh kesah, kadang bahkan penuh sumpah serapah, tergantung bagaimana perasaannya dalam menghadapi situasi dan lingkungan serta bagaimana perasaannya saat harus menulis pada orang yang tidak pernah membalas suratnya. Karena jelas pasti rasanya garing banget kan, nulis surat yang nggak bakal dibalas?
Hidup Judy di kampus menyenangkan sekali, karena ia orang yang mampu menikmati sekaligus memandang semua hal dari sisi humor. Bahkan kehidupannya dulu dip anti asuhan pun terbaca menyenangkan dari sudut pandang Judy. Di kampus, Judy punya banyak teman, dan berkenalan juga dengan cowok-cowok ganteng dan terpelajar. Ada kakak sahabatnya, Jimmy McBride, dan paman teman lainnya, Jervis Pendleton.
Membaca alur cerita novel ini yang lincah, manis, cerdas, dan lucu, rasanya tak percaya kalau kisah ini dibuat oleh Jean Webster di tahun 1912. Coba nama pengarangnya ditutup, aku bakal mengira sedang membaca novel karya Meg Cabot.

Mengacu pada judul entry, itu pertanyaan yang akhirnya bakal aku ajukan ke  kalian yang sudah membacanya.

Novel ini bisa dianggap anti feminis, karena menunjukkan ketergantungan Judy yang amat sangat pada belas kasihan si Daddy-Long-Legs dalam pembiayaan kuliah dan hidupnya di kampus. Betapa Judy harus mengirim surat, sebagai balasan untuk kehidupan nyaman yang ia dapat selama kuliah. Tapi coba kalian cermati lebih lanjut, kalau aku sih lebih setuju kalau novel ini mengandung muatan nilai-nilai feminis yang sangat tinggi.  Bayangkan saja, Judy yang sebenarnya ada di posisi meminta, bisa membuat Daddy-Long-Legs sadar, bahwa ia tak bisa mengatur kehidupan seorang gadis. Apalagi itu gadis yang sekolah tinggi. Keceriaan dan kecerdasan Judy mampu mengubah cara pandang Daddy-Long-Legs yang kaku, menjadi manusia yang akhirnya lebih humanis. Tapi aku nggak akan membeber ceritanya sampai lebih jauh. Mending kalian nilai saja sendiri 😀
Novel ini sangat aku rekomendasikan sebagai bacaan remaja yang berbobot, karena muatan moralnya yang tinggi mengenai pentingnya bersyukur, berterima kasih, dan tingginya Jean Webster dalam menilai persahabatan. Dan semakin menyenangkan lagi, karena ceritanya happy ending 😀

Penerbit: ATRIA

ISBN: 978-979-1411-83-7

Tebal: 237 hal.

Ukuran: 13 x 20,5 cm

Terbit: Desember 2009

Soft Cover

Harga: Rp 29.900,-

28
Apr
10

The Saga of Darren Shan

Serial ini semuanya terdiri dari 12 novel yang mengisahkan tentang perjalanan hidup Darren yang ia abadikan dalam bentuk diary. Hehehe, nggak banyak ya, cowok yang nulis diary. Tapi format diary ini yang nantinya bakal berperan penting di akhir cerita.

Buku 1: Cirque du Freak-Mimpi Buruk jadi Kenyataan

Buku 2: The Vampire’s Assistant-Asisten Vampir

Buku 3: Tunnels of Blood-Terowongan Darah

Buku 4: Vampire Mountain-Gunung Vampir

Buku 5: Trials of Death-Ujian Maut

Buku 6: The Vampire Prince-Pangeran Vampir

Buku 7: Hunters of the Dusk-Pemburu Petang

Buku 8: Allies of the Night-Sekutu Malam

Buku 9: Killers of the Dawn-Pembunuh Fajar

Buku 10: The Lake of Souls-Danau Jiwa

Buku 11: Lord of Shadows-Penguasa Kegelapan

Buku 12: Sons of Destiny-Anak-anak Takdir

Cirque du Freak adalah cerita tentang si Darren, anak yang kayaknya baru 10 tahun (tapi di filmnya yang baru tadi aku tonton, langsung dibikin berumur 16 tahun). Darren anak ganteng, cerdas, dan alim yang punya sahabat bernama Steve. Mereka penasaran pengen nonton pertunjukan orang aneh. Di pertunjukan itu, ada banyak performer macam: Rhamus Dua Perut, Gertha Geligi, Evra Von si anak ular, Manusia serigala, Truska si Wanita berjanggut, dll dll, dan akhirnya, Larten Crepsley, si Pawang Labah-labah.
Ternyata Steve yang penggemar dongeng vampir mengenali tampang Larten dari buku-buku yang ia miliki. baginya Larten adalah Vur Horston, seorang vampir. Lalu akhirnya ia memohon pada Larten untuk diubah jadi vampir. Tapi Larten menolak karena darah Steve buruk. Di satu sisi waktu yang sama, Darren berhasil mencuri labah-labah Larten. tapi si labah-labah menggigit Steve hingga koma. Terpaksa darren kembali ke Larten untuk minta agar nyawa Steve diselamatkan. Larten bersedia, tapi dengan satu syarat. Akhirnya Darren harus mau jadi manusia setengah vampir agar nyawa Steve selamat. Darren harus merelakan hidupnya untuk menjadi asisten Larten Crepsley.
Buku kedua The Vampire’s Assistant bercerita tentang perjuangan Darren menyesuaikan diri dari seorang bocah culun idealis menjadi manusia setengah vampir yang menjadi identitas barunya, dan munculnya lawan tangguh klan vampir, yaitu klan vampanese. Beda vampir dengan vampanese adalah, bahwa vampir mengisap darah manusia tanpa membunuhnya. Vampir hanya mengambil beberapa tetes darah, dan seakan si manusia hanya kena gigitan serangga. Sedang vampanese mengisap darah sampai habis.
Ada seorang dalang di balik semua kekacauan, namanya Mr. Des Tiny. Si Pengatur Nasib. Des Tiny menyatakan bahwa nantinya kedua klan bakal bertempur habis-habisan di bawah pimpinan besar mereka. Dan jika salah satu klan menang, maka yang satunya bakal musnah.

Alur ceritanya seru dan rinci, membuat kita mampu membayangkan contohnya: perjalanan panjang Darren dan Larten ke Gunung Vampir, jalan pertempuran, adegan pembunuhan, hingga pergolakan batin yang sering dialami si tokoh utama.

Ending serial ini benar-benar di luar dugaan. Fantastis bercampur heroik. Semua jempolku untuk Darren O’Saughnessy sang pengarang, meski jujur saja, aku bukan penggemar cerita epik penuh kesedihan begini.

Nggak seru dongeng tanpa kritik. tapi sayang, The Saga of Darren Shan buatku nggak menyisakan tempat buat kritik. Kecuali nih ya … sebagai orang yang suka mengulang-ulang baca koleksi novel dan penggemar happy ending, serial ini rasanya bukan materi yang tepat untuk diulang baca berkali-kali. terlalu gelap dan sedih. Meski kesedihan yang ini bukan kesedihan yang pasaran lho ya. Jadi silakan yang suka cerita vampir, ini novel yang tepat. Tapi peringatan terakhir: buat kalian penggemar vampir ngepop seperti Edward Cullen, pasti bakal kecewa berat 😀

Deskripsi bukunya kira-kira saja ya … soalnya ini serial.

Harga: Rp 25.000-30.000

Soft cover

27
Apr
10

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran-Serasa berada di dalam otak penderita autis.

The Curious Incident of the Dog in the Night-Time, atau terjemahan untuk edisi Indonesianya: Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran ini adalah novel karya Mark Haddon. Pertama kali niat beli karena tertarik lihat covernya yang aneh dengan warna jambon ngejreng. Entah deh, di Gramedia masih ada atau nggak. Soalnya ini buku lama banget. Aku saja belinya tahun 2002.

Sebuah novel yang awalnya merupakan misteri pembunuhan, dengan detektif dan pencerita dari sudut pandang orang pertama bernama Christopher Boone. Christopher adalah anak berusia 15 tahun yang mengidap sindrom Asperger’s (satu bentuk dari autisme). Dia sangat jago matematika, tapi sangat kurang dalam memahami manusia pada umumnya. Dia sangat menyukai daftar, pola, dan fakta. Tapi di sisi yang lain ia benci warna kuning dan cokelat karena baginya warnanya seperti kotoran, dan tidak suka disentuh. Sebelum peristiwa ini, Christopher belum pernah pergi lebih jauh dari ujung jalan rumahnya. Tapi saat ia mendapati anjing tetangganya dibunuh, ia mampu mengatur perjalanan yang cukup menakutkan baginya yang akhirnya membalikkan semua fakta yang selama ini ia yakini.

Novel ini dibuka dengan adegan saat Wellington, si anjing, dibunuh dengan menggunakan garpu kebun. Christopher yang pada awalnya dituduh sebagai pelaku, memutuskan untuk menyelidiki misteri pembunuhan Wellington, meniru cara detektif favoritnya, Sherlock Holmes. Pencarian fakta mengenai pembunuhan Wellington ini akhirnya menuntunnya pada kenyataan yang mengguncangkan hidupnya yang selama ini penuh keteraturan.

Penuturan dengan sudut pandang orang pertama ini membuat kita sebagai pembaca diajak untuk memahami cara berpikir penderita autis. Hal ini memungkinkan, karena Mark Haddon sebagai pengarang, sudah lama terbiasa bergaul dengan para penderita autis. Ia adalah guru untuk anak-anak autis. Novel ini mengajak kita melihat dunia melalui cara pandang Christopher. Kita bahkan bisa memahami mengapa para penderita autisme seringkali duduk di pojokan dan hanya menggerakkan tubuhnya maju-mundur yang bagi kita tampak menjengkelkan. Itu ternyata karena mereka sedang mengalami overload informasi. Christopher menjelaskan bahwa pada fase itu, ia merasa seperti komputer yang hang.

Berbekal insight yang mendalam tentang para penderita autis, Mark Haddon mengajak kita untuk berempati dengan mereka. Betapa perderita autis mencerna kata per kata secara literal, hingga segala macam gaya bahasa terasa memusingkan untuk mereka. Buku ini membuatku introspeksi dan bersyukur, karena aku tidak mengalami kesulitan seperti cara Christopher mencerna dunia. Dan aku tidak harus menjadi orang tua Christopher yang sepertinya sampai kehabisan energi hanya untuk Christopher dari hari ke hari. The Curious Incident of the Dog in the Night-Time sebuah novel yang menyentuh, tapi lucu. Membuatku tidak bisa lagi menertawakan perilaku penderita autis. Sangat aku rekomendasikan untuk dibaca, bahkan dikoleksi. Bukan jenis buku yang bakal cepat dilupakan.

Harga: Rp 45.000,-

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal: 320 hal

Terbit: 2002

Soft Cover

ISBN: 9799100178

26
Apr
10

Head Games-Sepinya hidup seorang cewek nerdy

Judith Ellis sangat kecanduan game online. Apalagi ia baru saja kehilangan sahabatnya gara-gara gosip dan prasangka. Biasa deh, anak SMA. Rasa penasaran pada Irgan, salah satu karakter game, membuatnya berusaha mengenalinya di dunia nyata.

Sementara itu Judith merasa terganggu sekaligus penasaran dengan keberadaan tetangganya, Jonathan, anak yang terkenal nakal. Tapi Justru Jonathan lah yang tahu kalau Judith punya masalah, dan berhasil membantunya menghadapi masalah tersebut.

Perkenalan mereka, dan terkuaknya misteri keberadaan Irgan, membuat Judith dan Jonathan bersahabat. Meski bentuk persahabatannya aneh. Sayang, image bad boy Jonathan bikin nyokap Judith alergi.

Judith adalah gadis yang sedang kebingungan. Membagi perhatiannya untuk ayahnya yang di luar kota, kehidupan sekolahnya yang tanpa teman, keasyikan nge-game-nya, dan kewarasannya dalam menghadapi trauma. Kisah yang mampu membuatku menyelami dunia para head gamers. Ternyata selama ini setiap habis main tetris dan ngerasa ngeliat kotak-kotak berbagai warna berjatuhan di otak, gak salah juga. Bukan novel yang jelek. Sungguh!


Harga : Rp 28.000,-
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 280 halaman
Terbit : September 2008
Soft Cover

ISBN : 978-979-4027-6; 31208038
20
Apr
10

Just Listen-Just read too … (ini perintah, jangan bawel. Buku bagus, juga!)

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mengalami peristiwa yang memalukan, menjijikkan, dan banyak saksi mata mengatakan bahwa kamu bersalah? Jika kamu adalah Annabel Greene, maka kamu hanya akan diam dan menutup diri dari lingkungan.

Apa yang tampak di permukaan, belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya ada di dalam. Sebuah ungkapan klise yang sangat mampu dilukiskan dalam kisah di novel ini.

Annabel adalah gadis cantik pendiam. Karirnya sebagai model lokal cukup sukses, tapi tidak demikian dengan kehidupan sosialnya setelah mengalami peristiwa tidak enak yang melibatkan Sophie sahabatnya, dan pacar Sophie. Hal itu, ditambah keputusan Annabel untuk mengasingkan diri membuatnya semakin terkucil setelah masa libur sekolah berakhir.

Kesendirian itu membuat Annabel mengenal Owen, cowok mantan peserta kursus pengendalian amarah yang terkenal sebagai cowok paling bete di sekolah. Owen ternyata bisa jadi sahabat yang menyenangkan, asal tidak sedang diskusi tentang musik. Dengan Owen, Annabel bisa terbuka mengenai segalanya. Kecuali tentang masalahnya dengan Sophie. Dan tentang masalah dengan Clarke juga. Sekedar info, Clarke adalah sahabat Annabel sebelum Sophie.

Di luar masalah peliknya di lingkungan sosial, Annabel juga memendam rasa tidak enak karena kakak-kakaknya. Kristen yang suka ngomong blak-blakan, dan Whitney yang jarang ngomong. Baik secara blak-blakan ataupun tidak. Kedua kakaknya punya cara mereka sendiri untuk membuat Annabel merasa terintimidasi. Belum lagi dengan problem eating disorder Whitney yang menyita perhatian keluarga.

Annabel juga menyimpan rahasia tentang pekerjaannya. Meski tidak suka, ia tidak bisa bilang tidak setiap kali ibunya menyorong-nyorongkan job modelling baru ke bawah hidungnya. Karena ia tahu, job modelling itu membuat ibunya jadi memiliki kesibukan yang ia butuhkan.

Novel ini banyak bercerita tentang konflik batin Annabel sebagai cewek yang tidak suka berkonfrontasi, di tengah problem-problemnya yang sangat membutuhkan konfrontasi untuk penyelesaiannya. Atau, itulah setidaknya saran dari Owen, cowok jujur yang sangat suka berkonfrontasi 😀

Sarah Dessen bertutur dengan lembut. Seakan ia sangat memahami perasaan tokoh utama. Meski terjemahannya kurang lancar, aku sangat memaafkannya. Karena kepribadian Annabel dan Owen dan tokoh-tokoh lain tidak sampai hilang. Semua tergambarkan dengan gamblang. Membuat kita bisa memahami dan ikut terhanyut dalam ceritanya. Hanya karena salah paham dalam mengartikan sebuah CD, Annabel bisa mendapatkan jawaban tak terduga dari masalah-masalahnya.

Novel ini sangat aku rekomendasikan untuk pecinta YA novels. Pembahasannya tidak cengeng, tapi mampu membuat air mata merebak hanya karena membayangkan konflik batin yang dialami Annabel. Membuatku semakin penasaran menunggu karya-karya Sarah Dessen lainnya.

Harga : Rp 53.000,-

Penerbit: Wortel Publishing

Tebal : 353 halaman

Terbit : Juni 2009

Soft Cover

ISBN: 978-979-1349-20-8

20
Apr
10

Twilight Series-The Bella Swan Saga

Novel-novel ini sebenarnya barang lama. Tapi kalo kita ngobrolin fantasy-gothic, kayaknya Twilight Series musti dimunculkan juga, karena Stephenie Meyer kan salah satu pelopornya 😀

Kisah perkenalanku dengan Bella Swan hampir sama dengan kisah perkenalanku dengan Harry Potter. Yah, masih mending si Bella Swan sih, aku mulai addicted sama cerita dia sejak keluarnya buku 1, Twilight. Kalo Harry Potter? Hmm … perkenalan yang sama sekali ga disengaja. Teman satu kos yang menenteng Harry 3 The Prisoner of Azkaban (sudah cetakan ke 3, lagi). Aku pikir waktu itu, ini buku model apa lagi, kok ceritanya soal anak yang kayaknya masih pra remaja, penjara sihir, hipogrif …. Setelah temanku selesai baca, aku bilang mau pinjam, dan berhasil aku kebut tuh buku selama 3 hari. Huh, I’m in love in a blink of an eye! Akhirnya setelah baca buku 3 Harry Potter itu, aku jadi beli buku 1, 2, dan 3 sendiri, diikuti buku2 yang lain, sampai selesai serinya saat ini.

Bella Swan? Karena aktivitas tuker-tukeran novel dengan Pink yang jalannya rada berat sebelah (Aku selesai baca, pink belum selesai). Dari semua seri Twilight yang sudah published di Indonesia ternyata aku paling suka dengan Twilight. Walaupun karakter Bella sebenernya memang sudah rada nyebelin dari awal. Rada anti sosial, pemuja vampir, ga bisa jaga diri. Duh. Masih untung dia diceritakan sebagai orang yang pintar di kelas. Kalo ga, bete banget lagi bacanya. Mana karakter Edward Cullen-nya sempurna banget gitu. Muda, cuakeeep, pinter, kaya, gagah perkasa lagi. Mengingatkan aku dengan karakter-karakter yang sering muncul di fiksi Indonesia. Ganteng, jangkung, jago basket, ketua OSIS, penerima bea siswa, anak orang kaya. hihihi. Enak banget bikin karakternya. Dsb, dsb. jalan ceritanya benernya oke banget. Tapi kenapa yah, si Stephenie Meyer ga mau bikin intrik yang lebih complicated? Kenapa intriknya hanya berpusat pada keberadaan Bella? Belum lagi keharusan mengulang-ulang deskripsi kegantengan Edward Cullen yang kayaknya beyond nalar itu. Hhhhh. Over all, aku seneng dengan ceritanya. Tapi plis deh Miss Meyer, buat bukumu yang berikutnya, tolong karakternya lebih hidup lagi. jangan secengeng Bella, dan jangan bikin hidup semua orang berpusat hanya pada seorang cewek yang akhirnya kayaknya mendapatkan apa yang dia mau: living happily everafter, punya bayi cantik keturunan vampir, hidup abadi, jadi istri orang kaya … dan akhirnya kedua ortunya meski hidup terpisah tapi menemukan kebahagiaannya. Kayaknya di serial ini mbak Meyer gak rela salah satu tokohnya menderita. Lebih menarik karakter Edward Cullen sendiri, atau karakter Alice Cullen. Atau … bikin deh Jessica dan Lauren lebih sering muncul. Atau … bikin deh si Jacob Black ga sebego itu. Duh. IMHO lho.

Harga : Rp 60.000,- *
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 520 halaman
Terbit : Maret 2008
Soft Cover

ISBN: ISBN : 978-979-22-3602-6; 31208014

Sori, baru ada gambarnya untuk buku 1 saja. Yang lainnya nyusul 😀




%d bloggers like this: