04
Oct
16

SIWA Kesatria Wangsa Surya

20161003_224927.jpg

Judul: The Immortals of MELUHA

Pengarang: Amish Tripathi

Penerjemah: Nur Aini

Editor: Agus Hadiyonounni Yuliana M.

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-738-7

Cetakan: 1, 2013

Jumlah hal: 586

 

 

Judul: SIWA Kesatria Wangsa Surya

Pengarang: Amish Tripathi

Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini

Editor: Shalahuddin Gh.

Proofreader: Jenny M. Indarto

Penerbit: Javanica

ISBN: 978-602-6799-15-9

Cetakan: 1, Oktober 2016

Jumlah hal: 426

Kaki Gunung Kailasha, Tibet memberi sumbangan maha besar bagi peradaban Bharatawarsa dengan lahir dan tumbuh besarnya Siwa di sana. Kepala suku liar yang terbiasa menatap hidup hari demi hari, bisa dibilang menjadikan kemampuan bertahan hidup sukunya dari serangan suku lain sebagai ukuran capaian setiap harinya. Sungguh melelahkan. Hal itulah yang membuat Siwa memutuskan menerima tawaran Nandi, tamu yang bertandang, untuk mengungsi bersama seluruh sukunya ke negeri indah sang tamu, Meluha.

Di Meluha, Siwa diberitahu bahwa ia ternyata adalah orang yang telah ditunggu-tunggu Meluha selama ribuan tahun untuk menjadi penyelamat negeri tersebut. Sejak itu, mulailah penyesuaian diri Siwa dengan budaya yang jauh lebih maju dari yang dikenal oleh suku barbarnya. Siwa juga mendapati tradisi-tradisi yang kurang ia sukai, perempuan yang ia cintai, sulitnya menembus dan akhirnya merebut hati orang-orang terpelajar yang terbiasa menghargai pribadi dari capaian yang diraih, bukan dari ramalan serta tanda fisik yang melekat. belakangan, ia juga menemukan musuh yang setara, serta mengalami pertempuran yang menyisakan penyesalan.

Awalnya Siwa mengharapkan hidup baru bagi rakyatnya. Ternyata di Meluha bukan kehidupan baru yang tenteram damai yang ia peroleh, tetapi kehidupan yang penuh petualangan, hal baru, membukakan pemahaman anyar mengenai kebaikan dan kejahatan.

 

Aku gak bisa ngomong banyak tentang jalan cerita buku ini, karena aku yakin, spoiler bakal aku tebar kalau keran yang itu aku buka. Jadi mending percaya saja kalo aku bilang: asik banget. Gaya tuturnya deskriptif cenderung puitis. Bahkan di saat melukiskan adegan-adegan peperangan, tanpa membuat energi yang memancar dari kata-kata yang dipilih untuk melukiskan adegan tempur menjadi meredup.

Sebagai informasi kamu yang belum tau, novel ini karya pengarang India, Amish Tripathi. Sudah pernah terbit di sini dengan judul The Immortals of MELUHA keluaran Mizan Fantasi tahun 2013. Lalu (mungkin) karena penjualan gak sukses, buku yang sebenanya mengawali trilogi ini tidak diteruskan penerbitan sekuelnya. Satu lagi buku masuk ke tumpukan PHP-an penerbit lokal.

Yang kayak gini nih yang sering bikin aku mikir panjang untuk beli buku-buku yang pake logi-logi (trilogi, tetralogi, dll dll). Untung sekarang ada internet yang ngasih kita akses info tentang buku-buku sebelum nekat beli. Jadi akhirnya sekarang aku gak sering terjebak punya buku PHP-an. Meskipun sebelum aku tercerahkan, tumpukan buku berjenis itu sudah lumayan banyak di lemari. Dih, malah curhat.

Nah, gak tau dengan alasan apa, Javanica bulan ini ngerilis buku yang sama dengan judul berbeda, SIWA Kesatria Wangsa Surya. Kalo di Mizan seperti yang sudah aku sebut di atas, dimasukkan sebagai buku fantasi (makanya terbit di bawah imprint mereka yang handle novel-novel fantasi: Mizan Fantasi/MF), di Javanica, buku ini kena tag ‘Fiksi Sejarah’.

Aku ngerasa beruntung sudah baca empat versi novel ini. Edisi asli berbahasa Inggris, terbitan Mizan Fantasi, keluaran Javanica, bahkan juga naskah terjemahan mentah Javanica. Jadi begini nih hasil pengamatanku ….

Ditilik dari desain sampul, aku lihat aroma fantasi-futuristik-distopia menguar kental di cover MF. Warna biru mendominasi, font yang tampak tegas. Mengingatkan aku akan serial Divergent (terutama Four) karya Veronica Roth atau Legend series bikinan Marie Lu. Cerita yang berkisah di era ribuan tahun sebelum Masehi menurutku kurang terwakili di sampul buku. Malah, aku pribadi yang kurang suka genre YA distopia, waktu lihat The Immortals of Meluha di toko buku, langsung melenggang pergi. Gak minat untuk ngelirik. Karena aku kira itu another depressing dystopian novel😀

20161004_081455.jpg

Sampul milik Javanica lebih aku suka. Kehadiran sosok manusia berotot di sana selain membawa appeals tersendiri sebagai desain sampul, juga bikin aura kepahlawanan isi buku langsung menggoda. Pilihan font dan tata letaknya pun menghadirkan kejadulan setting. Perencanaan sampul Javanica menurutku lebih rapi.

Untuk kualitas terjemahan dan edit, sekali lagi aku memberikan poin lebih kepada Javanica. Penerbit ini berani menggubah ulang kalimat-kalimat dari buku asli, menyesuaikannya dengan gaya tutur Indonesia, tanpa mengubah esensi kalimat, apalagi esensi cerita. Sehingga novel terbitan Javanica jauh lebih nyaman dibaca. Ceritanya lebih mengalir, tiap kata terangkai saling menguatkan. Tidak ada missing link yang bikin jidat berkerut.

Versi MF yang berusaha teguh menjaga kata-kata agar tidak melenceng dari kata asli, akhirnya jadi terasa seperti buku terjemahan. Kaku, dengan banyak kalimat yang membingungkan.

Ada satu kalimat di awal buku …. Pada versi English, ditulis, “Shiva had seen JUST A FEW sunrises in his twenty-one years. But the sunset! He tried never to miss the sunset!” Kalimat ini menyiratkan kurangnya pengalaman memandang matahari terbit sepanjang usia si tokoh yang sudah dua puluh satu tahun itu.

Versi MF menuliskan, “Selama dua puluh satu tahun hidupnya, SUDAH beberapa kali Shiva melihat matahari terbit. Akan halnya matahari terbenam! Dia selalu berupaya agar tidak melewatkannya!”

Coba bandingkan dengan apa yang tertulis di versi Javanica, “Menginjak usia yang kedua puluh satu, lelaki itu TIDAK TERLALU SERING melihat matahari terbit. Berbeda dengan matahari terbenam yang sering ia saksikan.”

Terjemahan MF mengesankan ‘beberapa kali melihat matahari terbit’ seakan prestasi. Lalu jadi aneh karena kalimat selanjutnya justru menyayangkan kurangnya pengalaman tersebut. Yang kemudian ditutup dengan seringnya Shiva melihat matahari terbenam. Kebingungan seperti itu tidak muncul pada versi Javanica, bukan?

Usaha MF untuk menjaga intonasi (mempertahankan tanda seru) supaya tetap mirip dengan versi asli juga membuat kalimat veri MF jadi terbaca aneh, kan? Berbeda dengan Javanica yang berani mengubah susunan serta penggunaan tanda baca, sehingga membuat kita di Indonesia nyaman menerima narasinya.

 

Kekurangtepatan terjemahan MF muncul berkali-kali. Misalnya saat mendeskripsikan pondok Shiva. Buku versi English menyatakan, “The huts in Shiva’s village WERE LUXURIOUS compared to others in their land.” Bagaimana bisa, MF menerjemahkan dengan kalimat “Pondok-pondok di desa Shiva TIDAK LEBIH MEWAH dibanding pondok-pondok lain di wilayah itu”? sementara versi Javanica sudah lumayan sesuai dengan naskah asli, “Pondok-pondok di desanya CUKUP MEWAH dibandingkan pondok-pondok di desa lain.”

 

ISTILAH ASING

MF berusaha konsisten dan tidak mengubah apapun istilah atau nama yang muncul di buku. Masalahnya, tokoh-tokoh, lokasi, peristiwa buku ini adalah tokoh-tokoh, lokasi, peristiwa yang sebenarnya sudah familier di kalangan masyarakat Indonesia. Misalnya Shiva. Daripada tetap menggunakan ejaan India yang belibet di lidah, kenapa gak memanfaatkan nama ‘Siwa’ yang memang sudah kita kenal? Begitu juga dengan Shri Ram, padahal nama Sri Rama sudah kita akrabi sejak dulu. Penggunaan istilah-istilah baru untuk hal yang telah lama ada justru akan membuat buku terkesan asing. Sense of belonging aku sebagai pembaca akhirnya tidak tercipta.

Tapi, di saat penggunaan istilah-istilah MF berusaha konsisten, The Immortals of MELUHA terbaca malu-malu, sampai harus menyamarkan ganja yang diisap Shiva menjadi sekedar rokok dan tembakau. Halo, sudahkah punggawa MF ngecek, kalo tembakau baru masuk ke daratan India (Bharatawarsa) di abad 17 M, Sementara buku ini ber-setting ribuan tahun SM? Ngganja biar saja ngganja kali. Karena memang itulah yang diisap masyarakat India di masa lalu. Dan ganja pun adalah kelengkapan upacara serta puja di sana. baca Shiva ngerokok jadi berasa sedang nonton iklan Marlboro😛

Begitu pula untuk pengindonesiaan istilah-istilah. MF terbaca kedodoran di beberapa tempat, misalnya saat bercerita tentang Kanakhala. MF menuliskan perempuan ini sebagai ‘ajudan’, sedang Javanica menerjemahkan jabatannya sebagai ‘mahapatih’. Versi aslinya, Amish menuliskan ‘prime minister’. Ajudan adalah pembantu pelaksana. Sedang mahapatih adalah penasihat sekaligus kekuatan eksekutif yang mewakili raja. Jadi kita bisa melihat, posisi mahapatih jauh-jauh di atas ajudan.

 

CATATAN KHUSUS UNTUK VERSI ASLI

Aku menemukan kelemahan kontinuitas di versi asli yang akhirnya memengaruhi edisi terjemahannya. “apa arti Rama?”  tanya Siwa sambil menunduk memandangi kata yang menutupi setiap senti pakaian kuningnya (Versi Inggrisnya: ‘What is Ram?’ enquired Shiva as he looked down at the word covering every inch of his saffron cloth.). Di sini aku kurang puas. Siwa diceritakan sebagai kepala suku liar (terasing) di kaki Gunung Kailasha. Nah, apa kepala suku terasing yang seumur hidupnya terlalu sibuk bertempur mempertahankan wilayah dari suku liar lain akan sempat (atau ada yag mengajari) baca tulis? Apalagi jaman segitu jarak masing-masing teritori ditempuh dalam waktu yang lumayan panjang, berminggu-minggu. Ini secara logika seharusnya membuat ilmu pengetahuan tidak tersampaikan ke pelosok.

 

CATATAN KHUSUS UNTUK VERSI JAVANICA

Di luar segala kenyamanan baca dan konsistensi terjemahan/editan, dll, versi Javanica juga berusaha menjaga konsistensi di urusan ukuran. Saat buku asli menyatakan meter, maka untuk membuat buku ini lebih berasa aroma jadulnya, meter pun diubah menjadi tombak. Sayang ada beberapa ukuran seperti hektar, menit, jam, yang masih belum terkonversi. Belum nemu padanannya, ya?😉

 

KESIMPULANKU

Serial ini bagus, bener. Tapi aku sih menyarankan kalian baca versi Javanica saja. Selain bahasanya lebih nyaman, istilah-istilah gak bikin kriting jidat, terjemahannya juga gak rancu. Dan yang jelas, setidaknya sampai buku ke-2, proses terjemah serta edit dengar-dengar sudah jalan. Jadi kasus PHP kelihatannya gak akan terjadi di sini.

Nah, daripada njomplang gitu lho setelah baca buku pertama keluaran MF, lalu buku kedua baca versi Javanica, mending mulai baca yang Javanica deh dari buku pertama.

29
Apr
14

Biar Gak Punah, Bacalah ;)

17
Apr
14

Along for the Ride: andai lebih sabar nggarapnya ….

 

It’ been loooong time, guys, since I the last time I wrote here. Such a crappy blogger, I know. Hey, I wrote a lot, you know, in my other blog. But now, I have this beautiful novel I want to share. So, here it is ….

 

Tanpa banyak teralihkan, tanpa banyak protes, tanpa banyak pilihan lain, bikin Auden menjalani 18 tahun hidupnya dengan selalu fokus: menjadi murid terpandai, selalu sukses di bidang akademik, mengiyakan semua pandangan feminis ibunya, dan menganggap  semua hal di luar itu adalah pengganggu konsentrasi. Ia bahkan bisa menerima dengan santai saat seorang cowok yang agak dia incar, akhirnya mencampakkannya dari kencan prom, karena alasan cowok itu yang akademis banget.

Sampai suatu ketika saat ia memutuskan menghabiskan musim panasnya di kota kecil pinggir pantai memenuhi undangan ibu tirinya yang habis melahirkan adiknya. Di Colby ini, Auden belajar menerima kenyataan bahwa ia yang selama ini menganggap dirinya serba pintar serba bisa, ternyata ketinggalan banyak hal~hal kecil yang bagi orang lain adalah keharusan dalam menapaki hari menuju kedewasaan. Sebut saja: pesta, kencan, bersahabat sesama cewek dan menggerombol ngobrolin hal remeh temeh, main boling, bahkan naik sepeda. Bersama Eli, cowok pemuram pengelola toko sepeda, ia menjalani petualangan di malam hari untuk menutup ketertinggalannya itu.

Colby, adalah kota kecil yang tidak menyisakan hiburan berlebih. Tetapi Colby mampu membalikkan dunia Auden, membuatnya memandang hidup dari sisi remaja yang beranjak dewasa.

 

Berapa kali aku musti bilang, kalo aku sukaaaa banget Sarah Dessen? Along for the Ride ini termasuk salah satu karya dia yang paling aku suka. Pengarang satu ini menarik banget.

  1. Ia (hampir) selalu bisa menemukan hal sepele untuk menjadi titik balik pemikiran tokohnya. Seperti ‘belajar naik sepeda’ di novel ini, atau ‘CD kosong’ di Just Listen.
  2. Ia tidak pernah mengumbar ‘I love you’, tapi mengajak kita memaknainya dari tingkah, gerakan, dan dialog yang muncul.
  3. Cover2 bukunya selalu cantik dan manis.
  4. Sarah Dessen berhasil menciptakan kota2 fiktif sebagai lokasi, dan ia menempatkan tokoh2 di buku2nya saling terkait. Seperti si Jason di buku ini yang adalah mantannya tokoh utama di The Truth about Forever (semoga gak nyepoil nih di sini. Ehehe), dan Remy yang muncul bentar di Just Listen, adalah tokoh utama di This Lullaby, and so on.

 

Oke, balik ke buku ini, pas ngeliat cover~nya, duh, seneng banget. Meskipun beda dari versi asli, tapi warna Sarah Dessen~nya kerasa banget. Aku suka. Sayang begitu aku buka segel dan baca, pusing mulai melanda ….

Bayangkan saja, font~nya seukuran font koran. Kesannya Elex Media maksa banget madat2in halaman biar irit. Soalnya biar sudah dilayout pake font mikroskopis gini, tetep saja 339 halaman.

Trus, yang bikin puyeng yang kedua adalah terjemahannya. Aduuuuh, berasa baca text book jaman kuliah. Rumit, jauh lebih rumit dari bahasa aslinya. Berasa gak baca buku remaja. Belum lagi pemahaman penerjemah tentang istilah2 yang ada di sono. Misal: pas membandingkan celana tipe boyshort dengan bikini (halaman berapa yak?). Ya sudah, boyshort ya boyshort saja kaliiii, gak usah diterjemahkan jadi celana cowok. Karena boyshort itu kan tipe panties yang bukaan kakinya gak terlalu menukik ke atas, bukan berarti celana pendek milik cowok.

Andai lebih sabar di proses terjemah dan editingnya, buku ini bakal lebih membahagiakan utk dibaca :=/

Cover: skor **** untuk ***** yang tersedia

Layout: skor * untuk ***** yang tersedia

Terjemahan: skor *** untuk ***** yang tersedia

 

Judul: ALONG FOR THE RIDE

Pengarang: Sarah Dessen

Penerbit: Elex Media Komputindo

Penerjemah: Mery Riansyah

ISBN: 978 602 02 3452 6

Cetakan I~2014

Jumlah Halaman: 339

 

 

06
Jan
14

My 2014’s Reading Challenge List

Hohohoho, sudah ganti taun, dan tumpukan buku menjulang dalam posisi mengkhawatirkan. Biar lebih aman slash ngurangin rasa bersalah karena nimbun stok slash biar ada tempat buat buku2 baru, musti bikin reading challenge nih buat 2014 (semoga kesampaian, amin amin amin …).

Kali ini, aku bakal bikin challenge untuk kategori fiction dan non fiction.

Untuk fiction, aku bagi jadi tiga sub kategori: hard copies, emak, dan watty. Niatnya sih pengen nyikat 150 judul di taun ini. Ambisius banget, yak? biarin … doain saja bisa terlaksana.

oke, ini daftar Reading Challenge~ku sejauh ini. Belum genap 150 judul sih … daftar berikut bakal nyusul kalo sudah ada judul yang aku inginkan, dan atau aku berhasil baca buku yang justru belum kepikiran masuk ke daftar ini.

FICTION

HARD COPY NOVELS

  1. Beyonders ~ Brandon Mulls
  2. Middle School the Worst Years of My Life ~ James Patterson
  3. Tiger (The Five Ancestors 1) ~ Jeff Stone
  4. Monkey (The Five Ancestors 2) ~ Jeff Stone
  5. Snake (The Five Ancestors 3) ~ Jeff Stone
  6. The Demigods Diaries ~ Rick Riordan
  7. The Red Pyramid (Kane Chronicle 1) ~ Rick Riordan
  8. The Throne of Fire (Kane Chronicle 2) ~ Rick Riordan
  9. The Serpent’s Shadow (Kane Chronicle 3) ~ Rick Riordan
  10. Runaway Run ~ Mia Arsjad
  11. A Wish for Love ~ Mariskova
  12. Jinx ~ Meg Cabot
  13. The Hobbit ~ JRR. Tolkien
  14. The Fellowship of the Ring (TLOTR 1) ~ JRR. Tolkien (reread)
  15. The Two Tower (TLOTR 2) ~ JRR. Tolkien
  16. The Return of the King (TLOTR 3) ~ JRR. Tolkien
  17. Revenge of the Girl with the Great Personality ~ Elizabeth Eulberg
  18. The House of Hades ~ Rick Riordan (reread)

WATTY

  1. Skittles & Science ~ EternalZephyr
  2. Being the Player’s Neighbor
  3. The Normals ~ EstrangeloEdessa
  4. Just Kidding but Seriously ~ Melissassilem
  5. The Quirky Tale of April Hale ~ demonicblackcat
  6. Project Popularity ~ MelTheBookAddict
  7. Coming Together ~ Knightsrachel
  8. Drama Queen ~ Sian7Fenwick7 (the file no longer available. huh?)
  9. Good Enough to Eat ~ CrayonChomper
  10. Up in the Air ~ CrayonChomper
  11. The Cell Phone Swap ~ DoNotMicrowave
  12. I am Talon ~ DoNotMicrowave
  13. Boy Blunders ~ ElzLOL
  14. Bra Boy ~
  15. Pairing Up the Bad Boy
  16. Leap of faith
  17. I’m the Geek Who Slapped the Football Player
  18. Don’t Fall in Love in a Witness Program
  19. I Ship Us
  20. You’ve Fallen for Me ~ roastedpiglet

EBOOK COLLECTION

  1. Educating Caroline ~ Patricia Cabot
  2. Ransom My Heart ~ Mia Thermopolis
  3. The Almost Truth ~ Eileen Cook
  4. His Kiss ~ Melanie Marks (reread)
  5. Just Listen ~ Sarah Dessen (reread)
  6. The Truth about Forever ~ Sarah Dessen (reread)
  7. Angel Beach ~ Tess Oliver
  8. Harmonic Feedback
  9. Moonglass  ~ Jessi Kirby
  10. Playing Hurt
  11. Geek Girl ~ Holly Smale
  12. A Match Made in High School ~ Kristin Walker
  13. My Wish for You
  14. Spark (Elemental 2) ~ Brigid Kemmerer
  15. Spirit (elemental 3) ~ Brigid Kemmerer
  16. Karma Club ~ Jessica Brody
  17. The Girl in the Park ~ Mariah Frederick
  18. Shadowhunter’s Codex ~ Cassandra Clare

NON FICTION

1. Brand Gardener ~ Handoko Hendroyono (finishing)

2. Political Branding & Public Relations ~ Silih Agung Wasesa

3. The Brand Mindset ~ Duane E. Knapp (reread)

4. Membunuh Indonesia ~ Abhisam DM, dkk

5. The Media Handbook ~ Helen Katz

Notes:

1. Italic letters: in reading progress

2. Striked through: already read

 

1558374_10202947865163775_321195645_nSebagian buku yang musti ‘ditelan’ dan masih banyak lagiiiii …😀

26
Jun
13

STORM: Pertentangan para pengendali kekuatan alam

Beberapa minggu hidup Becca kacau balau. Dimulai dengan sebuah kejadian memalukan di pesta, diikuti dengan bisik–bisik, hinaan, dan perlakuan kejam anak–anak lain di sekolah. Becca pikir, jika ia diam saja maka semua akan berlalu. Tetapi ternyata tidak segampang itu, hingga ia memutuskan untuk ikut kelas bela diri.

Usai kelas yang agak terasa tidak berguna itu, Becca menyelamatkan seorang cowok dari keroyokan dua cowok lain. Dia kira keributan hanya akan selesai sampai di situ, tetapi ternyata itu menjadi awal rentetan kejadian menyeramkan yang melibatkan semua gejala alam mulai dari angin ribut, hujan badai, gempa bumi, bahkan banjir dan kebakaran.

Kejadian–kejadian itu membuat Becca mempertanyakan kejujuran masing2 pihak yang terlibat. Apakah Chris si cowok yang dia selamatkan itu memang setidak bersalah yang ia tampakkan? Apakah kakak–kakak kembar cowok itu, dua cowok yang juga superganteng itu juga semenyenangkan yang mereka tampakkan? Apakah kakak tertua mereka yang menyebalkan itu memang membunuhi orang sebanyak itu? Bagaimana dengan kata–kata dua cowok yang mengeroyok Chris? Mereka tidak mungkin berbohong semeyakinkan itu, kan? bagaimana dengan orang–orang lain? Kenapa kota kecil mereka jadi tampak menyeramkan padahal warganya masih yang itu–itu juga?

Belum lagi dengan si Pemandu? Siapa lagi orang ini? Dan yang penting, yang manakah dia di antara orang–orang yang muncul di tengah kekacauan peristiwa alam di kota mereka?

Hah, setelah beli tanggal 30 Mei 2013, akhirnya aku berhasil ngrampungin novel ini. Bukan karena jelek ceritanya lho, tapi akhir–akhir ini aku nemu asiknya baca secara paralel antara beberapa hard copies, ebook, dan Wattpad. Jadinya banyak yang terbengkalai :DDD

Awal nemu info tentang novel ini, aku ragu …. Saat ini kan tren novel sudah mulai bergeser ke arah dystopian. Mulai dari zombi–zombian yang sampai sekarang belum aku temukan sisi menariknya (muka pucat jalan gak lurus, di mana menariknya? Apocalyptical world, hadeeeh … I’m a self–proclaimed happy–ending lover. Dan kesukaan zombi–zombi ngemil otak manusia? Eeeew), sampai ke situasi–situasi di mana aturan baru yang penuh represi diterapkan, atau remaja–remaja hasil eksperimen berkeliaran mencari jati diri, aku belum nemu rasa ‘klik’.

Jadi, buatku YA romance–high school adalah pelampiasan yang segar. Karena terus terang saja, untuk beralih ke New Adult aku belum siap. Apalagi sampai ke eroro. *malu2 nutupin muka.

Ternyata STORM lumayan mengasyikkan. Dari sisi alur, ketegangan terasa di setiap halaman. Mulai dari ketegangan hubungan dengan orang tua, dengan peer group, dengan sahabat, sampai ketegangan karena inti permasalahan.

STORM juga menyuguhkan kelincahan dan kelucuan dialog, sayang, typo macam kelebihan huruf atau salah ketik huruf atau penempatan tanda baca cukup banyak bertebaran. Nih, contohnya di halaman 20 alinea pertama baris kedua:

>>Menyebut celana jin–nya rombeng ….<<

Untuk penulisan kata asing yang telah diindonesiakan macam jenis celana ‘jin’ atau ‘jins’ yang merupakan adaptasi dari ‘jeans’, bukankah tanda hubung (–) sudah tidak dibutuhkan? Ketidaknyamanan macam ini bisa ditemukan di beberapa halaman lainnya.

Belum lagi beberapa terjemahan terbaca janggal seakan sebenarnya belum selesai proses edit. Misalnya halaman 532 alinea 11:

>>”Becca.” Suara ayahnya memotong suara Becca dan ayahnya melangkah maju ke arahnya.<<

naskah aslinya:

>>”Becca.” Her father’s voice sliced right through her, and he stepped toward her.<<

Oke, memang bener sih, terjemahan kata per katanya. Tetapi gak nyaman juga kan, dalam satu kalimat kita musti baca kaya ‘–nya’ sampai tiga kali gitu? Mungkin akan lebih pas jika kita baca dengan cara:

>>”Becca.” Sang ayah menyela ucapan gadis itu, dan melangkah ke arahnya.

Jadi gitu deh …

STORM sebagai buku pertama dari serial ELEMENTAL, menjanjikan ketegangan dari awal sampai akhir lembar kertasnya. Aku ‘beruntung’ saja saat ini sudah ngadepin SPARK (second instalment) dalam bentuk ebook, jadi mungkin aku gak akan sepenasaran itu dengan salah satu tokoh sentral yang dibahas berkali–kali tapi justru pas di belakang raibnya terasa antiklimaks (eh, bukan spoiler kan? :P)

Akhir kata, kalo aku bilang sih Brigid Kemmerer mampu menyuguhkan keseimbangan di serial ELEMENTAL pertamanya ini. Sisi misteri, action, dan romance muncul tanpa saling mengalahkan, membuatku menunggu–nunggu buku selanjutnya. FYI buat yang belum tau, ada novella yang bisa didapat dalam bentuk ebook untuk peristiwa yang terjadi 5 tahun sebelum STORM berlangsung (ELEMENTAL) . dan di antara STORM serta SPARK juga satu novella (FEARLESS). Tidak akan ngaruh banyak kalo kamu gak baca juga, tapi jelas akan membantu pemahamanmu tentang kejadian2 di antara masing2 novel.

Judul: STORM

Pengarang: Brigid Kemmerer

Penerjemah: Tria Barmawi

Editor: Putra Nugroho

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-727-1

Cetakan: 1, Mei 2013

Jumlah hal: 552

Image

11
Dec
12

The Mark of Athena: Ending nyesek, tapi masih ada harapan kok ;)

Peringatan

Jika niat baca novel ini, sebaiknya baca:

https://iluvwrite.wordpress.com/2012/06/01/the-los-hero-niatnya-jadi-obat-kangen-si-percy-yang-justru-bikin-tambah-kangen/

dan

https://iluvwrite.wordpress.com/2012/11/18/the-son-of-neptune-sekali-lagi-disuguhi-serunya-petualangan-demigod-amnesia/

dulu ya ….

Tujuh blasteran akan menjawab panggilan

Karena badai atau api, dunia akan terjungkal

Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan

Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal

Argo II berlabuh di angkasa Perkemahan Jupiter (gak bisa mendarat karena diomelin Terminus si Dewa Perbatasan) membawa awak Annabeth Chase, Jason Grace, Piper McLean, Leo Valdez, dan Gleeson Hedge sang satir sinting. Misinya ada dua: memenangkan rasa percaya demigod Romawi serta menjemput wakil demigod Romawi untuk ikut dalam misi, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke negara asal para dewa untuk mencegah kebangkitan Gaea serta mencari Pintu Ajal dan menutupnya.

Sayang misi mereka yang pertama gagal total setelah Leo menembaki Perkemahan Jupiter secara membabi buta. Terpaksa seluruh awak Argo II ditambah Percy, Frank Zhang, dan Hazel Levasque angkat sauh, kabur dengan tambahan tugas di misi mereka, mengikuti Tanda Athena (untuk Annabeth) dan menemukan Nico di Angelo dalam waktu enam hari.

Karena kapal rusak setelah dikejar-kejar legioner demigod Romawi, mereka mampir di tengah danau garam di Salt Lake City. Sebuah misi bagi Leo dan Hazel untuk menemukan perunggu langit sebagai penambal lambung kapal yang bocor. Di sana mereka malah bertemu dengan Nemesis sang Dewi Pembalasan. Namanya juga Dewi Pembalasan, jadi bukannya membantu misi, dia malah mempersulit dengan ngasih fortune cookie ke Leo. Tentunya jika Leo nekat ngebuka kue itu, dia bakal dapat bantuan dari Nemesis, tapi juga bakal ditagih balasan yang ‘setimpal’. Ini nih yang sering bikin aku sebal. Para dewa-dewi ini begitu dudul dan egois. Bukannya para demigod itu pergi kalang kabut, tunggang langgang untuk menyelamatkan mereka-mereka (para penghuni Olympus) juga? Nah kenapa mereka gak bisa lebih masuk akal dikit. Bantu kek, tanpa minta imbalan, tanpa mempersulit, tanpa nambahin beban? Bukannya kalo para demigod gagal, dewa-dewi juga yang kapiran? *gemes-gemes sebel

Selain Nemesis, mereka juga terlibat pertengkaran dengan para naiad fans fanatik Narcissus. Nah, Narcissus ini musti dibahas abis nih. Tau cowok satu ini kan? itu tuh pelopor (halah) istilah narsis sebagai kata untuk melukiskan orang yang memuja dirinya sendiri. Nah, karena Pintu Ajal yang terbuka, tentu saja Narcissus yang harusnya sudah mati ribuan taun lalu jadi hidup lagi. Dan cowok satu ini tetep saja hobi banget ngaca di telaga.

>>”Memang,” gumam sang pemuda, suaranya seperti melamun. Matanya masih terpaku ke air. “Aku memang amat sangat ganteng.”-hal. 87

Taruhan deh, kalian bakal ngakak saat baca adegan di setting ini. Segala tingkah para naiad, Leo, dan Narcissus parah banget.

Oke, kita kembali ke petualangan tujuh demigod kita setelah selamat dari kejaran para naiad yang ngamuk.  Selanjutnya mereka ke Kansas. Di sono Percy harus bertarung dengan Jason. Pertarungan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Piper. Lho? Hehehe … baca sendiri dong rinciannya. Masa minta diceritain.

Perjalanan nyambung ke Florida, Charleston, dan akhirnya mereka berlayar beneran menuju Mare Nostrum (Laut Mediterania) yang dianggap sebagai lautan terkutuk bagi para demigod Romawi.

Di laut mereka kembali mengalami kejadian-kejadian seru saat ketemu dengan Hercules (ternyata cowok satu ini nyebelin banget setelah jadi dewa lho-versi Rick Riordan sih …), ketemu manusia kuda-ikan, dan Bocah Emas juga. Nah, pas adegan-adegan di markas para manusia kuda-ikan ini aku ngekek abis lagi. Coba saja dialog ini:

>>”Oh.” Leo sama sekali tak tahu siapa orang-orang itu. “kalian yang melatih Bill? Mengagumkan.”

“Betul!” Aphros menepuk dada. “Aku sendiri yang melatih Bill. Putra duyung hebat.”

“Coba kutebak. Kau mengajar seni bertempur.”

Aphros mengangkat tangan dengan jengkel. “Kenapa semua orang berasumsi begitu?”

Leo melirik pedang mahabesar di punggung sang manusia ikan. “Eh, entahlah.”

“Aku mengajar musik dan puisi!” kata Aphros, “keterampilan! Tata boga! Semuanya penting untuk pahlawan.”

“Tentu saja.” Leo berusaha mempertahankan ekspresinya agar tetap datar. “Menjahit? Membuat kue?”

“Ya. Aku senang kau mengerti. Barangkali nanti, kalau aku tidak harus membunuhmu, aku bisa membagi resep brownies-ku.” Aphros melambai ke belakang dengan muak. “Saudaraku Bythos-dia mengajar seni bertempur.”

Leo tidak yakin apakah harus merasa lega atau tersinggung karena instruktur seni bertempur yang menginterogasi Frank, sedangkan Leo mendapatkan guru PKK. << hal. 307

Meskipun ada tujuh demigod yang terlibat di petualangan ini, para demigod asal Romawi macam Jason Grace, Hazel Levasque, dan Frank Zhang tidak mendapatkan porsi point of view. Rick Roirdan hanya menempatkan angle cerita dari sisi Annabeth, Percy, Leo, dan Piper. Mungkin House of Hades nanti akan membeberkan petualangan dari sisi mereka.

The Mark of Athena banyak mengungkap pergolakan batin ketujuh demigod.

-Percy dan Jason yang biasanya menjadi pimpinan misi-misi yang mereka jalani dan harus berkali-kali dibuat tak berdaya selama beberapa pertarungan. Dua cowok ini juga tampaknya agak-agak gak terbiasa dengan keberadaan sesama demigod kuat (selain interaksi kadang-kadang mereka dengan si Nico di Angelo). Jadinya meskipun pada dasarnya mereka dengan mudah bersahabat, friksi yang menunjukkan ego mereka sebagai orang yang biasa memimpin tim kadang muncul. Aku suka ini. Karena remaja-remaja ini jadi keliatan manusiawi. Meskipun … tentu saja quote dari Nico yang akhirnya memupus rasa penasaranku:

>>Nico memutar-mutar cincin tengkorak peraknya. “Percy adalah demigod terkuat yang pernah kutemui. Kalian jangan tersinggung ya, tapi itulah yang sebenarnya (hore!!! *yang ini quote dariku lho😛).<< hal. 590

-Annabeth mengalami krisis karena ibunya yang bingung dengan identitasnya dan marah-marah menuntut kesetiaan Annabeth dalam bentuk yang paling ekstrem.

-Leo nyaris terpuruk menyadari dirinya kurang mendapat porsi penting di petualangan ini.

-Piper merasa sebagai demigod yang tidak terlalu banyak gunanya.

Oke, kalo aku sih setuju-setuju saja dengan perasaan Piper. Tampaknya di antara ketujuh remaja perkasa itu, hanya Piper yang kemampuannya ‘cuma’ charmspeak. Maaf ya, kemampuan macam apa itu? Rasanya buat kaum fana seperti kita-kita, charmspeak nyaris mirip-mirip dengan keahlian sebagai orator atau malah tukang gendam di terminal-terminal pas menjelang hari raya. Hehehe.

Nah, sekarang saatnya mbahas typo. Adakah? Jelas ada. Itu lho di halaman 477, ada tulisan yang aneh:

>>Leo melirik bola-bola mekanis yang dorman di meja.<<

Halo, apa itu maksudnya?

Akhirnya setelah aku cek ke versi English-nya, inilah hasilnya:

>>Leo glanced at the dormant spheres on the worktables.<<

Which is meant:

‘Leo melirik bola-bola mekanis yang menggeletak terbengkalai di di meja.’

Dari sisi cover, versi yang terbit di Indonesia ini buatku tampak jauh lebih baik disbanding cover The Son of Neptune. Bahkan dibanding versi TMoA yang terbit internasional di bawah Dysney-Hyperion. Tepuk tangan untuk pilihan cover oleh Mizan Fantasi!!! *SFX: tepukan tangan

Dari sisi ending, waduh, nyesek banget. Bikin pengen maksa Om Riordan buruan nyelesaiin The House of Hades. Tapi yakin deh, keadilan pasti tetap ada buat para penggemar setia Percy O=)

Nah, untuk rekomendasi, tentunya aku gak bisa bilang banyak, kecuali: rugi banget baca The Mark of Athena ini … kalo gak baca mulai dari The Lost Hero. Soalnya kan ya selain gak bakal mudeng, tentunya kalian bakal melewatkan petualangan-petualangan seru di serial berjilid tebal ini. Hehehe ….

Judul: THE MARK OF ATHENA

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Tendy Yulianes

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-740-0

Cetakan: 1, Oktober 2012

Jumlah hal: 603

Ini pic-nya tapi terus terang saja, aku ngambilnya dari wall bu Tiwuk Endah (jangan diomelin ya bu, soalnya TMoA-ku terlanjur gak laik potret nih) hehehe😀 481429_413586462048650_382171053_n

18
Nov
12

The Son of Neptune: Sekali lagi disuguhi serunya petualangan demigod amnesia

Kehilangan ingatan, dikejar-kejar dua gorgon yang menyamar jadi sales promotion girl nawarin sample sosis, harus berkali-kali membunuh kedua gorgon tersebut (dengan menjatuhi mereka peti berisi bola boling, menggilas pake mobil polisi, memenggal kepala, dll) tapi mereka segera muncul lagi, berkali-kali digigit gorgon-gorgon itu juga tapi kok ya tetep gak mati, adalah nasib yang musti dihadapi Percy Jackson selama beberapa minggu terakhir. Kesialan tersebut belum ngitung bahwa karena dikejar-kejar gorgon itu, dia jadi gak sempat mandi boro-boro beli makan. Makanya musti pasrah badan bau, kelaparan hingga mengais-kais tempat sampah nyari makanan sisa.

Pokoknya dia disuruh Lupa si serigala untuk pergi ke arah Barat.

Sampai di seberang tempat tujuan, Percy masih diminta nyeberangin seorang nenek-nenek hippie dekil yang agak-agak sinting. Yah hero kita satu ini kan memang baek, jadinya dia mau dong. Dan jadilah dia nggendong si nenek yang menurut deskripsi, napasnya bau kecut (hueeek, bangun tidur gak langsung gosok gigi, pasti!).

Akhirnya, setelah kehebohan di terowongan, Percy nyampe di Kamp Jupiter, tempat penampungan demigod, sama dengan Perkemahan Blasteran di New York sono. Tapi yang ini untuk demigod-demigod keturunan dewa-dewi Romawi.

Oke, abaikan semua keributan yang mengiringi kedatangan Percy (dikejar-kejar dua gorgon, jadi anak Neptunus-dewa yang kurang disambut baik di Kamp Jupiter, dua dewa-dewi yang muncul karena kedatangannya, dan kemenangan Kohort V, serta teknik bertempurnya yang agak-agak aneh menurut para demigod Romawi), ia harus mengikut sebuah misi bareng dengan dua anak Kamp Jupiter, Hazel Levasque dan Frank Zhang untuk membebaskan Thanatos si Dewa Kematian, serta mencari Panji-panji Elang milik Kamp Jupiter yang telah lama hilang ke Alaska. Padahal kalo Thanatos benar-benar bisa dibebaskan, nasib dua teman Percy ada di ujung tanduk.

Hanya naik perahu, mereka bertiga mengarungi lautan ke Seattle. Di jalan bertemu dengan gerombolan raksasa dan bala bantuannya yang berniat menaklukkan Kamp Jupiter, ngakalin blasteran-tua-tukang-bully-harpie, ribut-ribut dengan segerombolan cewek feminis-Amazon, sampai ke nyaris diduduki pantat raksasa Alaska yang berbulu.

Jadi gitu deh, Percy harus menaklukkan amnesianya, sekaligus musti menuntaskan misi yang tampak gak mungkin. Seru gak? Mmm … masih perlu tanya ya? Hehehe.

Setelah The Lost Hero, The Son of Neptune adalah buku-2 dari serial The Heroes of Olympus karya Rick Riordan. Sekali lagi, installments ini mengisahkan para demigods (blasteran dewa), dewa-dewi Yunani/Romawi, monster-monster dan raksasa, serta keributan di antara mereka. Semua masih dengan setting masa kini ber-genre young-adult fantasy. Novel ini nantinya akan diikuti oleh The Mark of Athena (novelnya sudah di tangan, tunggu aku gak males ngeripiu ya … :P) lalu The House of Hades (yang ini gak tau deh kapan bakal rilisnya).

Dibanding serial Percy Jackson and the Olympians, novel-novel The Heroes of Olympus jauh lebih tebal. Sudut pandang penceritanya juga berubah-ubah, meskipun sama-sama dari sisi orang ke-3. Di The Heroes of Olympus Mr. Riordan berusaha lebih objektif dengan menaruh beberapa angle saat ia bertutur. Kadang dari si A, lalu si B, lalu si C, dst, dipisahkan berdasarkan bab.

Meskipun tetap lucu, novel ini tampak lebih menokohkan Percy dengan sisi yang lebih manusiawi. Rasa takut, khawatir, sedih, dimunculkan. Bukan hanya kekonyolan seorang remaja pemberani. Mungkin karena memang perasaan tokoh kita satu ini teraduk-aduk parah, ya. Soalnya kan selain kehilangan memori, dia sudah dibikin tidur seorang dewi selama berbulan-bulan (berarti pasti gak naik kelas dong ya … secara dia ngilang gitu selama masa sekolah), dan kemudian dicemplungkan ke sebuah mission impossible. Kalo dia Ethan Hunt sih oke saja. Tapi dia kan cuma seorang demigod remaja😛

Aku suka semua tokoh yang muncul di sini. Cuma para karpoi saja yang terasa kurang sreg. Terlalu konyol dan gak penting. Aku juga penasaran dengan si Nico. Sebenarnya apa sih agenda tersembunyi dia, kenapa dia pake acara gak mau terus-terang kalo kenal Percy sejak lama? Oke deh, gak terus terang dengan para demigod Romawi sih masuk akal. Tapi sama Percy? Dan sampai di akhir novel, motifnya tetep saja masih blur. Mungkin aku harus sabar nunggu penjelasannya di TMoA.

Typo gak banyak. Hanya kurang enak saja di beberapa kali penulisan, saat tanda petik penutup kalimat ketemu dengan kata ‘tanya’ di belakangnya. Karena huruf T-nya selalu jadi huruf besar. Halo ‘Penyelaras Aksara’???

Keanehan di kontinuitas isi cerita sih ada. Si Hazel – yang diceritakan sebenarnya lahir tahun 1930-an, sudah mati, tapi kembali dari Asphodel karena pintu kematian yang terbuka saat Thanatos ditawan raksasa – kan remaja produk jadul. Dia diceritakan banyak bingung liat televisi, komputer, iPod, internet …. Gestur yang dilakukan Hazel pun gestur-gestur jaman dulu seperti mengipas-kipaskan telapak tangan saat ketemu situasi yang bikin ia jengah. Tapi kenapa ya saat bab penceritaan ada di sisi dia (V-HAZEL), Mr. Riordan lupa dan bikin line:

‘HAZEL MERASA SEPERTI BARU MEMPERKENALKAN dua bom nuklir.” –hal. 63

Mmmm … sebagai anak yang lahir tahun 1930-an dan mati sebelum Perang Dunia II berakhir, rasanya istilah bom atom belum dikenal ya, karena bom itu muncul di akhir PD II. Nah, boro-boro bom nuklir, kan?:-/

Tapi beneran, gak banyak yang bisa aku ulas selain acungan jempol saja. Rugi buat yang sampai sekarang belum baca. Dibanding The Lost Hero, kekonyolan khas serial Percy Jackson lebih banyak muncul di sini. DI TLH biasanya aura konyol muncul saat cerita ada di sisi Leo Valdez. Nah, di SoN ini, selain Percy, Frank Zhang juga konyol secara menggemaskan. Coba saja ini:

“Untung bagi Hazel, Frank angkat bicara: “ Kuharap aku menderita GPPH atau disleksia saja. Aku malah tidak bisa mencerna laktosa.””-hal. 101

Hehehe, bayangkan keinginan Frank yang mundane banget buat para demigod. Dia pengen jadi demigod normal dengan GPPH dan disleksia-nya. Soalnya kelainan dan ciri-ciri fisik dia selalu saja bikin dia tampak aneh.

Yah, jadi gitu deh, the second installment seemed slightly better to me compared to the first one. Bukannya aku bilang TLH gak bagus lho ya …. Hanya saja, kangen Percy-ku terobati di sini :O)

Gak sabar buka segel The Mark of Athena :DDDD

Judul: THE SON OF NEPTUNE

Pengarang: Rick Riordan

Penerjemah: Reni Indardini

Editor: Rina Wulandari

Penerbit: Mizan Fantasi

ISBN: 978-979-433-676-2

Cetakan: 1, Juni 2012

Jumlah hal: 547




%d bloggers like this: